Dari Leiden ke Fort de Kock
(Sebuah Cerpen)
Dari Belanda Antonio lari, karena patah hati, tanah Eropa tidak menarik hatinya lagi. Pilihan pelariannya jatuh ke Hindia Belanda. Sesampainya di Batavia, ia langsung menuju Sumatera, karena pamannya, Joan van Swol, bekerja sebagai arsitektur di Fort de Kock—Bukittinggi.
Sesampainya di tanah Sumatera, hatinya terpaut pada gadis Minang yang sederhana. Antonio melihat Aminah pertamakali ketika dalam perjalanan dari Stasiun Fort de Kock. Gadis memakai baju kurung yang elok dipandang mata itu sedang menyiram bunga di halaman. Mata Antonio tidak lepas memandang sampai delman bergerak menjauh.
“Apa yang kau lihat, Antonio?” tanya Tuan Swol ketika melihat perhatian keponakannya tertuju pada gadis pribumi yang sedang menyiram bunga di depan rumah gadang.
“Ah, tidak, Paman. Aku hanya terkejut, ternyata ada mutiara tersembunyi di pelosok negeri ini. Kukira hanya di Eropa saja bisa kutemukan mutiara yang sangat indah.”
Tuan Swol mengerutkan keningnya selama beberapa saat. Matanya yang berwarna safir itu memandang Antonio dengan penuh selidik. “Jangan bilang kau baru saja terpikat dengan gadis pribumi di depan rumah gadang tadi.”
Antonio malu-malu mengakuinya, sementara delman terus bergerak menuju kediaman Tuan Swol. Matahari semakin memerah di sudut lain, disambut dengan adzan magrib di surau. “Matamu memang tidak salah,” kata Tuan Swol setelah mereka terdiam cukup lama. “Gadis timur memiliki kecantikan tersendiri, tidak kalah dengan gadis-gadis barat. Namun, aku tidak menyangka kau akan terpikat pada Aminah.”
“Aminah? Paman tahu gadis itu?” Antonio memandang Tuan Swol lebih dekat. Ia tidak menyembunyikan rasa penasarannya. Tuan Swol tertawa melihat sikap keponakannya itu. Dari kecil mereka memang dekat, karena umurnya tidak terpaut jauh, hanya enam tahun.
“Tentu saja aku tahu. Aminah anak Sutan Betuah. Orang pribumi terpandang di tanah Minangkabau, penghulu adat.” Delman berbelok di simpang jalan yang ditumbuhi pohon ketapang. Langit semakin merah di belakang mereka, menampilkan bayangan yang semakin memanjang.
“Boleh paman ceritakan sedikit tentang Aminah?” tanya Antonio bersemangat. Ia membetulkan topinya sambil memandang pedati yang menepi ketika delman mereka lewat.
“Setahuku, Aminah tamat HIS. Ia gadis melayu pada umumnya. Sepulang sekolah, ia dipingit, lalu diajar ke dapur, menjahit, dan merenda. Mengenai keluarganya, bisa dibilang untuk ukuran bumiputera, cukup terpandang di Fort de Kock.”
“Apakah sulit untuk mendapatkannya, Paman?” tanya Antonio sambil merapikan dasinya yang agak miring. Walaupun ia sudah menempuh perjalan jauh dari Batavia menuju Pelabuhan Teluk Bayar, setelah itu naik kereta api ke Fort de Kock, penampilan Antonio masih terlihat necis. Mengenakan celana panjang, jas, dasi, serta dua buah pena terselip di saku jasnya.
“Kau serius dengan ini?” tanya Tuan Swol kaget melihat keponakannya yang baru berusia 19 tahun jatuh cinta kepada Inlander yang baru pertamakali dilihatnya.
Antonio mengangguk mantap.
“Sulit sekali. Kemungkinannya sangat kecil. Kau tahu sendiri bagaimana pergundikan terjadi pada inlander?” tanya Tuan Swol sambil mengisi pipanya dengan tembakau.
“Tapi itu tidak menutup kemungkinan, walaupun kecil.” Antonio berhenti sesaat sambil memandang bukit yang mulai diselimuti kegelapan. Ia tampak merenung. “Seperti Paman yang mendapatkan gadis pribumi yang paman cintai. Tidak tertutup juga kemungkinan untukku.”
Topik pembicaraan mereka berubah serius membahas pergundikan yang terjadi di Hindia Belanda saat itu. Beruntung delman sampai tepat waktu, jadi pembicaraan itu tidak dilanjutkan lagi. Tuan Swol langsung membawa Antonio masuk ke dalam rumah, lalu menyuruh jongos untuk membawa barang bawaan Antonio ke dalam.
Dua hari kemudian, ketika Antonio dan Tuan Swol sedang menikmati teh di halaman belakang pada sore hari, Antonie kembali bertanya kepada pamannya tentang kemungkinan yang sudah mereka bahasa di delman tempo hati.
“Kawin campuran itu sangat sulit rintangannya. Kau lihat sendiri keadaan rumah tanggaku. Banyak kerabat Zainab yang tidak suka akan pernikahan kami, begitu juga dengan keluarga kita yang tidak akan pernah menerima Zainab. Banyak rintangan bagi kami, baik sebelum menikah, maupun sesudah menikah. Terutama bangsa kita yang menganggap derajat pribumi lebih rendah, maupun pribumi yang menganggap kita macam-macam.”
Tuan Swol berhenti dan meneguk tehnya tiga teguk. “Bukan sampai di situ saja, dalam pergaulan, terlihat sekali perbedaan bangsa Eropa dengan bangsa Hindia. Di mana pun, orang-orang mengangkat topi kepadaku, tapi melupakan Zainab, dan menganggap ia tidak ada di sampingku. Di pesta-pesta, semua orang tersenyum padaku, tapi tidak sekalipun mereka melihat Zainab.” Tuan Swol berhenti sesaat, wajahnya terlihat sedih. “Kau masih mau memilih kehidupan seperti ini? Hubungan kalian seperti tidak diterima siapa pun. Baik di tanah Minangkabau, maupun di tanah Eropa.”
Antonio merenungi perkataan pamannya. Ia memilih jalan yang sulit. Takut patah hati untuk yang kedua kali mulai menghinggapi perasaaannya. Namun, perasaan meluap-luap itu tidak bisa dibendung. Satu-satunya jalan adalah menemui gadis itu dan menanyakan perasaan gadis itu padanya.
Hingga suatu hari, Antonio memberanikan diri untuk menyapa gadis itu. Ia berjalan dengan perasaan meluap-luap sekaligus gugup menuju rumah Aminah. Aminah yang sedang merajut, menghadap sisi berlawanan, sehingga tidak melihat kedatangan Antonio.
“Bolehkah saya berkenalan dengan Anda?” sapa Antonio berbahasa melayu terbata-bata dan senyum terkembang. Di tangan kirinya terdapat bunga mawar merah yang akan diberikannya pada gadis itu.
Aminah membalikkan tubuh untuk melihat siapa gerangan yang bertamu sore-sore begini. Betapa terkejutnya gadis itu saat menatap wajah Antonio. Pandangan mereka bertemu dalam waktu yang singkat. Namun, desiran di dada masing-masing sudah bermain dengan indah. Tiba-tiba, Aminah menurunkan pandangan, lalu berlari ke dalam rumah dan mengunci pintu.
Antonio hanya mematung saat pintu tertutup di depan wajahnya. Rasa sakit begitu saja menghujam hatinya. Baru saja hendak berkenal, sudah ditolak mentah-mentah. Sepanjang perjalanan pulang, Antonio hanya bisa menebak-nebak, kenapa Aminah begitu takut melihat dirinya. Esoknya, Antonie kembali berkunjung, tapi Aminah masih menutup diri. Hingga kunjungan ketiga pun, ia masih belum bisa bicara dengan gadis itu secara langsung.
Melihat perubahan sikap keponakan yang tiba-tiba, Tuan Swol pun bertanya. “Kenapa wajahmu seperti itu? Bukankah sebelum pergi kau terlihat bersemangat?”
“Aku belum apa-apa sudah ditolak,” katanya dengan raut wajah sedih.
“Ditolak?”
Antonio mengangguk dan menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Setelah selesai bercerita, Tuan Swol hanya tertawa sampai keluar air matanya. Antonio bingung, kenapa pamannya tertawa seperti itu setelah mendengar kesusahannya.
“Ada yang lucu paman?” tanya Antonio dengan wajah tidak mengerti.
“Tentu, lucu sekali. Kau sekarang bukan berada di Eropa, di mana jika kau suka pada seorang gadis, tinggal bilang suka padanya. Di Hindia berbeda, adat dan agama mereka tidak memperbolehkan pria dan wanita bicara, bersentuhan, atau berhubungan. Kukira sudah tahu tentang ini sebelum berangkat dari Leiden?”
“Aku baru tahu, Paman. Ajari aku bagaimana cara dekat dengannya.”
“Caranya hanya satu. Nikahi,” jawab pamannya, singkat.
Akhirnya, Tuan Swol dan Antonio mendatangi pamannya Aminah. Antonio bingung sendiri ketika Tuan Swol membawanya ke pamannya Aminah, bukan kepada orang tuanya. Tuan Swol pun menjelaskan adat orang Minang yang menganut sistem keturunan matrilineal, dan prosesi lamaran justru dilakukan oleh pihak wanita kepada pria, serta dilakukan bukan ke rumah orangtua yang dipinang, tapi kepada pamannya.
Bagindo Angku yang baru saja membersihkan kandang burung balamnya, terkejut dengan kedatangan orang-orang berkulit putih itu, dan lebih terkejut lagi ketika mendengar mereka ingin meminang Aminah. Bagindo Angku bukan tidak tahu siapa Tuan Swol. Salah satu orang Belanda yang disegani pribumi maupun sebangsanya. Namun, soal pinang meminang bukan persoalan gampang. Terutama Aminah akan menjadi pewaris rumah gadang, penerus suku, dan pemegang harta pusaka, tentu tidak begitu saja menerima orang asing menjadi suaminya.
“Tuan Swol, Anda pasti tahu bagaimana adat kami?” kata Bagindo Angku membuka pembicaraan dalam bahasa Melayu. Ia mengambil daun sirih dari tempatnya, lalu mencampurkan dengan gambir, pinang, dan kapur. Setelah itu, Bagindo Angku mengunyahnya perlahan.
“Tentu Tuan, saya tahu,” balas Tuan Swol dengan bahasa Melayu juga.
“Pernikahan di Minangkabau bukan hanya menyatukan dua insan, tapi juga dua keluarga besar. Pernikahan tidak bisa diputuskan begitu saja, harus melibatkan orang tua, ninik mamak, dan sesepuh. Itu baru dari segi adat, belum lagi dari segi agama. Tentu Tuan tahu syarat menikah dalam agama islam, bukan?”
Tuan Swol mengangguk, dia paham sekali bagaimana syarat agama islam. Mereka dilarang menikah dengan yang berbeda agama. Satu-satunya cara adalah dengan meninggalkan keyakinan salah satu pihak, dan yang jelas itu bukan keyakinan yang dipegang teguh oleh orang Minangkabau. Orang Minangkabau pantang meninggalkan agamanya, karena agama islam dan adat sudah menjadi satu kesatuan. Jika keluar dari agama islam, maka otomatis keluar juga dari adat, dan keluar juga dari suku.
“Jika Tuan serius dengan pinangan ini, kami tentu tidak akan menolak segala niat baik,” tambah Bagindo Angku setelah melihat kebimbangan Tuan Swol. Meskipun sorot matanya masih tidak suka dengan kedatangan orang-orang berkulit putih ini.
Selama percakapan berlangsung, Antonio hanya diam, ia tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan. Rasanya percakapan itu begitu lama, dan sangat serius sekali. Setelah mereka turun dari rumah Bagindo Angku, baru Antonio bertanya kepada pamannya. Tuan Swol pun menceritakan apa yang mereka perdebatkan tadi. Satu hal yang Tuan Swol tangkap, bahwa Bagindo Angku ingin melihat kesungguhan Antonio jika ingin melamar keponakannya.
“Jadi maksudnya, aku harus mendatangkan Ma dan Pa ke Hindia untuk melamar Aminah?” tanya Antonio memastikan setelah Tuan Swol menceritakan secara detil apa yang menjadi pokok permasalahannya.
Tuan Swol mengangguk. Antonio hanya menghela napas. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Orang tuanya pasti tidak akan menerima begitu saja kalau anaknya menikahi inlander, terlebih lagi harus datang ke Hindia Belanda. Mama dan Papanya adalah Belanda totok yang menganggap mereka lebih tinggi derajatnya dari inlander.
“Dan satu lagi yang lebih sulit dari itu,” kata Tuan Swol kemudian.
“Apa paman?”
“Kau harus memeluk agama islam sebelum menikahi Aminah.”
Antonio hanya ternganga. Itu permintaan yang sangat sulit. Bisa dihitung jari orang Eropa yang masuk islam di Hindia Belanda. Namun, demi cintanya kepada Aminah, Antonio akan melakukannya. Meski itu sesuatu yang tidak mungkin sekalipun.
Sebelum kembali ke Belanda, Antonio mengirimkan surat kepada Aminah melalui jongos. Antonio tidak berharap gadis itu akan membalas suratnya, tapi siapa sangka, Aminah membalasnya. Aminah mengatakan akan menunggu Antonio, tapi ia tidak bisa menjanjikan apa-apa, karena pernikahannya bukan ia yang menentukan.
Butuh bertahun-tahun bagi Antonio untuk membawa orang tuanya ke Hindia Belanda. Ketika mereka datang kembali ke Fort de Kock, tampak kemeriahan di mana-mana. Genderang ditabuh, arak-arakan memadati jalan, berbagai pertunjukan musik digelar. Wajah gembira orang-orang terlihat di mana saja.
Antonio langsung menuju rumah Aminah, karena pamannya sudah dipindah dari Fort de Kock. Terlebih lagi ia rindu dengan gadis itu. Ketika Antonio sampai, dilihatnya rumah gadang itu begitu meriah, dihiasi berbagai panji berwarna merah, kuning, dan hitam. Sepertinya ada pesta perkawinan. Kemudian mata Antonio tertumbuk ke pelaminan. Di sana, terlihat Aminah memakai baju adat pengantin yang meriah.
Mata mereka bertemu dalam waktu yang singkat, tapi rasanya begitu lama. Seperti lamanya tahun-tahun yang memisahkan mereka. Air mata Aminah jatuh. Pandangan Antonio gelap.
—Selesai—