NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 8 — Kilatan Masa Lalu

Malam merayap begitu lambat, seolah sengaja memberi ruang bagi bayangan-bayangan masa lalu untuk keluar dari persembunyiannya. Di kamar lamanya, Dimas duduk di tepi ranjang yang sudah reyot, memandangi diary misterius yang ia temukan. Lampu temaram membuat ruangan tampak seperti gua penuh rahasia yang siap menelan siapa pun yang berani menggali terlalu dalam.

Ia membuka halaman yang bertuliskan kalimat itu lagi—

Orang dekat bisa menghancurkan segalanya…

Sejak membaca kalimat tersebut, kepalanya tak berhenti berdenyut. Ada sensasi aneh, seperti pintu ingatan yang selama ini terkunci rapat mulai retak satu per satu. Dimas memejamkan mata.

Dan saat itulah… kilatan itu datang.

Bukan mimpi. Bukan imajinasi. Tapi serpihan memori yang selama ini ia tekan jauh ke dasar pikiran.

Ia masih kecil. Sekitar delapan atau sembilan tahun. Ia ingat langkah kakinya yang kecil menyusuri lorong rumah sambil membawa boneka serigala lusuh. Waktu itu malam sangat gelap, dan listrik sering mati di desa kecil tempat mereka tinggal.

Ada suara. Suara retakan kaca—diikuti teriakan perempuan.

"Liana…" gumam Dimas pelan tanpa sadar.

Dalam kenangan itu, ia melihat kakak mereka, Liana, berlari di lorong sambil memanggil ibunya. Rambut panjang Liana tampak acak-acakan, wajahnya ketakutan. Ada sesuatu—atau seseorang—yang mengikutinya dari bayang-bayang.

Lalu jeritan pecah. Bukan jeritan biasa. Jeritan yang menusuk telinga seperti pisau panas. Jeritan itu… jeritan ibunya.

Dimas kecil berdiri terpaku. Tidak tahu apakah ia harus lari atau menolong. Ia ingat tubuhnya bergetar hebat. Ingat bagaimana ia memanggil-manggil nama Aluna, yang saat itu berusia lima tahun dan tidur di kamar paling depan.

Dan kemudian… ia melihat darah.

Bukan sedikit. Tapi banyak. Tumpah di lantai, membentuk garis panjang seperti seseorang diseret. Dimas menelan ludah, napasnya tercekat. Dalam ingatannya, ia melihat sepasang kaki dewasa menyeret sesuatu—atau seseorang—ke arah tangga bawah.

Ia tidak melihat wajah sang pelaku. Hanya bayangan gelap dengan siluet tubuh kekar.

Ia ingin berteriak. Tapi suaranya hilang.

Tiba-tiba—dor!—ia terdorong ke samping. Seorang anak laki-laki lebih besar menariknya ke belakang rak buku.

Digo.

Digo yang kala itu masih kuat, masih bisa berlari, masih bisa menggendongnya.

“Diam, Mas… jangan bersuara.” Digo kecil berbisik sambil menambahkan, “Dia masih di sini.”

Dalam kilatan ingatan itu, Dimas bisa merasakan tangan Digo gemetar hebat. Napasnya berceceran, tidak teratur. Tapi meski sama-sama ketakutan, Digo tetap menutupi tubuh Dimas dengan tubuhnya sendiri.

Langkah kaki berat terdengar mendekat.

Setiap hentakan terasa seperti palu yang meremukkan tulang. Dimas kecil memejamkan mata kuat-kuat. Ia bisa mencium bau logam—bau darah. Dan kemudian suara itu muncul. Suara bariton rendah, pelan, tapi mengancam:

“Anak-anak… di mana kalian?”

Keringat dingin mengalir di punggung Dimas.

Digo menahan napas. Dimas meniru.

Langkah kaki berhenti tepat di depan rak buku tempat mereka bersembunyi.

Dimas dewasa ikut menahan napas, meski kini ia hanya menonton ingatannya sendiri.

Dalam memorinya, pelaku mengetuk-ngetuk rak buku. Tiga kali. Ketukan itu lembut, namun justru membuat bulu kuduk berdiri. Dimas kecil ingin menangis, tapi ia tahu sedikit saja ia bergerak, mereka berdua akan ditemukan.

Pelaku menghela napas panjang.

“Akan kutemukan juga kalian…”

Kemudian langkah kaki itu menjauh. Tangga berderit. Lalu hening.

Digo membuka mata perlahan, memastikan bahaya pergi.

Tapi belum sempat ia berkata apa-apa—sebuah suara menggelegar dari arah bawah. Suara pintu besar dibanting. Suara tubuh jatuh. Suara teriakan terakhir ayah mereka.

Dimas dewasa terperanjat. Ia terengah-engah meski duduk di ruangan yang aman.

Ingatan itu belum selesai.

Kilatan berikutnya datang lebih cepat. Dimas kembali menjadi anak kecil. Setelah keadaan cukup tenang, Digo menarik tangannya.

“Kita harus keluar. Kita harus cari Aluna.”

Dimas ingat bagaimana kakinya lemas tapi tetap berusaha berlari mengikuti Digo. Mereka melewati lorong penuh pecahan kaca, melewati pintu yang hampir lepas dari engsel, melewati dinding bercak merah.

Di ujung lorong, mereka menemukan Aluna kecil meringkuk di sudut dengan tangan menutup telinga. Bola matanya kosong, seperti terputus dari dunia. Dimas menjerit memanggil namanya, tapi Aluna tidak bereaksi.

Digo menggendong Aluna dan menyeret Dimas keluar rumah. Suara langkah orang dewasa masih terdengar di belakang mereka. Pelaku belum pergi. Bayangan hitam kembali muncul di ambang pintu, membawa sesuatu yang panjang—seperti linggis atau pipa besi.

Digo berlari secepat mungkin. Namun saat mereka melewati teras kayu, lengannya tersambar benda keras. Krak! Suara itu menusuk memori Dimas dewasa begitu tajam hingga ia merasa mual.

Digo terjungkal, tubuhnya membentur lantai keras. Dimas kecil menjerit memanggil nama kakaknya, tapi Digo tetap memaksa berdiri dan mendorong mereka keluar halaman.

Namun ia tidak lagi bisa berlari. Ia hanya bisa menyeret kaki yang mulai tak berfungsi.

Itu—itu rupanya awal mula kelumpuhan Digo.

Dimas dewasa terdiam lama. Dadanya terasa sesak hingga perih.

Ia membuka mata.

Kamar itu kembali sunyi. Hanya suara jam dinding berdetak lambat.

Untuk pertama kalinya, Dimas melihat gambaran lebih jelas tentang malam pembantaian itu. Tapi satu hal masih tak terjawab—

Siapa bayangan itu?

Siapa lelaki dengan suara berat itu?

Dan… mengapa nama-nama di dinding Aluna menuduh semua orang sebagai pembunuh?

Dimas menutup diary, lalu berdiri. “Aku harus tahu,” gumamnya. “Sebelum semuanya terlambat.”

Di ruang tengah, Digo menunggu di kursi rodanya, wajahnya terlihat pucat.

“Mas,” katanya pelan. “Kamu menangis.”

Dimas mengusap pipinya—dan benar, basah.

Ia menatap kakaknya lama.

“Aku ingat malam itu, Go…”

Digo terdiam. Kepalanya menunduk. Napasnya berat.

“Kalau begitu,” katanya lirih, “kita sudah tak punya banyak waktu.”

Dimas menegang.

“Apa maksudmu?”

Digo mengangkat wajah dan menatapnya lurus—penuh rasa takut yang sudah lama ia sembunyikan.

“Karena orang yang menyerang kita… dia belum selesai.”

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!