Apakah aku mengambil keputusan yang benar…
Setelah melawati hari yang melelahkan di kantor seharian, kini aku harus pulang dengan berjalan kaki karna dompet ku hilang entah di mana, kenapa hari ini aku sial sekali?
aku menatap jam tangan ku yang menunjukan jam 22:00, aku berhenti di persimpangan jalan, aku benar-benar kesal menginggat aku harus melewati gang yang kata orang angker itu di malam hari seperti ini.
Tapi apa boleh buat itu adalah jalan paling dekat untuk menuju kontrakan ku, jika aku mengambil jalan lain mungkin sepatu hak gila ini akan membuat kaki ku lebih sakit lagi dari sekarang.
“huf kenapa aku bisa sesial ini” aku bendecak kesal dan memasuki gang sepi itu, jalan terlihat semangkin menyeramkan karna lampu jalan yang sudah tua dan hanya mampu memancarkan sedikit cahaya.
Di tengah kesepian yang mencekam, tiba-tiba telinga ku menangkap suara teriakan dan tangisan seorang wanita, “oh ya tuhan, apa kini aku harus bertemu hantu lagi, apa boleh kesialan hari ini di bagikan untuk besok saja, aku sudah sangat lelah”
aku berusaha mengabaikan suara tangisan itu dan terus berjalan dengan kaki yang kini sedikit gemetar entah karna takut atau dinginnya udara malam ini.
Namun semangkin lama suara itu terdengar semangkin jelas di telinga ku, aku melihat sebuah rumah tua di pinggir jalan tempat dari sumber suara itu, ada perasaan penasaran yang terus mengalir di tubuh ku yang mendorong ku untuk melihar rumah tua itu.
Aku berusaha mengabaikannya namun akhirnya “ahh baiklah! Aku akan ke sana, hanya untuk memastikan bahwa itu hantu bukan manusia yang membutuhkan pertolongan”
Aku mengintip dari jendela rumah tua itu, mata ku terbelalak dan lutut ku mulai terasa lemas, aku melihar seorang peria yang sedang memutilasi tangan dari seorang wanita yang terkapar di lantai, suara rintihanya terdengar semangkin melemah, sesekali tubuh peria itu terlihat bergetar tak kuasa menahan tawanya,
aura dingin menyebar di seluruh tubuh ku, di sela-sela suara detak jantungku yang seakan hendak meledak, aku tak lagi bisa melihat bentuk wajah wanita itu sepertinya peria berbaju hitam itu telah mengoyak wajahnya, sesekali peria itu menjilat tanganya yang berlumur dengan darah, yang membuat ku mual sebelum kembali memotong bagian tubuh lainya.
Aku berlari menjauh, “apa yang harus ku lakukan? Abaikan…abaikan saja rika, ya aku tidak ingin ikut campur dengan masalah ini” aku kembali berjalan dengan perasaan campur aduk.
“oh baiklah, hati nuraniku tak bisa mengabaikan ini, kenapa aku harus selalu ikut campur masalah orang lain sih” decak ku kesal sambil berlari ke kantor polisi dan melaporkanya.
Beberapa menit kemudian polisi pun memenuhi rumah kosong, dan aku mengambil jalur lain untuk pulang ke rumah, saat tiba di rumah aku segera memasuki kamar dan menyalakan lampu,
Dan dengan tiba-tiba mata ku menangkap seorang peria berbaju hitam dengan tangan berlumur darah itu berjalan ke arah ku,
“apa kau sudah selesai bersenang-senang? Berarti sekarang giliran ku untuk bersenag-senang kan?” ia tersenyum sinis.
-Tamat-