Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paksaan Zo
Ternyata, apa yang dilihat Adira sangatlah mengerikan. Ia akhirnya bisa melihat wajah asli pria yang telah menjadi suaminya itu. Wajah Arlan tampak sangat hancur, terlihat seolah-olah kulitnya meleleh akibat terkena siraman air keras yang sangat parah.
Pemandangan itu begitu mengejutkan sehingga tanpa sengaja Adira berteriak histeris. Ia benar-benar syok dan tidak menyangka akan melihat kondisi wajah suaminya yang separah itu di balik topeng misteriusnya.
"Kenapa? kau takut?" tanya Arlan dingin sambil berjalan mendekat, suaranya terdengar sangat mengintimidasi.
Langkahnya yang pelan namun pasti membuat Adira gemetar ketakutan. Gadis itu terus mundur hingga punggungnya membentur dinding, tak mampu memandang wajah Arlan yang hancur.
Arlan menarik rambut Adira dengan sangat keras, memaksa gadis itu mendongak menatap wajahnya yang mengerikan. "Ah!" Adira meringis kesakitan, air matanya hampir pecah karena perlakuan kasar itu.
Arlan kemudian memberikan peringatan tajam tepat di depan wajah Adira. "Dengarkan baik-baik! Selama kau menjadi istriku, aku tidak mau kau mengulanginya lagi—bertemu atau berdekatan dengan lawan jenis siapa pun itu!"
Napasnya memburu penuh amarah. "Kalau sampai hal itu terjadi lagi, aku akan menghukummu dan membuatmu semakin menderita!"
Arlan melepaskan tarikan rambut Adira dengan kasar hingga kepala gadis itu tersentak. "Keluar!" bentak Arlan, mengusir Adira dari kamarnya tanpa belas kasihan.
Adira segera bangkit. Ia bergegas keluar dari kamar Arlan dengan perasaan campur aduk.
Gadis itu buru-buru masuk ke dalam kamarnya, kemudian bersandar di balik pintu yang tertutup rapat. Ia menatap kedua telapak tangannya dengan mata yang berkaca-kaca, menahan tangis yang membendung.
"Ada apa ini? Kenapa aku seolah merasa hidup kembali?" gumam Adira lirih.
Perasaan takut, gemetar, sedih, bahkan emosi yang meluap-luap, ini adalah kali pertama ia merasakan begitu banyak ekspresi setelah sekian lama. "Selama delapan tahun ini... aku seperti baru hidup kembali," ucapnya pelan.
Perasaannya kini tidak lagi sedatar dulu. Adira mulai bisa merasakan kembali rasa sakit hati dan emosi-emosi manusiawi lainnya. Ia merasa tidak mengerti; ia merasa seperti seorang manusia yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya selama bertahun-tahun dalam kekosongan.
***
Entah karena kelelahan atau apa, Adira bahkan tidak terbangun sama sekali di tengah malam. Gadis itu tertidur sangat pulas hingga pagi menjelang. Jika pelayan tidak mengetuk pintunya, mungkin ia tidak akan terbangun.
Tok, tok, tok!
Terdengar suara ketukan di pintu kamar Adira yang saat itu masih terlelap.
Ketukan itu akhirnya membangunnya dan segera melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Adira berjalan membuka pintu.
"Ada apa, Bi?" tanyanya pada pelayan tersebut.
"Nyonya, kami sudah siapkan sarapan. Silakan Nyonya turun untuk sarapan," ucap sang pelayan ramah.
"Sebentar, Bi. Saya mau mandi dulu," jawab Adira.
"Baik, Nyonya, silakan."
Adira kembali menutup pintu dan berjalan ke arah cermin. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca, kemudian membatin, Selama delapan tahun, baru kali ini aku tertidur lelap tanpa terbangun tengah malam.
Gadis itu merasa bingung dengan perubahan emosi di dalam hatinya yang kini mulai terasa hidup kembali. Adira segera mandi, bersiap-siap, dan bergegas menuju ruang makan.
Namun, sesampainya di sana, ia melihat sosok tak asing yang sedang sarapan dengan tenang.
Perlahan kakinya mulai melangkah mendekati pria itu, lalu ia duduk berhadapan dengan sang pria. Adira tahu bahwa pria di depannya ini sangat irit bicara, sehingga ia memutuskan untuk tidak bertanya atau menyapa terlebih dahulu.
Adira mulai menikmati sarapan yang telah disiapkan di hadapannya.
"Ikut aku ke kantor," ujar pria itu, yang tak lain adalah Zo, sepupu Arlan. Ia berujar tanpa sedikit pun mengangkat pandangannya, seolah-olah hanya fokus pada sarapannya sendiri.
Sebelum Adira menjawab, ia melihat ke sekelilingnya dan merasa hanya dia satu-satunya orang yang berada di sana selain Zo. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya, "Maaf, apa Anda sedang bicara dengan saya?"
Karena merasa sedikit bingung, ia ragu-ragu karena Zo masih belum menoleh ke arahnya.
"Siapa lagi yang ada di sini?" jawab pria itu sambil akhirnya mengangkat pandangannya. Ia menatap Adira dengan tatapan tajam yang sulit diartikan, membuat suasana di meja makan itu mendadak menjadi sangat dingin.
Adira tidak langsung menjawab ajakan pria itu. Ia menggigit sepotong rotinya, mengunyah perlahan, lalu berujar dengan nada suara yang sangat tenang.
"Bukankah keberadaan saya di sini hanya untuk menjadi istri dan melahirkan anak untuk Tuan Arlan?" tanya Adira dengan nada suara datar. "Kenapa tiba-tiba ada perintah yang mengharuskan saya untuk datang ke kantor, sementara saya sendiri tidak mengerti apa-apa tentang perusahaan?"
"Apakah itu salah satu bentuk balas dendam kalian berdua? Apa itu cara kalian ingin mempermalukan saya?" tanya Adira lagi, matanya menatap pria tampan di hadapannya itu tanpa berkedip sedikit pun.
Adira sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melalui semuanya—apa pun penderitaan yang dilakukan oleh keluarga ini terhadap dirinya. Ia tidak akan lagi menjadi gadis yang hanya diam pasrah tanpa bertanya.
Pria itu tampak langsung berdiri dari duduknya, bersiap melangkah keluar, lalu berkata singkat, "Ayo pergi."
Adira segera menoleh dan menatap tajam pria itu. Ia tidak menyangka ternyata Zo sama sekali tidak mempedulikan ucapannya. "Sudah saya bilang, saya tidak akan pergi, Tuan Zo yang terhormat!"
"Kau ingin pergi sendiri atau kau ingin aku yang membawamu pergi?" Zo menatap Adira dengan pandangan mengancam, seolah menekan wanita itu agar segera berdiri dan mengikutinya.
"Jika saya katakan tidak, artinya saya tidak akan pergi!" ucap Adira dengan penuh ketegasan.
Bagi Adira, entah ia menurut atau tidak, rasa sakit pasti akan tetap ia dapatkan. Ia sadar betul bahwa memang itulah tujuan keluarga ini membawanya ke rumah itu—hanya untuk menderita.
"Benarkah?" ucap Zo perlahan sambil mendekati Adira, membuat gadis itu menelan ludah, namun tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
Tiba-tiba, Zo menarik dan langsung menggendong paksa Adira, membawanya keluar ruang makan.
Adira sontak memberontak sekuat tenaga. "Lepaskan saya! Lepaskan saya!"
"Hei, apa Anda sudah gila? Turunkan saya! Jangan menyentuh saya!" teriak Adira histeris. "Anda benar-benar manusia gila!" Adira berusaha melepaskan tangan Zo yang memegang pinggangnya, bahkan beberapa jari pria itu menyentuh kulitnya tanpa lapisan kain.
"Saya tidak akan gila kalau kamu menjadi penurut," balas Zo dingin.
Adira terus memberontak, namun pria itu tidak peduli. Zo justru membawanya ke parkiran dan melemparnya ke dalam mobil dengan kasar.
"Ah!" Adira meringis kesakitan saat tubuhnya terbentur jok mobil. "Anda benar-benar gila!" teriak Adira lagi, mencoba untuk segera turun. Namun, Zo dengan cepat masuk ke dalam mobil dan menahan tubuh Adira agar tidak bisa bergerak.
"Jangan mengacaukan suasana." ucap Zo sambil melepaskan cengkeramannya.
Adira langsung duduk tegap dan menggeser tubuhnya ke pojok kursi agar menjauh dari Zo. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena jatuh cinta, melainkan karena menahan emosi yang sangat berat. Ia tidak menyangka sepupu suaminya itu berani bertindak sekasar itu, bahkan menyentuh tubuhnya yang sama sekali tidak pantas ia sentuh. Adira merasa perlakuan pria itu sudah seperti pelecehan terhadap dirinya.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang