NovelToon NovelToon
LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DONOR YANG TAK TERDUGA

Keheningan di koridor lantai lima rumah sakit terasa lebih menekan daripada hari-hari sebelumnya. Clarissa kini berada di dalam ruang isolasi karena sistem kekebalannya mencapai titik nol setelah siklus kemoterapi yang agresif. Siapa pun yang masuk harus menggunakan alat pelindung diri lengkap. Di balik kaca besar, Clarissa tampak seperti boneka porselen yang bisa hancur kapan saja.

"Hasil tesnya sudah keluar," dr. Kusuma memecah keheningan di ruang rapat kecil tempat Bastian dan Pak Gunawan menunggu.

Bastian menegakkan punggungnya. "Gimana, Dok? Sumsum gue cocok, kan? Kita kembar, harusnya itu jadi jaminan."

Dokter Kusuma menghela napas berat, sebuah gestur yang membuat jantung Bastian seolah berhenti berdetak. "Kalian kembar fraternal (dizigotik), bukan identik. Meskipun ada kecocokan, namun profil HLA kalian menunjukkan ketidakcocokan pada beberapa lokus krusial. Risiko penolakan (Graft-versus-Host Disease) terlalu tinggi. Itu bisa membunuh Clarissa lebih cepat daripada leukemianya sendiri."

Bastian memukul meja, matanya memerah. "Lalu Papa? Bagaimana dengan Papa?"

"Profil Papa juga tidak mencukupi," lanjut Dokter. "Kita sudah mencari di bank donor nasional, tapi hingga saat ini, belum ada yang benar-benar cocok."

Sore itu, suasana di ruang tunggu menjadi canggung saat sesosok gadis muncul dengan membawa dokumen medis di tangannya. Ia adalah Maya. Gadis beasiswa yang dulu dipermalukan Clarissa di depan umum.

"Kak Bastian," panggil Maya lirih. "Aku... aku sudah melakukan tes awal di laboratorium bawah."

Bastian mengerutkan kening. "Tes untuk apa, May?"

"Donor sumsum. Aku ingin mencoba. Golongan darah kami sama, dan... entahlah, aku hanya merasa harus melakukannya."

Adrian yang juga ada di sana terkejut. "Maya, lo tahu kan ini prosedur yang menyakitkan? Lo nggak punya kewajiban apa-apa buat bantu Clarissa setelah apa yang dia lakuin ke lo."

Maya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tulus hingga membuat Bastian merasa malu akan kebenciannya selama ini. "Kak Clarissa melakukan itu karena dia terluka. Aku memaafkannya bukan karena aku lemah, tapi karena aku tahu rasanya kehilangan harapan. Kalau sumsumku bisa menyelamatkannya, kenapa tidak?"

Namun, takdir memiliki rencana lain. Dua jam kemudian, hasil tes menunjukkan bahwa Maya pun tidak cocok sebagai donor. Harapan seolah sirna dari ruangan itu.

Di tengah keputusasaan itu, seorang pria paruh baya dengan pakaian sederhana muncul di ujung lorong. Wajahnya tampak sangat mirip dengan Pak Gunawan, namun versinya lebih kurus dan kuyu. Ia adalah Paman Rendra, adik kandung Pak Gunawan yang sudah sepuluh tahun diusir dari keluarga karena masalah utang piutang dan dianggap sebagai aib keluarga.

"Mau apa kamu di sini?" bentak Pak Gunawan, amarahnya meluap meski di rumah sakit.

"Aku dengar soal Clarissa," ujar Rendra dengan suara serak. "Aku mungkin orang gagal di matamu, Kak. Tapi Clarissa adalah darah daging Mahendra juga. Aku sudah tes diam-diam pagi tadi melalui koneksi lamaku di lab. Ini hasilnya."

Rendra menyodorkan selembar kertas. Mata dr. Kusuma yang ikut menyaksikan pemandangan itu membelalak saat membaca data di dalamnya.

"Sempurna," bisik Dokter Kusuma. "Kecocokan HLA-nya hampir 95 persen. Ini keajaiban yang kita tunggu."

Pak Gunawan terdiam, lidahnya kelu. Pria yang selama ini ia hina sebagai sampah keluarga justru menjadi satu-satunya orang yang memegang kunci kehidupan putrinya.

Berita tentang adanya donor segera disampaikan kepada Clarissa melalui interkom ruang isolasi. Clarissa menangis haru di balik masker oksigennya. Ia tidak menyangka paman yang jarang ia temui paman yang selalu ia ejek miskin di depan teman-temannya adalah orang yang mau memberikan bagian dari tubuhnya untuknya.

Malam itu, Adrian diizinkan masuk ke ruang isolasi dengan APD lengkap untuk memberikan semangat.

"Clar," panggil Adrian lembut di balik masker bedah.

Clarissa membuka matanya yang kuyu. "Adrian... lo masih di sini?"

"Gue nggak akan ke mana-mana. Besok adalah hari besar lo. Paman lo sudah siap, tim dokter sudah siap. Lo hanya perlu satu hal: jangan menyerah."

Clarissa meraih ujung sarung tangan Adrian. "Kenapa lo baik banget sama gue, Dri? Gue sudah jahat sama Maya, gue sombong... gue nggak pantes dapetin ini semua."

"Karena gue melihat Clarissa yang sebenarnya sekarang," Adrian mengusap kaca pelindung di depan wajah Clarissa. "Gue suka Clarissa yang berjuang, bukan Clarissa yang mem-bully. Janji ya, setelah ini sembuh, lo harus minta maaf langsung ke Maya."

"Gue janji," bisik Clarissa.

Keesokan paginya, operasi transplantasi sumsum tulang belakang dimulai. Paman Rendra dan Clarissa dibawa ke ruang operasi secara bersamaan. Bastian dan Pak Gunawan menunggu di luar dengan kecemasan yang luar biasa. Pak Gunawan akhirnya mendekati Bastian dan merangkul bahu putranya.

"Maafkan Papa, Bas. Papa baru sadar kalau keluarga adalah segalanya saat maut sudah di depan mata."

Bastian hanya mengangguk, matanya terpaku pada lampu ruang operasi yang masih berwarna merah. Di dalam sana, sel-sel kehidupan dari Paman Rendra mulai dialirkan ke dalam tubuh Clarissa yang rapuh. Sebuah proses regenerasi, bukan hanya secara medis, tapi juga secara batin bagi keluarga yang hampir hancur itu.

Namun, di tengah prosedur, alarm di dalam ruang operasi berbunyi nyaring. Dokter Kusuma tampak panik melihat tekanan darah Clarissa yang merosot tajam.

"Pasien mengalami syok anafilaktik! Siapkan epinefrin sekarang!"

Di luar, Bastian berdiri dengan perasaan ngeri. "Clar... jangan pergi sekarang... perjuangan kita belum selesai."

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
mewek
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
nagis gue😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!