"Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir, oke? Kalau begitu aku tutup teleponnya. Bye!" Aku memutuskan sambungan telepon yang terhubung dengan adikku. Aku baru saja sampai di sebuah desa yang jarang terjamah oleh orang-orang luar. Aku seorang peneliti yang ditugaskan untuk mengawasi gerak-gerik penghuni di desa ini. Sebelumnya aku sudah mendapatkan akses untuk masuk ke daerah ini.
Banyak yang mengatakan kalau desa ini sangat misterius. Tidak banyak yang tinggal disini. Konon katanya desa ini hanya dihuni oleh para iblis. Jika manusia menapakkan kakinya disini maka akan mati dan menjadi penghuni iblis selanjutnya.
Namun, aku–Abercio–tidak menemukan tanda apa-apa disini. Bahkan aku sudah masuk ke jalan setapak menuju desa. Kehidupan disini bisa dibilang biasa-biasa saja. Di sepanjang perjalanan, aku melihat beberapa petani yang sedang membajak sawahnya. Beberapa kali aku menyapa orang-orang disana dan dibalas dengan begitu hangat. Jadi, sekarang, apa rumor itu benar adanya?
"Selamat siang. Apa ini jalan menuju desa kabut?" Aku bertanya pada salah satu orang yang sedang duduk di pematang sawah.
"Benar. Apa kau benar-benar akan pergi kesana?" Tanyanya balik.
Aku mengerutkan keningku. Ucapannya seperti ada makna yang tersirat didalamnya. Namun dengan mantap, aku hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa aku benar-benar memiliki tujuan untuk pergi kesana.
"Memangnya kenapa? Tanyaku penasaran. Namun dia hanya menggeleng.
"Tidak apa-apa. Semoga kau selamat. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa."
Lelaki tua itu lalu pergi dari hadapanku.
Sebenarnya aku tidak ingin berpikiran negatif dengan ucapannya. Aku hanya ingin mencari tahu tentang asal-usul dari desa kabut ini. Karena yang aku tahu desa ini sudah sangat lama berdiri disini walaupun letaknya memang di pedalaman.
Langkah demi langkah aku mulai menyusuri jalan yang cukup terjal. Aku berhati-hati dalam melangkah agar tidak terjatuh ke bawah karena sepertinya desa ini baru saja diguyur oleh hujan. Beberapa meter lagi desa kabut akan terlihat dimataku.
Hal pertama yang aku lihat adalah rumah-rumah yang beratapkan jerami. Memang daerah ini sepertinya tidak pernah tersentuh akan modernnya teknologi. Penerangan disini hanya memakai obor saja. Tidak ada tiang listrik yang menjulang tinggi. Kehidupan mereka benar-benar tergantung dengan alam.
Saat aku hendak menyapa orang-orang, mereka langsung pergi, tepatnya mereka menghindar dariku. Aneh. Tentu saja. Padahal aku hanya ingin bertanya apa ada tempat yang kosong untuk aku tinggali. Namun sialnya, mereka tidak ingin berbicara padaku.
Aku hendak berbalik, namun aku dikejutkan dengan kehadiran gadis berperawakan kurus pendek dengan wajah yang pucat. Sepertinya gadis itu adalah warga desa ini.
"Hai, apa kau warga yang tinggal disini?" Tanyaku. Dia mengangguk. "Aku Abercio. Aku seorang peneliti. Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?" Aku mengulurkan tanganku untuk dijabat. Beberapa detik dia memandang tanganku dengan kosong.
"Aku Belen," katanya tanpa menyambut tanganku. Dengan cepat aku kembali menarik tanganku. Gadis itu terlihat dingin di mataku. Tanpa seulas senyum diwajahnya.
"Ada masalah apa kau datang kemari?" Tanyanya padaku. Tetap dingin tanpa ekspresi. Aku tersenyum kikuk karena merasa situasi saat ini sungguh sangat aneh.
"Aku datang untuk meneliti kehidupan di desa kabut," jawabku seadanya. "Apa disini ada tempat yang kosong?"
Dia mengangguk. "Ikut aku."
Aku mengekor di belakangnya. Aku pun mulai menyusuri rumah-rumah penduduk, jalan kecil yang cukup menanjak, juga melewati beberapa anak tangga. Sungguh, aku pun baru tahu jika desa kabut sangat luas. Bahkan dari atas ini aku bisa melihat kegiatan para penduduk.
"Disini." Dia berhenti. Aku pun juga berhenti. Sebuah rumah kecil dengan pondasi kayu itu sepertinya akan menjadi tempat tidurku malam ini.
"Ini rumah khusus manusia. Kau bisa memakainya," katanya lagi. "Aku pergi." Tanpa ba-bi-bu lagi, dia pergi meninggalkanku.
Jujur saja, aku sedikit ambigu dengan ucapannya. Khusus manusia? Apa maksudnya? Memangnya tadi aku berbicara dengan siapa? Batu? Entahlah. Aku saat ini juga tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak.
Aku memasuki rumah yang terlihat seperti gubuk itu. Tidak terlalu luas, hanya 4x4 meter. Tempat tidur disini hanya beralaskan tikar saja. Dan penerangan dengan lampu minyak.
Tidak ingin berpikiran apa-apa lagi, aku pun segera tidur. Besok aku akan memulai penelitian tentang desa ini. Semoga saja seperti yang aku harapkan.
***
Pukul lima pagi aku terbangun karena suara ledakan yang cukup keras dari arah luar. Aku cepat-cepat keluar, mengira bahwa yang baru saja meledak mungkin saja adalah bom. Namun yang kutemukan hanyalah Belen, gadis yang berkenalan denganku kemarin. Dia seperti membuat sesuatu, namun aku tidak tahu apa yang sedang dibuatnya.
"Apa yang kau lakukan pagi-pagi ini?" Tanyaku masih dengan suara parau.
"Membuat senjata untuk berburu," balasnya singkat. Aku mengangguk-angguk kecil. Aku pun mendekat kearahnya supaya aku bisa melihat dengan jelas apa yang ia lakukan. Sepertinya ini bisa masuk kedalam catatan penelitian ku.
Aku tidak tahu apa nama senjata itu, yang jelas aku bisa menambahkan sesuatu ke dalam riset ku. "Dimana penduduk yang lainnya?"
Dia menggeleng. "Aku tidak tahu. Biasanya mereka belum pulang pagi ini," sahutnya dengan tatapan tetap tertuju pada senjatanya. Aku tidak tahu kemana mereka pergi. Tapi memang aku tidak melihat penduduk selain Belen.
Keheningan meliputi atmosfer kami berdua. Aku pun agak canggung untuk memulai percakapan lagi. Begitupun dengan Belen. Dia hanya fokus pada senjatanya membuat aku mengurungkan niat untuk mengobrol dengannya.
"Apa kau tidak takut tinggal disini?" Tiba-tiba saja Belen bersuara.
"Kenapa harus takut?" Tanyaku penasaran.
"Tidak apa-apa. Hanya saja ini baru permulaan," katanya lagi, misterius bagiku. Aku memang tidak pernah bisa mencerna perkataan Belen dengan baik. Mungkin aku benar-benar ambigu dengan ucapannya, atau aku memang bodoh?
"Maaf aku menganggu tidurmu. Aku harus pergi." Dia mengemasi semua barang-barangnya.
Perlahan bayangannya menghilang di mataku. Aku benar-benar bingung dengan Belen. Setiap ucapannya selalu misterius dan penuh rahasia. Tapi aku hanya bisa berpendapat, bahwa Belen adalah gadis yang manis.
***
Hari ini aku memulai penelitian pertamaku tentang desa ini. Aku berhasil mewawancarai beberapa penduduk tentang hal-hal penting dari desa ini. Untung saja mereka membalas sapaan ku dengan hangat.
"Astaga. Ternyata desa ini benar-benar surga yang tersembunyi," kataku ketika mereka membawaku ke sebuah sungai dengan aliran air yang tenang, jernih dan menyejukkan mata.
"Itu sungai kebanggan kami," katanya bangga. "Kami selalu menjaganya dari tangan-tangan liar. Juga, setiap bulan purnama kami akan selalu berkumpul kesini."
Aki menatap ketua desa itu dengan tatapan menelisik. Lagi, lagi dan lagi, mereka berbicara dengan misterius. Namun aku tidak memedulikannya. Aku harus tetap fokus pada penelitian ku.
Dua hari, tiga hari, lima hari, sampai tujuh hari. Hampir seminggu aku mengenal dekat tentang desa ini. Juga kedekatanku dengan gadis pucat itu, Belen. Setiap waktu aku menyempatkan diri untuk bertemu dengannya. Entah kenapa ada gejolak aneh ketika aki berada didekat Belen.
Dan malam ini, aku ingin mengatakan sesuatu pada Belen. Walaupun waktunya tidak tepat, namun aku juga tidak bisa menundanya. Kami duduk di tepi sungai dengan hembusan angin malam yang cukup dingin.
"Belen, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," kataku tiba-tiba padanya.
Dia menatapku, dan aku balik menatapnya. Dia mengisyaratkan aku untuk melanjutkannya. Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya aku mulai bersuara lagi.
"Aku menyukaimu, Belen."
Dia tampak sedikit terkejut. Kedua matanya membulat dibawah sinar obor. Lalu dia memandang kembali ke dalam air, dan bersuara.
"Kau yakin dengan perasaanmu?" Tanyanya dengan nada yang terdengar ragu di telingaku.
"Aku yakin. Kenapa tidak?" Dia menggeleng.
"Apa kau tidak menyukaiku?" Tanyaku pelan.
"Tidak," sangkalnya. "A-aku, menyukaimu juga, Abercio."
Kalimat itu membuat jantungku berdegup dengan kencang. Manik mata hitamnya menatapku. "Aku, menyukaimu."
Refleks, aku memeluknya beberapa detik. Dia tampak diam dalam pelukanku. Aku pun melepaskan pelukanku, lalu menatap dalam kedua matanya.
"Aku mencintaimu, Belen." Tanpa aba-aba aku menciumnya. Perasaanku terbalas, namun aku tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh Belen saat ini. Yang penting, aku bahagia malam ini.
***
Sudah satu bulan aku tinggal disini. Sebenarnya penelitian ku sudah selesai. Namun Belen membuatku bertahan untuk tinggal disini. Dia benar-benar manis untuk ditinggalkan. Jadi sementara waktu aku akan tinggal lebih lama terlebih dahulu.
Hari ini tepat akan terjadi malam purnama. Aku ingin memberikan hadiah padanya. Sebuah kalung dengan liontin bulan yang aku beli beberapa tahun yang lalu. Aku ingin menghadiahi dirinya dengan ini. Walaupun tidak mewah tapi tetap terkesan elegan.
Tadi, katanya dia berada di dekat sungai. Dengan segera aku menghampirinya kesana. Namun, aku tidak menemukan dia disana. Aku malah disambut dengan bau anyir darah yang aku tidak tahu dimana sumbernya. Baunya benar-benar menjijikkan.
"Abercio," seseorang memanggilku. Aku menoleh. Mendapati Belen yang berdiri tak jauh dari diriku.
"Belen," aku balas memanggilnya. Aku ingin mendekat. Namun dia mundur dengan cepat.
"Jangan mendekat!" Pekiknya. Sontak aku terkejut. Dia bulan Belen yang aku kenal selama ini. Belen yang hangat, tidak pernah membentak dan manis. Sekarang ia kembali dengan Belen yang dulu, dingin dan datar.
"Ada apa denganmu?" Tanyaku. "Kenapa kau marah seperti ini?"
"Maaf, Abercio. Mulai saat ini jangan pernah menemui ku lagi," katanya tegas.
Hatiku hancur berkeping-keping. Apa aku membuatnya sakit hati? Padahal kemarin aku masih baik-baik saja dengan Belen. Kenapa dia berubah secepat ini?
"Belen, aku-"
"Kau tidak akan menerimaku lagi jika kau tahu siapa aku yang sebenarnya, Abercio!"
"Be-belen?"
"Aku bukan manusia. Ingat!" Dia berteriak. "Aku, bukan manusia," dia berbicara dengan penuh penekanan.
"Lalu apa masalahnya denganku?" Aku tidak kalah berteriak.
Tiba-tiba saja, tepat bulan purnama menyinari keberadaan Belen, dia berubah menjadi wujud yang mengerikan, penuh darah dan beraura dingin. Aku sedikit takut. Namun dengan cepat aku menghilangkan rasa takutku.
"Belen, kau berubah?" Tanyaku tidak percaya.
"Aku, iblis, Abercio. Aku iblis," dia menangis. Pertama kalinya aku melihatnya menangis.
Dia tidak sendirian. Ada banyak orang di belakangnya. Berwujud sama dengan wujud Belen. Dia perlahan mendekat kearahku. Menyentuh dadaku dengan telapak tangannya.
"Disini ada kehidupan," katanya pelan. "Kau harus tetap hidup. Jangan membuatku menangis," sahutnya.
"Belen,"
"Aku tetap mencintaimu." Lalu Belen menciumku untuk terakhir kalinya sebelum dia dan semua penduduk menghilang.
Semua rumah-rumah yang aku lihat dulu juga tidak terlihat, berganti dengan jalanan beraspal yang sepi dari lalu lalang pejalan maupun kendaraan. Apa selama ini ia bermimpi? Atau kejadian itu hanyalah fana?
Dia bisa masih memegang kalung yang akan diberikan pada Belen. Namun sayang, Belen sudah pergi. Menjadi iblis yang menakutkan.
Satu hal yang perlu aku lakukan, hanyalah mengikhlaskannya. Jatuh cinta dan patah hati disaat yang bersamaan.
"Aku membencimu, Belen."
***
End