"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai Pelindung Mas Kyai
Udara di ruang utama kediaman Nyai Salamah terasa seberat timah. Aroma teh melati yang biasanya menenangkan, kini menguap kalah oleh hawa permusuhan yang pekat.
Rasyid duduk tegak di kursi kayu jati yang kaku, sementara di hadapannya, lima orang pria berpeci—para sesepuh keluarga—menatapnya seolah ia adalah pesakitan yang baru saja meruntuhkan tiang penyangga pesantren.
Di sudut ruangan, Yusuf duduk dengan satu kaki menyilang. Mantan senior Rasyid itu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan. Ia sengaja datang, bukan sebagai keluarga, melainkan sebagai saksi yang siap menaburkan garam di atas luka reputasi Rasyid.
Sebelum Pakdhe Mansur menyerang secara pribadi, salah seorang paman yang paling dituakan—Paman Thohir—memperbaiki letak kacamata dan berdeham panjang, menciptakan atmosfer ‘keprihatinan palsu’ di seluruh ruangan.
“Aduh, Rasyid... Masya Allah, Nak. Kami ini sangat menyayangimu. Sejak dulu kami bebaskan kamu memilih jalan hidup, bahkan kami dukung penuh sekolahmu ke Mesir karena kami berharap kamu jadi mutiara keluarga ini,” Paman Thohir menggeleng pelan, wajahnya dibuat seolah-olah menanggung beban dunia.
“Tapi kenapa keputusannya serendah ini? Bukannya kami bermaksud menghina pilihanmu, tidak sama sekali... Tapi ya lihatlah, apakah sudah tidak ada lagi wanita terhormat di dunia ini? Masih banyak santriwati yang hafal Al-Qur'an, yang nasabnya jelas, yang... ah, sudahlah. Rasanya seperti kami sudah gagal menjagamu.”
Ia menghela napas berat, memberikan kode pada Pakdhe Mansur untuk masuk dengan serangan yang lebih kasar.
“Wajar kamu buta, Rasyid,” suara Pakdhe Mansur memecah kesunyian, berat dan penuh penghakiman.
“Kamu kehilangan Ayahmu sejak kecil. Ibumu terlalu lembek mendidikmu, sampai-sampai kamu tidak tahu cara membedakan mana emas dan mana kotoran yang kau bawa ke rumah ini.”
Rasyid mengepalkan tangan di atas lututnya. Kalimat itu bukan sekadar kritik, melainkan hinaan pada almarhum ayahnya.
Namun, sebelum Rasyid sempat membalas, sebuah suara langkah kaki yang tak beraturan terdengar dari arah koridor dalam.
Tap. Tap. Tap.
Langkah itu tegas, menantang, dan sama sekali tidak mencerminkan langkah santun penghuni pondok.
Semua mata tertuju ke pintu. Shanum muncul di sana. Wajahnya masih pucat karena sisa demam, namun sorot matanya yang liar tidak bisa disembunyikan.
Ia mengabaikan semua peringatan Rasyid tadi malam. Shanum berdiri di sana hanya mengenakan gaun tidur satin merah yang pendek—nyaris mencapai pertengahan paha—dengan cardigan rajut yang kancingnya terbuka lebar, mengekspos tungkai kakinya yang putih dan terbalut perban tipis.
Suasana ruangan mendadak membeku. Beberapa paman Rasyid serentak beristigfar sambil memalingkan wajah, meski mata mereka tak kuasa menahan rasa ingin tahu yang menjijikkan.
Nyai Salamah yang duduk di pojok ruangan hampir saja jatuh pingsan melihat menantunya tampil seperti wanita jalanan di depan para tetua.
Rasyid berdiri dengan wajah yang memerah padam. Amarah dan rasa malu bergejolak di dadanya. Ia segera menghampiri Shanum, mencengkeram lengan wanita itu, dan menariknya hingga mereka berdiri sangat dekat.
“Masalah pakaian ini... akan aku perhitungkan dengan sangat detail setelah mereka semua pulang,”bisik Rasyid dengan suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman. “Duduk, atau aku akan mengikatmu di kursi!”
Shanum justru menyeringai puas. Ia bisa merasakan napas panas Rasyid di telinganya. Bukannya takut, ia justru merasa menang karena berhasil meruntuhkan topeng ketenangan pria itu.
Dengan gaya yang sangat tidak sopan, Shanum duduk di kursi tepat di samping Rasyid, menyilangkan kaki jenjangnya, dan menatap semua orang dengan dagu terangkat.
“Wah, jadi ini kumpulan orang-orang suci yang hobinya membicarakan orang mati?” Shanum membuka suara, suaranya parau namun tajam.
“Menarik sekali. Di klub malam tempatku bekerja, setidaknya kami jujur kalau kami berdosa. Di sini? Wanginya memang gaharu, tapi aromanya seperti bangkai harga diri orang lain.”
“Lancang sekali mulutmu, Perempuan!” bentak Paman yang lain. “Lihat, Rasyid! Ini yang kamu pertahankan? Bahkan dia tidak punya rasa malu untuk menutup aurat di depan para sesepuh!”
Yusuf ikut menimpali, suaranya penuh provokasi. “Kyai muda kita ini sepertinya sudah terlalu banyak belajar filsafat di Mesir sampai lupa hukum dasar. Atau mungkin... servis wanita ini di hotel memang terlalu mengesankan sampai kamu rela menggadaikan surbanmu, Rasyid?”
Tawa kecil Yusuf memicu kemarahan Rasyid, namun Shanum lebih cepat menyambar.
“Mas Yusuf, kan? Si tukang intip di lorong hotel itu?” Shanum menatap Yusuf dengan tatapan merendahkan.
“Biasanya, orang yang paling keras teriak soal aurat itu yang fantasinya paling liar kalau melihat kulit sedikit saja. Kamu datang ke sini untuk membela martabat pesantren, atau karena iri nggak bisa berada di posisi Rasyid malam itu?”
Setelah Shanum menyindir Yusuf soal fantasinya, ruangan menjadi riuh rendah dengan makian. Nyai Salamah menutup telinga, sementara salah satu bibi Rasyid berteriak, “Dasar pelacur tidak tahu diri! Kamu sedang berada di tanah suci, jaga bicaramu!”
Shanum tertawa lepas, tawa yang terdengar sangat merdu namun mematikan. Ia berdiri perlahan, membiarkan cardigan-nya merosot di bahu, menantang setiap mata di sana.
“Tanah suci?” Shanum mengulangi kata itu dengan nada mengejek.
“Tanah ini memang suci, tapi hati kalian? Kalian semua ini lucu. Datang ke sini membawa ayat-ayat Tuhan, tapi di saku kalian penuh dengan kerikil untuk merajam orang lain. Kalian marah karena aku memakai baju ini? Atau kalian marah karena kalian tidak bisa mengendalikan Rasyid lagi?”
Shanum melangkah maju satu tindak, mendekati Paman Thohir yang tadi bicara paling lembut.
“Paman bilang aku kotor? Setidaknya aku kotor karena keadaan, bukan kotor karena niat. Di klub malam, kami menjual tubuh untuk makan.”
“Di sini? Kalian menjual agama hanya untuk menjatuhkan saudara sendiri demi kursi kepemimpinan pesantren. Jadi, coba kasih tahu aku...”
Shanum menatap mereka satu per satu dengan tatapan menghina yang telak.
“... siapa di antara kita yang sebenarnya lebih menjijikkan? Aku yang berdosa di bawah lampu disko, atau kalian yang merencanakan kejahatan di bawah cahaya lampu masjid?”
Suasana langsung senyap. Bibir mereka terkunci, wajah-wajah yang tadinya merah karena marah kini memucat karena rahasia busuk mereka baru saja dikuliti oleh seorang wanita yang mereka anggap sampah.
Paman Mansur berdiri, tangannya sudah terangkat untuk menunjuk wajah Shanum.
“Cukup! Keluar kamu dari sini, wanita najis! Rasyid, ceraikan dia detik ini juga atau kamu keluar dari silsilah keluarga besar kami!”
Rasyid menarik napas dalam. Ia berdiri, melangkah satu tindak ke depan Shanum, menjadikan tubuh tegapnya sebagai perisai fisik bagi istrinya. Ia menggebrak meja jati di depannya hingga suara dentuman itu membungkam seluruh ruangan.
“Cukup!” teriak Rasyid, suaranya menggelegar, bergetar dengan wibawa yang belum pernah mereka dengar.
Rasyid menatap Pakdhe-nya dengan mata yang tajam.
“Kalian menghina ayahku karena aku membawa Shanum ke rumah ini? Justru karena didikan Ayah, aku tahu bahwa Islam hadir untuk merangkul yang tersesat, bukan untuk menginjak mereka yang sudah jatuh di lumpur!”
Lalu, ia beralih pada Yusuf yang mulai menciut. “Dan kamu, Yusuf... kamu bukan datang sebagai saksi yang peduli. Kamu datang sebagai pemenang yang sedang merayakan kekalahan saudaramu sendiri. Rendah sekali hatimu!”
Rasyid menoleh ke arah Shanum yang masih duduk santai di belakangnya. Ia menatap istrinya itu dengan sorot mata yang sulit diartikan, lalu kembali menatap keluarganya.
“Kalian bilang dia kasar? Kalian bilang dia tidak sopan? Bagiku, kejujurannya adalah hal yang paling mewah di ruangan ini! Dia tidak berpura-pura suci hanya untuk menyenangkan kalian.”
“Dia menunjukkan lukanya, dia menunjukkan kemarahannya. Dan aku menyukai sifatnya yang jujur itu! Dia tidak takut pada siapapun, dan dia tidak ingin merubah dirinya hanya agar diterima oleh manusia-manusia yang merasa sudah memegang kunci surga!”
Rasyid menggenggam tangan Shanum—sebuah tindakan yang sangat berani bagi seorang Kyai muda di depan keluarganya.
“Shanum adalah amanahku. Jika kalian ingin membuangnya, silakan lewati mayatku dulu. Dan jika silsilah keluarga ini hanya untuk mereka yang pandai menghakimi, maka hapus namaku sekarang juga!”
Keheningan yang mencekam menyergap ruangan. Nyai Salamah terdiam, paman-pamannya melongo tak percaya. Rasyid baru saja mempertaruhkan seluruh hidupnya demi wanita yang baru ia kenal beberapa hari.
Namun, di tengah kesunyian itu, telinga Rasyid yang terlatih menangkap sebuah suara. Suara mesin diesel yang menderu pelan di kejauhan, lalu berhenti tepat di depan gerbang utama pesantren.
Seketika, aura Rasyid berubah. Wajahnya yang tadi penuh amarah batin, kini mendadak menjadi sangat dingin dan waspada.
Pupil matanya menajam, rahangnya mengunci rapat. Ia tampak seperti predator yang baru saja mencium bau musuh di wilayah kekuasaannya.
Shanum yang menyadari perubahan suasana itu, langsung menoleh ke arah jendela besar. Di sana, sebuah Van hitam pekat tanpa plat nomor yang jelas berhenti di depan gerbang.
Kaca filmnya begitu gelap, seolah menyimpan kegelapan yang tak berujung di dalamnya.
Tubuh Shanum seketika gemetar hebat. Ia mengenali mobil itu. Keangkuhannya runtuh dalam sekejap, ia segera bersembunyi di balik punggung lebar Rasyid, mencengkeram jubah pria itu hingga kusut.
“Rasyid... mereka datang...” bisik Shanum, suaranya nyaris hilang karena ketakutan.
Rasyid tidak menjawab. Ia tetap berdiri tegak, menatap mobil misterius itu dengan wajah yang memancarkan aura membunuh.
Keluarga besarnya yang tadi berteriak-teriak, kini hanya bisa terpaku ketakutan melihat bagaimana Kyai muda yang lembut itu mendadak berubah menjadi sosok yang sangat berbahaya.
Badai yang sebenarnya baru saja tiba di depan pintu mereka.