Refan 33 tahun. Anak pertama. Penerus kantor bapaknya.
Kerjaannya cuma muter di tiga tempat: kantor, gudang, rumah. Kemejanya selalu rapi, jam tangannya mahal tapi jadul, ngomongnya irit. Kalau ditanya jawabnya pendek. Dingin. Cuek.
Beda 180 derajat sama adiknya.
Ifan, 27 tahun. Mulutnya nggak pernah sepi. Pinter ngerayu, genit, dan satu rahasia yang bikin Refan muak — playboy. Tiap 2-3 bulan ganti cewek, dan tiap putus selalu bawa cewek baru ke rumah seolah nggak ada apa-apa.
Sampai hari itu.
"Bang, kenalin, Nayla."
Refan yang lagi minum kopi di ruang tengah cuma ngangkat alis. Di depan pintu berdiri cewek 22 tahun. Rambut sebahu, kaos putih oversize, jeans, nggak dandan menor. Matanya capek, tapi sopan.
Anak rekan kerja bapaknya.
"Nayla, ini abang gue, Refan," kata Ifan sambil ngerangkul Nayla. "Jangan kaget, emang mukanya jutek."
Nayla cuma senyum kecil ke Refan. "Kak Refan."
Refan mengangguk. "Hm."
Hari itu harusnya biasa aja. Tapi enggak.
Sejak itu Nayla sering ke rumah. Bukan tipe cewek Ifan biasanya. Nggak berisik, nggak manja-manja berlebihan. Kalau Ifan nge-game, dia duduk di sofa baca buku. Kalau disuruh nungguin Ifan rapat sama bapaknya, dia bantuin Bi Ijah di dapur.
Tipe cewek yang Refan cari selama ini. Tenang. Dewasa. Nggak neko-neko.
Dan itu jadi masalah.
Tiap Nayla datang, bayangan Refan nggak lepas. Cara Nayla ketawa pelan pas Ifan ngelucu garing. Cara dia benerin rambutnya pas kepanasan. Cara dia bilang "makasih ya, Kak" tiap Refan bukain pintu pagar karena Ifan kelupaan.
Refan benci dirinya sendiri. Itu pacar adiknya.
Dia coba matiin rasa itu dengan kerja lebih gila. Lembur di kantor sampai jam 11 malam. Tapi tiap pulang, motor Ifan ada di depan, dan suara Nayla ada di dalam.
3 bulan.
Sampai akhirnya berisik itu hilang.
Ifan putus. Seperti biasa. Alasannya klise.
"Bosen, Bang. Nayla tuh terlalu kalem. Gue butuh yang rame," kata Ifan sambil rebahan main HP.
Refan cuma diam. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam 3 bulan, dia bisa napas lega.
Seminggu setelah putus, Nayla datang ke rumah. Bukan buat Ifan. Buat ngembaliin hoodie Ifan yang ketinggalan.
Ifan nggak ada. Cuma ada Refan di teras, baru pulang kantor, kemeja masih setengah berantakan.
"Eh, Kak Refan. Ifan ada?" tanya Nayla agak canggung.
Refan liat matanya sembab. Habis nangis.
"Nggak ada," jawab Refan pendek. Lalu dia geser. "Duduk dulu."
Nayla duduk di ujung kursi teras. Diam.
Refan nggak pinter ngomong. Dia nggak kayak Ifan yang bisa ngerayu dengan 1000 kata. Dia cuma ambil air putih dari dalam dan naruh di depan Nayla.
"Udah putus ya?" tanya Refan akhirnya.
Nayla ngangguk pelan. "Iya."
"Kenapa masih balik kesini?"
"Karena... Bapak Nayla kerja sama Bapak Kak Refan. Nggak enak kalau musuhan."
Refan menatapnya lama. Ini kesempatannya. Kalau dia diem sekarang, Nayla bakal hilang beneran kayak cewek-cewek Ifan yang lain.
"Nay,"
Nayla noleh.
"Kalau sama abang... kamu mau nggak dicoba secara dewasa?"
Nayla kaget. "Maksud Kak Refan?"
Refan buang napas. Dinginnya luntur. Untuk pertama kalinya dia ngomong panjang.
"Abang nggak kayak Ifan. Abang nggak pinter ngomong manis. Abang pendiem, kerjaan abang cuma kantor. Tapi abang nggak main-main. Kalau abang deketin cewek, abang mikirnya buat nikah. Bukan buat 3 bulan terus bosen."
"Abang tau kamu baru putus sama adik abang sendiri. Kedengarannya brengsek. Tapi dari awal kamu pacaran sama Ifan, abang udah nggak bisa ngeliat kamu biasa aja."
"Jadi abang nggak mau maksa. Abang cuma mau nanya... boleh nggak abang deketin kamu? Pelan-pelan. Cara dewasa. Nggak buru-buru. Kalau kamu nggak nyaman, bilang aja. Abang mundur."
Hening.
Nayla megang gelas air putih itu erat. Pipinya merah.
"Kak Refan serius?" suaranya kecil.
Refan ngangguk. Tatapannya nggak lepas.
"Serius."MINGGU 1-2: PENDEKATAN CARA REFAN
Refan nggak chat tiap 5 menit bilang "lagi apa sayang?"
Jam 7 pagi, cuma satu chat:
Refan: Nay, udah sarapan? Bapak kamu bilang kamu lagi ke site sama dia hari ini. Hati-hati ya. Jangan lupa bawa topi, panas.
Nayla yang masih trauma sama pacaran model Ifan yang posesif tapi nggak jelas, kaget.
Nayla: Udah kak. Makasih.
Refan: Oke. Kabarin kalau udah selesai ya.
Udah. Sesimpel itu. Nggak ditanya "sama siapa aja" "ngapain aja" "kok lama balesnya".
Tiap Jumat sore, Refan ngajak Nayla makan. Bukan di cafe hits yang rame. Di resto yang sepi, yang enak buat ngobrol.
"Aku nggak mau kamu ngerasa aku buru-buru," kata Refan pas makan pertama mereka. Kemeja masih kantor, tapi dia udah lepas jam tangan, fokus dengerin Nayla cerita.
"Boleh cerita, kenapa sama Ifan kemarin kamu bertahan 3 bulan? Padahal aku liat kamu capek."
Nayla diem lama, terus jujur, "Karena aku ngira dia bisa berubah, Kak. Dia pinter ngomong, jadi aku ketipu omongannya terus."
Refan ngangguk. "Abang nggak pinter ngomong. Jadi abang nggak janji manis. Abang buktiin aja."
ATURAN PACARAN DEWASA VERSI REFAN:
1. Kalau berantem, jangan di-chat. Ketemu. Ngobrol. 2. Nggak ada ngilang-ngilang. Kalau butuh waktu sendiri, bilang "aku butuh waktu sehari ya" bukan ghosting. 3. Keuangan masing-masing, tapi kalau jalan sama abang, biar abang yang bayar. Kamu tabung aja uang kamu. 4. Nggak ada larangan main sama temen, tapi kasih tau biar nggak khawatir.
Nayla yang umur 22 tahun, yang biasanya pacaran isinya cemburu-cemburuan nggak jelas, pertama kali ngerasain pacaran yang... tenang.
BULAN KE-2
Mereka resmi jadian, tapi nggak diumbar di sosmed.
Refan ngajak Nayla ke kantor. Bukan buat pamer, tapi dia bilang, "Kalau kamu mau jadi bagian hidup abang, kamu harus tau hidup abang tuh kayak gimana. Bosen, isinya angka semua."
Nayla malah betah duduk di samping meja Refan sambil bantuin rapihin invoice. Refan yang biasanya dingin sama semua karyawan, suaranya otomatis lembut kalau ngomong sama Nayla.
"Nay, pusing?"
"Nggak. Seru tau, Kak."
Dan Refan sadar, dia jatuh cinta bukan karena Nayla cantik — tapi karena Nayla bisa bikin dunia dia yang kaku itu jadi lebih hidup.
Malamnya, di mobil setelah pulang kantor.
Nayla nyender di kursi penumpang, capek.
Refan nggak langsung nyetir. Dia matiin AC sebentar biar hening.
"Nay," panggil Refan pelan.
"Hm?"
Refan ngeraih tangan Nayla, digenggam. Tangan Refan gede, kasar karena sering ke gudang.
"Makasih ya, udah mau sama abang yang se-dingin ini."
Nayla senyum, nggenggam balik. "Justru aku butuh yang dingin kayak Kak Refan. Biar aku yang cerewetnya. Kalau dua-duanya cerewet kayak Ifan, berisik rumahnya."
Refan ketawa. Pertama kalinya Nayla liat Refan ketawa lepas.
"Abang sayang kamu," kata Refan. Nggak gombal. Nadanya datar, tapi matanya serius banget. "Serius. Buat nikah."
Nayla pipinya langsung merah. Jantungnya deg-degan.
"Kak... kita baru dua bulan..."
"Iya. Abang tau. Makanya abang bilang sekarang, biar kamu tau arahnya kemana. Abang nggak mau main-main lagi di umur 33."
Nayla nggak jawab pakai kata-kata. Dia condongin badannya, nyenderin kepalanya di bahu Refan.
Itu pertama kalinya mereka skinship yang beneran.
Refan kaku beberapa detik, terus pelan-pelan meluk balik, ngusap rambut Nayla.
Tenang. Dewasa. Nggak buru-buru.
Di luar, Ifan yang baru pulang nongkrong ngeliat mobil abangnya parkir lama di garasi dengan lampu masih nyala. Dia ngintip dari jauh, ngeliat bayangan abangnya lagi meluk mantannya sendiri.
Ifan diem. Mukanya asem.
Besok pagi bakal rame.Sejak jadian, jadwal ketemu mereka jadi susah.
Refan balik ngurus 2 cabang kantor bapaknya di Surabaya. Berangkat Senin pagi, pulang Kamis malam. Jumat baru bisa ketemu Nayla.
Jadi setiap ketemu... rasanya kayak orang puasa lama.
KAMIS MALAM - RUTINITAS BARU
Jam 9 malam, mobil Refan baru masuk garasi.
Nayla udah duduk di teras rumah Refan. Sengaja nungguin. Pake sweater kebesaran punya Refan yang dia pinjem minggu lalu, katanya kedinginan, padahal alasan biar ada bau Refan.
Refan turun dari mobil, dasi udah kendor, muka capek banget.
Begitu liat Nayla, capeknya hilang setengah.
"Kok belum pulang?" tanya Refan.
"Kangen," jawab Nayla jujur. Anak 22 tahun kalau lagi kangen tuh nggak bisa jaim.
Refan nggak jawab. Dia jalan cepet, duduk di sebelah Nayla, langsung narik Nayla ke pelukannya. Erat.
Nayla yang tadinya duduk manis langsung meluk balik, mukanya nyungsep di leher Refan.
"Hm... bau kantor masih," gumam Nayla tapi malah makin erat meluknya.
"Baru 3 hari nggak ketemu, kangennya kayak 3 bulan ya?" bisik Refan di atas kepalanya. Suara dinginnya hilang total kalau udah sama Nayla.
"Abang sih enak, kerja terus bisa lupa. Aku di rumah kepikiran terus," Nayla ngambek manja.
Refan ketawa pelan, tangannya ngusap punggung Nayla pelan.
"Justru abang yang nggak bisa kerja. Rapat sama client, yang kepikiran 'Nayla udah makan belum ya'. Bapak kamu aja sampe negur abang, 'Fan, fokus'."
Nayla ketawa di dada Refan.
Tiap ketemu polanya sama.
5 menit pertama cuma pelukan. Nggak ngomong. Cuma ngerasain kangennya lunas dulu.
JUMAT SORE - DI APARTEMEN REFAN
Karena di rumah ada Ifan dan Bapak, mereka lebih sering ketemu di apartemen Refan yang di tengah kota. Tempatnya sepi, bersih, wangi kayu.
Nayla datang bawa bekal. Refan datang bawa lelah.
Pintu kebuka...
"Nay..."
"Kak..."
Udah, langsung.
Refan taruh tas kerja sembarangan, Nayla langsung lari kecil nyamperin. Refan angkat Nayla sedikit, Nayla ngelilitin tangannya di leher Refan.
Kangen yang ditahan 4 hari meledak di situ.
Ciuman mereka bukan ciuman buru-buru kayak anak baru pacaran. Ciuman kangen orang dewasa. Pelan, dalam, lama.
Refan cium kening Nayla, pipi, terus bibirnya. Tangan Refan nahan pinggang Nayla biar nggak jatuh.
Nayla yang biasanya kalem, kalau udah kangen jadi agresif manja.
"Kak, jangan lepas dulu," bisiknya di sela ciuman.
"Abang nggak kemana-mana. Di sini aja," jawab Refan, napasnya masih ngos-ngosan, jidatnya ditempelin ke jidat Nayla.
Mereka bisa diem di sofa berjam-jam cuma kayak gitu. Nayla duduk di pangkuan Refan, kepala nyender di dada Refan, dengerin detak jantung Refan yang kenceng.
Refan mainin rambut Nayla, ciumin rambutnya berkali-kali.
"Kak Refan tau nggak? Aku tuh sekarang ngerti kenapa dulu aku nggak cocok sama Ifan," kata Nayla pelan.
"Kenapa?"
"Soalnya Ifan bikin aku capek ngejar. Kalau Kak Refan... bikin aku capek kangen terus. Tapi kangennya enak."
Refan senyum, meluk Nayla makin erat.
"Ya udah, biar abang aja yang ngejar kamu terus ya. Kamu tugasnya kangen aja."
"Janji?"
"Janji. Sampai halal, Nay. Abang tahanin kangennya sampai sah."
Nayla mukanya merah, tapi senyumnya nggak bisa ilang. Dipeluk sama cowok 33 tahun yang dingin ke semua orang, tapi meleleh cuma buat dia.
Di luar apartemen, HP Refan bunyi terus. Grup kantor. Bapaknya nanyain laporan.
Refan matiin HP nya. Dibalik. Untuk malam ini, kantor bapaknya bisa nunggu.
Yang penting, kangennya Nayla udah lunas dulu.Nginep pertama mereka bukan direncanain.
Jumat malam itu hujan gede banget di Malang. Angin kenceng.
Nayla dari sore udah di apartemen Refan. Niatnya cuma nganterin bekal rendang buatan ibunya.
Jam 7 malam Refan bilang, "Nay, kamu pulang sekarang ya, udah mau maghrib."
Jam 7.30 hujan turun deres. Listrik kosan Nayla di daerah Suhat mati, kata temen kosnya.
Refan liat dari jendela apartemen lantai 12, jalanan udah banjir setengah ban.
"Nggak bisa pulang kamu," kata Refan tegas. "Licin. Bahaya."
Nayla panik, "Terus gimana Kak? Bapakku pasti nyariin."
Refan langsung video call Bapaknya Nayla. Ngomongnya dewasa banget, bukan kayak pacaran ngumpet-ngumpet.
"Om, ini Refan. Maaf Om, Nayla ke apartemen saya tadi sore nganterin makanan. Sekarang hujan badai Om, jalan depan apartemen banjir. Saya nggak berani kasih Nayla pulang naik motor. Boleh nggak Nayla nginep di sini malam ini? Saya tidur di sofa luar, Nayla di kamar. Pintu kamar saya nggak tutup. Om bisa cek kapan aja."
Bapaknya Nayla diem sebentar, terus bilang, "Ya udah Fan. Om percaya sama kamu. Jaga Nayla ya."
Itu kuncinya pacaran dewasa. Izin. Terbuka. Bukan kabur-kaburan.
JAM 10 MALAM
Lampu apartemen diredupin. Refan udah ganti kaos oblong sama celana training. Nayla masih pake sweater Refan yang kebesaran, jadi kayak dress.
Mereka di sofa yang sama. Selimut satu.
Di luar hujan masih deres. Di dalam cuma ada suara AC sama detak jantung dua orang yang kangennya udah numpuk 4 hari.
Nayla awalnya duduk agak jauh. Ja-im.
Refan yang narik pelan.
"Sini," katanya pelan.
Nayla nyender, kepala di dada Refan. Refan langsung meluk. Erat. Hangat.
"Kak..."
"Hm?"
"Kangennya kok nggak ilang-ilang ya? Padahal udah ketemu," bisik Nayla.
Refan cium puncak kepala Nayla lama.
"Karena abang juga gitu. Tiap ketemu, malah makin kangen buat besoknya."
Mereka nggak ngapa-ngapain yang aneh-aneh. Cuma pelukan itu yang lama. Refan ngusap punggung Nayla pelan, Nayla mainin kancing kaos Refan.
Kadang ciuman. Bukan ciuman nafsu. Ciuman kangen. Refan cium kening, pipi, bibir Nayla pelan, terus balik meluk lagi. Nayla yang kalau udah nyaman jadi manja banget, mukanya nggak mau lepas dari leher Refan.
"Kak Refan, peluknya jangan dilepas ya malam ini," bisik Nayla ngantuk.
Refan ngangguk. "Abang di sini aja. Tidur aja, Nay. Abang jagain."
Jam 12 malam, Nayla ketiduran di pelukan Refan di sofa. Napasnya teratur.
Refan nggak tidur. Dia natap cewek yang ada di pelukannya. Cewek yang dulu dia liat cuma dari jauh sebagai pacar adiknya, sekarang tidur pules di dada dia karena percaya penuh.
Refan matiin TV, kecilin AC biar Nayla nggak kedinginan, terus ngerapatin selimut.
Dia gendong Nayla pelan ke kamar. Ditaruh di kasur. Diselimutin.
Refan sendiri tidur di sofa luar, pintu kamar dibiarin kebuka setengah sesuai janjinya sama Om.
Tengah malam Nayla kebangun, liat Refan nggak ada di sampingnya. Dia jalan keluar, liat Refan tidur di sofa dengan posisi nggak nyaman karena sofanya kependekan buat tinggi Refan 180cm.
Nayla jongkok di sebelah sofa.
"Kak..."
Refan kebangun. "Kenapa sayang? Mimpi?"
Nayla nggeleng. Terus naik ke sofa, maksa tidur di samping Refan yang sempit itu.
"Kakinya tekuk aja nggak apa-apa, aku di sini aja. Kangen."
Refan nggak bisa nolak. Akhirnya malam itu mereka tidur di sofa yang sempit itu berdua, pelukan, selimutan satu.
Sempit, tapi anget. Dan kangennya... akhirnya lunas untuk malam ini.
Paginya, Refan bangun duluan. Dia liat Nayla masih tidur di pelukannya, rambutnya berantakan, masih pake sweater dia.
Refan cuma senyum, terus bisik pelan di telinga Nayla,
"Pagi, calon istri abang."Malam itu setelah nginep, Refan nggak bisa tidur lagi.
Jam 4 subuh, Nayla masih tidur di sofa dalam pelukannya. Rambutnya masih berantakan, napasnya masih pelan.
Refan natap langit-langit. Dadanya sesak.
Dia sadar.
Semalam dia nahan. Tadi malam dia gendong Nayla ke kasur, dia tidur di sofa biar jaga jarak. Tapi pas Nayla maksa tidur di sofa yang sempit itu berdua, pelukan, kening ketemu kening...
Refan bukan malaikat. Umur 33 tahun, dia cowok normal. Dan Nayla itu cewek yang dia sayang banget, cantiknya tipe dia banget.
Semakin lama ditahan, semakin nggak bener.
Refan nggak mau jadi kayak Ifan. Pacaran lama, nginep-nginep, janji manis, tapi nggak ada ujungnya.
Jam 5 pagi, adzan subuh. Refan bangunin Nayla pelan.
"Nay. Bangun sayang."
Nayla ngelindur, "Hm... jam berapa Kak..."
"Sholat dulu yuk."
Mereka sholat subuh berdua. Nayla pake mukena Refan yang baru dibeliin semalam pas hujan — masih kebesaran. Refan jadi imam, suaranya gemeter.
Selesai sholat, mereka duduk di atas sajadah. Masih pake mukena dan sarung. Belum sempat ngomongin semalam.
Refan langsung narik napas panjang, megang tangan Nayla erat. Matanya merah karena semalem nggak tidur.
Refan nggak lutut satu kaki, nggak bawa cincin, nggak bawa bunga.
"Kita nggak bisa gini terus, Nay."
Nayla kaget, mukenanya masih setengah kepasang. "Maksudnya gimana Bang?"
Refan natap mata Nayla lurus.
"Abang jujur ya. Abang sayang kamu. Sayang banget. Makanya abang nggak munafik."
"Tiap ketemu kamu, abang kangen. Tiap kamu peluk abang, abang pengen meluk lebih lama. Tiap kamu tidur di sebelah abang kayak semalam... abang tuh cowok, Nay. Ada nafsunya. Abang nahan semaleman sampe nggak tidur."
"Dan abang nggak mau nahan terus dengan cara yang salah. Abang nggak mau ngerusak kamu."
Nayla diem. Mukanya langsung merah, nunduk.
"Abang umur 33. Abang udah muter-muter cari cewek yang kayak kamu. Tenang, bisa diajak ngobrol, mau diajak susah. Sekarang udah ketemu, abang nggak mau lama-lama pacaran nggak jelas."
"Abang nggak mau lamaran mewah. Abang nggak romantis kayak orang-orang."
Refan genggam tangan Nayla makin kenceng.
"Nay, nikah sama abang ya? Minggu depan abang ke rumah Om. Kita halalin. Biar kangennya, peluknya, nginepnya... semuanya halal. Biar abang nggak perlu lagi tidur di sofa nahan-nahan."
Nayla nangis. Bukan karena kaget, tapi karena akhirnya ada cowok yang ngomong se-jujur itu.
cowok lain mungkin bakal ngajak nginep lagi, ngajak pacaran lebih lama. Refan malah ngajak selesaiin pacarannya.
"Iya Bang..." suara Nayla kecil, masih nangis. "Iya, aku mau..."
Refan narik Nayla yang masih pake mukena itu ke pelukannya. Pelukan pertama mereka setelah statusnya bukan lagi pacar, tapi calon.
"Abang janji, setelah nikah... kamu nggak perlu lagi kangen sendirian di kos. Tiap bangun tidur, abang ada di sebelah kamu. Halal."
Siang itu juga, Refan telpon bapaknya.
"Bapak, Minggu depan saya mau ngelamar anaknya Om Hendra. Namanya Nayla. Bapak kenal."
Bapaknya kaget setengah mati, "Lho? Bukannya itu mantannya Ifan?"
Refan jawab pendek, dingin, tapi mantap.
"Bukan Pak. Itu calon istri saya."
Akadnya beneran simple.
Nggak ada lamaran balon, nggak ada photoshoot pre-wedding di Bromo.
Hari Minggu jam 9 pagi, di rumah Om Hendra. Cuma ada Bapaknya Refan, Om Hendra, Ifan yang dipaksa dateng dengan muka masam, dan penghulu.
Refan pake baju koko putih, peci hitam. Keringetan. Nayla pake kebaya putih simple, jilbabnya masih yang biasa dia pake ngampus, bukan kebaya mewah.
Penghulu: "Refan bin Hartono..."
Refan jawab dengan suara berat tapi jelas, nggak gemeter sama sekali.
"Saya terima nikahnya Nayla binti Hendra dengan mas kawin tersebut tunai."
Sah.
Nayla nangis langsung. Refan salim ke mertuanya, terus duduk di sebelah Nayla. Untuk pertama kalinya, dia pegang tangan Nayla depan orang banyak sebagai suami. Halal.
Ifan yang dari tadi diem di pojokan cuma bisa ngomong, "Gila lu Bang... cepet banget."
Refan noleh dingin, "Lu kelamaan main-main, Fan."
Siang itu juga mereka pindah ke apartemen.
Pagi pertama jadi istri.
Jam 5 pagi alarm Refan bunyi. Biasanya Refan langsung bangun, mandi, berangkat.
Hari ini alarmnya dimatiin sama Nayla.
"Kak... 5 menit lagi..." suara Nayla masih ngantuk, masih nempel di dada Refan, tangannya meluk pinggang Refan erat banget kayak koala.
Refan yang biasanya disiplin kayak tentara, malah narik selimut lagi.
"Ya udah, 5 menit," bisiknya, terus cium ubun-ubun Nayla.
5 menit jadi 30 menit.
Jam 5.30 subuh, mereka sholat berdua. Nayla jadi makmum di belakang Refan, pake mukena yang semalam masih jadi mukena akad. Refan jadi imam, suaranya masih serak-serak bangun tidur.
Selesai sholat, biasanya Refan langsung buka laptop. Hari ini enggak.
Nayla lipet sajadah, terus langsung ke dapur. Mau jadi istri beneran.
"Kak, sarapan mau apa? Aku masakin!"
Refan nyender di pintu dapur, masih pake sarung, rambut berantakan, ngeliatin istrinya yang pake daster simple lagi potong bawang dengan gaya masih kaku.
"Apa aja yang kamu masak, abang makan," kata Refan.
Nayla masak telur ceplok sama nasi goreng. Gosong dikit nasgornya. Telurnya keasinan.
Refan makan lahap. Beneran lahap, nambah dua kali.
"Enak?" Nayla deg-degan nungguin penilaian.
Refan ngangguk serius, "Enak. Enak banget. Soalnya yang masakin istri abang."
Nayla langsung meleleh. Duduk di sebelah Refan, nyuapin.
Jam 7 pagi, Refan harusnya udah di kantor. Bapaknya udah chat 3 kali.
Fan, meeting jam 8 jangan telat.
Refan baca chatnya, terus taruh HP nya kebalik di meja.
"Kak kok HP nya dibalik? Bapak nyariin tuh," kata Nayla.
"Biarin," Refan narik kursi Nayla deket, terus pangku Nayla di pangkuannya. Padahal Nayla masih bawa piring kotor.
"Abang males berangkat," bisik Refan manja. Refan yang dingin, cuek, pendiem itu... manja. Cuma sama Nayla.
"Lho? Kemarin katanya mau jadi suami rajin?"
"Rajinnya nanti jam 9. Sekarang abang mau jadi suami yang nempel istri dulu."
Nayla ketawa, "Kak Refan genit ya ternyata kalau udah jadi suami."
"Genitnya cuma sama kamu. Sama orang lain abang tetep jutek," jawab Refan sambil nyiumin leher Nayla, pipinya, bikin Nayla geli ketawa-ketawa di pangkuannya.
Tiap Refan mau berdiri mau ambil kemeja kantor, Nayla narik lagi.
"Kak, 5 menit lagi aja..."
"Kak, peluk dulu..."
"Kak, kangen... padahal belum berangkat..."
Refan yang tadinya mau jadi bos galak, kalah sama istrinya yang 22 tahun itu.
Akhirnya jam 8.30 baru berangkat. Kemeja rapi, dasi rapi, tapi bibirnya masih senyum-senyum, bau parfumnya kecampur bau masakan istrinya.
Di lift apartemen, Refan video call Nayla.
Nayla yang baru aja ditinggal, mukanya udah kangen lagi di layar, rambut masih diikat asal.
"Kak udah sampe mana?"
"Baru di lift, Sayang. Udah kangen lagi?" goda Refan.
"Iya... apartemen sepi..."
Refan ketawa pelan, suaranya lembut banget, beda sama suara dia kalau di kantor.
"Tungguin abang pulang ya. Jangan kemana-mana. Nanti sore kita beli groceries berdua. Abang pengen pulang ada istri di rumah."
"Iya suamiku," jawab Nayla, pipinya merah dipanggil istri.
Refan matiin telpon, masuk mobil. Di kaca spion, dia liat senyumnya sendiri.
Akhirnya, kantor bapaknya itu bukan lagi tempat dia kabur dari rasa sepi. Sekarang kantor itu tempat dia kerja biar bisa cepet pulang.
Karena di apartemen lantai 12 itu, ada seseorang yang tiap jam nungguin dia pulang, dengan kangen yang nggak pernah habis.
2 TAHUN KEMUDIAN.
Apartemen lantai 12 itu udah nggak sepi lagi.
Dulu cuma ada dua gelas kopi di wastafel. Sekarang ada satu botol susu kecil pink.
Dulu sofanya cuma buat mereka berdua pelukan kangen-kangenan. Sekarang sofanya penuh sama bantal menyusui, selimut bayi, dan mainan karet bunyi cit-cit.
Jam 6 pagi.
"Nay... Nayla... bangun sayang..." Refan guncang pelan bahu istrinya.
Nayla yang sekarang 24 tahun bangun dengan rambut berantakan, mata panda. Di pelukannya ada bayi perempuan 3 bulan yang pipinya bulat, matanya sipit ngantuk mirip Refan banget.
"Bangun, Ayah udah mau berangkat kantor," bisik Refan.
Refan sekarang 35 tahun. Masih dingin sama semua orang di kantor. Tapi kalau udah di rumah... kaosnya belepotan muntahan bayi, rambutnya diacak-acak sama tangan kecil.
Bayi itu namanya Rena.
Rena Hartono. Anak perempuan pertama mereka.
Dinamain Rena karena pas hamil, Nayla ngidamnya dengerin nama itu terus di kepala. Refan yang nggak romantis itu cuma bilang, "Bagus. Rena aja. Artinya yang dirindukan pulang. Kayak kamu dulu."
Rena mirip Refan banget. Dinginnya dapet, judesnya dapet. Kalau nggak kenal nangisnya diem aja, nggak berisik. Tapi kalau udah liat Nayla, langsung senyum lebar nggak ada gigi.
"Rena, salim Ayah dulu," kata Nayla sambil angkat tangan kecil Rena yang masih mengepal.
Refan jongkok, cium tangan kecil Rena lama banget. Terus cium kening Nayla.
"Jaga dua cewek Ayah ya hari ini di rumah. Jangan capek-capek," kata Refan.
Nayla senyum, "Iya Ayah."
Sekarang panggilan mereka udah ganti. Bukan lagi "Kak" dan "Nay". Tapi "Ayah" dan "Bunda" — panggilan iseng yang jadi kebiasaan sejak Rena lahir.
Jam 7, Refan berangkat. Biasanya dulu dia males pulang. Sekarang dia di kantor nggak bisa fokus.
Jam 10 pagi, video call.
Di layar, Nayla lagi gendong Rena yang baru habis mandi, wangi bedak.
"Ayah, liat nih anak Ayah udah bisa tengkurep!"
Refan yang lagi rapat sama Bapaknya, langsung mute mic, senyum lebar kayak orang gila.
"Pinter anak Ayah..." bisiknya.
Bapaknya yang liat dari seberang meja cuma geleng-geleng, "Fan, dari dulu Bapak tau lu bakal bucin kalau udah punya anak cewek."
Sore jam 5, Refan pulang. Nggak pernah telat lagi.
Pintu apartemen dibuka.
Nayla lari kecil masih gendong Rena.
"Ayah pulang!"
Rena yang ada di gendongan Nayla langsung ngoceh "a... a... a..." tangannya narik-narik dasi Refan.
Itu momen yang dulu nggak pernah dibayangin sama Refan. Dulu dia cuma cowok 33 tahun yang kerjaannya kantor-kantor aja, ngeliatin adiknya gonta-ganti cewek.
Sekarang di umur 35, dia punya dua cewek yang tiap hari bikin dia kangen terus-terusan, bahkan pas masih di dalam rumah yang sama.
Malamnya, setelah Rena tidur di box bayinya, Refan dan Nayla duduk di sofa yang sempit itu lagi. Sofa saksi bisu dari malam pertama nginep karena hujan.
Nayla nyender di bahu Refan, Refan meluk.
"Nay,"
"Hm Ayah?"
"Makasih ya, udah mau dulu sama abang yang dingin itu."
Nayla ketawa, cium pipi Refan. "Makasih juga ya Bang, udah berani ngajak nikah tanpa lamaran mewah waktu itu. Kalau nggak, nggak ada Rena sekarang."
Di box bayi, Rena ngeces ngiler sambil tidur, tangannya ngepal.
Refan natap istrinya, natap anaknya.
Kangennya yang dulu nggak ada ujungnya, sekarang udah lunas.
Lunas dalam bentuk keluarga kecil di apartemen lantai 12.
— TAMAT —