NovelToon NovelToon
Hubungan Terlarang

Hubungan Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cintapertama
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benar dan salah

Sejak pertemuan malam itu... Angkasa berusaha untuk terus menghubungi Leya. Mulai dari kirim pesan sampai panggilan... terus silih berganti. Namun, tidak ada satupun yang Leya balas. Bukan tidak ingin, tapi dia harus membatasi dan mengakhiri semuanya.

Apakah ia sudah ikhlas?

Jawabannya tentu tidak.. 6 huruf dalam satu kata itu memang sangat mudah untuk diucapkan. tapi begitu sulit untuk dilakukan. Karena pada prakteknya, sangat sulit dan benar-benar sulit menerapkan kata ikhlas... pada seseorang yang masih mencintai, tapi dipaksa untuk mengakhiri.

"Kamu kenapa?" Rena, teman kampus Leya menghampiri. Sejak berhari-hari ia sudah memperhatikan Leya. tetapi baru kali ini ia memiliki keberanian untuk bertanya.

"Aku tidak apa-apa!" Leya mengulas senyum. Senyum manis yang terlihat biasa saja. Tapi jika diperhatikan dengan seksama... senyum itu terlihat seperti senyum yang dipaksakan.

Rena duduk dihadapan Leya. Diatas bangku taman, dibawah rindangnya pohon mahoni yang tinggi menjulang. Angin sepoi-sepoi berhembus, menerbangkan rambut yang tergerai, membelai pipi mulus yang warnanya terlihat lebih pucat dari biasanya.

"Yakin kamu baik-baik saja? Nih minum dulu?" Rena memberikan satu botol air mineral yang baru ia beli dari kantin kampus beberapa waktu lalu.

"Terima kasih!" Leya menerima, membuka tutupnya, lalu meminumnya sedikit untuk melegakan tenggorokannya yang cukup kering.

Setelah itu mereka kembali diam. Bukan Rena yang ingin diam, tapi Leya yang tidak ingin bicara. Tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang bisa saja memicu bulir bening yang kapan saja bisa keluar dari balik pelupuk matanya.

"Kamu jadi pendiam sekarang? Kelas jadi sepi?" Rena kembali membuka topik. Ia ingin menghibur, atau setidaknya menjadi pendengar yang baik untuk Leya. Meskipun ia belum tentu bisa membantu menyelesaikan masalah itu.

Leya melirik. Lagi-lagi senyum yang dipaksakan kembali terlihat. "Masa sih? Aku rasa itu cuma perasaan kamu aja!" bantah Leya.

Leya memutar-mutarkan ujung jari telunjuknya diatas tutup botol. Ia ingin kembali ceria, tertawa seperti biasa. Tapi seluruh anggota tubuhnya diam, membisu, membatu. Karena memang benar, suasana sangat mempengaruhi mood seseorang.

"Aku pulang dulu ya?" Leya pamit, menyandang tas dibahu, siap untuk melangkah.

"Oke! Hati-hati dijalan." sahut Rena, melambaikan tangan ke arah Leya yang mulai menjauh.

Sore ini suasana kampus mulai sepi. Banyak mahasiswa dan mahasiswinya yang pulang sejak tadi. Namun, masih ada juga beberapa orang yang betah nongkrong disana. Entah di perpustakaan, entah di kantin, atau mungkin di taman seperti yang Leya lakukan baru saja.

Hari ini Leya tidak membawa mobilnya. Entahlah, tadi pagi tiba-tiba saja ia tidak ingin membawa mobilnya. Mungkin ia butuh keramaian. Hingga naik bisa kota, menjadi pilihannya untuk berangkat ke kampus tadi pagi. Meskipun ia harus berdesakan dengan penumpang lain yang sama-sama sedang terburu-buru menuju ke tempat tujuannya masing-masing.

Matahari sore masih bersinar. Sinarnya cukup terik untuk menyengat permukaan kulit tubuh Leya yang hanya memakai kaos dan celana jeans. Namun, tidak sampai membuatnya kepanasan. karena saat ini ia sedang duduk menunggu di tepi jalan, di bawah sebuah pohon kecil yang sedikit menghalangi sinar matahari yang menyorot ke arahnya.

Tatapan Leya bergerak ke kiri dan ke kanan. Mencari bis ataupun taksi yang melintas. Padahal ojek online banyak mangkal di sekitaran kampus tempat Leya menuntut ilmu. Namum ia terlalu malas untuk mengaktifkan kembali ponselnya yang sudah ia nonaktifkan sejak tadi.

Insting Leya tiba-tiba bangkit, saat ia melihat mobil yang sangat familiar bergerak ke arahnya. Leya ingin pergi, namun tarikan lembut dari seseorang yang sangat ia kenali, menghentikan langkahnya.

"Kamu kemana saja, sayang?"

Langkah Leya berhenti, ingin melepaskan pegangan tangan yang tidak cukup kencang. Namun sangat sulit untuk dijauhkan.

"Lepaskan aku!" pinta Leya. Namun Angkasa enggan untuk melakukannya.

"Jangan tinggalkan aku!" pinta Angkasa, memeluk tubuh Leya dari belakang. Tidak peduli dengan posisi mereka yang ada di tepi jalan.

"Lepas Mas! Ini dipinggir jalan!" bisik Leya, tidak keras, tapi cukup untuk mereka dengar berdua.

Angkasa tidak bersuara. Ia melepaskan pelukan, lalu membawa Leya masuk ke dalam mobilnya.

"Aku mau pulang!" tolak Leya, tidak ingin masuk ke dalam mobil yang penuh dengan kenangan mereka.

"Aku yang antar sayang!" ucap Angkasa. Tidak mengubah panggilannya untuk Leya. Karena bagi dirinya... selamanya Leya tetap kekasihnya.

Leya memberontak. Tetapi banyaknya pasang mata yang melihat ke arah mereka, membuat Leya mengurungkan niatnya untuk membuat mereka berdua semakin menjadi pusat perhatian.

Angkasa tersanyum. Saat melihat kekasihnya masuk ke dalam mobilnya, meskipun dengan terpaksa.

"Sayang, jangan dimakan aku seperti ini?" ucap Angkasa, menatap Leya dengan sorot mata yang semakin penuh luka, daripada saat terakhir mereka bertemu saat makan malam keluarga.

Leya diam, mengepalkan tangan, untuk menguatkan hatinya yang nyatanya masih tetap rapuh dan lemah saat bertemu dengan pria itu. Walaupun ia sudah mati-matian berlatih untuk terlihat kuat.

"Ingat Mas, sebentar lagi kamu akan jadi ayah tiriku!" kata Leya, bergetar. Karena hatinya masih tak terima dengan status itu.

"Mas tahu. Tapi Mas ingin kita selalu bersama!" ujar Angkasa.

Leya menggeleng. "itu mustahil Mas! Itu gak mungkin!" Leya membuang pandangan, melihat ke arah luar jendela. Karena air mata sudah memenuhi pelupuk matanya.

"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi sayang?" Angkasa meraih tangannya, satu tangan lagi memegang dagu Leya agar mau menatapnya.

Leya mengepalkan tangan erat-erat. Ia tidak ingin. luluh, tidak ingin lemah. Tapi perasaan yang masih mengakar kuat, membuat semuanya melemah. Leya pasrah, tubuhnya otomatis bergerak saat Angkasa memegang kedua bahunya.

"Jawab aku sayang. Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Angkasa bertaruh pada dirinya sendiri. Ia yakin jika Leya pasti masih mencintai dirinya. tetap Ia juga tidak siap karena, jika seumpama Lea mengatakan jika sudah tidak mencintai dirinya.

"Aku... Aku..." Lea terbata. bingung harus mengikuti hati dan perasaannya atau mengikuti otak dan logikanya.

"Kamu masih mencintaiku kan?" sambung Angkasa, tahu perang batin yang bergejolak dalam dirinya.

Leya mengangguk. Ternyata ia benar-benar lemah jika sudah berhadapan bersama pria ini.

Angkasa tersenyum, karena ia sudah menang dalam taruhan yang ia buat sendiri. "kalau kita masih saling mencintai... kenapa kita harus saling melepaskan? bukannya dalam keadaan seperti ini, kita harus semakin saling menggenggam erat agar tidak kehilangan satu dengan yang lainnya?"

"Maksudnya? Mas ingin kita tetap bersama?"

Angkasa mengangguk.

"Kalau kita bersama? bagaimana pernikahanmu dengan Mama? bukankah hubungan kita, menjadi hubungan terlarang? karena di mata semua orang... kita ini ayah dan anak tiri?" ujar Leya.

Angkasa tidak menampik semua itu. Malahan ia setuju dengan apa yang Leya katakan. Namun jika harus melepaskannya... ia tidak akan sanggup untuk melakukannya.

"Mas akan cari cara agar pernikahan itu tidak berlangsung lama!" Angkasa menatap Leya dengan yakin. Selama berhari-hari, ia sudah memikirkan semua ini.

"Mas mau menceraikan Mama aku?" sambung Leya cepat.

"Iya sayang. Karena pada kenyataannya... Mas dan Mama kamu tidak saling mencintai. Ini pernikahan terpaksa. Dan sesuatu yang dipaksa, tidak akan berbuah manis!" jelas Angkasa.

Leya mendadak diam. Ia tidak lagi bersuara.

"Sayang, kamu kenapa diam? kamu tidak setuju?" Angkasa panik, ia khawatir Leya kembali menjauh darinya.

"Aku bingung Mas. Apa yang kita lakukan ini benar atau tidak?"

Angkasa memeluk kekasihnya. Ia tahu ingin sangat rumit untuk dipikirkan apalagi diterima oleh seorang gadis yang baru beranjak dewasa.

"Kamu tenang aja sayang. Kamu hanya perlu tetap berada di sisiku dan apapun resikonya, biar Mas yang akan tanggung."

Ya, apapun halang dan rintangannya... semua itu akan Angkasa hadapi. Asalkan Leya tetap berada disisinya dan tidak meninggalkan dirinya.

1
Jhesika Cika
bagus cta ny
Dew666
👑👑👑
Dew666
💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!