Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu dewi
"Argh!" Amira menjerit sambil memegang pundaknya.
Belum sempat dia berucap, seorang wanita paruh baya datang menghampiri Amira.
"Hei, kenapa kamu gendong anakku? Kamu penculik, ya?"
Tatapannya tajam pada Amira.
Amira bingung.
Anak yang mana yang dia culik?
Yang digendongnya?
Bukankah dia Dewi, anaknya?
Belum sempat Amira menjawab, Nanda menghampiri wanita itu.
"Mini, dia anakku, bukan penculik. Dia salah sangka," ucap Nanda, mengambil anak yang digendong Amira lalu memberikannya pada Rukmini.
"Jadi, dia ibunya Dewi?" tanya Rukmini.
Nanda menganggukkan kepala. "Maaf, ya. Sudah 3 tahun berpisah, jadi anakku agak lupa sama anaknya sendiri."
"Baiklah kalau begitu," ucap Rukmini lalu menatap anak yang dia gendong. "Nina, kamu itu kebiasaan, ya. Nenek bilang juga apa, kalau ada orang asing yang menggendong kamu, kamu harus teriak."
Anak itu diam, kemudian menangis.
"Nah, kebiasaan, ya. Kalau diomelin nenek malah nangis," ucap Rukmini, lalu menatap Nanda. "Nanda, aku pulang dulu."
"Ya, hati-hati di jalan." Nanda melambaikan tangan.
Rukmini berlalu menyeberang jalan, meninggalkan Nanda dan Amira.
Seorang anak perempuan gemuk menghampiri Nanda sambil memegang kayu, berdiri di depan Nanda.
"Kenapa pukul nenek?" ucapnya cempreng namun menggemaskan, tangannya bertolak pinggang.
Nanda memegang pundak Dewi.
"Dewi, dia ibu kamu," ucap Nanda.
"Bohong!" Dewi mendengus. "Nenek bilang mamah orang baik. Kenapa pukul nenek? Mamah nggak mungkin pukul nenek, kan? Yang suka pukul nenek kan satpol PP."
Amira memandang anak gemuk itu. Jauh dari yang dia bayangkan. Dewi tampak sehat, bahkan gemuk dan menggemaskan.
"Ini Dewi..." bibir Amira gemetar, mendekat hendak memeluk.
"Jangan dekat-dekat! Aku nggak suka orang yang pukul nenek. Siapa pun pukul nenek berarti musuh, harus dibasmi!" Tangannya mengepal, mengarah pada muka Amira.
Amira melihat ke arah Nanda.
"Kamu sudah mengabaikan dia selama 3 tahun. Dia perlu waktu," Nanda menatap Amira.
Seketika Amira merasa bersalah. Dia sudah menampar ibunya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Dewi!" suara Arjuna terdengar.
"Siapa kamu?" jawab Dewi. "Kurus banget kayak tengkorak. Kamu pasti zombi, kan?"
Arjuna berhenti karena Dewi mengarahkan kayu padanya.
"Dewi, mari makan ayam goreng."
Mata Dewi yang awalnya tajam mendadak berbinar.
"Ayo makan, Nek!" sahutnya, menurunkan kayu.
Nanda memberi kode agar mengikutinya.
Nanda memegang tangan Dewi lalu menyeberang. Beberapa kali disuruh membuang kayu, namun dia menolaknya.
Amira mengikuti dari belakang.
Jauh sekali perbedaan yang dia rasakan. Dulu, waktu kecil, dia sering dimarahi dan dibentak ibunya. Namun, melihat Dewi, sangat dijaga dan sangat menurut.
Sampailah mereka di warung makan.
"Eh, Dewi mau makan lagi, Wi?" tanya penjaga warung yang tampak sudah akrab.
"Ya, aku sedang kesal. Kalau kesal, perutku langsung kosong."
"Ah, alasan. Emang kamu doyan makan."
"Hei!" Nanda menatap tajam.
"Bercanda, Bos... jangan marah dong."
Tampak pedagang itu sudah akrab dengan Dewi.
Dua potong ayam goreng, nasi sepiring penuh.
Amira sampai terperangah melihat porsi makan Dewi.
"Dua jam yang lalu seperti ini," gumam pedagang.
"Makasih, Mang," ucap Dewi, matanya berbinar melihat nasi.
"Yang ini apa?" pedagang melihat ke arah Amira.
"Samain kayak Dewi, tapi porsinya kurangi."
Amira melihat ke arah Arjuna.
Arjuna menggelengkan kepala. "Aku masih kenyang."
"Pantas saja kayak tengkorak, makannya sedikit. Di sini banyak anjing galak, suka makan tulang, anjing disini suka tulang..apalagi tulang zombi" Dewi berceloteh tanpa melihat, tangannya memasukkan nasi ke mulutnya. Pipinya sampai kembung.
Arjuna menelan ludah membayangkan dirinya jadi santapan anjing galak.
"Ya, aku makan," ujar Arjuna.
Pedagang nasi membuat porsi untuk Amira dan Arjuna.
"Hei, nenek galak, makan nggak?" ucapnya, namun cepat meralat. "Ah, aku lupa. Kamu makan cuma sekali demi cucu kamu itu."
"Makanan kamu tidak cocok di lidahku," jawab Nanda. "Aku teh manis saja."
"Sudahlah, nenek galak, jangan bohong. Aku sudah tahu semuanya. Emang ke mana sih orang tua si Dewi? Kalau saya punya anak kayak si Dewi, nggak bakal saya tinggalkan. Lihat tuh, pasti minta tambah lagi."
Pedagang nasi itu mengambil piring Dewi dan menambahkan nasi. "Karena aku lagi senang, yang ini gratis."
"Paman memang baik," ucap Dewi, langsung menyantap nasi dengan lahap.
Amira tertegun.
"Apakah aku sudah salah sangka sama Ibu? Ibu makan satu kali hanya biar Dewi bisa makan banyak..."pikir Amira dalam hati
Tak terasa rasa bersalah datang. Air mata turun membasahi pipi.
"Nek, pukul aja orang itu!"
"Siapa?" tanya Nanda.
"Itu yang nangis."
Amira kaget. Dewi bisa tahu dia menangis, padahal sedari tadi Dewi tidak melihatnya.
"Kamu jangan nangis di depan Dewi. Nanti kamu dipukuli oleh Dewi, Dewi ga suka orang cengeng" ucap pedagang, seolah tahu watak Dewi.
Amira buru-buru menyeka air matanya dan mulai makan dengan lahap.
Arjuna, semenjak ditatap tajam oleh Dewi, tidak sanggup melihat Dewi lagi. Arjuna makan dengan lahap.
Amira memakan setengah porsi. Dia melirik ke arah Dewi... dan piring Dewi sudah habis.
Dewi tampak melihat ke arah Nanda.
"Nenek udah nggak ada uang. Nanti sore lagi, ya." Ucap Nanda dengan wajah sedikit muram
Amira tidak mau Dewi kecewa hanya karena tidak bisa nambah dan buru buru berkata "Dewi, kalau mau tambah... tambah lagi sepuasnya. Nanti mamah yang bayar," .
Dewi melihat ke arah Amira. Tatapannya masih tajam, mulutnya sudah penuh minyak.
"Baiklah, tambah dua lagi. Tapi urusan kita belum selesai. Aku belum tampar kamu," ucap Dewi.
"Dewi, nggak boleh gitu. Dia mamah kamu," jawab Nanda.
"Bukan! Dia bukan mamah Dewi. Mamah Dewi nggak mungkin tampar nenek."
Dewi mengeram. "Aku jadi kesal. Tambah 3 potong paha, dia yang bayar."
Telunjuk mungil itu mengarah pada Amira. Pedagang nasi melihat ke arah Amira.
Amira menganggukkan kepala.
Pedagang mengambil 3 potong paha ayam goreng dan memberikannya pada Dewi.
Amira melihat ke arah Nanda... Nanda melihat ke arah langit-langit.
Dan akhirnya, setelah menghabiskan 4 porsi nasi dan 5 paha ayam, akhirnya Dewi berhenti.
"Ah, mulut masih pengin, tapi perut sudah penuh." Dewi menepuk-nepuk perutnya.
"Nenek, ayo pulang jalan kaki. Makananku harus turun ke perut."
Sebelum Nanda membayar, Amira terlebih dahulu membayar.
Dewi menarik tangan Nanda.
Amira mengikuti dari belakang sambil menyeret koper.
Sepanjang jalan, Dewi tak berhenti berceloteh.
Menanyakan banyak hal.
Kenapa roda mobil bulat.
Kenapa mobil ada dua roda dan ada banyak roda.
Kenapa langit warnanya biru.
Dan dengan sabar Nanda menjawab.
Dewi tampak bahagia.
Tidak tampak wajah anak tertekan seperti Arjuna.
Masuk ke sebuah gang pemukiman kumuh dekat stasiun kereta api.
Dewi disambut hangat, dan banyak yang mengajak bermain, namun Dewi menolak.
"Aku sudah bekerja keras, mataku ngantuk."
Bekerja keras?
Padahal sedari tadi Dewi banyak makan, bukan banyak kerja.
Sampai di rumah kontrakan yang bertembok seng, Nanda masuk.
"Masuklah," ajak Nanda.
Mereka masuk ke rumah yang sempit, namun tertata rapi dan bersih.
"Nenek, aku ngantuk."
"Kamu sikat gigi dulu, cuci kaki, cuci muka, baru tidur."
"Siap, Bos!" jawab Dewi, lalu masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, Dewi muncul dengan wajah yang sudah segar.
"Nenek, mataku ada kelincinya."
Nanda tersenyum dan melihat Dewi matanya terlihat sayu
"Tidurlah, Nak..."
Dewi masuk ke kamarnya, menyalakan kipas angin, lalu tidur.
Amira melihat semuanya.
Sekarang Amira dan Arjuna berhadapan dengan Nanda dengan perasaan canggung.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" Nanda melihat Amira.
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
yg ada di tindas terus
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪