Di sebuah desa kecil bernama Desa Maju, hiduplah seekor kambing bernama Bembi.
Bembi bukan kambing biasa.
Ia memiliki bulu putih kecokelatan, sepasang tanduk kecil yang melengkung ke belakang, telinga yang selalu bergerak-gerak ketika mendengar suara aneh, dan sepasang mata hitam yang menurut pemiliknya terlihat sangat polos.
Namun ada satu hal yang membuat Bembi berbeda dari kambing-kambing lainnya.
Bembi sangat suka berbicara.
Masalahnya, ia hanya tahu satu kata.
“Mbee.”
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar muncul dari balik bukit, Bembi sudah berdiri di depan kandangnya.
“Mbee.”
Tidak ada yang tahu apa maksudnya.
Kadang ia berkata “mbee” ketika lapar.
Kadang ketika haus.
Kadang ketika ingin keluar.
Kadang ketika ingin masuk.
Kadang ketika melihat ayam.
Kadang ketika melihat manusia.
Dan kadang-kadang…
Tidak ada alasan sama sekali.
“Mbee.”
Pemilik Bembi, seorang anak perempuan bernama Lala, sudah terbiasa.
“Pagi, Bembi.”
“Mbee.”
“Iya, aku juga senang melihatmu.”
“Mbee.”
“Tidak, kamu tidak boleh makan sandal Ayah lagi.”
“Mbee.”
“Jangan mbee-mbee terus kalau memang kamu yang salah.”
Bembi menatap Lala.
Ia mengunyah rumput.
Lalu berkata pelan.
“Mbee.”
Lala menghela napas.
“Ya sudah.”
Hari-hari di Desa Suka Maju berjalan seperti biasa. Orang-orang pergi ke ladang, anak-anak pergi ke sekolah, para ibu memasak, dan para bapak berkumpul di warung sambil membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Bembi biasanya menghabiskan waktunya di padang rumput bersama kambing-kambing lain.
Ada Jalu yang gemuk.
Ada Momo yang pemalu.
Ada Gendis yang sangat suka memanjat batu.
Dan ada Bembi.
Suatu pagi, Jalu bertanya,
“Menurutmu, kenapa manusia selalu tertawa kalau kamu bicara?”
Bembi mengangkat kepalanya.
“Mbee.”
Jalu mengangguk pelan.
“Aku juga tidak mengerti.”
“Mbee.”
“Benar. Dunia memang aneh.”
Mereka kembali makan rumput.
Namun hari itu sesuatu yang aneh terjadi.
Ketika Lala datang membawa ember air, Bembi tiba-tiba berlari menghampirinya.
“Mbee!”
Lala berhenti.
“Ada apa?”
“Mbee!”
Bembi menarik ujung rok Lala dengan mulutnya.
“Eh! Jangan ditarik!”
“Mbee!”
Bembi kemudian berlari ke arah hutan kecil di belakang desa.
Lala mengikutinya.
“Bembi! Tunggu!”
Kambing itu terus berlari.
Semakin jauh.
Semakin dalam.
Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah pohon besar.
Bembi berhenti.
“Mbee.”
Lala melihat ke sekeliling.
Tidak ada apa-apa.
Hanya pohon tua, rumput, dan beberapa batu.
“Kamu membawaku ke sini untuk apa?”
Bembi menatap sebuah semak.
“Mbee.”
Lala mendekat.
Ia membuka semak itu.
Dan terkejut.
Di sana ada seekor anak burung yang jatuh dari sarangnya.
Anak burung itu gemetar.
Sayapnya belum cukup kuat untuk terbang.
“Oh…”
Lala segera mengangkatnya.
“Kamu menemukan dia?”
Bembi mengangguk.
Setidaknya Lala merasa kambing itu mengangguk.
“Jadi dari tadi kamu mau menunjukkan ini?”
“Mbee.”
Lala tersenyum.
“Bagus sekali, Bembi.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Bembi tidak berkata apa-apa.
Ia hanya berdiri di samping Lala.
Ekornya bergerak pelan.
Sejak saat itu, Lala mulai memperhatikan Bembi lebih serius.
Ternyata “mbee” milik Bembi memiliki banyak arti.
Ketika Lala pulang terlambat, Bembi berkata,
“Mbee.”
Lala tahu ia sedang khawatir.
Ketika hujan turun deras dan kandang mereka bocor, Bembi berkata,
“Mbee!”
Lala tahu ia meminta bantuan.
Ketika Lala menangis karena bertengkar dengan sahabatnya, Bembi mendekat dan menyandarkan kepalanya ke lutut Lala.
“Mbee…”
Dan entah bagaimana, Lala mengerti.
“Aku tidak apa-apa.”
“Mbee.”
“Benar.”
“Mbee.”
“Aku cuma sedikit sedih.”
Bembi menjilat tangan Lala.
Lala tertawa kecil.
“Jijik.”
“Mbee.”
“Iya, iya. Terima kasih.”
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Bembi semakin terkenal di desa.
Orang-orang mulai menyadari bahwa kambing itu bukan sekadar kambing yang suka berteriak.
Ia sering memberi tanda ketika ada sesuatu yang salah.
Suatu malam, Bembi terus berteriak.
“Mbee! Mbee! Mbee!”
Lala yang sedang tidur terbangun.
“Apaan sih?”
“Mbee!”
Bembi berlari ke arah gudang.
Lala mengikutinya.
Ketika pintu gudang dibuka, mereka melihat asap.
Ada kabel tua yang terbakar.
Lala segera memanggil ayahnya.
Api berhasil dipadamkan sebelum menyebar.
Sejak saat itu, semua orang menganggap Bembi sebagai pahlawan kecil desa.
Bahkan kepala desa membuatkan sebuah kalung untuknya.
Di kalung itu tertulis:
BEMBI — PENJAGA DESA
Bembi melihat kalung itu.
“Mbee.”
Lala tertawa.
“Bagaimana? Keren, kan?”
“Mbee.”
“Aku anggap itu berarti iya.”
Namun tidak semua orang menyukai Bembi.
Di desa itu ada seorang pedagang bernama Pak Darto.
Ia memiliki ladang besar dan tidak suka jika kambing berkeliaran di dekat tanamannya.
Suatu sore, ia menemukan Bembi sedang berdiri di dekat pagar ladangnya.
“Pergi!”
Bembi menatapnya.
“Mbee.”
“Jangan mbee!”
“Mbee.”
“Pergi!”
Bembi tidak bergerak.
Pak Darto kesal.
Tetapi kemudian Bembi berbalik dan berlari.
Pak Darto mengerutkan dahi.
“Aneh.”
Ia mengikuti Bembi.
Beberapa meter kemudian, Bembi berhenti di dekat sungai.
“Mbee.”
Pak Darto melihat ke arah sungai.
Airnya meluap.
Dan beberapa batang kayu besar tersangkut di jembatan.
Kalau hujan turun lebih deras, jembatan itu bisa runtuh.
Pak Darto terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia mengelus kepala Bembi.
“Terima kasih.”
Bembi tersenyum.
Setidaknya begitulah kelihatannya.
“Mbee.”
Sejak hari itu, Pak Darto tidak pernah lagi mengusir Bembi.
Bahkan diam-diam ia sering memberikan wortel.
Tetapi kehidupan tidak selamanya bahagia.
Suatu pagi, Lala mendapat kabar bahwa keluarganya harus pindah.
Ayahnya mendapatkan pekerjaan di kota.
Lala sangat sedih.
Ia tidak ingin meninggalkan Bembi.
Malam itu, Lala duduk di depan kandang.
Bembi berdiri di depannya.
“Aku harus pergi besok.”
“Mbee.”
“Aku tidak tahu kapan bisa kembali.”
“Mbee…”
Lala memeluk leher Bembi.
Air matanya jatuh ke bulu kambing itu.
“Jangan lupa aku.”
Bembi diam.
“Mbee.”
Lala menangis lebih keras.
“Aku tahu kamu cuma bisa bilang itu.”
Bembi mendekatkan kepalanya.
“Bembi…”
Untuk beberapa saat, mereka hanya diam.
Keesokan paginya, kendaraan keluarga Lala berhenti di depan rumah.
Lala naik.
Sebelum pintu ditutup, ia melihat Bembi.
“Mbee!”
Bembi berlari mengejar kendaraan.
“Mbee!”
Lala membuka jendela.
“Bembi!”
“Mbee!”
“Mbee!”
Kendaraan terus berjalan.
Suara Bembi semakin jauh.
“Mbee…”
Lala menempelkan dahinya ke kaca.
Air matanya kembali jatuh.
Hari pertama di kota terasa asing.
Hari kedua juga.
Hari ketiga lebih buruk.
Lala merindukan rumah.
Merindukan halaman.
Merindukan suara ayam.
Merindukan rumput.
Dan tentu saja…
“Mbee.”
Bembi.
Beberapa bulan kemudian, Lala akhirnya pulang untuk berlibur.
Ia berlari menuju kandang.
“Bembi!”
Tidak ada siapa-siapa.
Kandang kosong.
Jantung Lala berdebar.
“Bembi?”
Ia mencari ke seluruh desa.
Tidak ada.
Sampai akhirnya ia melihat seekor kambing tua sedang berdiri di atas bukit.
Lala berlari mendekat.
“Bembi!”
Kambing itu menoleh.
Mata mereka bertemu.
Bembi berjalan perlahan.
Lala berlutut.
“Bembi…”
Kambing itu berhenti di depannya.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara.
Kemudian—
“Mbee.”
Lala langsung memeluknya.
“Kamu masih ingat aku!”
“Mbee.”
“Aku juga ingat kamu.”
“Mbee.”
“Aku kangen.”
“Mbee.”
“Aku tahu.”
Lala tertawa sambil menangis.
“Sekarang kamu makin tua.”
“Mbee.”
“Iya, iya. Aku juga tambah tua.”
“Mbee.”
“Jangan menghina.”
Bembi menjilat pipinya.
“Ew!”
Lala tertawa.
Hari itu, Lala sadar sesuatu.
Mungkin selama ini ia terlalu memikirkan arti kata “mbee”.
Mungkin “mbee” bukan sekadar suara.
Mungkin “mbee” adalah cara Bembi mengatakan semua hal yang tidak bisa ia katakan dengan bahasa manusia.
“Aku lapar.”
“Mbee.”
“Aku takut.”
“Mbee.”
“Aku menemukan sesuatu.”
“Mbee.”
“Aku senang melihatmu.”
“Mbee.”
“Aku khawatir.”
“Mbee.”
“Aku di sini.”
“Mbee.”
Dan mungkin…
“Aku sayang kamu.”
“Mbee.”
Tahun-tahun berlalu.
Lala tumbuh dewasa.
Bembi menjadi kambing tua.
Langkahnya tidak lagi secepat dulu.
Tanduknya mulai kusam.
Ia lebih sering tidur di bawah pohon.
Namun setiap kali Lala datang, Bembi selalu mengangkat kepalanya.
“Mbee.”
Suatu sore, Lala duduk di sampingnya.
Matahari perlahan tenggelam di balik bukit.
“Bembi.”
“Mbee.”
“Terima kasih.”
Bembi menatapnya.
“Dulu aku pikir kamu cuma kambing berisik.”
“Mbee.”
“Sekarang aku sadar…”
Lala tersenyum.
“…kamu adalah teman pertamaku.”
Bembi memejamkan mata.
Angin sore bergerak pelan melewati bulunya.
Lala mengusap kepalanya.
“Mbee.”
“Ya.”
“Mbee.”
“Iya.”
“Mbee.”
“Iya, Bembi.”
Lala tertawa.
“Aku dengar.”
Dan di bawah langit jingga, seekor kambing tua terus menggumamkan satu-satunya kata yang ia punya.
“Mbee.”
Mungkin dunia memang tidak membutuhkan seribu kata untuk memahami seseorang.
Kadang satu kata sudah cukup.
Kadang satu suara sederhana bisa berarti:
Aku lapar.
Aku takut.
Aku melihatmu.
Aku menjagamu.
Aku merindukanmu.
Aku senang kamu pulang.
Dan terutama—
Aku masih di sini.
“Mbee.”
Lala tersenyum.
“Aku juga.”
Malam pun turun perlahan di Desa Suka Maju.
Ayam-ayam masuk kandang.
Lampu-lampu rumah menyala.
Angin membawa aroma rumput basah.
Dan dari sebuah kandang kecil di bawah pohon tua…
terdengar suara terakhir malam itu.
“Mbee.”
Lalu hening.
Beberapa detik kemudian—
“Mbee.”
Lala yang sudah berjalan pulang berhenti.
Menoleh.
Dan tertawa.
“Selamat malam juga, Bembi.”
“Mbee.”
Kali ini Lala tidak perlu menerjemahkannya.
Ia sudah tahu artinya.
Selamat malam.
Sampai besok.
Dan mungkin…
Jangan lupa bawa wortel.