" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanen Keringat Sendiri
Tiga bulan berlalu. Arumi tidak kembali ke kontrakan itu, namun ia juga tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik ketiak ibunya. Ia ingin anaknya lahir dari uangnya sendiri, bukan dari belas kasihan orang tua yang dulu mengekangnya.
Kini, kandungan Arumi memasuki bulan ketujuh. Perutnya sudah membuncit nyata, membuatnya cepat lelah dan napasnya sering tersenggal. Namun, setiap pagi, ia tetap berangkat ke pasar untuk membantu juragan sayur menyortir dagangan.
Baskara? Pria itu datang seminggu sekali. Hanya untuk duduk di teras rumah orang tua Arumi, merokok, dan bertanya, "Sudah mau pulang?" tanpa pernah membawa solusi untuk kontrakkan mereka yang sudah lama disegel.
Suatu sore, Arumi pulang dengan kaki yang bengkak. Ia duduk di tangga teras, memijat pergelangan kakinya yang terasa kaku. Baskara ada di sana, sedang asyik memperhatikan burung gereja yang terbang di dahan pohon.
"Mas," panggil Arumi, suaranya parau karena lelah. "Biaya persalinan nanti... aku sudah kumpulkan sedikit demi sedikit. Tapi masih kurang banyak. Mas tidak ada tambahan?"
Baskara menoleh perlahan, matanya yang berusia hampir empat puluh tahun itu tidak menunjukkan gairah apa pun. "Aku belum ada proyek lagi, Rum. Sekarang cari kerja susah. Lagipula, kan ada orang tuamu. Pasti mereka bantu."
Arumi mengepalkan tangannya. "Ini anak kita, Mas! Bukan anak Ibu atau Ayah! Kenapa Mas selalu mengandalkan orang lain? Kenapa Mas tidak mau sedikit saja berusaha cari kerja apa saja? Jadi kuli bangunan, tukang parkir... apa saja, Mas!"
Baskara mengembuskan asap rokoknya ke udara. "Aku ini orang berpendidikan, Rum. Masak jadi tukang parkir? Malu. Sabar saja, nanti kalau ada rezeki besar, semua tertutup."
"Sabar tidak akan membelikan bayi ini baju, Mas! Sabar tidak akan membayar bidan!" Arumi berdiri dengan susah payah, menahan nyeri di punggungnya. "Mas bicara soal malu? Aku yang hamil besar ini tiap subuh angkat bakul sayur di pasar, aku tidak malu! Yang memalukan itu pria sehat yang cuma bisa duduk menunggu keajaiban sementara istrinya banting tulang!"
"Kamu itu terlalu emosional karena hamil," gumam Baskara datar, seolah kemarahan Arumi hanyalah gangguan kecil. "Makanya, di rumah saja. Jangan banyak tingkah."
Arumi menatap suaminya dengan rasa muak yang sudah mencapai ubun-ubun. Pria ini bukan hanya diam, dia adalah parasit yang mematikan. Dia menggunakan "martabat" dan "pendidikan" sebagai alasan untuk kemalasannya.
"Mas tahu tidak?" bisik Arumi, wajahnya mendekat ke arah Baskara. "Anak ini... aku tidak akan memberinya nama belakangmu. Karena kamu tidak pernah ada untuknya, bahkan sebelum dia lahir."
Baskara hanya menatap Arumi sebentar, lalu kembali membuang muka. Tidak ada bantahan. Tidak ada kemarahan. Hanya keheningan yang membeku.
"Ya sudah kalau itu maumu," jawab Baskara pelan.
Arumi berbalik masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Di dalam kamar, ia membelai perutnya yang menendang-nendang.
"Maafkan Ibu, Nak," bisiknya. "Ibu harus memotong dahan yang busuk ini, supaya kamu bisa tumbuh tanpa tertular racunnya."
# halo gaesss , seru ga nii cerita nya komen yaa biar tambah semangatt.💪💪✍️