Namaku Sindy Febriana, usiaku 15 tahun. Aku duduk di bangku kelas satu SMA. Fina adalah sahabatku. Fina anaknya baik, maka dari itu aku bersyukur sekali bisa bersahabat dengannya.
Suatu hari disekolah, Pak Arif guru olahraga sedang mendata anak-anak yang mau ikut ekskul bola voli. Akupun langsung ikut mendaftar, karena hobiku adalah bermain Voli.
Aku Semangat dihari pertama ekskul bola voli. Saat aku memasuki gerbang sekolah, langkahku mulai terhenti, karena ada yang memanggil,
"Sin, Sin! Tunggu aku" teriak seorang cewek.
dan ternyata cewek itu teman sekelas ku.
"Fia, ngapain kamu sore-sore gini ke sekolah?"
"Aku ikut ekskul bola voli, kamu sendiri?"
"Ekskul bola voli? Berarti kita sama dong"
"Kamu anak voli juga!! Bagus deh, aku gak akan sendiri" Aku dan fia menuju ke lapangan.
Anak-anak sudah berbaris dan melakukan pemanasan, setelah pemanasan Pak Arif membagi dua tim untuk tanding. Permainan pun seru.
"Sindy awasss!!!!, teriak fia, brakkkk.. aduhhh..... sial aku gara-gara ngelihatin pesawat, kepalaku terkena bola. Permainan pun masih lanjut, tapi kali ini aku merasa aneh, saat bola menuju ke aku dan mau aku pukul, cowok disebelahku selalu yang pukul bola, aku pun tidak sekali pun dikasih kesempatan untuk memukul bola. Aku mulai merasa tidak nyaman, mungkin gara-gara aku ceroboh tadi, dan aku dianggap tidak bisa bermain voli.
Akhirnya karena kesal, aku berhenti bermain, dan digantikan oleh temanku Fia. Aku meminta izin ke Pak Arif, kalau mau mengerjakan tugas. Aku langsung menuju ke Rumah.
Sampai rumah, aku memikirkan kejadian tadi, baru kali ini aku dicuekin, aku masih penasaran dengan cowok tadi, dasar sok pintar, walaupun mainnya bagus, tapi gak gitu juga kan.
Keesokan harinya disekolah, Fina heran melihatku yang biasanya ceria tiba-tiba melamun karena memikirkan kejadian kemarin.
"Sin, Kamu gak apa-apa kan?"
"Hmm... gak apa-apa kok, males aja"
"Gak mungkin pasti ada sesuatu! o iya tadi Fia bilang kemarin waktu voli kamu pulang duluan, kamu sakit?"
"Aku gak sakit, tapi aku kesal aja sama seseorang, masa waktu voli cowok disebelahku gak mau kasih aku kesempatan aku buat pukul bola, cuma kecerobohan kecil aja."
"Siapa orangnya?"
"Nah itu dia yang aku pikirkan, huh benci banget aku"
"Oh itu alasannya, sabar ya, Jangan benci-benci, benci bisa jadi cinta!"
Hmm, bukannya bantu malah dibilang sabar sakit tau.
Aku dan Fina ke kantin. Aku memesan makanan dan mencari tempat duduk, sementara Fina membeli minuman. Saat makan, tiba-tiba Fina datang bersama cowok yang diajak duduk bersama. Fina mengenalkan kepadaku.
"Sin, kenalin ini sepupu aku, anak kelas 10 IPA 2, Diki!"
saat aku angkat wajahku, aku kaget.
"Sin kamu gak apa-apa?"
"Diki, ini sahabatku Sindy!!" aku hanya tersenyum.
Dan ternyata itu cowok yang aku bikin kesal kemarin. Aku memutuskan untuk ke kelas, Fina menghampiriku dan bertanya tentang kejadian tadi.
Aku pun menjelaskan semuanya ke Fina dan Fina pun kaget. Fina minta maaf ke aku atas perbuatan Diki swpupunya. Fina bilang Diki sebenarnya anak baik,sopan, aku pun menerima penjelasannya.
Tiga Minggu berlalu, Fina berulang tahun, Fina mengundangku. Aku datang dan langsung memberi ucapan selamat dan kado ke Fina. Tiba-tiba Diki datang, ia juga memberi ucapan dan kado ke Fina. Fina pun meninggalkan kita berdua karena mau menjamu tamu lainnya. Aku pun salting sendiri dekat Diki.
"Hai Sindy, aku minta maaf, soal kejadian itu".
"Hmmm,, kejadian yang mana?" Aku sok lupa gitu.
"Waktu kita main voli, kamu sampai marah kan?"
"Kata siapa aku ga marah?".
"Fina sendiri bilang ke aku".
"Hmm.. iyaiya"
"Waktu itu aku badmood, makanya gak sadar bikin kamu marah".
"Iya santai aja kali" Aku jadi malu banget..
Suasana pun berubah menjadi sangat romantis.
Tiba-tiba Diki mengajak ku berdansa,aku pun tidak bisa menolak. Setelah pesta selesai, Diki mengantar aku pulang. Saat didepan rumah Diki pun memberi ucapan:
"Good Night, See you letter!" aku pun tersenyum.
Dan semenjak itu aku dekat, aku tidak sendiri lagi berangkat ekskul bola voli selalu ditemani Diki, kita juga main voli bareng saat waktu luang. Lama kelamaan aku juga mulai merasa ada benih-benih cinta di hatiku, aku mulai merindukan Diki kalau tidak ketemu sehari. Aku mulai menyadari, kalau aku suka Diki, Apakah Diki akan membalas cintaku?"
Keesokan harinya, Diki mengajak ketemu ditaman, aku pun bergegas menuju taman. Sesampainya di sana kami berdua pun mengobrol sambil bercanda, ditengah obrolan kami, tiba-tiba Diki memotong dan ingin berbicara serius.
"Sin, aku senang deh kamu selalu menemaniku, sebenarnya aku ngajak ke sini itu aku cuma mau bilang kalau aku sayang kamu, dan aku ingin kamu jadi pacar aku?" aku pun tersenyum.
"Jadi kita jadian nih?"
"Hehehehe..."
Kita pun tertawa. Tiba-tiba Fina datang..
"Haaaaaa Jadian nih, cie-cie.. kita rayain dipantai dong, sambil barbequeaan..It'll be fun!'
serentak aku dan Diki berkata,
"Iya..."
Aku dan Diki pun Berpacaran.