Bryan Horison, CEO yang dingin dan perfeksionis, itulah yang aku rasakan semenjak menjadi sekertaris pribadinya. Namun sifat itu terpatahkan saat insiden membagongkan terjadi. Dimana ponsel kita yang tidak sengaja tertukar. Lucu sekali bukan? Bagaimana bisa, kita tidak mengenali ponsel kita masing-masing?
Setelah ditelisik, ternyata tipe ponsel kita sama, dengan warna ponsel yang senada dan softcase dengan bahan dan warna yang serupa. Dan yang paling tidak masuk akal ialah, wallpaper ponsel kita pun sama. Sama-sama menampilkan tokoh Mitsuki dari anime Boruto dengan pose yang sama pula. Bahkan kita sama-sama tidak suka mengunci ponsel dengan sandi karena itu hal yang merepotkan.
Sejak saat itu kita tau bahwa kita sama-sama pecinta anime. Mungkin orang sekarang memanggilnya dengan sebutan wibu. Aku merasa cocok dengannya karena kami satu frekuensi. Kita semakin akrab seiring berjalannya waktu. Kadang aku merasa dia adalah jodohku karena kesamaan yang kita miliki.
Tapi sayang seribu sayang. Dia sudah ada orang yang harus disayang, maka rasa sayangku yang sangat disayangkan harus ku pendam dalam hati demi kesehatan jasmani dan rohani yang sedang butuh asupan kasih sayang.
Singkatnya adalah, dia sudah berkeluarga.
Mungkin aku sudah kehilangan akal menaruh perasaan pada lelaki yang sudah berkeluarga. Uhh, hot daddy memang bikin ketar-ketir saja.
"Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanyaku yang baru saja datang.
Bahkan aku belum sempat duduk saking gugupnya. Apakah ada masalah di kantor? Atau apakah aku yang sudah melakukan kesalahan dengan kerjaanku?
Tumben sekali pak Bryan menyuruhku datang ke restoran malam-malam begini. Kalau hanya untuk menanyakan masalah kantor, bisa saja kan dibahas lewat telepon atau besok saja kalau bertemu di kantor?
"Duduklah, santai saja".
Pak Bryan mengisyaratkan dengan kepalanya agar aku duduk di kursi seberang mejanya. Tangannya dilipat didepan dada, wajahnya terlihat serius. Aku pun duduk dengan canggung. Takut kena amuk. Entah kesalahan apa yang sudah aku perbuat.
"Apakah kamu sudah menonton anime movie yang judulnya Kotonoha No Niwa?"
"Eh?!"
Aku melongo. Apakah ini alasan dia memanggilku ke sini? Tapi tadi dia bilang ada masalah penting yang perlu dibahas.
Pak Bryan pasti ngelantur. Tidak ada angin, tidak ada hujan, menanyakan hal itu saat suasana yang menurutku tegang ini. Karena biasanya kita akan mengobrolkan hal receh seperti ini hanya saat jam istirahat kantor atau lewat chat tengah malam, saat istrinya sudah tidur tentunya.
Pak Bryan menaikkan alisnya menunggu jawaban ku.
"Sudah pak. Memangnya ada apa ya?"
Meski kita sudah cukup dekat seperti se-bestie, namun aku harus tetap menjaga sopan santunku. Bagaimanapun dia adalah atasanku, bahkan dia lebih tua dariku 5 tahun.
"Kamu tau kan episode di menit ke 34:28?"
"Saya tidak ingat pak"
"Coba cek, disana ada sesuatu"
Aku pun menurut. Mengambil ponsel dari tas lalu mencari anime movie yang dimaksud dan menghentikan tayangannya pada menit yang diminta. Ya, menit ke 34:28.
"Sudah pak"
"Coba baca translatenya"
Karena ini anime, tentu saja berbahasa Jepang. Dan pak Bryan tahu betul aku suka menonton anime yang ada translatenya.
"Sepertinya, aku jatuh cinta padamu", ucapku persis seperti apa yang tertulis pada layar ponsel.
"Jadi bagaimana?" tanyanya sambil memandangku dengan intens.
"Apanya?"
Aku masih belum ngeh.
"Sepertinya, aku jatuh cinta padamu", ulangnya dengan tatapan setajam silet yang langsung menjurus ke arah bola mata hitamku.
"Lalu? Oh--"
Tiba-tiba otakku mulai bekerja dan memahami apa maksud dari semua ini.
"Bagaimana?" tanya pak Bryan lagi.
Oh ya ampun!
Pak Bryan baru saja menembakku?
Mari kita ulangi.
Pria tampan dan mapan di depanku itu baru saja menyatakan perasaannya padaku?!
Kenapa rasanya seperti mimpi?
Sayanya aku harus kembali sadar akan realita.
Bukankah dia sudah berkeluarga?
Aku harus bagaimana sekarang?
Ditolak sayang, diterima nyawa melayang. Karena aku tahu, istri pak Bryan sangat pecemburu, posesif dan over protektif. Dia bisa melakukan apa saja untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya dengan kekuasaan yang dia miliki.
Tapi sebenarnya aku juga mempunyai perasaan yang sama dengan atasanku itu.
"A-aku--"
Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, ekor mataku sudah menangkap seonggok daging-oh maaf-maksudku sesosok wanita yang sangat ku takuti. Bu Michelle, istri pak Bryan yang tiba-tiba datang bersama teman-teman sosialitanya.
Sontak aku segera menutupi wajahku dengan tas selempang yang aku bawa.
"Pak, arah jam 12. Bu Michelle datang bersama teman-temannya", bisikku agak mencondongkan badan ke arah pak Bryan.
"Saya permisi", imbuhku yang langsung melenggang pergi menuju toilet yang tak jauh dari sana.
Huft--jantung ini rasanya mau copot saja!
Bagaimana jika bu Michelle memergoki kami tadi? Bisa habis aku dikeroyok berjamaah dengan geng sosialitanya. Atau malah besok aku langsung dipecat dengan tidak hormat dari kantor tempatku mengais pundi-pundi rupiah.
Tidak boleh terjadi! Skincare tidak ditanggung BPJS. Aku tidak bisa kehilangan pekerjaanku yang mana gajinya tidak main-main, karena aku termasuk sekertaris teladan.
Aku mengatur jantungku yang terpacu sangat cepat seperti sehabis melihat hantu nenek grandong. Aku menunggu hingga keadaan aman dan segera pergi sebelum terjadi tuduhan yang berlanjut dengan adu jambak-jambakan.
***
"Apa jawabanmu, April?"
Jangan salah sangka. Pak Bryan tidak sedang mengabsen nama bulan. Itu namaku, Aprilia Maheswari.
Sejak kemarin Pak Bryan terus mendesakku dengan pertanyaan itu. Dan aku dengan lihainya terus mengulur waktu dengan alasan sibuk. Kini ia menahan tanganku saat aku akan keluar dari ruang meeting. Hanya tinggal sisa kami berdua di ruangan ini.
Sebenarnya aku sudah berfikir keras dengan keputusan yang akan aku ambil. Tapi tidak jua menemukan titik terang. Pikiranku buntu. Dan akhirnya dengan tingkat kewarasan yang sudah terkikis oleh terjangan ombak cinta, aku pun menerima pak Bryan untuk menjadi pacarku. Lebih tepatnya, aku menjadi kekasih gelap atasanku sendiri.
Pak Bryan terlihat senang. Begitu pula denganku yang sejak awal memang menyukainya.
Dengan status hubungan kita sekarang, aku jadi semakin dekat dan manja dengan pak Bryan. Hingga seenak jidat aku mengklaim dirinya hanya milikku seutuhnya, tanpa sadar diri pada posisiku saat ini.
"Ah pak, jangan dicepetin dong. Kan gak paham nanti jalan ceritanya kayak gimana!" omelku saat sedang asyik menonton anime berdua dengan pak Bryan di laptop, namun durasinya malah dipercepat olehnya. Jika sedang bersamaku dia memang usil.
"Kan sudah aku bilang, kalau lagi berdua panggilannya jangan pak-pak. Memang sejak kapan aku menikah sama ibumu?" gerutu pak Bryan menatapku kesal.
"Maaf, sudah kebiasaan", aku nyengir kuda.
Pak Bryan mencubit hidungku dengan gemas.
Ting Tong
Kami memandangi pintu apartemen saat seseorang memencet bel dari luar.
"Apa itu pengantar pizza?" tebakku.
Pak Bryan mengendikkan bahu.
Tapi entah kenapa perasaanku jadi tidak enak. Aku pun melangkah mendekati pintu lalu melihat melalui lubang intip, memastikan siapa yang datang sebelum membuka pintu.
Astagah!
Bu Michelle!
Aku segera menghampiri pak Bryan dan memberitahukan siapa yang ada di depan pintu. Membereskan kasur. Meraih tas dan sepatu, lalu keluar menuju balkon.
Aduh! Kenapa bu Michelle bisa tahu kalau pak Bryan ada disini? Okay, pak Bryan sudah 2 hari tidak pulang ke rumah. Sudah pasti istrinya yang posesif itu mencarinya.
Beruntung, apartemen ini milik pak Bryan pribadi. Jadi hanya pak Bryan yang memegang kunci apartemen ini.
Aku dapat mendengar perang adu mulut antara pak Bryan dan bu Michelle dari sini. Suara bu Michelle yang melengking membuat bulu kudukku merinding.
Harus bagaimana sekarang?
Bagaimana caraku menghindari situasi ini?
Apa aku harus turun dari balkon ini?
Sayangnya aku berada di lantai 20, jadi bagaimana aku turun?
Akhh! Seharusnya aku tau konsekuensi apa yang harus aku hadapi ketika aku memilih jalan yang salah dengan cinta terlarang ini.
Tapi aku terlanjur tenggelam terlalu dalam hingga tak tahu bagaimana caraku untuk naik ke permukaan.
Kadang aku menyesali keputusan bodohku yang menerima perasaan pak Bryan dimenit 34:28 itu.
Tak lama perang sengit itu berhenti. Sunyi. Apakah mereka sudah gencatan senjata?
Samar ku dengar suara langkah sepatu yang semakin mendekat. Memperlihatkan bayangan mendekati jendela balkon. Semakin dekat. Hingga aku menempel pada ujung tembok, menyembunyikan tubuh sambil menutup mata dengan kedua telapak tangan sembari berdoa. Semoga itu bukan bu Michelle. Jangan sampai dia menemukanku disini.