Akira tewas terbunuh karena ledakan bom yang di pasang di mobilnya, oleh musuh. Namun keajaiban terjadi, dia terbangun di tubuh wanita bernama Elvira, seorang istri yang tak di anggap oleh suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Penyesalan Zavian
Krek...
Suara batang bunga yang patah terdengar pelan, nyaris tertelan oleh deru napas Zavian yang memburu. Jari-jarinya mencengkeram erat kelopak mawar merah itu, meremasnya sampai tangkai-tangkai itu melengkung tak beraturan, duri-duri kecilnya menusuk kulit telapak tangannya hingga setitik darah merah menetes jatuh ke lantai keramik putih yang dingin. Rasa perih itu nyata, namun entah mengapa, sakit yang dia rasakan di dadanya jauh lebih tajam, jauh lebih menyiksa daripada luka kecil di tangannya ini.
Zavian menatap remukan bunga yang kini terlihat menyedihkan di tangannya. Warna merah darah itu seolah mengejeknya, mengingatkannya pada masa-masa lalu yang dulu selalu dianggapnya menyebalkan, namun sekarang justru menjadi kenangan paling manis yang membuatnya ingin menangis tanpa suara.
Dulu... dulu sekali, Elvira adalah orang paling cerewet, paling memaksa, dan paling gigih yang pernah dia kenal. Wanita itu akan berlari ke arahnya dengan mata berbinar, membawa buket bunga apa saja yang dia temui, menyodorkannya ke wajah Zavian dengan senyum lebar yang tak pernah pudar.
“Zav, ambil ini! Kamu yang kasih aku, ya! Bilang kamu beli khusus buat aku, oke?” Begitu selalu katanya, suaranya renyah dan penuh harap.
Waktu itu, Zavian hanya akan mendengus kesal, menatap bunga di tangannya dengan tatapan jijik seolah itu hama, bukan hadiah. Dia akan menurutinya terpaksa, hanya agar Elvira berhenti ribut dan pergi meninggalkannya. Dan Elvira? Wanita itu akan menerimanya dengan tangan gemetar, memeluk bunga itu seolah itu permata paling mahal di dunia, menciumi kelopaknya, lalu menatap Zavian dengan tatapan memuja yang dulu sama sekali tak dia hargai. “Makasih, Sayang! Aku suka banget!” serunya, sepenuh hati percaya kebohongan kecil itu.
Dulu Zavian pikir, Elvira tidak punya harga diri. Dulu dia pikir, Elvira akan selamanya seperti itu—selalu mengekorinya, selalu menunggunya, selalu mengemis sedikit perhatian darinya, dan akan selalu bahagia sekecil apa pun yang Zavian berikan. Dia pikir Elvira adalah miliknya yang tak akan pernah pergi, yang tak akan pernah berubah, dan yang akan selalu ada di sana, menunggu dia sadar.
Tapi dia salah. Sangat salah.
Elvira bukan benda mati yang bisa dia taruh di sudut dan diambil saat dia mau. Elvira adalah manusia dengan hati, dengan rasa sakit, dan dengan batas kesabaran. Dan batas itu, ternyata sudah habis sejak lama.
Sekarang, di hadapannya, wanita yang sama itu telah berubah, tatapannya datar, dingin, dan kosong dia tidak meminta berpisah tapi dia justru terasa begitu jauh. Tidak ada lagi binar mata, tidak ada lagi senyum memuja, tidak ada lagi permintaan manja. Bahkan saat Zavian akhirnya berusaha—benar-benar berusaha—membelikan bunga terbaik, memilihkan mawar paling indah, dengan harapan sisa-sisa perasaan Elvira masih ada di sana... wanita itu hanya menatapnya sekilas, lalu membuang muka seolah apa yang ada di tangan Zavian hanyalah sampah, kotoran, atau sesuatu yang menjijikkan.
“Maaf aku tidak suka bunga, buang saja.”
Kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya. Dingin. Tanpa emosi. Tanpa penyesalan. Seolah di masa lalu, tak pernah ada kejadian di mana Elvira menangis minta dibelikan bunga, seolah tak pernah ada hari di mana Elvira memeluknya sambil memegang bunga layak harta karun.
Zavian menelan ludah susah payah, tenggorokannya terasa kering. Dia menatap pintu kamar Elvira yang tertutup rapat. Ada rasa panas yang menjalar di dada, rasa terbakar yang menyengat, bercampur rasa sakit, rasa sesal, dan satu rasa lain yang menusuk paling dalam—rasa cemburu yang membabi buta namun terpaksa dia telan bulat-bulat.
Dia cemburu. Sangat cemburu.
Dia cemburu pada dirinya sendiri di masa lalu yang bodoh yang menyia-nyiakan Elvira. Dia cemburu pada versi dirinya yang dulu selalu dipuja-puja oleh wanita itu. Tapi yang paling menyiksa, dia cemburu pada masa depan Elvira. Dia cemburu pada siapa pun yang nantinya akan beruntung mendapatkan hati Elvira yang dulu begitu dia buang. Dia cemburu membayangkan bahwa suatu saat nanti, senyum indah itu akan terukir lagi di bibir Elvira, tapi bukan untuknya. Tatapan memuja itu akan kembali hadir, tapi bukan padanya. Tangan lembut itu akan menggenggam tangan seseorang, mencium pipi seseorang, memeluk seseorang... dan orang itu bukanlah Zavian.
Pikiran itu membuat darahnya mendidih, membuat tangannya semakin kuat meremas batang bunga itu sampai cairan putih dari batangnya menodai telapak tangannya, bercampur dengan darah dari duri yang menusuk. Rasanya ingin sekali dia meraung, ingin sekali dia menarik tubuh Elvira, menguncinya di pelukannya, dan berteriak bahwa Elvira miliknya, hanya miliknya. Bahwa tidak ada orang lain yang boleh melihat senyum itu, tidak ada orang lain yang boleh mendengar suaranya, tidak ada orang lain yang boleh menyentuhnya.
Tapi dia sadar. Dia tidak punya hak. Dia sudah menghancurkan hak itu sendiri dengan tangannya.
Dia tidak bisa marah, tidak bisa menuntut, tidak bisa melarang, walau dia punya hak.
Zavian tertawa kecil, kering dan pahit, sementara matanya memerah menahan air mata yang menolak jatuh. Dia membuka tangannya pelan, membiarkan remukan mawar yang sudah tak berbentuk itu jatuh bebas ke lantai, berantakan, hancur, persis seperti hatinya saat ini. Kelopak-kelopak merah itu berserakan, terinjak tak berharga, sama persis seperti cinta Elvira yang dulu dia biarkan jatuh dan hancur begitu saja.
Kamu pikir kamu bisa lari dari aku, Elvira? Kamu pikir kamu bisa berhenti mencintaiku semudah itu? batinnya menderu, penuh amarah dan kepemilikan yang masih keras kepala bertahan, meski tahu itu salah. Kamu salah. Kamu boleh benci aku, kamu boleh buang bunga ini, kamu boleh bersikap seolah aku tidak ada. Tapi ingat satu hal...
Zavian menunduk, berjongkok, lalu mengambil satu kelopak mawar yang masih utuh meski sedikit penyok. Dia mengusapnya pelan dengan ibu jarinya yang berdarah, menatap pintu kamar Elvira yang tertutup.
...Hati kamu sudah lama milik aku. Dan aku tidak akan pernah, membiarkan orang lain mengambil apa yang sudah jadi milikku.
Dia berdiri tegak, menyembunyikan kelopak bunga itu di saku celananya, menutup rapat rasa sakit dan cemburu yang meledak-ledak di dadanya di balik topeng wajah dingin yang kembali dia pasang. Kalau Elvira mau main keras, dia akan main lebih keras. Kalau Elvira mau bersikap dingin, dia akan menjadi es yang membekukan segalanya. Dia diam, dia takkan menunjukkannya, dia takkan memohon, tapi satu hal yang pasti—dia takkan membiarkan Elvira pergi sejauh itu.
Tidak sekarang. Tidak pernah.
“Kita lihat saja, Elvira,” bisiknya pelan, hanya cukup terdengar oleh angin di ruangan kosong itu, matanya menatap tajam ke arah pintu yang tertutup rapat. “Kamu mungkin berhenti cinta sama aku... tapi aku pastikan, kamu juga nggak akan pernah bisa cinta sama orang lain selain aku.”
ikutan tegang
😍😍💪💪🙏🙏
😍😍😍😍💪💪💪💪🙏🙏🙏
apa selama ini akira jga memanipulasi dana amal?
😍😍😍😍💪💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🙏🙏😍😍💪💪
gk nyangka kalo hub akira dan calvin seperti itu awqlnya..
gk krtebak.
🙏🙏🙏😍😍😍😍😍💪💪💪
akankah mereka saling jatuh hati saat caviar tau kalo ebelyn adalah dori nya alias akira.?
🤣🤣😍🙏🙏💪💪
😍🙏🙏💪💪
penuh misteri..
seruu..
😍🙏🙏💪💪💪
🤣🤣💪🙏😍😍
jadi dia masih ngitilin elvira..
jadi tau saat elvira brkanja senjata ...
🤣🤣💪🙏😍
🤣💪🙏😍😍😍😍
rencana raisa kalah telak sama elvira
daripada raisa..
🤭😄😄💪💪🙏🤣🤣😍
tambah seru..
apa yg akan raisa lakukan...
bagaimna zavian menaggapi ..
apa yg akan akira lakukan..
🤣🤣😍😍🙏🤣🤣🤣😍😍😍
biar zelda kapok..
🤣😍😍🙏🙏💪💪
mulai..
🤣😍🙏🙏💪💪
jgn2 mantan tunangan Zavian...
😍😍😍😍🙏🙏💪