Minggu pagi, ia datang kembali. Seketika awan pun menjadi hitam. Burung-burung berhenti menyanyi karena suara nya menggantikan merdunya suara si pembawa pesan. Tidak tahu pasti hari ini langit menangis karena sedang berduka atau bahagia.
Sementara didalam rumah, berbagai macam suara bersliweran di telingaku. Ada yang menangis, berteriak. Samar-samar aku mendengar suara bibi yang mencoba untuk menenangkan ibu.
Kakak sendiri duduk di sampingku sembari menggenggam jemari, dan mengusap rambutku yang masih tersisa di kepala. Cairan bening mengalir dari matanya. Waktu itu ingin sekali aku bangkit dari tempat tidur dan menenangkan semua orang tapi tubuhku terasa seperti di ikat ribuan rantai. Tidak aku tidak bisa, akhirnya air mataku pun ikut menetes.
Selain terlahir sebagai anak tunawicara, enam bulan sudah aku menjalani hidup dengan rasa sakit yang bersemayam di dalam kepalaku. Sebuah kanker telah menggerogoti hidupku selama ini, ada waktu aku ingin sekali melompat dari atas gedung agar semua rasa sakit berhenti menghantui diriku, tapi orang-orang hebat ini selalu mendukung dan menjadi tambahan kekuatan untukku.
Sampai suatu hari kesehatanku kembali menurun dokter bilang hidupku tidak lama lagi. Ibu berteriak mungkin hatinya bagaikan disayat ribuan pisau,
bibi mencoba untuk menenangkan ibu sementara kakak masih berada di sampingku.
Dengan sisa tenaga yang aku miliki aku menggenggam tangan kakak dengan erat.
“Jangan menangis, aku baik-baik saja. Nanti di sana aku akan bertemu dengan ayah, ayah akan menjagaku kak, dan aku tidak akan merasakan sakit lagi ”. kataku mengucapkan nya dengan isyarat
Tak lama setelah itu sebuah cairan kental berwarna merah menetes dari hidungku, aku merasa sesak, napas ku seperti hanya ada di ujung tenggorokan. Kakak berteriak memanggil ibu, lalu semua orang berkumpul ibu semakin histeris, dari sisa-sisa hidupku aku melihat semua orang menangis. Air mata mereka berkolaborasi dengan air mata langit.
Hari ini tak lama lagi tuhan akan mengirim malaikatnya untuk menjemput ku.
Sebagai kata-kata perpisahan aku mengatakan “ nanti akan ku sampaikan rindu kalian kepada ayah jika aku bertemu ayah di syurga ”.
Aku pergi, dengan ketenangan dan juga kebahagiaan sebab hari ini aku tidak akan merasakan sakit (lagi).
...