Setiap malam dijam yang sama tepatnya pukul 11.11 selalu terdengar bunyi siulan yang selalu mengganggu tidur malam seseorang. Konon katanya bunyi siulan itu bukan dikeluarkan atau dibunyikan melalui mulut, melainkan dari lubang bokong. Dan lebih menyeramkan lagi, jika suara siulan itu terdengar begitu keras maka, sosok yang membunyikan siulan itu berada jauh darimu. Apabila suaranya terdengar putus-putus dan terdengar kurang jelas, ketahuilah sosok itu tepat berada disamping mu.
~Happy Reading~
Angin yang berhembus malam ini begitu kencang, ditambah dengan turunnya hujan hingga udara yang dirasakan malam ini terasa dingin hingga ke tulang, begitu menggigil.
"Yulita, masuk!" Pinta wanita paruh baya yang tengah menatapnya dari arah pintu.
"Iya, ma. Bentar lagi, aku masih mau di sini. Mau buat insta story dulu" Balas Yulita sambil memegang ponselnya, padahal cuaca sedang tida bersahabat.
"Masuk sekarang! Atau mama kuncikan" Lagi, suara ibunya dengan sedikit penekanan.
"Iya, Nyonya boss." Akhirnya Yulita berdiri dari posisi nyamannya, tak masalahlah lagipula dia sudah cukup mengambil beberapa foto dan video untuk dijadikan instastory nya.
Yulita berlari kecil menghindari ibunya yang tengah memengan sendal swallo yang akan dipakai untuk ditabok di bokong cantiknya.
Dengan sedikit terkekeh Yulita masuk ke dalam kamarnya, merasa lucu karna hampir saja terkena salaman dengan sendal 15 ribuan itu.
Mengambil ponsel dan memilih beberapa foto untuk dijadikannya instastrory. Ketika sedang memiih-milih dan belum memutuskan mana yang bagus, tiba-tiba listrik ladam.
"Oh shiitt, jangan lagi ini sudah hampir jam 11 malam. Sebentar lagi suara siulan itu akan terdengar" Gumamnya lalu berdiri mencari lilin untuk dinyalakan. Yulita memang tinggal di kampung, jika listrik padam masih ada alternatif lainnya yang bisa digunakan untuk menyalakan lampu. Namun saat ini, mesin yang biasa digunakan untuk alternatif menyalakan lampu itu rusak dan belum sempat diperbaiki.
Tepat jam 11 malam, suara itu terdengar namun cukup keras dan sangat berisik. Orang-orang di rumahnya juga sudah tidur.
"Ah, biarkan saja. Lagi pula makhluk itu jauh dari sini" Katanya santai tidak menanggapi, sama seperti malam sebelumnya.
Namun, ketika dirinya sudah hampir terlelap suara siulan itu berbunyi sangat pelan. Terdengar seperti sangat jauh dari posisinya, suara siulan itu terdengar putus-putus.
Dengan cepat dirinya segera berlari mengambil Al-qur'an untuk diletakkan disampingnya. Dan dengan sekali tarikan diraihnya selimut yang biasa hanya menutupi sampai leher, kini selimut itu tertutup diseluruh tubuhnya.
"Ya ampun, sungguh sial malam ini. Kenapa juga harus dikondisi seperti ini tuh makhluk muncul. Mana lampu mati ditambah hujan lagi" gumamnya sambil memeluk Al-qur'an kemudian berdzikir agar makhluk itu segera pergi.
Bukannya hilang, makhluk itu seolah seperti menakut-nkuti dirinya.
Suara itu nyaris terdengar seperti dikupingnya. Oh ya ampun, sangat aneh yang dirasakan oleh Yulita. Padahal diluar sana hujan, kenapa pula makhluk itu keluyuran malam-malam begini. Apa dia tidak takut masuk angin.
Keringat mulai bercucuran didahinya, pakaian yang dikenakannya juga tampaknya sudah mulai basah. Panas , sungguh sangat panas. Ingin sekali dia menyingkirkan selimut yang dipakainya saat ini.
Namun dirinya tak kuasa, Terlalu takut. Bagaimana jika makhluk itu muncul bersamaan dengan dirinya melepaskan selimutnya, mengerikan. Dia tidak bisa membayangkan wajah makhluk itu.
Dikeluarkannya Al-qur'an yang digenggamnya dan diletakkan di luar selimutnya, tepatnya diatas meja dan segera menarik kembli tangannya masuk, kepalanya tidak keluar dari dalam selimut hanya tangannya saja.
Pengap, panas namun dingin. Hiks, sunggu bingung dirinya harus menghafapi situasi saat ini.
Mau pergi ke kamar orang tuanya, dia tidak berani keluar dari selimut, ibu dan ayahnya tidak mengangkat telponnya.
"Mereka pati sudah tidur." gumam Yulita
"Hiks... mana ponselku sisa 30% lagi, bisa mati kepanasan ni kalo lampu belum menyala. Menyalalah, menyalalah, menyalalah."
Tiba-tiba dia teringat dengan perkataan temannya, jika sedang mendengar siulan maka bersumpah seraphlah kepadanya, kata-katai dirinya dengan perkatan yang tidak masuk akal pasti akan hilang.
Dengan sedikit memberanikan dirinya, Yulita mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengelurkan sumpah serapahnya kepda makhluk tidak tau diri itu yang sudah berani mengganggu tidurnya malam ini.
"Woi, anjirr lu ya. Bego lu, gue mau tidur ini tuh udah malam. Mending lu balik deh." Yulita berhenti sejenak untuk memastikan apakah masih terdengar atau tidak, ternyata masih.
"Woooiiiiii, setaaaannnnn eddaaaan. Gue bilang balik lu, gue punya gas air mata ni. Lu mau dilempar pake itu?. Ck, ck. dasar makhluk rendahan nggak punya sopan santun."
"Jangan sampe gue tau lu siapa, sampe gue tau gue bakar rumah lu. Pergi nggak lu? Bang*sat, dasar siluman, anjirrr, beng*ke, pergi lu."
"Okee, besok pagi lu datang ke sini lagi. Nanti gue kasih lu pisang girong buatan mama gue. "
"Siaaal, lu benar-benar nakal ya. Hikss... Mamaaaa..... "
Tenggorokannya mulai kering karena berteriak, tak lama kemudian lampu menyala, segera ditepisnya selimutnya dan berlari keluar ke kamar kedua orang tuanya.
Beruntung saja, kamar orang tuanya tidak terkunci. Segera dia berbaring di samping mamanya dan memeluk erat sampai pagi.
Sungguh sial, besok-besok dia akan tidur lebih awal. Agar dirinya tidak perlu mendengar siulan sialan itu.
~The end~