“Hei bisaka kau diam? kau mengganggu sekali.” Aku berteriak lagi di ruangan bising ini. Dalam seminggu ini banyak sekali keributan yang menggangguku. Apa susahnya mereka diam? Keributan mereka menggangguku yang sedang membaca novel ini. “Tunggu sebentar, kau terlihat mirip dengan Dina!” Apa lagii inii, siapa lagi Dina ini! Ohh tuhan rasanya emosiku hampir meledak.
Oh iyah perkenalan namaku Jessy Nandira, panggil saja aku Jee supaya lebih singkat, dan lebih muda di ingat. Aku baru pindah ke sma ini dua bulan yang lalu. Dan dalam waktu seminggu ini juga muncul murid baru di sma ini. Ahhh murid baru itu juga masuk ke kelasku. Kalian tau ada berapa? Ada lima orang murid baru yang masuk secara bersamaan. Aku malas untuk mempertanyakan ini. Mereka mau sekolah atau mau tauran? Kenapa harus pindah bersamaan?. Ahh sudahlah, lupakan saja aku tidak peduli dan tak ingin perduli.
Aku adalah siswi yang pendiam, keseharianku seperti monoton. Sarapan, berangkat sekolah , sampai ke sekolah membersikan halaman depan, masuk ke kelas, membersihkan kelas, duduk dan membaca novel, belajar, dan kembali membaca novel sampai aku hanyut dalam duniaku sendiri, pulang, makan siang jika aku ingin, beres-beres, lalu tidur. Hanya saja satu minggu ini aku tidak bisa tenang. Selalu saja ada cara mereka membuat rasa emosiku ingin muncul. Tapi aku juga sedikit aneh dengan diriku yang saat ini. Sejak kapan aku menjadi gampang sekali emosi? Sejak kapan aku begitu perduli dengan orang-orang ini?
Tanpa aku sadar duniaku berubah, ada banyak orang di sekelilingku saat ini. Aku mulai memiliki alasan kenapa aku tersenyum. Aku mulai membuka diri untuk beradaptasi dengan lingkunganku saat ini. Sampai akhirnya aku mampu bangkit dari semua bayangan kelam masa laluku. Ahh kalian harus tau itu karna siapa. Tentu saja karna salah satu dari pria menyebalkan itu. Tapi meskipun menyebalkan, dia selalu punya cara untuk membuatku tertawa. Dia yang sangat berbeda, dia yang membuat rasa penasaran muncul di dalam diriku. Sampai akhirnya aku perlahan kembali menjadi diriku yang dulu, aku yang ceria sebelum kejadian pahit itu hadir di hidupku.
***
Ahhh apa hari ini hari senen lagi?
Tentu saja iyah, aku tidak mungkin salah kali ini.
Di depan rumahku sudah mulai bising sekali dengan suara ibu-ibu yang berjualan sayuran. Sayup-sayup kudengar suara ibuku, bernar-benar suara yang sangat mudah ku kenali. Suara tawaya menggema. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 04:00. Aku tidak mungkin keluar, selain akan dapat omelan ibuku karna akan terkena angin malam. Tentu saja aku juga tak punya nyali keluar dengan tank top dan celana super pendek ini. Kadang ibuku mengatakan aku itu punya dua kepribadian. Jika keluar rumah, aku adalah orang cuek namun penampilanku selalu terjaga. Yahhh setidaknya aku selalu berpakaian sopan dengan hijab. Hanya saja ketika dirumah ibuku akan mengganggap aku itu setan! jahat sekali kannn?.
Ibuku berbicara begitu tentu saja bukan tanpa alasan. Itu di sebabkan karna pakaiyanku. Dirumah aku merasa sangat bebas, jadi aku selalu menggunakan celana pendek dengan tank top, atau gaun pendek selutut tanpa lengan, dan jangan lupakan koleksi dasterku. Dirumahku jarang ada tamu, lingkungan sekitar juga sepi kecuali hari senin. Kenapa begitu? Yahh itu karna di depan rumahku adalah pasar yang beroprasional setiap hari senin.
Aku sudah selesai sholat subuh, setelah ini beres-beres rumah adalah hal wajib. Setelah beres-beres selesai , aku mengumpulkan niat untuk mandi. Sebenarnya ini masih pukul 05:45 tapi lebih cepat lebih baik. Aku bisa bekeliling pasar dulu, membeli sarapan, atau sekedar menghibur diri dengan suara keramaiyan.
Yahh aku memang bersekolah di salah satu SMA swasta duduk di bangku kelas XII. Namun banyak sekali kisah kelam yang tidak orang-orang tau, banyak sekali kejadian yang telah mengubah banyak hal dalam hidupku. Aku hampir gila di masa lalu. Dua tahun yang lalu adalah awal dimana kehidupanku berubah.
****
(Kilas balik masa lalu)
Aku memiliki kisah yang sulit dipahami, juga sulit di percaya. Dua tahun yang lalu aku memutuskan untuk menikah. Waktu itu aku baru saja melewati UAS. Aku bisa dibilang cukup pintar. Masuk di kelas favorit, memiliki banyak teman, mengikuti banyak kegiatan, menjadi anggota inti paskibra, dan menjadi gugus depan saka bhayangkara.
Anak jurusan IPA selalu dikatikan dengan penampilan "cupu" tapi itu tidak berlaku untukku dan kedua sahabatku. Aku memiliki dua orang sahabat. Icah adalah sahabat yang selalu mengikuti langkah yang ku ambil. Jika aku mengatakan aku akan ikut suatu acara dan kegiatan dia juga akan melakukan hal yang sama. Sedangkan Yayah dia hanya ikut saka bhayangkara, sebenarnya dia ingin selalu ikut sepertiku dan Icah hanya saja dia pendek dan kondisi kesehatannya tidak cukup baik.
Pagi-pagi adalah waktu yang tepat untuk kebut-kebutan. Karna rumahku yang paling jauh dari tempat kami bersekolah tentu saja aku yang harus menghampiri mereka berdua. Aku menggunkan motor matic dengan kecepatan yang masih normal, ini masih pagi banyak anak kecil di pinggir jalan aku tak ingin membuat keadaan jalanan panas. Aku menghampiri Icah yang sudah menunggu di teras depan rumahnya. Ibu dan neneknya tersenyum ramah, kami berpamitan lalu mencium tangan mereka sebelum kembali menancap pedal gas menghampiri Yayah. Rumau Yayah selalu saja sepi, orang tuanya di perkebunan. Ahh jangan berfikir Yayah akan menggunakan motornya, tentu saja bukan seperti itu. Aku, Icah, dan Yayah selalu berbonceng tiga. Terdengar brandalan memang. Tetapi kami menikmati suasana ini, tentu saja yang membonceng aku yang sesekali bergantian dengan Icah. Jika yang membonceng Yayah mungkin aku sudah berulang kali masuk rumah sakit.
Kami memaski kelas dengan melanjutkan cerita yang terputus ketika di parkiran sekolah. Tempat duduk yang sama-sama di bagian belakang dan berdekatan memudahkan cerita ini berlanjut.
Aku menceritakan aku ingin menikah, dengan pacarku. Tentu saja mereka berdua kaget. Bukan tanpa sebab mereka sangat kaget. Dilihat dari keseharianku, dan juga aku yang jarang jalan-jalan, jarang menceritakan laki-laki yang ku sebut pacarku yang bahkan mereka berdua belum perna bertemu sosok laki-laki itu. Hal yang wajar jika mereka kaget. Icah langsung menoyor jidatku, Yayah memeriksa suhu tubuhku juga mengelus perutku. Sesaat setelah itu mereka menuduhku bercanda. Bahkan setelah aku mengatakan dan menegaskan jika aku serius mereka tetap tak ingin percaya.
Seminggu setelah aku mengatakan rencanaku dengan mereka, berita tentang lamaranku menyebar di sekolah juga di lingkungan sekitar rumahku. Guru TIK yang juga adalah kakak sepupuku datang kerumahku, bertanya tentang berita itu apakah benar atau hanya kabar burung saja. Aku memberitahu bahwa berita itu benar. Dan sebulan lagi pernikahan itu akan terlaksanakan. Hari ke hari semakin banyak yang datang kerumahku, kedua sahabatku tiap hari datang dan selalu saja ingin menangis. Tapi aku tidak, aku merasa biasa saja. Aku selalu tersenyum dengan ramah ketika ada yang bertanya tentang rencanaku.
****
(Kilas maju)
"Eh apa lagi yang kau lamunkan, cepat mandi. Jangan lupa hari ini hari senin, kau harus sekolah juga antar adikmu sekolah dulu jika terus melamun kau bisa terlambat". Ibuku menyadarkanku dari lamunan kisah masa lalu yang kelam itu. Baiklah ayo mandi dan melakukan apa yang semestinya di lakukan.
Pukul 06:40 aku sudah selesai dengan semua persiapan sekolah. Untuk hari ini sepertinya sarapanku hanya bisa roti yang dibeli oleh adik laki-lakiku tadi ketika dia keluar. Ibuku sangat sibuk jika itu hari senin, aku juga punya adik perempuan yang berumur dua tahun, dan lagi aku juga punya seorang anak perempuan yang juga di jaga olehnya. Putri kecil yang memberi kekuatan untukku, tapi juga mengingatkan dengan masa laluku. Sudah tak usah melamun lagi, aku langsung berpamitan dengan ibuku begitupun adik laki-lakiku.
Aku harus mengantar adik laki-lakiku dulu ke sekolahnya. Adik laki-lakiku bernama Redo dia baru masuk SMP tahun ini. Sepanjang jalan kami bercerita, dia sangat perhatian kepadaku. Setelah sampai di depan gerbang sekolahnya dia mencium tanganku, berpamitan lalu mengucapkan salam.
Sebenarnya aku masih ingin menatap sekolah ini, sekolah yang penuh kenangan manis. Tidak ada kenangan menyakitkan disana. Di kenangan itu hanya ada gadis polos yang penuh keceriaan. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu dan menjadi masa lalu.
Aku memutar balik sepeda motorku dan mengendarainya menuju sekolahku. Jarak kesekolahku lumayan jauh, bisa memakan waktu hampir setenga jam. Tapi karna ini masih lumayan pagi, dan sekolahku bukanlah sekolah dengan aturan yang sangat ketattt aku bisa sedikit bersantai mengendarai sepeda motorku. Jalanan masih sangat sepi, udarapun masih terasa sangat sejuk. Pemandangan disini sangat indah, persawahan, perbukitan, peternakan, semuanya masih terasa asri. Lingkungan pedesaan inilah yang membuatku selalu jatuh cinta dengan kotaku. Senyumku tak bisa kusembunyikan, aku menikmati suasana santai di jalanan sepi ini.
Terlalu larut dengan suasana hati yang baik, tanpa sadar aku sudah sampai di sekolahku. Belum lama aku memarkirkan sepeda motorku, kepala sekolahku juga tiba. Dia menyapaku, lalu memintaku membersihkan halaman depan. Tanpa banyak bicara aku langsung mengambil sapu di kelasku dan meletakan tasku. Aku keluar dengan hand phone di saku bajuku yang memutar music, dan sapu halaman. Ahhh sebeneranya hari ini aku memakai kaca mata. Hanya saja karna merasa "malu" setelah tiba di sekolah aku melepasnya.
Aku menyapu halaman cukup lama, satu persatu murid disekolah ini juga mulai berdatangan. Dan jangan berfikir itu sangat ramaii, di sekolah ini tidak lebih dari seratus orang penghuni itupun mungkin di tambah mereka yang berbeda alam dengan manusia. Aku sudah selesai menyapu halaman, kudengar dengan jelas pak Dius yang adalah kepala sekolahku sedang mengomel.
Selang beberapa waktu, 3 murid laki-laki menghampiri tempatku. Aku tidak merasa heran, tentu saja mereka akan melanjutkan tugasku ini. Jika aku menyapu halaman, maka mereka pasti disuruh membuang sampah-sampah ini.
***
Jam pelajaran sudah dimulai, hari ini pelajaran bahasa Indonesia. Yang entalah harus merasa bahagia atau biasa saja. Yang itu karna, aku sangat menyukai pelajaran "bahasa Indonesia". Tapi cara mengajar guruku ini sangatlah jauh dari mendapat banyak pemahaman. kenapa seperti itu? karna 80% dari waktu mengajarnya dihabiskan dengan "bercerita tentang pengalaman hidupnya". Yahhh memang ceritanya selalu menarik tapi kita sekolah untuk belajar atau mendengarkan sejara perjalan hidup seorang pengajar? Entalah! itu tidak bisa kujelaskan, tapiii ini ada tapinyaaaa. Setiap kali belajar dengan guruku ini, rasanya santai. Sama seperti kita berinteraksi dengan murid. Kita bisa menggunakan bahasa yang lebih santai, tapi tetap dalam batasan "wajar" bukan "kurang ajar".
****
Pelajaran sudah berlangsung beberapa menit. Aku sesekali memperhatikan pintu masuk kelas ini. Kemana anak-anak menyebalkan itu? tidak datang sekolah lagi?. Sudahlah biarkan saja, jika memang tidak sekolah itu artinya aku bisa membaca novel lebih fokus. Kenapa? karna saat ada mereka fokusku sedikit terbagi. Enta karna percakapan mereka, suara music mereka yang kadang membuatku ikut bernyanyi, atau sekedar suara game. Tapi kenapa tidak datang? tidak mungkin mereka sangat kompak lalu sakit bersamaan dengan asalan cuaca akhir-akhir ini sering hujan kan. Itu terdengar seperti pembohongan public, karna jikapun mereka sakit tidak mungkin sekompak itu.
Pak Dius pamit setelah menjelaskan sedikit materi, dan memberikan soal ujian tahun lalu untuk dijadikan tugas. Dannnnn enaknya itu, dia hanya mengatakan. "Kerjakan semampu kalian" tentu saja kesempatan bagiku untuk sedikitttttt mengambil waktu yang akan kugunakan untuk membaca novel, hehe itulah yang selalu kunginkan. Karna semakin kesini novel yang kubaca semakin membuat rasa penasaranku memuncak!
***
Aku sudah mengerjakan 10 soal, kurasa itu cukup. Tohh nanti hari kamis yang dibahas hanya 1-3 soal. Handphone di dalam tasku seakan sudah memanggil untuk dimainkan. Tapiiiiii suara bising menggema di lorong dekat kelasku, dan tak lama datanglah para gangster abal-abalan dari daerah yang sama ini. Yahhh tentu saja mereka adalah murid baru yang entalah harus dikatakan bagaimana. Tidak terlalu berandalan, tapi bukan juga type pendiam. Ahhh sudalah lupakan, aku lebih baik membaca novelku.
Kelas ini kembali bising, suara music, mengobrol, game, dan berbagi jawaban. Aku terlalu larut dalam novelku, tertawa, senyum-senyum, bernyanyi, dan bahkan hampir menangis. Jika saja aku tak ingat ini disekolah tentu saja aku akan menangis. Genre novel ini sangat berfantasi,aku tak perna merasa bosan dan selalu tertarik untuk terus membacanya. Tanpa sadar guruku sudah masuk kembali ke kelas, aku cepat-cepat menaruh kembali handphoneku ke dalam tas dan menyiapkan tugas yang sudah kukerjakan. Dan kalian tentu saja sedikit paham kondisi selanjutnya.
Yahhhhhhh semua murid di kelas mendapat omelannnn maut, ahhh bukan karna aku membaca novel tapi karna kondisi kelas yang tadinya ribut.
Beruntungnya cerama-agama dadakan itu tidak berlangsung lama, bukannya tak ingin mendengarkan dengan baik tapi fikiranku masih tertuju pada "yaallah bagaimana novelku tadi? jangan sampai pemeran utama wanita itu benar-benar tertabrak mobil". Huhhh dasar otak halu, selalu saja menghayal di saat yang tidak tepat.
***
Ini sudah 2 minggu setelah murid baru yang seperti geng itu pindah kesekolahku. Aku bahkan belum bisa menghafal nama mereka, dan bahkan tak terlalu memperhatikan bagaimana penampilan, tinggi badan, ataupun fisik lainnya. Karna menurutku, itu bukanlah hal yang harus aku ketahui. Hari ini hari kamis, ada pelajaran biology dihari ini. Sebenarnya setelah aku bersekolah disini aku pindah kejurusan IPS, sebelumnya aku masuk kejurusan IPA. Tapi aku tidak mempermasalahkan, toh juga sama saja masih harus belajar, belajar, dan belajar.
Ibu Novi masuk kedalam kelasku dengan tampang santai, tidak ada senyumnya ataupun ekspresi kesal, benar-benar santai. Dia mengatakan jika hari ini kami akan belajar tentang pembelahan sell meiosis dan metamorphosis. Kami akan di bagi menjadi 2 kelompok. Karna dikelasku waktu itu hanya ada 15 murid tentu saja dibagi menjadi 2 kelompok yang beranggotakan 7/8. Kelas ini kembali ricuh dengan diskusi pembagian kelompok. Aku hanya diam sampai pada akhirnya ibu Novi memutuskan untuk membagi kelompok sesuai keinginannya. Aku satu kelompok dengan, 6 orang laki-laki yang sudah kukatakan itu sangat menyebalkan. Aku sudah pasrah saja dengan keputusan itu, toh juga kelompok akan tetap begitu-begitu saja.
Aku terpaksa harus pindah tempat duduk agar dekat dengan anggota kelompokku. Awalnya aku berniat mengerjakan semuanya sendirian, dan nanti kutulis nama mereka. Tapi karna ibu Novi selalu melihat interaksi kelompok akhirnya aku terpaksa berkerja sama. Seorang laki-laki yang tubuhnya lebih pendek dari temannya yang lain itu menatapku. Lalu bertanya "Jee kita ngapain?" dan tau sendiri kecuekanku. Aku hanya mengangkat bahu tanda aku tidak tau harus menyuruh mereka apa. Aku membuka buku paket, menyiapkan buku tulis dan bolpoin lalu mencatat bagian-bagian materi yang penting. Sedari tadi mereka selalu ribut, enta menanyakan alamatku, sekolahku yang sebelumnya, dan lainnya. Tentu saja aku risih, terlebih mereka siapa? itu privasiku kenapa mereka harus tau? dan akhirnya aku tak menanggapi itu. Kiki, murid laki-laki yang tadi bertanya padanya menawarkan diri untuk mendektekannya. Berhubung aku malas berdebat dan ingin segala kecanggungan ini berakhir yasudah kubiarkan saja.
Catatanku sudah hampir selesai tapi sejak tadi seorang murid laki-laki yang duduk dibelakangku yang mana juga anggota kelompokku selalu berkicau layaknya burung yang sedang memarahi anaknya yang selalu berkeliyaran. Dia mengatakan banyak sekali penyataan. "Coba liat lagi, kamu itu mirip sama Dina" lalu kembali mengoceh "nanti aku yang gambar membran sell yah" dannnnnn "udahh selesai belum". Sejak tadi aku hanya menjawab "hmmm" namun setelah berkali-kali dikatakan mirip "Dina" aku juga merasa sedikit kesal dengan emosi aku menjawab "memangnya Dina siapa? matan elu? terus elu belum move on?" tak ada yang menjawab pernyataanku, tak ada yang merespon sampai akhirnya aku menyerahkan buku yang penuh catatan kedia. Kulihat dia hanya terdiam, aku duduk lalu menatapnya "apa? katanya tadi mau ngegambar? yaudah nih gambar yang rapi". Beberapa saat dia hanya diam, lalu memulai untuk menggambar. Aku memperhatikan diam-diam sambil menulis kata-kata yang tidak penting sama sekali. Dilihat dari seragamnya, dia mungkin berbeda sma dengan temannya yang lain. Yahhh itu karna dari warna dan coraknya berbeda dengan yang lain. Setauku temannya memanggil dia dengan sebutan Qoy. Terlalu larut dalam pemikiran tidak jelas akhirnya dia selesai menggambar. Namun karna kelompok kami, kelompok 2 jadi presentasi kami yang terakhir. Dannn astaghfirullah, aku tak akan melupakan kejadian itu. Pada akhirnya aku mempresentasikan hasil dari kelompok kami "sendirian". Benar-benar sendirian, untung saja mental ini dari smp lumayan sering diuji jadi cukup memiliki keberanian mempresentasikannya sendirian.
****
Waktu berlalu begitu saja, canda dan tawa dikelas inipun mulai sering terjadi. Perdebatan, ocehan, obrolan, sudah memenuhi ruangan kelas yang semulanya sangat sunyi ini. Saat ini jam pelajaran baru saja berakhir. Aku tak punya rencana untuk keluar kelas. Terlebih kudengar suara anak laki-laki itu bergemma diluar kelas. Aku mengingat saat jam istirahat pertama kali mereka pindah ke sekolah ini.
***
(Kilas balik)
Jam istirahat baru saja dimulai, guru di kelas itupun sudah keluar. Sebagian murid sudah keluar untuk beristirahat. Lima orang murid laki-laki yang baru pindah, dan satu orang murid yang sudah cukup lama dikelas itu datang menghampiri murid perempuan yang sedari tadi terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya. "Boleh kenalan gak?" sapa salah satu dari murid laki-laki itu. Namun tak ada jawaban dan tak ada tanggapan yang didapatkan. "Jangan sombong banget lah, masa kenalan aja gak boleh" kembali salah satunya berbicara. Namun murid perempuan itu tetap tak merespon. Setelah beberapa saat murid perempuan itu keluar kelas, dan duduk di teras depan kelas. Namun sayangnya itu tetap tak bisa membuatnya mendapat ketenangan. Murid laki-laki yang sedari tadi tak berehenti bicara itu mengikutinya. Mereka duduk di dekatnya, namun dia tetap diam tak melakukan gerakan apapun dan berkata apapun. "Jee bagi password Wi-Fi sekolah dong, nanti kita gak gangguin lagi deh" beberapa saat tak ada jawaban. "Yaudah catatat" jawabnya tanpa melepaskan pandangan dari ponselnya. Setelah memberikan password Wi-Fi murid perempuan itu kembali masuk ke dalam kelas dan melanjutkan membaca novelnya.
****
(Kilas maju)
Hmm jika di ingat itu bukanlah sikap yang baik untuk sebuah awal perkenalan. Namun semua itu juga sudah berlalu, semuanya sudah terjadi dan tidak akan bisa berubah lagi. Aku sudah siap kembali dengan kebisingan setelah murid laki-laki itu masuk ke kelas. Satu orang murid yang akrab disapa Qoy itu duduk disisi kananku, dan murid yang membantuku mendektekan materi waktu itu duduk disisi kiriku. Aku tidak tau maksud mereka apa, aku juga tidak paham apa yang mereka inginkan. "Jee foto bareng yuk" ucap salah satu dari mereka. Aku mengabaikan, tidak terlalu tertarik dengan apa yang mereka ucapkan. Namun nyatanya kamera ponsel salah satu dari mereka sudah disiapkan. Mereka memintaku untuk senyum, yahhh tentu saja senyum itu paksaan. "Gantian dong, gantian" begitulah kata-kata mereka sebelum akhirnya Kiki berdiri dan bergantian dengan temannya yang bisa di panggil Aris. Mereka berganti namun laki-laki yang di sebelah kananku ini tidak, yahhh aku juga tidak terlalu risih toh dia duduk tak dekat sekali denganku. Foto itu hanya 3 kali, lalu mereka sibuk mengobrol kembali sampai akhirnya bell berbunyi. Ku fikir itu bell masuk kelas, tapi tak lama dari itu ibu Tia yang adalah wali kelasku datang. Dia mengatakan kami semua boleh pulang karna mereka akan mengadakan rapat. Tentu saja ini tidak terlalu buruk bagiku. Aku bisa tidur siang, karna jujur saja akhir-akhir ini aku merasa sedikit lelah.
***
Waktu itu berlalu tanpa kita tau bagaimana kelanjutan ceritanya...
Benci itu bisa menjadi rasa saling menyayangi...
Hal-hal yang menyebalkan itu suatu saat menjadi hal yang dirindukan...
Mencari kebahagiaan atau mendapat kebahagiaan adalah keinginan setiap orang....
Kita yang tadinya tak saling tau pada akhirnya saling merindu...
Kita yang tadinya rapuh akhirnya merajut suatu kisah yang baru...
Aku dan kamu dua orang yang terikat hubungan persahabatan, persaudaraan, dan teman berpetualangan dalam kehidupan...
****