Sore itu, sengaja aku memilih posisi terenak untuk menikmati bias matahari yang tadinya panas membara menjadi kian redup lalu langit seketika menjadi gelap.
Kursi yang kupilih adalah posisi yang biasa ku tempati dengan William, pacarku. Eh bukan, sejak 3 jam lalu dia bukan lagi pacarku, aku diputuskan begitu saja. Makanya aku kemari sekedar mengenang bahwa dia pernah membuatku tersenyum. Ah, cintanya mirip kayak pergantian hari. Hangat, singkat dan lalu menghilang dalam kegelapan meninggalkan tanya di benakku, hanya segini sajakah kisah kami? Hanya segitu sajakah kemampuannya memperjuangkanku jadi miliknya?
Hah, aku hanya duduk di kursi ini yang dulu sering kami manfaatkan untuk bersantai sambil menatap pesona senja yang indah di danau Toba.
Yah, memang kuakui cahaya senja di tempat ini berbeda dengan di daerah lain mungkin karena dengan siapa aku menyaksikannya.
Aku tersenyum miris, saat tidak sengaja mendengar percakapan sepasang kekasih yang duduk di pojokan di belakangku.
"Tapi kamu beneran sudah putuskan dengan gadis itu?"
"Iya sayang, iyaaa ... kalau kau tak percaya, aku ada minta teman merekamnya tadi saat aku bilang putus itu. Sebentar temanku kirimkan, sebab tadi batrei ponselnya habis, lagi di charge gitu."
'Hei kenapa suara lelaki itu, seperti biasa aku dengar ya? Ah, apa karena saking sakit hatinya aku atau karena terbawa suasana, aku jadi teringat sama William,' batinku.
"Baiklah, aku tunggu temanmu itu kirim video-nya baru aku percaya kalau kau benar sudah selesai dengan Jeanett," sahut gadis di belakangku.
Aku pun berbalik saat mendengar namaku disebut oleg orang lain.
"William," gumamku pelan.
"Jeanett?" Mantan kekasihku terkejut melihat keberadaanku di situ.
" Hei kau William, kau tidak boleh melihat wanita lain. Kau pandang aku saja," lalu gadis itu menarik William lebih dekat padanya.
Maaak, ibarat luka ditaburi garam ... sudah diputusi, kini aku harus pula menyaksikan kemesraan sepasang kekasih ini.