NovelToon NovelToon
Sunyi Yang Berisik Season 2

Sunyi Yang Berisik Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Misteri / Horor
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: kucing samge

Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.

Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.

Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 3: "PULAU YANG HILANG" part 2

Ketika cahaya fajar mulai muncul dan menerangi lautan dengan warna jingga dan merah muda, Jay baru saja terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak. Dia menguap lebar dan menggosok mata sebelum melihat pemandangan yang ada di depannya—laut yang luas tanpa ada satu daratan pun yang terlihat, namun ada sesuatu yang berbeda di udara. Udara terasa lebih segar dan ada aroma khas pohon kelapa yang seharusnya tidak mungkin tercium di tengah lautan yang luas seperti ini.

PERAHU KECIL - LAUT - SIANG

Jay lagi tidur di atas tikar di perahu. Rara bilang mereka harus pergi ke Pulau Kelapa yang tidak ada di peta—Titik Diam di sana adalah seorang nelayan yang sudah tinggal di pulau itu selama puluhan tahun.

RARA: "Pulau ini hanya muncul setiap 7 hari sekali. Titik Diam di sini bernama Pak Narto—dia tidak tahu bahwa pulau ini adalah jembatan ke banyak dimensi lain."

JAY: (terbangun) "Pulau ya? Semoga ada kelapa muda dan snack yang bisa dibawa pulang ya."

Jay mengusap wajahnya dengan cepat, mencoba menghilangkan rasa kantuk yang masih menggantung di sudut mata. Ia menatap ke arah yang ditunjuk Rara, dan kali ini bayangan pulau yang tadinya samar kini sudah jelas terlihat—garis pantai putih seperti mutiara yang melengkung menyelimuti hamparan hijau pohon kelapa yang menjulang tinggi ke atas langit biru yang hampir tidak ada awan. Udara semakin terasa segar dengan aroma kelapa yang makin kuat, campuran dengan aroma garam laut yang khas dan sedikit sentuhan bau tanah liat yang baru saja terkena sinar matahari.

“Lihat saja—dia mulai muncul dengan sendirinya,” ucap Rara dengan nada yang penuh kagum, sambil menurunkan layar sedikit demi sedikit agar perahu bisa melaju dengan lebih lambat dan aman mendekati bibir pantai. “

kali datangnya waktu yang tepat, pulau ini akan muncul perlahan dari lapisan dimensi paralel yang menyembunyikannya dari dunia luar. Tidak ada alat yang bisa mendeteksinya selain rasa yang sudah terhubung dengan energi jaringan multi-universal.”

Jay berdiri perlahan di atas tikar yang sedikit bergoyang mengikuti gerakan ombak. Ia melihat sekeliling lautan yang luas di sekeliling mereka—di mana saja tidak ada satu kapal atau pulau lain yang terlihat, hanya samudera yang luas dan tenang seperti sebuah hamparan kain biru tak berujung. Namun di kejauhan, tepat di belakang Pulau Kelapa, ia bisa melihat sesuatu yang tidak biasa—garis-garis cahaya pelangi yang sangat tipis berkilauan di udara, seolah ada tirai tipis yang memisahkan dunia yang ia kenal dengan sesuatu yang jauh lebih besar.

“Apakah itu… pintu dimensi?” tanya Jay dengan suara yang sedikit terdengar terkejut. Ia pernah melihat hal serupa di sekitar zona aman yang sudah dibuat, tapi tidak pernah dalam skala yang sebesar ini—garis-garis cahaya itu tampak seperti membentang hingga ke ujung langit, membentuk pola yang kompleks seperti jala yang menghubungkan berbagai titik di alam semesta.

“Ya,” jawab Rara dengan lembut, matanya tetap fokus pada arah perahu. “Setiap pohon kelapa di pulau itu berfungsi sebagai antena alami yang menghubungkan pulau ini dengan ratusan dimensi berbeda. Pak Narto tinggal di tengah jaringan itu selama puluhan tahun tanpa menyadari bahwa setiap kali ia memetik kelapa atau menangkap ikan di sekitar pulau, ia sedang secara tidak sengaja menjaga keseimbangan energi antar dimensi.”

Seiring dengan mendekatnya perahu ke pantai, Jay bisa melihat lebih jelas kondisi pulau itu. Ada sebuah rumah kayu kecil yang berdiri di dekat bibir pantai, dengan atap dari dedaunan ijuk yang tampak kuat dan kokoh. Di sekitar rumah ada beberapa kebun kecil yang ditanami dengan sayuran dan buah-buahan, serta beberapa pohon kelapa yang tampak sudah ada sejak lama dengan batangnya yang besar dan berduri. Di depan rumah, sebuah perahu layar yang lebih kecil dari yang mereka tumpangi sedang diikat dengan tali kuat ke tiang kayu yang tertancap di pasir.

“Kita sudah sampai,” ucap Rara ketika bagian depan perahu menyentuh pasir putih yang hangat. Ia melompat ke darat dengan gesit, kemudian membantu menarik perahu agar tidak terdorong kembali oleh ombak. Jay mengikuti langkahnya, kakinya pertama kali menyentuh pasir pulau itu—rasanya seperti menyentuh sesuatu yang lebih hangat dari pasir biasa, dengan getaran energi yang lembut namun terasa kuat mengalir di bawah permukaannya.

“Selamat datang di Pulau Kelapa, anak-anak,” suara tua yang hangat terdengar dari arah rumah kayu. Seorang lelaki dengan rambut dan janggut putih yang panjang berdiri di pintu rumah, mengenakan baju kerja nelayan yang sudah aus namun tetap rapi. Wajahnya penuh dengan kedalaman pengalaman, dengan mata yang cerah seperti mampu melihat jauh melebihi apa yang bisa dilihat oleh mata telanjang. “Aku sudah menunggu kalian.”

Jay dan Rara saling melihat satu sama lain sebelum berjalan mendekati lelaki itu. Rara membungkuk dengan hormat, sementara Jay hanya mengangguk perlahan. “Kamu adalah Pak Narto?” tanya Rara dengan nada sopan.

Lelaki itu mengangguk dengan senyum hangat. “Ya, itulah aku. Dan kamu pasti Rara yang dikirim oleh Pak Guru, serta temanmu yang selalu membawa snack di mana saja.” Ia menatap Jay dengan mata yang penuh keceriaan, membuat Jay sedikit merasa malu karena tas kecil yang masih ada di tangannya memang masih berisi beberapa bungkus snack yang belum habis.

“Kamu tahu kita akan datang?” tanya Jay dengan rasa penasaran yang besar.

“Pulau ini memberitahuku setiap kali ada tamu yang datang dari dunia luar,” jawab Pak Narto sambil mengundang mereka masuk ke rumahnya. “Dan ia juga memberitahuku bahwa masa depan seluruh jaringan multi-universal sekarang berada di pundak kita berdua—kamu berdua yang telah bekerja keras untuk menyatukan titik-titik energi yang terpisah, dan aku yang telah tidak sengaja menjaga gerbang antar dimensi selama puluhan tahun.”

Di dalam rumah kayu itu, segala sesuatu terlihat sederhana namun penuh dengan kehangatan. Di dinding ada berbagai jenis peralatan nelayan, beberapa lukisan tangan yang menggambarkan bentuk-bentuk yang tidak bisa dikenali sebagai makhluk dari dunia ini, dan sebuah meja kayu besar yang di tengahnya ada sebuah mangkuk yang terbuat dari tempurung kelapa besar—di dalam mangkuk itu, ada cahaya kebiruan samar yang sama dengan yang ada di peta jaringan multi-dimensi yang dibawa Rara.

“Sejak puluhan tahun yang lalu, aku tinggal di pulau ini setelah kapal yang aku tumpangi tenggelam di tengah lautan,” cerita Pak Narto sambil mengambil beberapa kelapa muda yang sudah disiapkan di sudut rumah, kemudian menusuknya dengan pisau tajam. “Aku tidak tahu mengapa pulau ini bisa menyelamatkan hidupku, atau mengapa aku tidak pernah merasa sendirian meskipun tidak pernah melihat seorang pun selain diriku sendiri di sini. Hanya saja aku merasa bahwa aku punya tugas untuk tinggal di sini—untuk merawat pulau ini dan menjaga segala sesuatu yang ada di sekitarnya.”

Ia memberikan cangkir berisi air kelapa muda kepada Jay dan Rara. Airnya segar dan manis, dengan sedikit rasa dingin yang menyegarkan tubuh setelah tiga hari tiga malam berada di atas perahu. “Sekarang aku akhirnya tahu apa tugasku sebenarnya,” lanjutnya dengan nada yang tenang namun penuh dengan keyakinan. “Pulau ini bukan hanya jembatan antar dimensi—ia adalah pusat dari seluruh jaringan yang menghubungkan ribuan alam semesta yang berbeda. Dan kita berdua—kamu yang telah menyatukan titik-titik energi, dan aku yang menjaga pusatnya—harus bekerja sama untuk mengatasi krisis yang sedang mengancam seluruh struktur alam semesta.”

Jay meneguk air kelapa muda dengan lahap, kemudian melihat ke luar jendela rumah ke arah pohon-pohon kelapa yang tinggi. Ia bisa melihat garis-garis cahaya pelangi yang masih berkilauan di udara, kini tampak lebih jelas dengan berbagai warna yang semakin hidup. Ia juga bisa melihat bentuk-bentuk samar makhluk dari berbagai dimensi yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan—makhluk-makhluk yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, namun kini bisa dirasakan keberadaannya dengan jelas.

“Jadi apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” tanya Jay kepada Pak Narto.

Lelaki itu tersenyum lagi, matanya melihat ke arah mangkuk tempurung kelapa yang bersinar di tengah meja. “Kita harus menyatukan seluruh energi dari titik-titik Diam yang sudah kamu buat, Jay. Kita harus mengaktifkan pusat kontrol yang ada di bawah pulau ini, dan membuka saluran komunikasi dengan semua dimensi yang terhubung ke jaringan ini. Hanya dengan begitu kita bisa mengetahui sumber dari krisis yang sedang terjadi, dan bekerja sama dengan makhluk-makhluk dari berbagai alam semesta untuk mengatasinya.”

Rara menatap mangkuk tempurung kelapa itu dengan seksama. Cahaya kebiruan yang keluar dari dalamnya kini semakin kuat, seolah merespons kata-kata Pak Narto. “Pak Guru bilang bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan seluruh jaringan multi-universal,” ucapnya dengan suara yang tegas. “Kita tidak bisa melakukan ini sendirian—kita membutuhkan bantuan dari semua makhluk yang tinggal di setiap dimensi yang terhubung ke sini.”

Matahari kini sudah berada tepat di tengah langit, menyinari Pulau Kelapa dengan sinarnya yang hangat dan penuh kekuatan. Di luar rumah, suara angin yang berhembus melalui daun-daun kelapa terdengar seperti lagu yang penuh dengan makna, sementara ombak yang menghantam pantai membuat irama yang menenangkan. Semua energi di pulau itu tampak sedang berkumpul ke satu titik—ke tengah pulau yang ditutupi oleh hutan pohon kelapa yang lebat, di mana pusat kontrol jaringan multi-universal berada.

“Kita akan memulai besok pagi,” kata Pak Narto dengan tegas. “Sekarang kamu berdua harus istirahat dan mempersiapkan diri. Perjalanan yang kamu lakukan sejauh ini hanya permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar—sesuatu yang akan mengubah cara kita melihat dunia, dan seluruh alam semesta yang ada di luar sana.”

Jay mengangguk, merasa bahwa tubuhnya memang membutuhkan istirahat namun hatinya penuh dengan semangat baru. Ia melihat ke arah tas kecil yang masih ada di sisinya, kemudian mengambil satu bungkus snack dan memberikannya kepada Pak Narto. katanya dengan senyum.

Lelaki itu menerima dengan senyum lebar, membuka bungkusan dan mengambil satu potong. “Aku belum pernah mencicipi makanan dari dunia luar selama puluhan tahun,” katanya sambil menelannya dengan nikmat. “Rasanya luar biasa. Sepertinya kamu memang membawa sesuatu yang berharga selain kemampuanmu untuk menyatukan titik-titik energi, ya Jay.”

Di luar rumah, matahari terus bersinar dengan kuat di atas Pulau Kelapa yang hanya muncul setiap tujuh hari sekali. Pulau ini yang selama ini tersembunyi dari dunia luar kini siap membuka rahasianya—rahasia tentang jaringan multi-universal yang menghubungkan ribuan dimensi, tentang tugas besar yang harus diemban oleh mereka yang terpilih, dan tentang harapan baru yang muncul dari perpaduan kekuatan dari berbagai alam semesta yang berbeda. Semua yang telah terjadi sejak mereka membuat zona aman di CITRA MALL adalah bagian dari rencana yang jauh lebih besar—rencana yang kini mulai terbongkar satu per satu di tengah pulau yang menjadi jembatan antara dunia yang diketahui dan dunia yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

1
EvhaLynn
Lari Mbak🏃‍♀️
EvhaLynn
oh pantesan🤭
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
baik benar Jay
リズキ・サントソ
👍👍
リズキ・サントソ
santoso 🗿
T28J
gimana nyanyinya, hihihihihi....
Pengabdi Uji
tp klo g galak gpp jg
Pengabdi Uji
kumpulan paracenayang khh🫣
Pengabdi Uji
hmm pantess trnyta?emg ky spesial itu
Pengabdi Uji
hooh pantes ajaa ya trnyta g mngancam
Pengabdi Uji
ini knp dy?? apa di pngaruhi
Tati Hartati
keren banget kak
M. T🌻
keren thor👍
Jing_Jing22
Seperti reuni makhluk halus dan para tuannya.
Jing_Jing22
Cantik loh tulisannya.
Jing_Jing22
Kalau kamu kan udah terbiasa Jay berbeda dengan Dinda
Sishrye
takut nya kalau tetiba makhluk itu berubah jadi jahat
~SasMaya ✧
Thor, baca adegan ini .. jadi inget film Shinbi house ... pemberantas makhluk-makhluk
Sishrye: oh iya bener juga ya kak. btw aku juga sering liat film itu di net tipi😂
total 1 replies
~SasMaya ✧
aelah si Jay, cikinya pasti ga ketinggalan 😂
Mingyu gf😘
mereka ini orang jawa ya ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!