NovelToon NovelToon
AKHIR DARI PENYESALAN

AKHIR DARI PENYESALAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Rumah Tangga / Selingkuh
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.

"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.

Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.

Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.

Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.

Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMBILAN BELAS

Beberapa hari kemudian,...

"Lapor, Miss. Ini ikan buntal udah ngebet ngajak kawin, iyain jangan?" Kanaya membaca pesan tersebut dengan kedua matanya yang masih mengantuk.

Pagi-pagi sekali Esmeralda sudah mengiriminya pesan.

"Kalau dia udah beneran cinta setengah mati sama kamu, ya gas. Tapi kalau ngebet ngajak kawin karena horny, jangan dulu. Kalau sekedar horny, kamu pasti dia nikahin tapi disembunyiin. Selesai dan tuntas apa yang dia mau, pasti kamu dibuang gitu aja." Kanaya mengirimkan pesan tersebut, lalu kembali menulis.

"Tapi kalau dia udah beneran klepek-klepek, beneran jatuh cinta, pasti dia nggak akan segan nikahin kamu terang-terangan dan nggak akan ngelantarin kamu gitu aja nantinya. Jangankan buang dan ngelantarin kamu, ditinggalin aja pasti dia ogah." Lanjut Kanaya membalas pesan Esmeralda.

Ia duduk di atas ranjang masih dengan gaun tidur dan rambutnya yang cukup berantakan, kedua matanya sedikit tertutup karena ia memang masih merasa ngantuk.

"Jadi gimana dong, Miss? Saya harus apa dulu sekarang kalau dia ngajak kawin terus? Kira-kira apa alesan yang harus saya pake buat nunda dan ngeles tanpa bikin ikan buntal itu curiga berlebihan? Kalau saya nolak terus tanpa alesan, takutnya dia curiga kalau saya memang mau duitnya aja. Nanti dia malah kabur gimana, Miss?"

Balasan pesan dari Esmeralda datang tak lama kemudian.

Kanaya menarik nafas panjang, memaksa kedua matanya untuk terbuka lebar dan agar kantuknya terusir. Jari jemari wanita itu yang lentik bergerak cepat di atas layar ponsel.

"Tes ombak aja dulu. Coba kamu pancing dengan bilang kalau kamu cuma mau dinikahin secara resmi, liat reaksi dia kaya gimana. Kalau dia udah jatuh cinta setengah mati, dia pasti nggak akan keberatan. Tapi kalau kamu liat dia ragu sedikit aja, jangan dulu. Makanya pas nanya nanti kamu perhatiin baik-baik raut muka ikan buntal mesum itu."

Setelah mengirim pesan tersebut, Kanaya dengan sabar menunggu balasan dari Esmeralda.

Kanaya mengabaikan sepenuhnya kebisingan di luar kamar dari aktivitas Nisrin dan Samira yang seperti biasanya, menyindir, menghardik dan juga mengumpati dirinya.

"Jam segini masih aja ngendok di dalem kamar, jam berapa ini coba? Pasti masih tidur itu. Kebangetan emang, kebiasaan dimanja bikin dia nggak tau diri." Suara Samira terdengar ketus, jelas-jelas sedang menyindirnya.

Terdengar juga suara Andra yang menyuruh sang ibu untuk berhenti dan memintanya untuk membiarkan saja Kanaya beristirahat.

"Udah, Bu. Biarin aja nggak apa-apa. Mungkin Naya juga kecapekan. Lagian ini juga masih pagi banget dan weekend, nggak enak kalau sampe kedengeran sama tetangga kita ribut-ribut."

Begitu ucap Andra lembut berusaha untuk membela dirinya di hadapan sang ibu.

"Kecapekan? Kecapekan apa coba? Emang dia kerja?

Boro-boro! Tiap hari kerjaannya cuma ongkang-ongkang kaki, leyeh-leyeh, jalan sama temen-temennya, belanja,... Apa yang bikin dia capek coba? Kanaya itu males aja udah. Lagi pula ya, mana ada tetangga yang bisa denger suara kita. Teras sama halaman rumah kita aja lega banget, nggak akan sampe suara kita ke rumah mereka."

"Memang aku yang suruh Naya buat ngelakuin semua itu, Bu. Aku yang minta Naya buat jalan-jalan sama temennya dan belanja semau dia, aku nggak keberatan sama sekali. Jadi udah ya, jangan berantem terus sama istriku."

Pembelaan tanpa henti Andra pada dirinya tentu saja membuat Samira semakin berang dan kesal padanya, ibu mertuanya itu semakin gemas dan terbukti dari suaranya yang semakin keras nan tajam hingga terdengar kian jelas ke dalam kamar.

"Belain aja terus, belain. Makanya dia makin berani kurang ajar dan seenaknya, tau dia bakalan kamu belain. Hamil nggak bisa, ngasih keturunan nggak becus, bisa-bisanya hidup petantang-petenteng. Nggak berguna banget jadi istri. Kalo dia bisa ngasih keturunan, bodo amat deh kalau mau hidup seenak jidat ngikut kata hati dia. Bebas, nggak akan ibu recokin. Lah ini, jadi perempuan cacat aja banyak gaya. Nggak ada rasa malunya." Ucapan Samira kali ini benar-benar menusuk hati Kanaya.

Ia tidak bisa berpura-pura tuli atau bersikap seolah tidak peduli, kata 'cacat' yang baru saja disematkan Samira pada dirinya benar-benar bagai siraman air panas tepat di atas kepalanya.

"Kamu itu udah dicuci otak pasti sama dia, Andra. Bisa-bisanya perempuan nggak berguna itu kamu belain terus menerus, bikin dia ngerasa berkuasa dan di atas angin. Ibu tu nggak paham ya, Andra. Heran, beneran deh. Apa sih yang bikin kamu masih keras kepala mempertahankan dia? Ngapain kamu masih pelihara itu perempuan di rumah ini padahal dia nggak becus ngapa-ngapain? Ibu udah bilang sejak dulu, cerein. Buang itu beban jauh-jauh"

"Ya Allah, udah Bu. Udah. Sampe kapan pun aku nggak akan pernah mau pisah apalagi cerai sama Naya. Kita udah sepakat dulu sejak awal, Bu. Kita sepakat kalau aku cuma mau nikah lagi dengan syarat Ibu nggak akan nyuruh aku cerai sama Kanaya. Kenapa sekarang Ibu malah bahas-bahas terus masalah itu?"

Kanaya masih duduk di atas ranjang mendengarkan percakapan mereka.

Jelas tertebak sekali dari suaranya Andra sangat khawatir kalau Kanaya sudah bangun dan mendengar semua ucapan Samira.

"Ya karena dia nggak tau diri. Istri pertama kamu itu nggak pandai menempatkan diri. Orang tuh ya, kalau punya rasa malu sama tau diri, pasti dia nggak bakalan tuh kelakuannya kaya dia yang cuma bisa makan, main dan tidur. Dia bakalan tau diri beresin rumah tanpa sewa pembantu, bakalan tau diri masak buat orang serumah,tau diri sampe sukarela cuciin baju semua yang ada di rumah. Nah itu, lah ini? Boro-boro beresin rumah, masak apalagi nyuciin baju. Keluar kamar aja dia kalo mau pergi main sama temen-temennya. Apa itu namanya kalo bukan nggak berguna dan nggak tau diri?!" Ketus Samira penuh emosi.

"Aku yang melarang Kanaya ngelakuin itu semua, Bu. Naya itu kan istriku, dia bukan asisten rumah tangga apalagi pesuruh di rumah ini. Dia nggak wajib beres-beres rumah, masak atau cuciin baju. Aku masih punya uang yang cukup buat sewa jasa orang lain. Masih untung dia mau terima keputusan aku buat poligami dan nikah lagi sama Nisrin, aku nggak masalah sama apa yang dia lakuin."

"Woooh, pasti besar kepala banget itu istri kamu kalau denger semua pembelaan kamu di depan Ibu. Pasti dia ngerasa menang dan bakalan makin seenaknya sama Ibu.

Untung aja itu tuan puteri kebluk, bisanya cuma tidur."

Kanaya tersenyum menyeringai, ia jelas mendengar semua perdebatan mereka dan tak sedikit pun ia merasa terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Andra untuknya.

"Kalau gitu udah ya. Sekarang aku bangunin Kanaya dulu,... Udah ya Ibu juga jangan ribut dan berantem terus sama dia."

Terdengar suara langkah kaki Andra yang mendekat ke arah kamar, pria itu mengetuk beberapa kali sebelum membuka pintu dengan perlahan.

"Oh, kamu udah bangun, Sayang?"

1
Nuna_Pena
😁😁
Anonim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!