“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Niat Pedang
Paman Han terdiam cukup lama, memandang kedua bocah itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia menghela napas panjang, kepulan uap putih keluar dari mulutnya karena udara yang dingin. Ia kemudian mencabut pedang besinya yang berkarat dari sarung kulit yang sudah pecah-pecah.
Sring!
Suara logam yang bergesekan terdengar parau dan kasar, seolah pedang itu sendiri sudah kelelahan menghadapi kejamnya dunia.
"Kultivasi pedang bukan tentang seberapa indah gerakanmu atau seberapa megah namamu," suara Paman Han mendalam, kehilangan nada sombongnya yang biasa. "Bagi orang seperti kita, sampah yang merayap di dasar dunia, pedang adalah tentang bertahan hidup satu detik lebih lama di ujung maut. Kalian siap untuk menderita?"
"Siap, Paman!" jawab keduanya serempak. Suara mereka bergema di antara reruntuhan tembok.
Latihan dimulai dengan "Kuda-Kuda Akar Bumi". Mereka harus berdiri diam dengan lutut menekuk, punggung tegak, dan tangan terjulur ke depan selama berjam-jam. Matahari mulai naik, membakar kabut pagi dan menggantinya dengan panas yang menyengat.
Otot paha Lu Ming mulai bergetar hebat. Rasa panas menjalar dari telapak kaki hingga ke pinggangnya, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk ototnya.
Keringat deras mengalir membasahi matanya hingga terasa sangat perih, namun ia tidak berani menyekanya.
Setiap kali ia merasa ingin jatuh, ia teringat pada kantong koin perunggu di bawah bantal batunya.
"Aku harus kuat. Ibu tidak boleh melihatku lemah saat dia kembali nanti," batinnya membakar semangatnya sendiri.
Di sampingnya, Liu Shen tampak seperti patung salju yang tidak bernyawa.
Meski wajahnya semakin pucat dan napasnya mulai memburu, tubuhnya tidak bergeming sedikit pun.
Ada kekuatan batin yang luar biasa aneh di balik tubuh ringkih berambut putih itu, seolah-olah ia sudah terbiasa menahan rasa sakit yang jauh lebih besar dari sekadar latihan fisik.
"Sekarang, perhatikan!" Paman Han melangkah maju ke tengah lapangan. Ia mengayunkan pedang berkaratnya dalam satu gerakan sederhana, sebuah tebasan horizontal yang lugas namun memiliki tekanan yang kuat. "Tebasan Angin Rontok. Jangan gunakan otot kasarmu secara buta, gunakan aliran napasmu untuk mendorong bilahnya."
Lu Ming mencoba meniru gerakan itu. Ia mengayunkan kayu itu dengan sekuat tenaga,
hingga wajahnya memerah karena mengejan. Namun, gerakannya terasa kaku dan berat, kayu itu hanya membelah udara dengan suara tumpul.
"Salah! Kau menyerang seperti beruang mabuk, Lu Ming! Jangan biarkan bahumu tegang! Fokuskan tenagamu di ujung bilah!" bentak Paman Han sambil memukul pantat Lu Ming dengan ranting kayu yang ia pegang di tangan kiri.
Lalu, giliran Liu Shen. Bocah berambut putih itu menarik napas panjang, menutup matanya sejenak seolah sedang mendengarkan bisikan angin.
Saat matanya terbuka, ia melangkah maju. Gerakannya tidak terlihat bertenaga seperti Lu Ming, namun gerakannya sangat mengalir, seolah-olah ia adalah bagian dari angin itu sendiri.
Wussh!
Suara udara yang terbelah terdengar sangat tajam, jauh lebih jernih daripada ayunan Lu Ming. Paman Han tertegun sejenak. Matanya menyempit, memperhatikan posisi kaki dan sisa getaran di tangan Liu Shen.
"Bocah ini... dia memiliki 'Niat Pedang' yang murni secara alami," batin Paman Han bergejolak. "Bakat mengerikan yang bahkan mungkin tidak dimiliki oleh murid-murid jenius di sekte besar."
"Lagi! Jangan berhenti!" perintah Paman Han, suaranya sedikit gemetar karena rasa takjub yang berusaha ia sembunyikan.