Di malam yang cerah, lampu-lampu kota menerangi jalanan. Kendaraan berlalu-lalang, sementara orang-orang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.
Di sebuah kawasan perumahan mewah, berdiri sebuah rumah besar yang tampak megah. Rumah itu merupakan kediaman keluarga Alexander, keluarga terpandang yang disegani banyak orang.
Keluarga Alexander dikenal sebagai keluarga mafia dengan kedudukan tertinggi dibandingkan organisasi mafia lainnya. Nama mereka begitu dihormati sekaligus ditakuti.
Xavier Alexander, yang menjabat sebagai ketua mafia, memimpin organisasinya bersama sang wakil, Xion. Berkat kerja sama mereka, segala urusan organisasi berjalan lancar dan jarang mengalami masalah berarti.
Hingga suatu malam, ketika mereka sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan.
"Eeyyy, Xavier! Dokumen perjanjian kerja samanya kok nggak ada, ya?" tanya Xion sambil memeriksa tumpukan berkas di tangannya.
"Keselip itu. Coba lihat di bawah dokumen yang lu pegang," jawab Xavier.
Xion pun memeriksa berkas tersebut.
"Lah, iya! Ternyata nyempil di sini. Oke deh!"
Setelah menemukan dokumen yang dicari, Xion hendak kembali bekerja. Namun, pandangannya tiba-tiba tertuju kepada Xavier yang sedang melamun sambil menatap sebuah foto lama.
Karena penasaran, Xion menghampirinya.
"Liat apaan? Serius amat kayaknya."
"Hm?" Xavier tersadar dari lamunannya.
Xion ikut melihat foto tersebut. Begitu mengetahui siapa yang ada di dalamnya, ia langsung mengerti alasan Xavier terlihat begitu serius.
"Hmmm... udah lama, ya," ucap Xion pelan.
"Iya..." jawab Xavier singkat.
Xion menghela napas kecil sebelum menepuk bahu sahabatnya.
"Ya udahlah, nggak usah galau terus. Move on, bro."
Xavier tidak menanggapi gurauan itu. Ia hanya kembali menatap foto di tangannya sebelum akhirnya berkata, "Ntar gue mau mampir."
"Oh, ya udah."
Setelah semua pekerjaan selesai, Xavier dan Xion pergi ke suatu tempat. Perjalanan mereka memakan waktu sekitar dua puluh menit. Tak lama kemudian, keduanya tiba di sebuah pemakaman. Mereka melewati gerbang, lalu berjalan menuju salah satu makam yang terletak tidak jauh dari sana.
Sesampainya di tujuan, Xavier berhenti di hadapan sebuah nisan.
Louis Alexander
Wafat: 15 Oktober xxxx
Xavier menatap nama itu dalam diam. Sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi kenangan tentang adiknya masih tersimpan jelas di ingatannya. Ia teringat masa lalu yang ingin sekali dilupakannya, tetapi selalu kembali setiap kali ia mengingat Louis.
Sebuah kenangan yang menjadi luka terbesar dalam hidupnya.
Flashback dimulai.
Masa lalu
Beberapa tahun silam, di sebuah rumah besar yang lampu terasnya menyala terang, tinggal sebuah keluarga yang terdiri atas seorang ayah dan dua anak laki-laki. Ayah mereka bernama Noire, sedangkan kedua anaknya adalah Xavier dan Louis.
Dahulu, rumah itu pernah dipenuhi kehangatan. Namun, semuanya berubah setelah Sherlina, istri tercinta Noire sekaligus ibu bagi kedua anaknya, meninggal dunia ketika melahirkan Louis.
Sejak saat itu, Noire berubah. Ia menganggap Louis sebagai penyebab kepergian istrinya, padahal kematian Sherlina bukanlah sesuatu yang dapat dikendalikan oleh anak yang baru dilahirkannya.
Xavier yang saat itu masih berusia tujuh tahun juga harus menghadapi perubahan sikap ayahnya. Ia terus dipaksa berlatih agar kelak mampu menjadi penerus keluarga Alexander. Sementara itu, Louis yang baru berusia lima tahun tumbuh tanpa kasih sayang yang cukup dari sang ayah.
Suatu hari, Louis menghampiri kakaknya.
"Kak, nanti main, yuk. Aku bosen, nih," ajaknya.
"Hm? Boleh aja," jawab Xavier.
Namun, sebelum mereka sempat pergi, Noire datang menghampiri dan menarik tangan Xavier.
"Tidak ada kata bermain. Ayo, Xavier! Kau harus berlatih lagi."
"Ayah! Lepasin!" protes Xavier.
"Ayah! Lepasin Kak Xavier!" Louis ikut berseru.
Noire langsung berhenti dan menatap Louis dengan tajam. Louis yang melihat tatapan itu pun terdiam. Ia tak berani melanjutkan perkataannya.
Noire kembali membawa Xavier pergi, meninggalkan Louis sendirian.
Anak kecil itu hanya bisa menatap kepergian mereka.
Kenapa Ayah membenciku? Apa aku salah?
Pertanyaan itu terus muncul dalam benak Louis. Ia belum mengerti mengapa ayahnya memperlakukannya dengan begitu dingin.
Dahulu, Noire dikenal sebagai pemimpin mafia yang kejam terhadap musuh-musuhnya. Namun, sebelum Sherlina meninggal, ia merupakan suami yang penuh kasih sayang dan ayah yang hangat bagi anak-anaknya.
Kematian Sherlina mengubah semuanya. Kesedihan yang tidak mampu diterimanya perlahan berubah menjadi kebencian, dan Louis menjadi sasaran dari perasaan itu.
Perhatian Noire hanya tertuju kepada Xavier yang dipersiapkan sebagai penerusnya. Xavier harus terus berlatih tanpa memedulikan rasa lelahnya, sedangkan Louis nyaris tidak pernah mendapatkan perhatian dari ayahnya sendiri.
Melihat kakaknya terus-menerus kelelahan, Louis merasa kasihan. Ia ingin melakukan sesuatu agar Xavier bisa beristirahat.
Hingga suatu hari, ia memberanikan diri menghampiri Noire.
"A-Ayah...?" panggilnya.
"Apa?" jawab Noire dingin.
"A-anu... Ayah..."
"Kalau tidak penting, pergi sana."
"Ini penting, Yah."
"Apa?"
Louis menarik napas sebelum akhirnya berkata, "Apa Kak Xavier nggak boleh istirahat sebentar? Kasihan, Kak Xavier udah kelelahan."
Belum sempat Louis menyelesaikan kalimatnya, Noire lebih dahulu menamparnya.
Louis terdiam. Ia memegang pipinya sambil menunduk, tidak berani membalas perkataan ayahnya.
"Jangan ikut campur urusanku!" bentak Noire. "Atau kau mau diperlakukan seperti dia juga?!"
Louis hanya diam.
"Sana pergi! Anak sepertimu seharusnya tidak pernah dilahirkan. Kau merenggut nyawa istriku, dan sekarang kau masih saja menyusahkan!"
"I-iya... maaf, Yah..."
Dengan langkah pelan, Louis pergi menemui Xavier yang sedang beristirahat di halaman belakang rumah.
Xavier terbaring di atas rerumputan. Tubuhnya kelelahan setelah menjalani latihan yang panjang.
"Hm? Louis?" katanya ketika melihat adiknya datang.
"Kak, mau minum dulu nggak? Kak Xavier kelihatan capek banget."
"Nanti aja."
"Okeee."
Xavier memperhatikan wajah adiknya yang terlihat murung.
"Kenapa? Gara-gara Ayah lagi?"
Louis tidak menjawab.
"Sudah kubilang, kan? Kau nggak perlu bicara sama Ayah cuma supaya aku bisa istirahat."
"Tapi aku nggak tega lihat Kak Xavier kelelahan setiap hari," jawab Louis. "Aku cuma pengin kita bisa hidup tenang dan main bersama."
Xavier terdiam sejenak. Ia tahu adiknya hanya ingin membantu, meskipun sering kali Louis sendiri yang harus menerima perlakuan buruk dari Noire.
"Iya. Nanti kalau aku punya waktu luang, kita main, ya?"
Louis langsung mengangkat wajahnya.
"Beneran, Kak?"
"Iya."
"Janji, yaaa?"
Louis menyodorkan jari kelingkingnya. Xavier pun mengaitkan jari mereka.
"Iya, janji."
"Hehehe!"
Louis tertawa senang. Baginya, janji sederhana itu sudah cukup untuk membuatnya bahagia.
Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama kakaknya, tanpa harus memikirkan masalah di rumah mereka.
Sayangnya, belum sempat janji itu mereka tepati, sesuatu yang buruk pun terjadi.
Malam yang mengubah segalanya
Waktu terus berlalu. Xavier tumbuh menjadi pemuda berusia sembilan belas tahun, sedangkan Louis berusia tujuh belas tahun.
Xavier masih menjalani hidup di bawah aturan ketat ayahnya. Sementara itu, Louis tumbuh menjadi anak yang lebih berani membangkang. Ia sering pulang larut malam, bahkan pernah tidak pulang sama sekali. Noire tidak pernah benar-benar peduli dengan kepergian putra bungsunya.
Hingga suatu hari, Noire mengetahui bahwa Louis memiliki seorang pacar tanpa sepengetahuannya.
Bagi Noire, hubungan asmara merupakan hal yang tidak pantas dan dapat mencoreng nama baik keluarga. Mengetahui Louis melanggar larangannya membuat ia sangat marah.
"Berani sekali kau berpacaran tanpa sepengetahuanku, Louis Alexander!" bentaknya.
Louis menatap ayahnya dengan berani.
"Ya terus? Apa hubungannya sama Ayah? Bukankah selama ini Ayah tidak pernah peduli sama aku?"
"Louis Alexander, segera putuskan hubunganmu dengan perempuan itu! Atau aku akan membuatnya menyesal!"
"APA HAK AYAH MENGATUR HIDUPKU?! URUS SAJA URUSAN AYAH SENDIRI! JANGAN IKUT CAMPUR DALAM HIDUPKU LAGI!"
Louis sudah tidak sanggup lagi menahan semua perasaannya.
"Ayah selalu menyalahkanku atas kematian Ibu! Aku juga tidak pernah meminta semua itu terjadi! Aku bahkan tidak punya kendali atas bagaimana aku dilahirkan!"
Ia mengepalkan tangan, menahan amarah dan kesedihan yang selama bertahun-tahun dipendamnya.
"Aku cuma ingin hidup bebas tanpa terus-menerus diatur! Aku akan pergi dari rumah ini dan melepaskan nama Alexander!"
Noire tetap menatapnya dengan dingin.
Louis kembali berkata, "Ayah tidak pernah peduli atau memperhatikanku. Jadi, teruslah seperti itu sampai Ayah tiada. Jangan pernah pedulikan aku lagi!"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Louis berbalik dan berniat meninggalkan rumah.
Namun, amarah Noire telah mencapai puncaknya. Dalam sekejap, ia melakukan tindakan yang berujung pada kematian putranya sendiri.
Louis pun terjatuh dan tidak lagi bergerak.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Belum sempat Louis meninggalkan rumah itu, hidupnya telah berakhir di tangan ayahnya sendiri.
Tak lama kemudian, Xavier yang baru selesai berlatih mendengar keributan dari dalam rumah. Ia segera menghampiri sumber suara tersebut. Namun, begitu tiba di sana, langkahnya terhenti.
Ia melihat Louis terbaring tak bergerak.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ADIKKU?!" teriak Xavier.
Tatapannya kemudian beralih kepada Noire. Dari keadaan yang dilihatnya, Xavier langsung menyadari apa yang telah terjadi.
Noire tidak memberikan jawaban. Ia bahkan tidak menunjukkan penyesalan.
"Bakar saja jasadnya supaya tidak ada yang tahu. Dia benar-benar membuatku kesal," ucap Noire dengan santai.
Xavier terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kau sudah menghilangkan nyawa anakmu sendiri, dan kau masih bisa mengatakan hal seperti itu?!"
Suaranya bergetar menahan amarah.
"Kau pikir aku akan melakukannya?! Selama ini aku selalu menuruti semua perintahmu supaya kau tidak mengusik Louis! Aku terus berlatih dan melakukan semua yang kau inginkan!"
Xavier menatap ayahnya dengan penuh kekecewaan.
"Tapi sekarang, kau sendiri yang menghilangkan nyawanya!"
Noire tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
"Xavier Alexander, bakar jasadnya. Atau kau yang akan kubakar."
Setelah mengucapkan ancaman itu, Noire pergi begitu saja.
Xavier segera menghampiri adiknya. Ia berlutut di samping Louis dan memeluknya erat.
"Louis..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"Louis, bangun..."
Namun, Louis tidak menjawab.
"Ini Kakak, Louis..."
Air mata Xavier mulai jatuh. Ia terus memeluk adiknya, berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk.
Namun, kenyataan itu tidak berubah.
Louis telah pergi untuk selamanya.
Xavier tidak mampu menahan kesedihannya. Ia kehilangan satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya, orang yang selalu mendengarkan keluh kesahnya dan menyemangatinya ketika ia merasa lelah.
Meskipun dibesarkan dengan cara yang berbeda, Xavier dan Louis sangat menyayangi satu sama lain. Louis tidak pernah mengeluh kepada Xavier tentang perlakuan ayah mereka. Sebaliknya, ia selalu berusaha membuat kakaknya bahagia.
Bagi Xavier, Louis adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Kini, orang itu telah tiada.
Xavier ingin meluapkan amarahnya, tetapi ia tahu bahwa melawan Noire saat itu dapat membahayakan nyawanya sendiri. Dengan berat hati, ia menahan diri.
Ia tidak ingin kehilangan apa pun lagi.
Pada akhirnya, Xavier diam-diam memakamkan Louis dengan layak. Ia tidak menuruti perintah Noire untuk membakar jasad adiknya.
Sejak kejadian itu, kehidupan Xavier berubah. Ia tetap menjalankan kehidupannya, tetapi kenangan tentang Louis tidak pernah benar-benar hilang.
Ia kehilangan adiknya, ibunya, dan sosok ayah yang dahulu pernah ia kenal.
Janji kecil yang pernah mereka buat pun tidak akan pernah terwujud.
Xavier tidak akan pernah bisa mengajak Louis bermain seperti yang pernah ia janjikan.
Dan itulah salah satu penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Flashback berakhir.
Kembali ke masa sekarang
Xavier masih berdiri di hadapan makam Louis. Ia menatap nisan itu dalam diam, kemudian perlahan menaburkan bunga di atasnya.
"Maaf, Louis... Aku gagal menjadi kakak yang baik. Aku gagal menyelamatkanmu waktu itu."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Andai saja waktu itu aku langsung masuk ke rumah dan melerai kalian, mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini."
Xion yang berdiri di sampingnya hanya bisa terdiam. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya pernah mengalami kehilangan sebesar itu.
Xavier kembali menatap nama adiknya.
"Kau cuma ingin hidup bebas tanpa terus-menerus dikekang, kan? Sekarang, kau sudah bebas, Louis."
Suaranya terdengar lirih.
"Beristirahatlah dengan tenang..."
Xion tidak banyak bicara. Ia tahu bahwa tidak semua kesedihan bisa dihilangkan dengan kata-kata. Karena itu, ia memilih menemani Xavier dan sesekali menepuk bahunya untuk menenangkan sahabatnya.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya meninggalkan pemakaman.
Namun, kepergian mereka dari tempat itu tidak membuat kerinduan Xavier menghilang.
Ia masih menyimpan rasa kehilangan yang begitu dalam. Bertahun-tahun telah berlalu, tetapi ia belum mampu melupakan kejadian yang merenggut adiknya.
Semuanya berawal dari kematian ibunya ketika melahirkan Louis, lalu berakhir dengan Louis yang kehilangan nyawanya di tangan ayah mereka sendiri.
Xavier kehilangan ibu, adik, dan sosok ayah sekaligus. Noire mungkin masih hidup, tetapi bagi Xavier, ia bukan lagi seorang ayah. Ia telah menjadi seseorang yang menghancurkan keluarganya sendiri.
Kehidupan dan kematian merupakan bagian dari takdir Tuhan. Setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Tidak semua hal bisa kita kendalikan, dan tidak semua kehilangan harus berakhir dengan menyalahkan seseorang.
Jangan pernah menyalahkan seorang anak atas kematian ibunya ketika melahirkannya. Anak itu tidak pernah meminta untuk dilahirkan dalam keadaan seperti itu. Semua berada di luar kendalinya.
Kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan. Kesedihan terkadang membuat seseorang sulit menerima kenyataan. Namun, melampiaskan kesedihan dengan menyalahkan orang lain hanya akan menambah luka, terutama bagi mereka yang sebenarnya tidak bersalah.
Anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan disayangi. Berikan mereka kasih sayang, perhatian, serta perlakuan yang adil. Jangan membanding-bandingkan mereka, karena setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Hargailah usaha mereka, sekecil apa pun itu. Dengarkanlah cerita mereka, luangkan waktu bersama mereka, dan jangan membuat mereka merasa harus berjuang sendirian hanya untuk mendapatkan kasih sayang orang tuanya.
Sebab, terkadang hal sederhana yang dilakukan orang tua memiliki arti besar bagi seorang anak. Jangan menunggu sampai semuanya terlambat untuk menunjukkan rasa sayang. Jangan sampai penyesalan datang ketika orang yang kita cintai sudah tidak lagi bisa kita temui.
Anak bukanlah kesalahan atas takdir yang terjadi. Mereka adalah titipan yang layak dicintai, dihargai,dan dijaga dengan sepenuh hati. Karena pada akhirnya, waktu akan terus berjalan. Namun, kenangan tentang orang-orang yang pernah kita sayangi akan selalu memiliki tempat di hati.
Bagi Xavier, Louis akan selalu menjadi adik kecil yang ia sayangi. Adik yang pernah mengajaknya bermain. Adik yang hanya ingin hidup bebas. Dan adik yang akan selalu ia rindukan, meskipun waktu telah lama berlalu.
-END-