Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Adik Kecil
"A-ada apa? Ke-kenapa sepagi ini ke rumahku?"
Arnold memanjangkan lehernya melirik ke arah kursi ruang tamu yang ada di balik Lova. "Boleh nggak Kakakmu ini duduk dulu di dalam, Adik Kecil?"
Mendengar panggilan itu kembali, Lova refleks mencengkeram handle pintu. Sapaan itu begitu ringan, tetapi entah kenapa menyentak sesuatu di dadanya hingga memicu debar gundah. Ia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan gemetar di suaranya.
Dengan gugup, Lova menggeser tubuhnya memberi jalan. "Ma-masuk, Dok ..."
Setelah duduk, Arnold memperhatikan Lova yang terlihat sangat kusut. "Maaf ya, pagi-pagi sudah membuatmu kaget, Adik Kecilku ..."
'Panggilan itu lagi,' batinnya mendadak goyah.
"Ee .. Hmm ... Dok, apa aku bisa minta tolong, untuk jangan memanggil aku dengan Adik Kecil lagi?" bisiknya.
Arnold mengangkat alisnya tanpa sadar. "Apa kamu keberatan?"
"A-aku ... I-itu ..." Satu tangan Lova tergenggam di dada. Ia menggeleng cepat. Hampir saja mengatakan bahwa panggilan itu persis sama dengan suara yang terngiang di dalam mimpinya.
"Kenapa? Ayo cerita padaku." Arnold memasang posisi, duduk dengan tenang di sofa yang tidak terlalu empuk itu. Seakan, ia siap mendengarkan cerita sang pasien.
Sejenak, Lova terlihat bingung dan senyum kikuk terulas di bibirnya. Ia belum mampu mengutarakannya secara langsung. "A-aku hanya merasa ... tak pantas dipanggil seperti itu."
Sembari mendengar penjelasan Lova, tatapan Arnold ternyata sedang menyapu perlahan seluruh isi ruang tamu. Foto-foto yang ada di dinding pun, tak luput dari indera penglihatannya. Dan, akhirnya ia menangkap satu sosok yang begitu familiar pada satu foto.
Sebuah foto gadis kecil yang langsung dikenalnya. Wajahnya persis sama seperti dua puluh tahun lalu. Akan tetapi, memiliki ekspresi yang berbeda. Di sana ia terlihat ceria, diapit oleh kedua orang tuanya, dan satu remaja laki-laki yang belum ia ketahui siapa.
"Bukan kah kamu memang adik kecil bagiku?" Ia kembali fokus pada obrolannya dengan sang pasien.
"Umurku sudah tak pantas dipanggil demikian, Dok. Aku ini sudah 32 tahun. Mungkin saja kita ini seusia atau mungkin kamu lebih muda dariku," ucap Lova sedikit asal.
"Kamu 32? Aku 39," ucapnya singkat mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.
Lova tersentak tak percaya. "Masa sih, Dok?"
Arnold membuka dompet dan mengeluarkan kartu tanda pengenalnya. Menunjukkan tahun kelahirannya, membuat mata Lova sedikit terbelalak.
"Bagaimana? Kamu memang pantas menjadi Adik Kecil bagiku bukan? Aku ini lahir 39 tahun yang lalu loh ..."
Lova tak lagi menjawab, dia hanya bisa merapikan rambut yang tadinya menutup wajah, ditarik ke belakang telinga menutupi rasa gugupnya.
Di saat itu pula Arnold memperhatikannya tanpa berkedip, sudut bibir terangkat tipis.
"Kalau boleh tau, apa alasan Dokter datang sepagi ini? Kenapa bisa sampai ke sini? Tahu alamat aku dari mana?"
Arnold menyerahkan kantong yang berisi bubur ayam yang sengaja ia beli sebelum sampai ke rumah ini. "Alamatmu? Oooh, tentu saja aku bisa mendapatkannya dengan mudah, kamu itu kan pasienku."
"Justru karena itu pula aku sengaja datang sepagi ini karena kita bisa langsung melakukan terapi," tambahnya mengayunkan kantong bubur ayam beberapa kali.
Setelah itu, Arnold menyerahkan kantong plastik putih yang terasa hangat. Aroma gurih kaldu ayam dan taburan bawang goreng langsung menyeruak, mendadak membuat perut Lova yang belum terisi apa pun berbunyi tipis.
Satu tangan Lova menyambut kantong berisi bubur dan tangan yang lain menekan perutnya berusaha memudarkan suara yang terdengar cukup memalukan itu.
"Wah, sepertinya ada yang sudah tidak sabar nih, mencicipi bubur yang aku bawa," ucapnya sembari menggoda Lova.
"Eee, ehm ...." Lova sedikit memutar kepala menyembunyikan wajah yang terasa panas karena malu.
"Nah, ayo ... Tunjukin aku di mana dapur kamu." Arnold bangkit dan melangkah tanpa ragu, bahkan sebelum Lova sempat memberikan izin atau berbalik badan untuk memandu jalannya.
Lova yang masih mendekap kantong bubur hangat itu hanya bisa mengerisik pelan, buru-buru menyusul langkah lebar sang dokter. Keberanian Arnold memasuki area privasi rumahnya benar-benar di luar perkiraan.
Jika itu laki-laki lain seperti Teddy atau pria-pria lain yang pernah mencoba untuk mendekatinya, mereka pasti ditolak sebelum sempat masuk ke dalam rumah ini. Namun, Arnold berbeda. Pria itu bergerak seolah-olah seluruh sudut bumi ini adalah ruang praktik untuk pasiennya.
Dapur Lova berukuran minimalis, didominasi warna putih gading dengan jajaran perabot yang tertata seadanya.
"Ah, dapurmu ini imut sekali," komentar Arnold begitu kakinya menapak di ubin dapur. Suaranya kembali melengking ringan, memancarkan nada ceria yang khas.
Tanpa canggung, Arnold langsung menggulung lengan kemeja hitamnya hingga sebatas siku. Gerakannya begitu luwes. Matanya yang tajam langsung bergerak menyapu rak piring, menemukan sepasang mangkuk keramik berwarna pastel dan dua sendok bebek.
"Dok, biar aku saja—"
"Sstt, diam di sana, Adik Kecil," sela Arnold cepat. Jemari tangannya yang lentik dan terawat bersih bergerak cekatan mengambil mangkuk tersebut. "Anggap saja ini bagian dari sesi awal terapimu pagi ini. Menonton ketampananku menata sarapan, bagaimana?"
Arnold terkekeh, sebuah tawa kecil yang terdengar begitu merdu dan sama sekali tidak mengandung nada ancaman.
Lova tertegun di ambang pintu dapur. Pandangannya terpaku pada punggung tegap Arnold yang kini sibuk memindahkan bubur ayam ke dalam mangkuk. Ada tingkat kerapian yang luar biasa dari cara pria itu bekerja.
Arnold menuangkan kaldu dengan sangat hati-hati agar tidak mengotori tepi mangkuk, lalu menata taburan cakwe, suwiran ayam, dan bawang goreng di atasnya dengan komposisi yang sangat simetris. Sempurna. Bahkan untuk urusan estetika semangkuk bubur, Arnold memperlakukannya seperti sebuah karya seni.
'Dia benar-benar telaten, bahkan jauh lebih rapi dariku,' batin Lova.
Sisi feminin Arnold yang menguar kuat entah bagaimana justru membuat benteng waspada di dada Lova melarut dengan udara. Berada di dekat Arnold tidak membuatnya merasa terintimidasi sebagai seorang wanita.
"Nah, sudah siap!" Arnold berbalik dengan kedua tangan membawa mangkuk bubur yang mengepulkan uap hangat. "Ayo, kita makan di meja depan sambil mengobrol."
Saat mereka kembali ke ruang tamu kecil dan mulai menyendok sarapan dalam keheningan yang canggung namun menenangkan, derit pintu depan terdengar.
Ibu Lova masuk dengan sesikit tergesa, membawa keranjang yang berisi sayur dan lauk untuk dimasak. Langkah kakinya mendadak terkunci di koridor begitu menyadari siluet seorang pria berkemeja hitam, berhadapan dengan sang putri.
"Astaga ... Lova?" Ibu Lova mengerutkan kening, mengucek matanya seolah memastikan dia tidak sedang mengigau. "Siapa ..."
"Selamat pagi, Ibu, eh Tante," sela Arnold. Pria itu langsung meletakkan sendoknya, bangkit berdiri dengan sangat sopan, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit. Senyum ramah seorang menantu idaman langsung terulas di wajah tampannya.
"Maaf jika kedatangan saya sepagi ini mengejutkan Tante."
Ibu Lova beringsut maju, matanya membelalak mengenali raut wajah berkilau itu. "Dokter ... Dokter Arnold??" Akhirnya ia tau, pemiliki kendaraan mewah yang sedang terparkir di halaman rumahnya.
"Benar, Tante." Arnold mengangguk manis. "Saya sengaja mampir sebelum jadwal praktik saya dimulai. Saya membawa sedikit sarapan untuk Lova, sekalian melakukan observasi lingkungan untuk terapinya."
Mendengar kata 'terapi', mata Ibu Lova langsung berbinar penuh harap. Lututnya seolah melemas merasa sesikit lega. Hari ini, ia melihat Lova bisa duduk tenang dalam jarak kurang satu meter dari seorang pria tanpa histeris, persis kemarin saat berada di klinik.
"Ya Tuhan, Dokter ... Saya tidak tahu harus bilang apa," ucap ibunya dengan suara yang mulai berkaca-kaca, melangkah mendekat. "Ini untuk pertama kalinya saya melihat Lova, mau makan bersama dengan seorang pria ..."
Arnold melirik Lova sekilas lewat sudut matanya, menangkap basah kegugupan gadis itu yang kembali meremas sendoknya. Sudut bibir Arnold terangkat tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang luput dari pandangan Ibu Lova.
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣