Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Aku duduk di tengah rumah tidak berani masuk kamar karena aku merasa jijik dengan keadaan kamar ku.
"Sudah gue bersihkan, sekarang lo bisa masuk! " titah Galang.
Aku pun berdiri lalu menatap Galang.
"Ada apa? " tanya Galang.
"Aku gak mau tidur di kamar itu lagi, " jawab ku.
"Kenapa? " tanya Galang.
"Kenapa abang bilang?, bang aku gak mau kamar ku di pakai tempat mesum kaya gitu aku jijik, " ucap ku.
"Ya terus lo mau tidur dimana? " tanya Galang marah.
"Kalau abang gak mau tukeran kamar aku pulang ke rumah mama saja, " jawab ku lalu melangkah pergi hendak ke luar namun Galang langsung menghentikan ku.
"Oke, lo boleh tidur di kamar gue besok kita tukeran kamar, " ucap Galang dan aku pun langsung melangkah menuju kamar Galang.
Saat masuk aku melihat sekeliling kamar Galang dan isinya tidak ada yang aneh cuman ada tempat tidur, lemari dan meja cuman itu,berbeda dengan kamarnya di rumah orang tuanya.Aku pun duduk di pinggir tempat tidur dan diam termenung karena masih memikirkan kejadian tadi. Aku gak memang belum mengenal Galang namun dengan kejadian ini aku kecewa dan gak habis pikir jika teman-teman Galang seperti itu. Belum selesai dengan keterkejutan ku semalam saat Indra datang dalam keadaan babak belur bahkan berlumuran darah, lalu barusan aku harus melihat adegan yang seharusnya gak aku lihat bahkan aku yang sudah menikah saja belum sampai ke tahap itu.
"Alika, " panggil Galang dari luar membuat lamunan ku hilang begitu saja.
"Ya, " jawab ku lalu melangkah membuka pintu.
"Ada apa bang? " tanya ku setelah pintu terbuka.
"Ayo makan, gue udah pesan makan, " ajak Galang dan aku pun mengangguk dan keluar mengikuti Galang.
Karena kejadian siang ini akhirnya aku pun tidak memasak. Setelah makan aku duduk di ruang tamu karena sedang memberanikan diri untuk masuk kamar ku karena aku harus mengambil baju namun aku enggan untuk masuk.
"Ni, " Galang memberikan sebuah tas dan aku pun mengambilnya.
"itu baju dan alat make up lo, untuk yang lain lo tinggal bilang aja tar gue ambilkan, " ucap Galang lalu pergi ke kamar lagi.
Aku pun kembali ke kamar Galang dan segera mandi karena dari sore aku belum mandi. Setelah mandi aku memilih untuk mengerjakan tugas sekolah karena tadi belum beres semua. Namun saat aku sedang asik menilai hasil ulangan anak-anak tiba-tiba aku mendengar pintu di buka dan aku pun segera melihat jam ternyata sudah jam sepuluh malam.
"Bang Galang mau kemana? " ucap ku penasaran.
Namun aku lebih memilih diam toh itu urusannya dan aku pun membereskan pekerjaan ku lalu naik ke tempat tidur dan memejamkan mata. Namun saat jam dua pagi aku ke bangun karena mendengar suara bel.
"Siapa yang datang jam segini, " pikirku sedikit takut karena aku takut kejadian semalam terjadi lagi.
Aku pun turun dari tempat tidur dan memberanikan diri untuk melihat siapa ayang datang. Aku melihat dari celah pintu dan kaget ternyata itu bang Galang dengan temannya. Aku pun membuka pintu dan kaget melihat keadaan Galang yang mabuk.
"Dia mabuk? " tanya ku karena tercium bau minuman.
"Iya, tadinya mau aku bawa ke hotel namun Galang minta di antara ke rumah, " jawab temannya yang gak aku kenal.
Aku pun membantu Galang masuk dan temannya langsung pergi. Namun karena aku gak mau masuk kamar ku akhirnya aku pun menidurkan Galang di kursi di tengah rumah. Setelah Galang berbaring aku pun hendak mengambil selimut namun tiba-tiba Galang bangun dan dia menarik ku membuat aku jatuh dalam pelukannya. Galang mengusap pipi ku lalu dia menatap ku dengan tatapan yang lembut tidak seperti biasanya. Aku yang sedikit terpana hanya bisa diam sampai akhirnya kedua bibir kami bertemu dan membuat aku tersadar namun sekuat apa pun aku berusaha untuk melepaskan nya tenaga Galang lebih kuat. Akhirnya aku lun pasrah toh Galang suami ku dan dia berhak atas tubuh ku lalu aku sebagai istri wajib memberikan hak nya. Namun aku pun tidak rela jika harus dengan cara seperti ini karena ini bisa di sebut pemaksaan. Galang terus melanjutkan aksinya dan aku hanya bisa diam dan menangis sampai tiba-tiba Galang berhenti lalu pergi begitu saja ke kamar nya dan aku pun bangun dan memperbaiki baju ku yang hampir setengah telanjang. Aku pun masuk kamar dan menangis sepuasnya di kamar karena aku gak pernah kepikiran kalau Galang akan seperti itu. Aku menangis sampai ketiduran karena saat aku bangun kepalaku sakit dan bahkan kedua mata ku terasa panas.
"Gue berangkat dulu, sarapan udah gue siap kan, " teriak Galang dari luar dan aku tidak menjawab nya.
Aku pun turun dari tempat tidur dan masuk kamar mandi setelah selesai dan rapi aku keluar benar saja di meja makan sudah ada roti dan susu. Hari ini aku meminta izin untuk tidak masuk kerja karena gak memungkinkan untuk pergi kerja dalam keadaan wajah ku seperti ini.
Setelah sarapan aku memilih menonton televisi namun pikiran ku teringat kejadian semalam. Aku pun masuk kamar dan mencoba untuk memejamkan mata namun lagi dan lagi yang terbayang cuman kejadian semalam. Tiba-tiba ponsel ku berdering tanda ada pesan masuk dan saat aku lihat ternyata dari nomor tak di kenal dan isinya membuat aku kaget.
"Aku minta maaf atas kejadian semalam, aku gak bermaksud membuat kamu takut. Kalau kamu takut malam ini aku gak akan pulang, Galang, " isi pesan itu dan itu dari Galang.
Aku tidak membalas pesan itu sampai akhirnya hari sudah malam dan benar saja Galang dia tidak pulang. Hari berganti hari sudah satu minggu Galang tidak pulang dan bahkan tidak ada kabar sama sekali. Aku pun memutuskan menghubunginya dengan mengirim pesan. Namun pesan itu tidak ada balasan sama sekali membuat aku bingung harus bagaimana. Aku pun memilih untuk memasak karena perut ku sudah lapar juga namun saat membuka kulkas kosong karena aku lupa belanja. Akhirnya aku pun memutuskan untuk membuat Mia saja karena perut ku sudah lapar. Saat aku sedang makan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan aku pun segera melihatnya namun saat di buka ternyata itu Lia.
"Hai, " sapa nya dan aku pun hanya tersenyum.
"Aku bawa makanan, kakak pasti belum makan kan? " tanya nya.
"Aku baru selesai makan mie, " jawab ku.
"Kok makan mie, emang bang Galang gak kasih kamu uang? " tanya nya sambil melangkah ke meja makan dan aku mengikutinya.