Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Mila nampak bolak balik di kamarnya. Langkahnya terbelenggu oleh suaminya yang tak mengijinkan dia keluar bertemu dengan teman - teman sosialitanya seperti biasanya.
"Sial, ini gara - gara babu sialan itu aku jadi terkekang. Kalau tau bakal kaya gini lebih baik aku tidak merestui dia menikah dengan mas Dafa." umpat Mila dengan kedua tangan terkepal menahan kesal.
"Kalau kaya gini aku bisa mati, masa aku di rumah terus. Mana mas Dafa juga kalau datang cuma sebentar lalu pergi lagi ke rumah babu itu. Aku harus buat rencana untuk bisa seperti sebelumnya." Kepalanya terasa buntu karna tak menemukan ide untuk permasalahannya.
Mila sibuk dengan pikiranya sedangkan di tempat lain Laras di kejutkan oleh kedatangan bibik.
"Ada apa, bik?" tanya Laras.
"Tuan muda sudah datang, non." lapor bibik.
"Cepat amat datang, baik bik. Makasih." Laras buru - buru menyambut kedatangan suaminya. Laras berusaha tersenyum semanis mungkin, tak lupa sepeti biasa Laras mencium punggung tangan suaminya dan mengambil alih tas kerja Dafa.
"Apa kamu suka aku datang lebih awal?" tanya Dafa sambil berjalan menuju kamar dan dibuktikan Laras dari belakang. Wanita itu sedikit keteteran mensejajarkan langkah kakinya denagn Dafa yang lebar - lebar.
"Eh, i - iya tua. Saya suka." jawaban yang keluar dari mulut Laras sungguh bertolak belakang dari apa yang ada di dlm hatinya. Tak mungkin ia jujur karna kejujuran pasti akan berakhir fatal bagi dirinya.
"Bagus."
"Tuan mau mandi?" Laras berusaha menjadi disponsori yang baik dan perhatian.
"Hmm....." Dafa mengangguk, Laras meletakan tas kerja Dafa di sofa dan beranjak menuju kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuk Dafa.
"Sudah tuan, silahkan." ujar Laras.
"Bantu aku lepas ini semua. " Dafa mengkode istrinya untuk membantunya membuka seluruh pakainya.
"Apa tuan ga bisa sendiri? Bukanya tuan punya tangankan." kata itu meluncur begitu saja tanpa Laras sadari.
"Ini tugas kamu melayani saya dengan baik. Cepat lakukan." perintah Dafa membuat tubuh Laras gemetar karna ketakutan. Laras mengerjakan apa yang suaminya perintahkan.
Dafa tersenyum penuh arti, ia sangat menyukai wajah ketakutan Laras. Rasanya hatinya terhibur melihat wajah polos itu.
Sementara Dafa mandi, Laras menyiapkan baju ganti dan meletakan di ranjang. Lalu Laras menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Dafa saat keluar dari kamar mandi tak melihat Laras tapi matanya melihat baju yang Laras telah siapkan untuknya. Kembali senyum itu terbit di sudut bibir lelaki itu. Ada rasa hangat yang ia rasakan, ia merasa menjadi suami yang sebenarnya.
Setelah selesai makan malam, Dafa dan Laras duduk di tepi ranjang dan sambil mengobrol.
"Bagaimana keadaan nenek? tanya Dafa tiba - tiba membuat Laras sedikit terkejut.
"Alhamdulillah, jauh lebih baik tuan. Terimakasih untuk bantuan dari keluarga tuan." Laras tak bisa memungkiri jika keluarga Dafa mempunyai andil yang besar dalam masa penyembuhan neneknya.
"Itu sesuai perjanjian." Tadinya Laras sudah merasa bahagia dengan perhatian Dafa tapi saat mendengar perkataan Dafa barusan kembali menjatuhkan tubuhnya ke bawah dan mengingatkan posisi dirinya yang sesungguhnya.
Laras tak boleh larut dalam perhatian yang Dafa berikan, hubungan mereka hanya sebatas memberi dan di beri.
Malam ini Laras bisa sedikit bernafas lega karna Dafa tidak memintanya melayani Dafa di ranjang. Lelaki itu hanya memintanya Laras menemaninya tidur. Mungkin karna lelah, tak lama terdengar dengkuran halus menandakan Dafa sudah tertidur.
Laras memperhatikan wajah tampan Dafa. Laras tersenyum bisa melihat wajah betapa sempurnanya ciptaan Allah. Hidung mancung dengan rahang yang tegas. Laras berusah menghapus rasa kagumnya, ia tak mau nanti terlalu berharap pada lelaki itu karan suatu saat mereka nantinya harus berpisah. Laras memutuskan untuk segera mengikuti suaminya, ia berusaha memejamkan matanya sambil mencari posisi tidur yang nyaman.
...****************...
Assalamualaikum kk, sahur.....sahur.......sahur.......😊
Di tunggu saran dan masukannya serat jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya kk 🙏💪😘