Kata kunci masuk GC : Siapakah nama paman Almira?
Pernikahan yang dibina Almira selama setahun kandas di tengah jalan. Tomy. suami yang dicintainya menghamili sekertarisnya. Almira yang kecewa dengan suaminya langsung kabur dari rumah untuk menghindari suaminya dan mertuanya.
Tanpa sengaja Almira bertemu kembali dengan Tomy di kantor tempat Almira bekerja, karena atasan Almira adalah teman Tomy. Semenjak itu Tomy kembali mendekati Almira. Almira tidak ingin kembali ke mantan suaminya dan hanya ada satu cara agar Tomy berhenti mengejar Almirah lagi, yaitu menikah dengan atasannya yang bernama Faisal Yudhatama.
Faisal Yudhatama adalah pemilik perusahaan tempat Almira bekerja Faisal adalah seorang duda yang memiliki tiga anak, istrinya meninggal karena sakit kanker yang di deritanya.
Demi menolong Almira dari gangguan Tomy, Faisal meminang Almira. Akankah Almira menerima pinangan Faisal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Kamu Tuh Anak Bibi.
Ibu Lia yang sedang berada di dapur mendengar suara orang menangis di ruang tamu. Ia langsung cepat-cepat ke ruang tamu. Ia melihat seorang perempuan sedang menangis di hadapan suaminya. Ketika Ibu Lia mendekati ia melihat Mbok Silah di depan pintu. Perempuan itu pasti Almira, pikir Ibu Lia.
“Almira,” panggil Ibu Lia lalu menghampiri Almira.
“Bibi.” Almira langsung memeluk wanita itu.
Almira menangis di pelukan Ibu Lia.
“Akhirnya kamu pulang, Nak,” kata Ibu Lia sambil menangis.
“Kami mengkhawatirkanmu.”
“Maafkan Almira, Bi,” kata Almira.
“Eh…. malah nangis-nangisan di depan pintu. Bukannya Tetehnya di suruh masuk,” sahut Nina yang tiba-tiba nongol di belakang orang tuanya.
“Mamah sampai lupa. Ayo Mira masuk,” kata Ibu Lia lalu merangkul pinggang Almira dan mengajak Almira masuk ke dalam rumah.
“Nina, panggil Aa! Suruh Aa angkat barang-barang Teteh ke kamarnya!” perntah Ibu Lia.
“Ya, Mah.” Nina langsung pergi ke kamar Rafi.
“Biar Almira angkat sendiri,” kata Almira.
“Jangan! Kamu masih cape, biar Rafi yang bawa barang-barangmu.” Ibu Lia melarang Almira.
Kemudian Ibu Lia menoleh ke Mbok Silah.
“Mbok terima kasih, ya sudah menjaga Almira,” ucap Ibu Lia.
“Sama-sama, Bu. Itu sudah kewajiban saya untuk menjaga Non Almira.”
“Mbok sekarang Mbok istirahat dulu. Mbok pasti cape. Kamar Mbok sudah saya bersihkan,” kata Ibu Lia.
“Terima kasih, Bu. Saya mau angkat barang-barang Non Almirh dulu,” kata Mbok Silah hendak mengambil barang barang yang dibawa Almira.
“Biarin aja, Mbok. Nanti Rafi yang angkat. Mbok istirahat aja,” cegah Ibu Lia.
“Kalian sudah makan belum?” tanya Ibu Lia kepada Almira.
“Belum, Bi,” jawab Almira.
“Ayo makan dulu.” Ibu Lia mengajak Almira ke ruang makan.
“Mbok, makan dulu,” panggil Ibu Lia.
Mbok Silah menghampiri Ibu Lia.
“Iya, Bu,” jawab Mbok Silah lalu duduk bersama dengan Ibu Lia dan Almira.
Rafi keluar dari kamarnya setelah dipanggil oleh Nina. Rafi menghampiri Almira yang sedang makan bersama dengan Mbok Silah.
“Akhirnya Teteh pulang juga. Kemarin Rafi ajak pulang, tapi Teteh tidak mau,” kata Rafi.
“Kapan kamu ketemu Tetehmu?” tanya Ibu Lia.
“Kemarin ketemu di mall,” jawab Rafi.
“Kenapa kamu tidak kasih tau Mamah kalau kamu ketemu Teteh?” tanya Ibu Lia.
“Sengaja biar surprise. Soalnya besok Senin Teteh disuruh ke kantor Mas Faisal,” jawab Rafi.
“Mau ngapain ke kantor Faisal?” tanya Ibu Lia.
“Kerjalah. Teteh disuruh menjadi sekertaris Mas Faisal. Karena sekertaris Mas Faisal sudah resign dan Mas Faisal belum mendapatkan gantinya,” jawab Rafi.
“Benar begitu, Mir?” Ibu Lia bertanya kepada Almira.
“Betul, Bi,” jawab Almira.
“Alhamdullilah hirobilalamin,” ucap Ibu Lia.
“Kamu jadi punya kesibukan lagi.”
Setelah selesai makan malam Almira pamit untuk beristirahat di kamarnya karena badannya terasa cape sekali.
Keesokan paginya Almira bangun pagi-pagi sekali untuk membantu Bibinya membereskan rumah dan menyiapkan sarapan. Setelah semuanya beres Almira langsung mandi dan bersiap-siap untuk berangkat. Karena hari ini Almira akan di interview ia tidak boleh datang telat.
“Teteh mau berangkat bareng?” tanya Rafi ketika sarapan pagi.
“Nanti kamu kesiangan,” kata Almira.
“Nggak kalau berangkat pagi-pagi. Lagi pula Teteh kan belum tau kantor Mas Faisal,” jawab Rafi.
“Ya sudah kalau kamu mau mengantar Teteh. Ayo kita berangkat sekarang,” ajak Almira yang sudah bersiap-siap.
“Nanti dulu, sarapannya belum habis. Lagipula Teteh belum sarapan,” ujar Rafi.
“Iya.”
Almira langsung mengambil beberapa lembar roti kemudian diberi selai coklat.
“Nasi gorengnya dimakan juga,” kata Ibu Lia sambil mengambil nasi goreng.
“Nggak ah, Bi. Takut sakit perut,” jawab Almira.
“Kalau begitu bekal saja, ya nasi gorengnya. Kan lumayan buat ngeganjel perut kalau tiba-tiba lapar setelah interview,” kata Ibu Lia.
“Ya, Bi.” Almira langsung bangun dari tempat duduknya.
“Eh…mau kemana kamu?” tanya Ibu Lia kepada Almira.
“Mau ambil tempat bekal,” jawab Almirah.
“Biar Bibi yang ambilkan. Kamu terusin sarapannya,” kata Ibu Lia.
Kemudian Ibu Lia bangun dari tempat duduknya lalu mengambil tempat bekal di lemari piring. Ibu Lia memasukkan nasi goreng ke dalam tempat bekal. Lalu diberikan kepada Almira.
“Dimakan, ya!!! Jangan sampai nggak dimakan. Nanti kamu sakit,” pesan Ibu Lia.
“Baik, Bibi,” jawab Almira lalu memeluk Bibinya.
“Terima kasih, ya Bi. Sudah memperhatikan Almira,” kata Almirah sambil memeluk Bibinya.
“Kamu tuh kenapa sih? Kamu tuh anak Bibi. Biar kamu sudah dewasa tetap anak Bibi,” kata Ibu Lia sambil menepuk lengan Almira.
“Udah sesi peluk-pelukannya! Ntar keburu kesiangan,” seru Rafi.
Lalu Almira melepas pelukannya.
“Sirik loh! Nggak boleh lihat orang seneng,” seru Almira kepada Rafi.
“Sudah-sudah. Habiskan dulu rotinya,” kata Ibu Lia lalu mengelap air mata yang jatuh di pipinya.
.
.
.
malam diterusin lagi.
karena setiap hari ketemu....
pepatah Jawa mengatakan tresno jalaran seka kulino....
mbah putri
uti