Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Jasmine melangkah mendekat dengan nampan di tangannya. Aroma kopi hitam yang pekat memenuhi udara di sekitar sofa tempat Aksa menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.
"Kopi Anda sudah siap, Tuan," ucap Jasmine pelan.
"Taruh di meja saja," sahut Aksa tanpa membuka mata.
Jasmine meletakkan cangkir itu dengan hati-hati. Setelah tugasnya selesai, ia segera berbalik untuk kembali ke dapur. Namun, baru dua langkah ia menjauh, suara Aksa kembali menghentikannya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?"
Jasmine membeku. Ia menoleh perlahan dan mendapati Aksa kini sedang menatapnya dengan mata yang sayu.
"Duduk. Pijat kening saya," perintah Aksa sambil menepuk sisi sofa di samping tempat duduknya.
Jasmine mengerjapkan mata, ragu-ragu. "Tuan, saya harus mencuci piring dan...."
"Jasmine, jangan membuatku mengulang perintah yang sama dua kali," potong Aksa dengan nada rendah yang dingin.
"Duduk di sini."
Mau tidak mau, Jasmine mendekat dan duduk di tepi sofa dengan kaku. Jantungnya berdebar tidak karuan saat ia harus berada sedekat ini lagi dengan mantan suaminya dalam keadaan sadar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Jasmine mulai menyentuh kening Aksa.
Jasmine baru saja hendak mendaratkan jemarinya di pelipis Aksa, namun sebelum ia sempat memulai, pria itu melakukan gerakan yang sama sekali tidak ia duga.
Tanpa peringatan, Aksa menggeser posisi duduknya dan langsung merebahkan kepalanya tepat di atas pangkuan Jasmine.
"Ehhh!" Jasmine tersentak hingga tubuhnya hampir terjungkal ke belakang. Jantungnya berdegup kencang, dan tangannya menggantung di udara, tidak tahu harus diletakkan di mana.
"Tuan... Apa yang Anda lakukan? Ini tidak sopan!" protes Jasmine dengan suara yang bergetar hebat. Ia mencoba menggeser duduknya, namun Aksa justru melingkarkan satu tangannya di pinggang Jasmine, mengunci wanita itu agar tidak bergerak.
"Diamlah, Jasmine. Kepalaku benar-benar ingin pecah," gumam Aksa dengan suara parau, mengabaikan protes Jasmine.
"Pijat saja. Jangan banyak bicara."
Jasmine menggigit bibir bawahnya. Dengan napas yang masih tidak beraturan dan perasaan campur aduk. Jasmine akhirnya perlahan menurunkan tangannya.
Jemarinya menyentuh kening Aksa, mulai memijatnya dengan gerakan lembut. Pria itu tampak sangat menikmati setiap sentuhan tangan Jasmine, seolah-olah pangkuan ini adalah tempat yang paling ia rindukan selama tiga tahun terakhir.
"Kenapa tanganmu gemetar?" bisik Aksa tanpa membuka mata.
"S....saya hanya gugup, Tuan," jawab Jasmine terbata.
"Gugup? Lucu sekali. Padahal dulu kita pernah melakukan jauh lebih dari sekadar ini, Jasmine."
Belum sempat ia membalas ucapan pedas itu, ia menyadari napas Aksa mulai berubah menjadi lebih teratur dan berat. Cengkeraman tangan pria itu di pinggangnya perlahan melonggar.
Aksa akhirnya tertidur pulas. Kelelahan karena pekerjaan, efek sisa alkohol, dan kenyamanan yang ia dapatkan dari Jasmine benar-benar meruntuhkan pertahanannya.
Jasmine terpaku. Ia menatap wajah Aksa yang tampak jauh lebih tenang saat tidur tidak ada sorot mata tajam atau seringai angkuh di sana. Baru saja Jasmine hendak mencoba menggeser tubuh Aksa dengan hati-hati agar ia bisa pergi, tiba-tiba...
Denting lift terbuka dengan kasar!
"Aksa! Kenapa kau tidak kembali ke kantor? Rapat penting akan segera...."
Seorang pria tinggi dengan setelan jas rapi masuk dengan terburu-buru. Itu Bara, asisten sekaligus sahabat kepercayaan Aksa. Langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap pemandangan di sofa.
Bara mematung. Ia menatap Aksa yang terlelap di pangkuan seorang wanita.
"J...Jasmine?" gumam Bara, matanya membelalak kaget mengenali sosok wanita itu.
"Kamu... Jasmine, kan?" tanya Bara dengan nada ragu namun penuh selidik.
Jasmine merasa seolah seluruh oksigen di ruangan itu menguap. Ia berusaha menggeser tubuhnya sedikit tanpa membangunkan Aksa yang masih terlelap tenang.
"Maaf, Tuan Bara... ini tidak seperti yang Anda pikirkan. Tuan Aksa tiba-tiba merasa pusing dan...."
"Tunggu," potong Bara, ia melangkah satu tindakan lebih dekat, mengamati wajah Jasmine dengan saksama.
Kening Bara berkerut dalam. Ingatannya berputar cepat mencoba mencari potongan memori yang hilang. Meskipun ia tahu nama asisten rumah tangga baru Aksa adalah Jasmine, ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar nama.
"Kamu sepertinya sangat familiar," ucap Bara pelan, suaranya kini tidak lagi terdengar menuntut, melainkan penuh rasa penasaran.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Selain di sini?"
Jasmine menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berpacu liar. Bara adalah orang kepercayaan Aksa sejak dulu, bahkan sebelum mereka bercerai. Jika Bara berhasil mengenali bahwa dia adalah mantan istri Aksa, maka rahasia yang ia simpan rapat-rapat di depan agensi akan terancam.
"S...saya hanya orang biasa, Tuan. Mungkin wajah saya pasaran," jawab Jasmine cepat
Bara tidak tampak puas dengan jawaban itu. Ia masih berdiri mematung, menatap Jasmine dengan pandangan yang seolah ingin menembus kebenaran di balik wajah pucat wanita itu.
Tiba-tiba, Aksa bergerak dalam tidurnya. Ia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan justru semakin menenggelamkan wajahnya di perut.
"Tunggu... Aku ingat sekarang. Kamu... kamu mantan istrinya Aksa, kan? Jasmine yang itu?" tanya Bara dengan nada terperangah.
"Tuan Bara, saya... saya mohon..."
Namun, sebelum Jasmine bisa memberikan penjelasan lebih lanjut, Aksa yang berada di pangkuannya mulai bergerak gelisah. Suara berisik di dekatnya perlahan merobek alam bawah sadarnya.
Aksa mengerang pelan, lalu perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan pangkuan Jasmine, namun hal kedua yang ia sadari adalah kehadiran Bara yang berdiri kaku di depannya.
Aksa langsung bangkit dari posisi tidurnya dengan gerakan cepat, membuat Jasmine sedikit terdorong ke belakang. Sorot mata Aksa yang tadinya sayu karena kantuk, seketika berubah menjadi tajam dan dingin saat melihat Bara.
"Apa yang kau lakukan di sini, Bara?!" bentak Aksa.
"Aksa, aku... aku hanya ingin memberitahu soal rapat, tapi tadi aku melihat ....."
"Keluar," potong Aksa tajam. Ia berdiri di depan Jasmine, seolah-olah menghalangi pandangan Bara agar tidak bisa lagi menatap wanita itu.
"Jangan pernah masuk ke rumahku tanpa izin, apalagi langsung masuk ke ruang tengah. Keluar sekarang! Kita bicara di kantor besok!"
Bara tertegun melihat reaksi Aksa yang begitu meledak-ledak. Ia melirik Jasmine sekilas yang tampak ketakutan, lalu kembali menatap Aksa yang napasnya masih memburu karena emosi.
"Baiklah, aku pergi. Tapi kita perlu bicara serius nanti," ucap Bara tenang sambil mundur perlahan dan kembali menuju lift.
tuh singanya muaraaah😄😄😄
Suka Ceritax Seruuuuu....