NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 : Pertarungan Di Malam Hari

Malam masih belum benar-benar larut ketika jendela ruang kerja Ferisu terbuka tanpa suara.

Angin tipis masuk.

Lalu cahaya lembut berpendar di udara.

Ferisu tidak menoleh.

Ia sudah tahu.

“Sudah kembali?” tanyanya pelan.

Partikel cahaya itu memadat, membentuk sosok kecil berambut perak dengan gaun putih berenda dan baret senada.

Eliza mendarat ringan di lantai.

Lalu—

Tanpa aba-aba.

Ia berlari kecil dan langsung melompat ke pelukan Ferisu.

“Aku pulang~”

Ferisu refleks menangkapnya.

“Eliza...”

Ia menghela napas pelan. Namun tangannya tetap menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh.

“Aku kangen.”

“Kau pergi hanya beberapa jam.”

“Beberapa jam tanpa pelukan itu lama.”

Noa yang berdiri di dekat meja hanya memijat pelipisnya.

“Laporannya dulu,” ucapnya datar.

Eliza menjulurkan lidah kecil.

“Dingin sekali, Noa. Padahal aku kerja keras loh~”

Ferisu akhirnya menghela napas dan mengusap kepala Eliza.

“Baik. Ceritakan.”

Ekspresi Eliza berubah.

Manja itu lenyap.

Mata birunya menjadi jernih dan tajam.

“Wilayah timur memang menyimpan bahan peledak. Banyak. Cukup untuk membuat kepanikan besar di pasar pusat.”

Noa langsung menegang.

“Jadi benar…”

Eliza mengangguk.

“Dan itu bukan ulah rakyat biasa. Ada pergerakan teratur. Terlatih.”

Ferisu terdiam.

“Duke?”

Eliza memiringkan kepala.

“Tidak ada bukti langsung. Tapi…”

Ia berhenti sejenak.

“Ada seseorang.”

Ferisu menatapnya.

“Eliza.”

Sejenak, gadis itu terlihat serius.

“Dark elf. Laki-laki. Assassin. Rambut hitam, mata emas.”

Suaranya melambat.

“Memakai kerah budak.”

Noa terdiam.

Dark elf dengan kerah budak bukan hal biasa.

Zenobia memang dulunya memperbudak ras lain. Tapi setelah Asterism mengambil alih, semua budak resmi telah dibebaskan.

Kalau masih ada kerah aktif…

Berarti itu ilegal.

“Dia kuat?” tanya Ferisu tenang.

Eliza tersenyum kecil.

“Kalau duel satu lawan satu… mungkin menyenangkan.”

Noa menoleh tajam. “Eliza.”

“Ah, maksudku, dia cepat. Sangat cepat. Dan terlatih.”

Tatapannya berubah sedikit.

“Yang menarik bukan itu.”

Ferisu menunggu.

“Kerahnya aktif. Rune pembatas. Dia tidak bisa berbicara bebas.”

Hening.

Berarti ada seseorang yang memegang kendali langsung atasnya.

Dan jika itu Duke—

Berarti Duke bukan hanya menyebar rumor.

Ia menyiapkan kekacauan terencana.

Ferisu berdiri perlahan.

Jubah hitam bangsawannya bergeser lembut.

“Tujuan mereka jelas.”

Noa mengangguk.

“Menciptakan kerusuhan besar antara manusia dan beastman.”

Eliza mengangkat tangan kecilnya.

“Kalau pasar pusat meledak saat jam sibuk, semua akan menyalahkan beastman. Duke tinggal muncul sebagai pahlawan lagi.”

Noa mengepalkan tangan.

“Licik…”

Ferisu berjalan mendekati jendela.

Di luar, lampu kota Asterism yang kini menguasai Zenobia menyala damai.

“Tapi ini belum terjadi.”

Suaranya lembut.

Namun dingin.

“Kita hancurkan sebelum ia memainkannya.”

Eliza tersenyum lebar.

“Jadi kita ledakkan duluan?”

“Tidak.”

Jawabannya tegas.

“Kita ambil bahan peledaknya. Tangkap pelakunya. Dan—”

Tatapan Ferisu berubah tajam.

“Kita buat Duke kehilangan kepercayaan rakyat dengan caranya sendiri.”

Noa mengangkat alis.

“Kau ingin… membalikkan narasi?”

Ferisu mengangguk.

“Jika besok pagi rakyat mengetahui bahwa Asterism menemukan dan menggagalkan rencana teror yang membahayakan semua ras…”

Ia berhenti.

“Lalu ternyata pelakunya terhubung dengan wilayah Duke.”

Eliza tersenyum perlahan.

“Serigala berbulu domba akan mulai kehilangan bulunya.”

Noa menghela napas.

“Berarti kita bergerak sebelum fajar.”

Ferisu mengangguk.

“Eliza.”

“Hm?”

“Kau bisa memindahkan bahan peledak tanpa menarik perhatian?”

Eliza menyeringai.

“Ferisu-sama, aku ini setengah roh. Bayangan adalah rumahku.”

Ferisu tersenyum tipis.

“Noa, siapkan kesatria yang paling bisa dipercaya. Operasi diam-diam.”

Noa mengangguk tegas.

“Baik.”

Eliza masih duduk di pelukan Ferisu.

Ia menatap wajahnya dari jarak dekat.

“Kamu tahu,” katanya pelan.

“Kalau mau, kamu bisa langsung menghancurkan Duke. Seperti waktu kamu meratakan pasukan Zenobia.”

Ruangan hening.

Ferisu menatapnya.

Lalu tersenyum tipis.

“Ini bukan perang.”

Tangannya terangkat, menyentuh pipi Eliza lembut.

“Kalau aku bertindak gegabah, rakyat Zenobia akan melihatku sebagai penakluk tiran. Bukan raja.”

Eliza terdiam.

Noa pun menunduk sedikit.

Ferisu melanjutkan.

“Kita tidak menghancurkan negara ini.”

“Kita membangun ulang.”

Senyum kecil muncul di wajah Eliza.

Lalu ia kembali bersikap manja.

“Kalau begitu… setelah semua ini selesai, aku mau hadiah.”

“Hadiah apa?”

“Eliza time.”

Noa langsung menyela.

“Tidak adil.”

Ferisu menghela napas pelan.

Di tengah strategi dan konspirasi… Suasana kembali ringan.

Namun hanya sesaat.

Karena di wilayah timur—Dark elf bermata emas itu berdiri sendirian di atap bangunan.

Ia memandang ke arah ibu kota.

Kerah di lehernya berpendar pelan.

Seseorang berbicara melalui sihir pengikat.

“Rencana dimajukan.”

Suara itu tenang.

Duke Albrecht.

“Jika Asterism bergerak malam ini… biarkan mereka.”

Mata emas sang assassin menyipit.

“Dan ledakkan titik cadangan.”

Di bawah cahaya bulan—Senyum tipis terukir di wajah Duke yang berdiri di balkon kediamannya.

“Jika satu api padam… nyalakan yang lain.”

Sementara itu—

Eliza, yang hendak menghilang kembali ke bayangan untuk memulai operasi, tiba-tiba berhenti.

Ia menoleh perlahan.

Mata birunya menyempit.

“Ferisu-sama…”

“Ada apa?”

Suaranya tidak lagi manja.

“Mereka juga bergerak.”

Hening.

Ferisu tersenyum tipis.

“Bagus.”

Tatapannya mengeras.

“Kalau begitu… kita percepat permainan.”

Dan malam itu—

Bukan hanya Duke yang sedang menyusun langkah.

Raja Asterism pun mulai mematahkan satu demi satu bidaknya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Wilayah timur Zenobia tenggelam dalam gelap.

Atap-atap bangunan tua menjadi jalur rahasia bagi mereka yang tak ingin terlihat. Angin malam berdesir pelan, menyapu jubah hitam seorang pria yang berdiri tegak di puncak menara jam tua.

Rambut hitamnya bergerak tipis tertiup angin.

Mata emasnya menatap lurus ke arah gudang yang menjadi titik cadangan bahan peledak.

Dark elf itu tidak bergerak.

Namun tubuhnya siap.

Lalu—

Udara di belakangnya bergetar.

Partikel cahaya tipis berpendar.

“Boo.”

Suara riang terdengar tepat di telinganya.

Dalam sepersekian detik—

Belati sudah berada di tangan sang assassin.

Ia berputar.

Kilatan logam menyapu udara.

Eliza melompat mundur ringan, rok gaun putihnya berkibar lembut.

“Hei~ cepat sekali.”

Tak ada jawaban.

Dark elf itu sudah menghilang.

Eliza mengedip.

“Eh?”

Dari bayangan menara—

Siluet hitam muncul.

Belati pertama mengarah ke lehernya.

TING—

Percikan cahaya muncul saat Eliza memblokir dengan penghalang roh tipis.

Namun belati kedua—

Menggores bahunya.

Gaun putihnya robek tipis.

Tubuh Eliza terdorong beberapa langkah ke belakang.

“Ow.”

Ia menatap noda tipis di kainnya.

Dark elf itu sudah berada lima meter di depannya.

Diam.

Tenang.

Mata emasnya tak menunjukkan emosi.

Gerakannya presisi.

Tanpa ragu.

Eliza tersenyum kecil.

“Jahat sekali. Aku cuma bercanda tadi.”

Tak ada respons.

Ia menghilang lagi.

Kali ini bukan hanya cepat.

Ia seperti menyatu dengan bayangan.

Belati muncul dari sudut mustahil.

Dari bawah.

Dari samping.

Dari belakang.

Tiga goresan kecil kini menghiasi lengan dan sisi gaun Eliza.

Eliza mendarat di atap lain.

“Wah…”

Ia menyentuh lengannya.

Tidak dalam.

Tapi cukup untuk membuktikan sesuatu.

“Kamu kuat.”

Dark elf itu berdiri di ujung atap.

Diam.

Kerah budak di lehernya berpendar samar.

Rune sihir aktif.

Perintah masih berjalan.

Eliza memiringkan kepala.

“Kalau begini terus, nanti Ferisu-sama marah karena bajuku rusak.”

Ia tertawa kecil.

Lalu—Ekspresinya berubah. Cahaya di sekelilingnya meredup.

Udara terasa berat.

Angin berhenti.

Dark elf itu langsung bergerak lagi.

Namun kali ini—kakinya terasa… lambat.

Bayangan yang biasa ia gunakan untuk berpindah terasa seperti lumpur.

Mata emasnya menyipit.

Eliza tidak lagi berdiri santai.

Rambut peraknya melayang pelan, seolah tanpa angin.

Mata birunya kini bersinar terang.

“Maaf ya,” ucapnya lembut.

“Aku tadi cuma pemanasan.”

Ia melangkah satu kali.

Dan tiba-tiba—

Sudah berada tepat di depan sang assassin.

Dark elf itu bereaksi cepat.

Belati menyilang.

Namun—

Tangannya tertahan di udara.

Seolah sesuatu menggenggam pergelangannya.

Tak terlihat.

Namun nyata.

Tekanan roh.

Eliza menatapnya dari jarak sangat dekat.

“Kamu tidak mau melakukan ini, kan?”

Mata emas itu bergetar tipis.

Namun kerah budak di lehernya menyala terang.

Perintah memaksa tubuhnya bergerak.

Ia memutar tubuh secara paksa—

Berusaha menusuk dari sudut buta.

Eliza menghela napas kecil.

“Kalau begitu… aku pakai sedikit kekuatan saja.”

Cahaya meledak lembut.

Bukan ledakan destruktif.

Namun tekanan spiritual murni.

Atap di bawah mereka retak.

Udara bergetar.

Dark elf itu terhempas mundur keras.

Tubuhnya menghantam cerobong bata dan memecahkannya.

Namun ia masih berdiri. Terhuyung. Keras kepala. Loyalitas atau paksaan.

Eliza mengangkat tangannya.

Bayangan di sekitar mereka… menghilang. Benar-benar menghilang. Tak ada tempat untuk bersembunyi. Tak ada medium untuk bergerak.

Dark elf itu menatap sekelilingnya.

Untuk pertama kalinya—

Ada sedikit keterkejutan di matanya.

“Kamu pengguna bayangan,” kata Eliza pelan.

“Jadi aku matikan saja malamnya.”

Ia tersenyum lembut.

Cahaya biru menyelimuti area itu seperti kubah transparan.

Wilayah roh.

Bukan dunia manusia.

Dark elf itu mencoba bergerak.

Lambat.

Sangat lambat.

Eliza muncul di belakangnya.

Satu ketukan ringan di tengkuk. Tekanan roh langsung mengalir. Tubuh sang assassin membeku. Belati jatuh dari tangannya.

Dan perlahan—

Ia roboh ke depan.

Eliza menangkapnya sebelum wajahnya membentur atap.

“Kamu kuat,” bisiknya pelan.

“Kalau tanpa kerah itu… mungkin kita bisa ngobrol biasa.”

Ia menyentuh kerah budak di lehernya.

Rune itu menyala marah.

Mencoba menolak intervensi.

Eliza menyipitkan mata.

“Tenang saja.”

Satu sentuhan ringan.

Rune itu retak.

Tidak hancur sepenuhnya—

Tapi cukup untuk memutus koneksi jarak jauh.

Di balkon kediaman Duke—

Sebuah kristal kecil di meja retak tiba-tiba.

Duke Albrecht menatapnya.

Ekspresinya tak berubah.

Namun matanya mengeras.

“Jadi begitu.”

...----------------...

Kembali ke atap.

Eliza menggendong dark elf itu seperti membawa anak kucing yang pingsan.

“Maaf ya, aku harus pinjam dulu.”

Ia menatap ke arah istana.

Lalu—

Tubuhnya berubah menjadi partikel cahaya.

Menghilang ke langit malam.

Meninggalkan atap retak dan kota yang masih belum sadar—Bahwa permainan mereka baru saja berubah.

Dan kali ini—Bidak Duke sudah berada di tangan raja.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
elf idiot 🙄....bknny pikirkn dlo...tpi sibuk cari kambing hitam....gk ada bedany seperti negara zenobia
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!