Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Jangan Ganggu Dia Lagi
Setelah menyelesaikan pekerjaannya waktu tanpa terasa, kini sore telah menyapa bumi yang mulai terasa lebih lengang.
Almeera Group terasa sedikit lebih hening karena beberapa karyawan sudah pulang, sementara beberapa karyawan lainnya masih berusaha bekerja keras menyelesaikan pekerjaan hari ini.
Diruang kerjanya kini Nayara menutup laptop dihadapannya dengan nafas yang cukup panjang, hari ini terasa begitu berat dan melelahkan. Pertemuan demi pertemuan membuat isi kepalanya terasa penuh, namun bukan hanya tentang pekerjaan saja yang kini mengganggu kepalanya. Bayangan wajah Kevin tadi pagi masih muncul sesekali.
Nayara menghela nafasnya pelan dan dalam, ia membenci kenyataan bahwa masa lalu dirinya masih mencoba mengganggu bahkN masuk ke kehidupannya.
Tok... Tok... Tok...
" Masuk" suara ketukan pintu terdengar jelas.
" Nona Nayara, Anda sudah bisa pulang?" Livia membuka pintu sedikit.
" Ya, Livia"
Namun belum Nayara sempat berdiri, Livia kembali melanjutkan ucapannya.
" Maaf Nona, ada seseorang yang masih menunggu Anda dibawah"
" Siapa? Apakah waktunya begitu banyak sampai menungguku begitu lama?" Nayara mengerutkan keningnya.
" Pria yang tadi pagi datang, Nona... Kevin"
Nayara langsung berdiri setelah mendengar nama itu kembali disebut.
" Apa?"
" Benar, Nona. Dia menunggu didepan gedung sejak satu jam yang lalu" jawab Livia.
" Baik, Aku akan menemuinya " wajah Nayara langsung berubah dingin.
Udara sore ini terasa sedikit dingin ketika Nayara melangkahkan kakinya untuk keluar dari gedung kantornya, beberapa langkah dari pintu utama ia dapat melihat langsung Kevin tengah berdiri tegak didekat trotoar. Pria itu terlihat benar-benar menunggu Nayara dengan sabar, saat melihat kehadiran Nayara yang sejak tadi ia nantikan Kevin langsung berjalan cepat untuk mendekat.
" Nayara..." sapanya dengan nada yang lembut.
Jika dulu mendengar nada panggilan Kevin yang sopan ditelinga membuat Nayara tersenyum hangat, kini semua telah berubah bahkan ekspresi Nayara kalo ini tetap datar dan dingin.
" Apa kebodohanmu semakin besar? Bukankah aku sudah mengatakan jika kita tidak perlu bicara lagi? Apa kamu sudah tidak bisa memahami bahasa manusia?" jawab Nayara.
" Nay... tolong..." Kevin terlihat frustasi kali ini.
" Dengarkan baik-baik Kevin..." Nayara menarik nafasnya perlahan menekan emosi yang hampir memuncak.
" Aku tidak hancur karena kamu pergi, aku tidak hancur karena kamu berubah tanpa pernah bilang apapun sampai akhirnya aku melihat semuanya...."
" Cara kamu menjauh, diam, dan cara kamu memilih orang lain tanpa melepaskan aku terlebih dahulu dimana aku pernah menjadi rumahmu tempat kamu pulang tanpa ragu, Tapi ternyata...." Nayara menjeda kembali kalimatnya.
" Aku hanya tempat tinggal disaat kamu belum menemukan orang yang baru, dan sekarang aku mengerti bahwa sebenarnya aku tidak kehilanganmu sama sekali.... Aku hanya kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar menjagaku... Jadi kalau kamu ingin mencari pembelaan diri maaf aku tidak tertarik".
" Tapi Nay..."
" Apa masih kurang jelas? Kau seharusnya bisa menghargai keputusan orang lain, Kevin" sanggah Nayara cepat.
" Aku tau aku salah, Nay. Aku benar-benar menyesal" Kevin mengusap wajahnya kasar.
" Kau tidak hanya salah, tapi kau mengkhianatiku jadi apa ucapan yang pantas untuk dirimu sendiri?" Nayara menatapnya tajam.
Kalimat yang keluar dari mulut Nayara dengan nada yang tenang, tapi benar-benar tajam membuat Kevin kini terdiam.
" Aku menyesal, Nay" Kevin menjawab lirih.
" Tidak ada gunanya menyesal, Kevin" Nayara menggelengkan kepalanya pelan.
" Nayara, tolong .... " Kevin tiba-tiba menegang pergelangan tangan Nayara, membuat tubuh Nayara menegang.
" Lepaskan, Kevin" teriak Nayara.
" Nayara... tolong dengarkan a...."
Saat ketegangan Kevin dan Nayara tiba-tiba saja sebuah suara pria terdengar dari arah belakang.
" Lepaskan dia" suara itu terdengar tenang, namun aura dinginnya terasa begitu jelas.
Kevin dan Nayara langsung mengalihkan pandangannya kearah sumber suara, beberapa langkah dari mereka telah berdiri seorang pria dengan jas hitam rapih. Tatapannya begitu tajam langsung tertuju pada tangan Kevin yang masih memegang pergelangan tangan Nayara
Adrian Mahendra
Kevin yang melihat Adrian langsung melepas tangan Nayara , Adrian berjalan mendekat dengan langkah tegap namun tetap tenang. Aura yang Adrian bawa sore ini membuat suasana terasa begitu tegang.
Adria berhenti tepat disamping Nayara, tatapannya masih fokus tertuju pada Kevin.
" Sepertinya dia sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak berbicara denganmu, bukan?" Tanya Adrian.
" Ini bukan urusanmu, tidak perlu ikut campur" Kevin menatap Adria kesal.
" Sekarang ini sudah menjadi urusanku" Adrian menjawab dengan senyuman tipis.
" Memangnya, kau siapa?" Kevin dengan penuh percaya diri kini menyilangkan kedua tangannya didepan dada
" Ahhh... Kenalkan aku adalah pria yang akan menikah dengannya, lebih mudahnya aku adalah calon suaminya" Adrian menjawab tanpa ada keraguan.
Jawaban Adrian membuat Kevin kini diam membisu, Nayara ikut terkejut.
" Nay, Jadi ini semua benar?" Kevin menatap Nayara dengan ekspresi tidak percaya.
Nayara tidak menjawab, tapi tubuhnya kini berpindah posisi berada dibelakang tubuh Adrian dan itu membuat Kevin semakin terkejut.
" Aku rasa sebaiknya kau berhenti datang ke kantor ini jika tidak ada urusan pekerjaan" Adrian memberikan peringatan halus, nadanya tetap tenang namun ada kilat ketegasan didalamnya.
" Ini urusanku dengan Nayara, dan jika aku tidak mau pergi kenapa?" Kevin kini menatap Adrian dengan tajam.
" Tidak ada lagi urusan apapun diantara kalian berdua mulai saat ini, dan jika kau tidak mau pergi makan aku yang akan memastikan jika kau tidak bisa lagi mendekatinya dengan cara apapun" Adrian menatap Kevin lurus tanpa ada emosi yang meledak.
Suasana sore ini terasa semakin tegang, namun akhirnya Kevin menghela nafasnya kesal. Kevin menatap Nayara sekali lagi sebelum ia berbalik dan pergi, langkahnya cepat dan penuh emosi.
Beberapa detik setelah Kevin menghilang, Nayara akhirnya memberanikan diri menatap Adrian dihadapannya.
" Terimakasih, tapi sebenarnya kau tidak perlu repot-repot melakukan itu"
" Tapi dia berani memegang tanganmu, dan bagiku itu masalah besar" Adrian membalas tatapan Nayara.
" Nayara..."
" Iya?"
" Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan siapapun memperlakukan kamu seperti itu" ucap Adrian yang menatap Nayara semakin lembut dan dalam.
Kalimat itu membuat Nayara sedikit terdiam, ada sesuatu dalam cara Adrian berbicara yang terasa semakin... Tulus.
Dan itu berhasil membuat hati Nayara sedikit gelisah, namun sepertinya Nayara masih Denial. Hal seperti ini bukan pertama kalinya Adrian melindungi dirinya, dan hal ini membuat Nayara merasa seperti seseorang benar-benar berada di pihaknya.
Dan bagi Adrian... Itu hanyalah awal.