Pernahkan kalian melihat angsa? Berenang dan menari dengan anggunnya di tengah sungai.
Tapi tahukah kalian? Di balik ketenangan tubuhnya di atas permukaan, Angsa berjuang mengayuhkan kakinya di dalam air agar dapat terlihat anggun di permukaan.
Begitulah hidup Gisella,
Tak ada yang tahu perjuangan hidupnya selama ini,
Pribadi yang selalu tersenyum riang di depan orang-orang, ternyata memiliki masa lalu yang kelam.
Bergumul dengan masa kecilnya yang selalu di rundung oleh teman-temannya, dan trauma masa kecilnya,
"Dasar anak pembawa sial!"
Ibunya sendiri mengatainya sebagai anak pembawa sial dan mengusirnya dari rumah.
Sang sopir membawa Gisella pergi dari rumah dan membuangnya di tempat antah berantah.
"Nak, kenapa menangis di sini?" tanya seorang wanita paruh baya yang melihat Gisella duduk menangis di pinggiran kebun.
Gisella kecil hanya menatapnya, lalu kembali meringkuk menangis pilu.
"Nak, ikut Emak mau?" tanya suara lembut itu lagi, mengulurkan tangannya kepada Gisella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 8
Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
^^^-anonim^^^
...----------------...
"Nggak usah, Mak."
"Mak, Ella boleh kerja nggak kalau pulang sekolah?" tanya Ella hati-hati.
"Mau kerja apa kamu La? Sekolah juga baru masuk SMP?" tanya Mila bingung.
"Ya kerja apa aja Mak, yang penting bisa bantu Emak, Ella nggak tega lihat Emak kerja keras gini, apalagi sekarang ada Ella ... Emak jadi perlu kerja ekstra buat memenuhi kebuhutan Ella," ucap Ella menatap MakbMila.
"Apa sekolahmu nggak terganggu nantinya La?" tanya Mak Mila.
"Nggak Mak, nanti Ella atur jadwalnya" ucap Ella.
"Terserah kamu La, yang penting kamu senang," jawab Mila tersenyum.
"Siap Mak," jawab Ella senang mendapat ijin dari Mak Mila.
"Emang di usiamu begitu mau kerja apa La?" tanya Mak Mila lagi
"Belum tau kerja apa? Menurut Emak, enaknya Ella kerja apaan ya?" tanya Ella menatap Mak Mila.
"Hmm, kamukan pintar La, apa kamu ngelesin anak-anak SD disini saja? Jamnya kan bisa jam pulang kamu sekolah," usul Mak Mila.
"Boleh Mak, bagus ide Emak, emang Mak Mila paling jempol deh!" ucap Ella mengacungkan kedua jempolnya.
"Terus biayanya kita kenakan berapa ya Mak?" tanya Ella yang memang belum pernah bekerja.
"Yo ojo larang-larang nduk, namanya di desa. Nggak laku nanti" jawab Mak Mila sambil tertawa.
*Ya jangan mahal-mahal nak, namanya di desa.
"La terus berapa Mak?" tanya Ella.
"Hmm, sebulan 50 ribu aja, seminggu 2 kali mereka datang kemari, gimana menurut Ella?" ucap Mila.
Murah amat ya les di sini. Di jakarta aja 500 ribu sebulan, batin Ella geli.
"Tapi kalau mereka minta tiap hari gimana Mak?" tanya Ella.
"Kalau tiap hari dari hari senin-jumat aja, La. 100 ribu sebulan" saran Mila.
"Besok Ella beli karton deh Mak, nanti Ella tulis terus tempel di tembok depan rumah ya," ucap Ella senang.
"Iya. Sudah yuk, Emak mau tidur sekarang, besok harus bangun subuh-subuh. Kamu juga jangan malam malam tidurnya, La," ujar Emak berlalu ke dalam kamar.
Ella masih membaca buku-buku pelajaran SMPnya,setelah menguap berkali-kali barulah Ella merapikan buku dan mengecek semua pintu baru masuk ke dalam kamarnya.
Di Dalam kamar, Ella mengeluarkan foto dirinya bersama papanya.
Diusap wajah papanya, "Pa, Papa sudah sembuh? Gisella baik-baik di sini, Pa. Papa harus selalu sehat ya," gumannya lirih dengan air mata menetes di wajahnya.
Setiap malam Ella selalu menatap dan berbicara dengan foto itu tak pernah bosan.
###
Dikediaman Amira, semua berjalan seperti biasa. Sherly pun tidak peduli kalau Gisel, atau yang sekarang dipanggil Ella pergi dari rumah. Buatnya, kepergian Sella malah bagus untuk dirinya.
"Bi.. Ingat ya, kalau Tuan bertanya soal Gisel, jawab saja nggak tau, ingat itu!" pesan Amira yang hendak pergi ke rumah sakit.
###
Toni sudah sadar dari komanya dan masih dirawat di rumah sakit untuk pemulihan.
Tok.. Tok.. Tok..
"Pagi Pa, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Amira begitu membuka pintu kamar inap VIP tempat suaminya dirawat.
"Sudah lebih baik Ma, Gisel kok nggak pernah nengok Papa?" tanya Toni heran.
"Dia baik-baik Pa, lagi sibuk masuk ajaran baru. Sudah, Papa fokus dengan kesembuhan Papa saja," jawab Amira duduk di sisi suaminya.
"Oh gitu.. Ya sudah kalau mereka semua baik-baik saja, Papa lega dengarnya, Ma," ucap Toni tersenyum.
"Makasih ya Ma, udah setia menjaga dan mengurusi Papa selama ini," ucap Toni tersenyum sambil menggenggam tangan Amira.
"Papa kok bicaranya gitu? Sekarang Mama ke kantor dulu, ya. Papa cepat sembuh, biar Mama nggak perlu ngurusin kantor lagi," jawab Amira bersiap ke kantor.
"Iya Ma, kantor baik-baik saja kan?" tanya Toni.
"Baik, semua berjalan seperti biasanya," jawab Amira kemudian pamit meninggalkan Toni sendiri di rumah sakit.
###
"Mak, Ella mau beli karton sama selotip ya, buat bikin iklan di depan rumah."
"Iya ini uangnya La, Emak tunggu disini ya."
Ella berlari kecil menuju toko peralatan tulis yang ada di dekat pasar untuk membeli keperluan yang dibutuhkannya. Setelah selesai, Ella kembali menemui Mak Mila, dan menggendong karung berisi peralatan yang digunakan untuk berkebun tadi pagi.
"Ayo Mak,"
Mereka berjalan ke depan pasar menunggu metromini menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Ella merapikan barang bawaanmya dan membuatman teh hangat untuk Mak Mila dan Dirinya.
"Mak, diminum dulu tehnya. Ella mau bikin iklan ini dulu ya."
Dengan bersemangat, Ella menulis iklan di karton yang baru dibelinya. Mak Mila duduk sambil tersenyum memperhatikan keceriaan putri angkatnya.
"Gimana Mak? Bagus nggak menurut Emak?" tanya Ella yang sudah selesai membuat iklan.
"Bagus La. Sana kamu tempel di depan, biar orang-orang pada liat," ucap Mak Mila tersenyum.
Ella segera berlari ke depan, dan mulai menempelkan iklan lesnya. Setelah selesai, Ella berlari menjauh untuk memeriksa apakah tulisannta bisa dibaca dari jauh. Setelah dirasa cukup, Ella tersenyum puas melihat hasil kerjanya.
"Lo opo kuwi?" tanya Bu Lurah yang baru lewat.
*Loh apa itu?
"Siang Bu Lurah" sapa Ella tak lupa memasang senyum manisnya.
"Kuwi opo La?" tanya Bu Lurah menunjuk karton yang ditempel Ella di papan kayu depan rumahnya.
*Itu apa, La?
"Niki Bu, Ella mau terima murid SD, Ella mau buka les-lesan di rumah," jawab Ella sopan.
"Oo.. Piro biayane, La?" tanya Bu Lurah.
*Oh.. Berapa biayanya, La?
"Kalau seminggu dua kali sebulannya lima puluh ribu, Nu. Kalau dari Senin sampai Jumat, sebulannya seratus ribu," jawab Ella.
"Sekali teko pirang jam La?"
*Sekali datang berapa jam, La?
"Dua jam bu, dari jam tiga sampai jam lima."
"Opo tenan kowe iso ngajari La?" tanya Bu Lurah sambil mengamati Ella.
*Apa beneran kamu bisa ngajarin, La?
"Bisa, Bu," jawab Ella mantap.
"Yo wis nek ngono. Ben Doni lan Dina les neng kene wae. Ajari sing bener yo, La," ucap Bu Lurah tersenyum.
*Yasudah kalau gitu. Biar Doni dan Dina les di sini saja. Ajari yang benar ya, La
"Nggih, Bu. Matur nuwun sanget," jawab Ella senang.
*Baik, Bu. Terima kasih banyak
"Mulai sesuk iso La? Ben iso ngikuti pelajaran, kan enggal mlebu," tanya Bu Lurah.
*Mulai besok bisa. La? Biar bisa mengikuti pelajaran, kan sebentar lagi masuk sekolah
"Nggih, Bu. Besok kan masih libur, mau mulai jam dua atau tetap jam tiga, Bu?" jawab Ella senang.
"Jam loro wae, ben enggal mari.Terus bayare di muka po piye, La?" tanya Bu Lurah.
*Jam dua saja, biar pulangnya lebih cepat. Terus bayarnya di muka atau gimana, La?
"Bayar dimuka nggih Bu" jawab Ella.
"Yo wis iki tak bayar sisan. Kanggo cah loro dadi satus ewu, yo. Nek kowe ngajare apik, mengko ben tak leske ben dino. Tak cobane dhisik" ucap Bu Lurah sambil membuka tas dan memberikan Ella selembar uang seratus ribuan.
*Ya sudah ini saya bayar sekalian. Untuk dua anak jadi seratus ribu, ya. Kalau kamu ngajarinnya bagus, nanti bisa saya leskan setiap hari. Saya coba dulu
"Matur nuwun nggih, Bu Lurah," jawab Ella senang menerima uang pertamanya.
"Nek ngono Ibu lungo dhisik yo," pamit bu Lurah.
*Kalau gitu Ibu pergi dulu ya
"Nggih, hati-hati ya Bu," jawab Ella gembira.
"Mak.. Mak.. " panggil Ella dengan gembira sambil berlari masuk ke dalam rumah.
"Opo to La, kok teriak-teriak gitu? Ndak apik ah cah ayu kok bengok bengok ngono" jawab Mak Mila tersenyum melihat raut Ella begitu gembira.
*Apa sih La, kok teriak teriak gitu? Nggak bagus ah. anak cantik kok teriak-teriak kayak gitu.
"Mak.. Ini buat Emak" ucap Ella menyodorkan uang 100 ribu.
"Duite sopo iki La?" ucap Mak Mila terkejut melihat Ella menyerahkan uang seratus ribu ke tangannya.
"Tadi waktu Ella memasang iklan di depan, pas Bu Lurah lewat Mak. Terus minta Ella ngelesin putra putrinya si Doni sama Dina," jawab Ella gembira.
"Walah, rejekimu La. Syukurlah sudah dapat murid. Kalau begitu besok kamu nggak usah ikut Emak ke pasar ya," ucap Mak Mila tersenyum.
"Loh kenapa Mak? Ella ngelesin mulai jam 2 siang, kok. Kan biasanya kita sudah sampai di rumah jam sebelasan," ucap Ella bingung.
"Nanti kamu lelah, La," ucap Mak Mila tersenyum mendengar celotehan Ella.
"Ih,, lelah apaan Mak. Nggak papa, Mak. kecuali nanti kalau Ella sudah masuk sekolah. Ella nggak bisa nemani Emak ke pasar lagi", jawab Ella.
"Ya sudah, asal kamu senang saja," jawab Mak Mila mengalah.
"Ini uangnya buat Emak" ucap Ella.
"Kamu simpan saja sendiri, La. Buat sangu kamu nanti sekolah," jawab Mak Mila.
"Tapi Mak, Ella mau ngasih hasil keringat pertama Ella buat Emak. Diterima ya, Mak," ucap Ella memelas.
"Ya sudah sini Emak yang simpan," jawab Mak Mila tersenyum bahagia melihat Ella ternyata memperhatikannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih.❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah teman teman mengejek Eh kakaknya juga ikutan ...
Tapi YG membuat Tambah sedih mama nya kok cuek Amat...