Disebuah kamar yang gelap dengan sedikit penerangan dan juga ventilasi, duduklah seorang pemuda. Wajahnya yang rusak disebabkan kebakaran yang terjadi 15 tahun yang lalu terlihat mengerikan. Pada waktu itu usianya 5 tahun. Kebakaran yang disebabkan arus pendek itu merusak sebagian wajahnya.
Yang ia ingat adalah rasa sakit yang luar biasa. Setelah menjalani pengobatan ia kembali pulih dari rasa sakit itu. Tapi ada satu hal yang tidak dapat dipulihkan lagi yaitu wajahnya.
Ia teringat pertama kali dirinya keluar rumah, semua mata memandangnya dengan tatapan jijik. Bahkan ada yang dengan tega menyebutnya monster. Kedua orang tuanya demi menjaga perasaan anaknya , mereka mengurung anaknya tersebut di rumah dan memanggil seorang guru untuk mengajari anaknya tersebut.
Nama wanita itu adalah Liliana, ia mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Rose. Rose waktu itu baru berumur 3 tahun. Selama belajar Steven (nama anak laki-laki yang berwajah rusak) selalu menutup wajahnya dengan kain menyisakan kedua matanya saja.
Liliana mengerti sekali dengan keadaan Steven, oleh karena itu ia selalu berhati-hati dalam berbicara. Steven adalah anak yang cerdas, sehingga ia cepat sekali mengerti apa yang diajarkan.
Hanya saja, ia sudah tidak bisa mempercayai orang lain selain orang tuanya dan juga gurunya. Segala daya dan upaya telah ditempuh untuk mengembalikan kepercayaan dirinya, namun hasilnya tetap sama, Steven semakin tenggelam dalam dunianya sendiri.
Liliana sebagai guru masa kecil Steven merasa ikut sedih dengan keadaan anak didiknya ini. Sering ia menceritakan hal ini kepada anak gadisnya yang berusia 17 tahun. Rose mendengar cerita ibunya menjadi ingin mengenal Steven lebih dekat lagi, pikirnya Steven takut dengan keramaian, mungkin kalau ia datang sendiri Steven tidak akan merasa terancam.
Rose akhirnya meminta izin kepada orang tua Steven untuk menemuinya. Orang tua Steven mengizinkannya, mereka masih berharap keajaiban itu akan datang.
Hari itu tiba, dengan tekad yang kuat Rose menemui Steven. Steven mendengar ada seseorang yang akan menemuinya merasa tidak nyaman. Ia gelisah. Banyak sekali pertanyaan yang menghantui pikirannya. "Mau apa dia?, apa maksud kedatangannya?", pertanyaan itu berputar memenuhi pikirannya.
Rose segera menemui Steven ditemani orang tua Steven.
Awal mula terasa kaku, Steven dengan sedikit ketus mengatakan, "Apakah kamu kemari hanya untuk mentertawakan diriku?, silahkan tertawa, sesudah itu pulanglah!".
Rose memandangi wajah yang tertutup kain itu. "Separah itukah?, bolehkah aku berteman denganmu?", tanya Rose tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Baik kalau itu maunya kamu, aku akan memperlihatkan wajahku", secara perlahan Steven membuka penutup mukanya. Wajah Steven memang mengerikan, kebakaran itu merusak sebagian wajahnya.
Rose hanya tersenyum dan berkata," siapa bilang dirimu mengerikan, yang mengerikan itu adalah orang-orang yang menghinamu dan menghindari dirimu, ketahuilah tidak ada yang lebih mengerikan dari pada hati yang busuk, lihatlah diriku baik-baik".
Rose menaikkan lengan panjang bajunya sebelah kanan, terlihatlah sebuah tangan palsu, dilepaskannya tangan itu, begitu juga dengan celana panjang bagian kanan digulungnya, kembali terlihat kaki palsu.
Baik kedua orang tua Steven maupun Steven kaget melihatnya.
Rose kembali berkata", Aku cacat dari lahir, tangan dan kaki kananku tidak dapat tumbuh sempurna. Tidak ada yang mau main denganku, mereka semua memandangku seolah-olah aku ini hina, mau tahu bagaimana perasaanku?, sakit sekali, Aku tenggelam dalam kesedihan, kalau dirimu mengalami rasa sakit itu dari usia 5 tahun, aku mengalaminya disaat aku mulai bisa berjalan".
Rose kembali berkata," Kuatkan dirimu, paling tidak kamu memiliki tubuh yang sempurna, sedangkan aku?, tanpa alat bantu ini aku bukanlah apa-apa".
"Mulai saat ini aku adalah temanmu, maukah kamu menjadi temanku?, dan kita akan menghadapi semua ini bersama-sama?", tanya Rose.
Steven menarik nafasnya dan berkata," Baiklah aku akan mencobanya, ya, mulai saat ini kita adalah teman".
Steven dan Rose semenjak saat itu selalu bersama, secara perlahan Rose mengajak Steven keluar rumah, walau hanya sekedar duduk didepan teras rumah Steven.
Awal mulanya memang banyak orang yang mencemooh, tapi lama kelamaan melihat Steven dan Rose saling bersenda gurau dan tertawa, pikiran orang-orang yang menganggap Steven itu mengerikan akhirnya sirna dengan sendirinya. Steven mulai berani bertatap muka dengan orang-orang yang lewat dan sesekali menyapa mereka.
Semua itu berkat kegigihan Rose, anak gadis yang berusia 17 tahun dengan kondisi tubuh yang tidak sempurna.
TAMAT
🌻 🌻 🌻🌻