Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.
Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.
Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Dipermalukan
Satu jam kemudian, Hotel Blue Sky, ruang resepsionis bintang lima. Lili dan Xuan sudah masuk ke dalamnya, dan langsung menuju meja penerimaan. "Selamat sore Nona, apa yang bisa saya bantu?" ucap salah satu dari penerima tamu pada calon tamunya.
"Tolong siapkan kamar penthouse untuk sepuluh hari. Kami sangat membutuhkannya." jawab Xuan Huan cuek saja.
"Kamar penthouse? Apa kami tidak salah dengar Nona?"
"Ya, kamu tidak salah dengar. Aku memang memesannya. Kenapa, keberatan?"
"Bukan begitu Nona. Kamar itukan....?"
"Mahal maksudmu? Sebutkan berapa sewanya permalam. Aku mampu membayarnya!"
"Sewa permalam 150 juta, ditambah dengan..?"
"Deposit maksudmu. Itu masih tergolong murah. Aku pernah menginap di Submarine Hotel. Sewanya sebesar 150 ribu dolar Amerika permalam, atau sekitar 2.3 milyar uang di sini. Biasa saja."
"Jadi cepat lakukan pendataan. Kami mau istirahat. Ini kartu pembayarannya. dan kau boleh melebihkannya untuk bonus keraguan mu itu. Paham?"
"Ba ba baik Nona. Kami paham!"
Beberapa detik kemudian. [Ting! Pembayaran berhasil]
[Jumlah yang dibayarkan sebesar 1.5 milyar. Deposit 1.5 milyar. Jumlah 3 milyar]
[Terima kasih karena telah mempercayai hotel kami. Selamat menikmati liburan anda]
'Canggih juga sistem hotel ini. Pake pemberitahuan segala' batin Xuan Huan dalam hati.
"Ini kartu pembayarannya Nona. Maafkan mata kami yang buta. Tidak bisa melihat gunung di depan mata."
Baru kali ini Kanaya terkena batunya. Biasanya dia selalu bersikap sombong, dan meragukan setiap tamu yang datang. Maklum hotel bintang lima?
Jadi tanpa dikomando, dia menunduk dalam ke arah Xuan Huan. Dengan tulus meminta maaf, dan berjanji tidak akan berani lagi meremehkan tamunya.
Tapi Xuan Huan yang pendendam, tidak mau melepaskan mangsanya. Dia ingin terus mempermalukan lawannya. "Kenapa kau tidak melebihkan pembayarannya, agar bonus yang kau terima tidak sia sia?"
"Maaf Nona. Kami tidak bisa."
"Hem! Lain kali jangan menilai buku dari sampulnya saja. Buka dulu baru tahu baik atau buruk isinya. Paham!?"
"Paham Nona! Terima kasih pelajarannya."
Sepeninggal tamunya. "Tu lah kau. Suka benar meremehkan tamu yang datang. Sekarang kau kena batunya kan?"
"Ya. Sekarang aku baru sadar. bahwa sombong itu tidak ada gunanya. Ternyata di atas langit masih ada langit" jawab Kanaya pasrah saja.
"Hahahaha. Peri cantik, pascasarjana lulusan terbaik, magister ekonomi predikat cumlaude yang sombongnya selangit, hari ini mendapatkan pencerahan, berkat gadis biasa yang kemungkinan masih SMA?"
"Ini sebuah kejutan besar. Setelah ini entah apa lagi yang akan terjadi padamu. Mungkin kau akan dipecat, karena telah berani menyinggung tamu super penting. Kalau bos besar tau, habislah kau!?" ledek penerima tamu lainnya.
"Sudahlah. Jangan ganggu aku. Aku benar benar takut dengan resikonya. Jujur aku tak menyangka, gadis semuda itu sudah mampu menginap di kamar termahal bintang lima. Jika aku tahu....?"
"Dia kaya dan banyak uang kan?" "Ya, kau benar. Orang yang beruang itu bisa menjadi raja. Banyak orang yang akan menundukkan kepala ke arahnya."
"Termasuk kau kan?"
"Kau juga."
"Hahahaha!"
Keesokan harinya. Xuan Huan berencana untuk pergi ke kantor catatan sipil. Setelah itu ke rumah ibunya. Baru kemudian pergi ke sekolah untuk melaporkan diri.
Namun saat dia sedang bersiap siap, muncul berita di televisi, memberitakan berita tentang keluarga ayahnya.
"Pemirsa. Secara mengejutkan. Perusahaan yang selama dua dekade ini bertengger di urutan kedua ibukota, menyatakan kolaps, dan mengundurkan diri dari perebutan dunia bisnis yang selama ini mereka tekuni. Selalu bersaing untuk menjadi nomor satu."
"Penyebabnya, sistem perusahaan yang diandalkannya telah hancur total. dan semua aset perusahaan, termasuk properti, berikut tanahnya telah berpindah tangan."
"Sekarang nasip karyawan yang selama ini bernaung di bawah panji panji perusahaan. tidak diketahui bagaimana ke depannya. Sementara tuan Raka dan keluarganya telah terusir dari istana megah, yang selama ini ditempatinya"
"Banyak penagih hutang, termasuk bank, berbondong bondong mencarinya. Setelah menyatakan kolaps perusahaan yang selama ini dipimpinnya. Dia dan keluarganya langsung menghilang, dan tidak diketahui di mana rimbanya?"
Dan masih banyak lagi..
"Akhirnya, dominasimu yang selama ini kau banggakan, jatuh juga tuan Raka."
"Selama ini kau dan keluargamu selalu sombong, dan terus mengandalkan harta Ibuku. Sekarang kau sudah kena batunya. Gembel dan menjadi buronan!" gumamnya. sambil mengepalkan telapak tangan ke atas, dan melemparkannya ke udara.
"Ji Quan Huan. Apa kau bisa mendengarkan suaraku?"
[Bisa tuan. Tuan tenang saja. Quan Huan selalu siap untuk anda]
"Di mana surat surat aset Ibuku kau tempatkan. Apakah kau menyimpannya di penyimpanan sistem?"
[Benar tuan. Semua surat surat aset itu telah Quan amankan di ruang penyimpanan, termasuk 991 miliar uang tunai, perhiasan, emas batangan, kendaraan dan lain sebagainya]
[Untuk barang yang tidak bergerak, sementara ini Quan tetap tinggalkan di tempat. Namun tuan jangan khawatir. semua aset aset itu Quan yang beli, karena Quan ini sangat kaya, dan nantinya akan Quan kembalikan kepada Anda]
"Bagus! Kau memang yang terbaik dan sangat bisa diandalkan!"
[Terima kasih atas pujiannya tuan. Quan senang sekali mengabdi pada anda]
"Ya. Sekarang apa yang sedang kau lakukan. Apakah masih berada di perusahaan?"
[Tidak tuan. Quan sekarang sedang berada di benua Amerika, menyelidiki keberadaan orang yang dulu menyinggung anda]
"Apa sudah ketemu?"
[Sudah tuan. Sekarang orang itu sudah Quan amankan. Tinggal menunggu perintah anda saja]
"Lupakan dulu masalah itu. Di dalam negeri masih banyak yang harus kita pikirkan. Jangan mengurusi urusan orang lain. Mereka tidak butuh bantuan kita. Kita hadir cuma dimanfaatkan."
[Baik Nona. Kalau begitu Quan akan kembali, dan akan fokus mengurusi kita saja]
"Bagus! Ternyata kau masih mau mendengarkan omongan orang."
[Itu sudah menjadi tugas Quan tuan]
"Ha..Kau sudah kembali? Secepat itu? Apa tidak ada kendala?"
[Selama ini tidak ada Tuan. justru Quan sangat senang, karena bisa pergi ke mana mana]
"Lalu bagaimana denganku. Apakah aku juga bisa pergi kemana saja sama sepertimu?"
[Tentu saja bisa Tuan. kemanapun tuan ingin pergi. Tuan tinggal meniatkannya saja]
"Oh begitu. Baiklah. Sekarang ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Mau mendengarkan?"
[Siap Tuan. Quan akan mendengarkan]
"Baik.... Pertama masalah pengalihan aset ibuku. Apa sepanjang kau bekerja, ada yang mencoba menentangnya, atau minimal mengintimidasi mu?"
[Ada tuan, yaitu ayah tuan sendiri. Dia mati matian bertahan, saat menantang keputusan dewan direksi, yang menyerah menjual sahamnya kepada Quan]
[Tapi karena mayoritas pemegang saham melepaskan asetnya, maka dia yang sahamnya cuma 5℅, terpaksa harus melepaskan sahamnya juga]
[Itupun karena harus menutupi hutang bank, yang baru satu dilunasinya. Sedangkan dua bank lainnya dia masih berutang]
"Lalu bagaimana caramu mengambil alih rumah, tanah juga properti lainnya, termasuk perhiasan juga kenderaan?"
[Itu mudah saja tuan. Quan tinggal menunjukkan surat suratnya saja dia langsung menyerah. Cemen dia]