NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 BUKAN CUCU SAYA

“Mbak Yuni bohong, Mah,” tiba-tiba Arjuna bersuara.

Amira menoleh cepat. “Bohong kenapa?”

Ternyata sejak tadi Arjuna tidak benar-benar tidur.

“Mbak Yuni bohong, Mah. Mbak Yuni sering beri Juna roti, Mah, sering beri Juna makan. Mbak Yuni melindungi Juna. Beberapa kali dimarahi Nenek karena Juna. Kalau enggak ada Mbak Yuni, mungkin Juna….”

Amira tak sanggup lagi mendengar ucapan Arjuna. Semakin menyesal rasanya.

Tiga tahun sia-sia pergi ke negeri orang, anak terabaikan.

“Sekarang ada Mamah. Mamah akan ada untuk Juna.”

“Mamah… sesak, Mah.”

Amira segera melepaskan pelukannya.

“Mamah, Mbak Yuni orang baik,” ucap Juna tulus.

Amira menghampiri kembali Yuni. “Terima kasih, Yun.”

“Sama-sama. Amira, melihat kamu dan Arjuna sudah kembali, aku sudah senang.”

Yuni melihat ke arah jam di dinding. “Amira, sudah malam. Aku pulang dulu, ya.”

Amira mengambil uang dan hendak memberikannya pada Yuni.

“Jangan, Amira, jangan. Kamu masih banyak keperluan,” Yuni mengembalikan uang Amira.

“Tapi ini tak seberapa, Yun.”

“Kalau kamu masih aku anggap saudara, kamu jangan kasih ini.”

Amira hanya bisa menghela napas. “Kalau begitu, baiklah. Terima kasih banget, ya.”

“Sama-sama, Mira. Besok pagi aku ke sini lagi.”

Amira menganggukkan kepala dengan penuh haru. Kemudian Yuni meninggalkan Amira.

Amira melangkah menuju brankar Arjuna. Arjuna tersenyum pada Amira.

“Mamah, tidurlah. Mamah pasti capek.”

“Iya, Juna. Kamu harus banyak makan, ya, harus sehat.”

“Iya, aku harus sehat. Aku harus mencari Dewi.”

Amira merasa sesak mengingat Dewi, anak bungsunya. Anak baru usia satu tahun dia tinggalkan, padahal sedang butuh-butuhnya sosok seorang ibu.

“Juna, kamu bisa ceritakan bagaimana Nenek Nanda mengambil Dewi?”

Arjuna menggelengkan kepala. “Arjuna enggak ingat, Mah. Waktu itu Juna disuruh belanja jauh sekali. Pas pulang, Dewi sudah enggak ada. Katanya diculik sama Nenek Nanda.”

“Baiklah, setelah kamu sembuh kita cari Dewi,” Amira membelai kepala Arjuna.

“Iya, maafkan Juna enggak bisa jaga Dewi.”

“Mamah yang salah, Sayang. Terima kasih kamu sudah bertahan, Nak.”

“Iya, Mah. Mamah bobo, ya. Juna juga mau bobo.”

“Iya, Nak.”

Amira hendak menggelar selimut untuk tidur.

“Neng, pakai tikar ini,” ucap seorang ibu.

Amira mendongak. Terlihat wanita paruh baya membawa tikar.

“Kalau malam dingin, jangan tidur di lantai. Nanti yang nunggu malah sakit.”

“Terima kasih, Bu,” ucap Amira.

“Iya, sama-sama. Kalau mau ngopi bilang saja, ya.”

Ibu paruh baya itu setelah memberikan tikar lalu kembali ke tempatnya menunggu anaknya yang sedang sakit.

“Orang Indonesia ramah-ramah, ya,” gumam Amira.

Amira melihat langit-langit kamar. Pinggangnya terasa nyeri.

“Alhamdulillah, ya Allah, masih diberi kesehatan dan Juna bisa dirawat. Ke depan hidupku mungkin tidak mudah. Aku hanya meminta, kuatkan saja aku, ya Allah.”

Perlahan kelopak matanya terasa pegal, dan akhirnya dia memejamkan mata.

Amira terbangun saat petugas kebersihan akan membersihkan lantai.

Dan Arjuna sudah bangun, sedang makan bubur, dan terlihat agak kesulitan karena tangannya diinfus.

“Kenapa enggak bangunin Mamah, Nak?” Amira menghampiri Arjuna dan mengambil mangkuk bubur.

“Mamah pasti lelah, jadi Juna enggak mau bangunin Mamah.”

“Bangunin saja, Sayang.” Amira menyuapkan bubur ke Arjuna. Arjuna makan dengan lahap.

“Mah, hari ini Juna bisa pulang, kan?”

“Kenapa?”

“Juna sudah sehat. Juna mau cari Dewi. Juna kangen Dewi, sudah tiga tahun enggak ketemu.”

“Kamu harus sembuh dulu. Kamu harus sehat, baru cari Dewi.”

Wajah Arjuna muram.

“Jangan sedih begitu. Asal makan yang banyak dan mau minum obat, kamu pasti cepat sembuh.”

“Iya, Mah. Juna mau cepat sembuh. Juna harus cari Dewi.”

Arjuna tampak bersemangat makan. Amira merasa hangat. Anak sulungnya sangat menyayangi adiknya.

“Neng, kalau mau sarapan keluar dulu saja, biar anaknya saya yang jagain,” ucap wanita paruh baya itu.

Amira merasa tidak enak terus merepotkan dan hendak menolak, namun Arjuna berkata, “Iya, Mah, Mamah sarapan dulu, Mah. Arjuna bisa kok sendiri.”

“Nah, benar itu. Anak kamu pintar banget, ya. Punya anak sakit itu, kitanya harus sehat.”

Amira memandang wanita paruh baya itu. “Makasih, Bu.”

Amira membersihkan dan merapikan tempat tidur Arjuna, kemudian keluar dari ruang perawatan Arjuna. Dia juga harus mandi. Badannya terasa lengket semua.

Keluar dari klinik, udara pagi menerpa. Angkot berseliweran. Orang-orang berlalu lalang.

Tukang ojek berebut penumpang yang turun dari mobil elf. Amira pergi ke masjid untuk mandi.

Dia meraba kantong kecilnya. Hatinya waswas. Di dalam kantong kecil itu ada uang sepuluh juta.

“Aku harus amankan dulu uang untuk pengobatan Arjuna.”

Sampai di masjid, dia menuju toilet lalu mandi. Kemudian mencari sarapan bubur ayam Cikamaya.

Makanan favoritnya. Dia sempat membayangkan saat di Taiwan akan memakan bubur ayam Cikamaya setelah sampai di Indonesia. Dia juga membeli beberapa camilan untuk ibu paruh baya yang dia tidak tahu namanya, namun begitu baik padanya.

Hari beranjak siang. Matahari sudah mulai terlihat. Amira kembali ke klinik.

Dan setelah sampai di klinik, hatinya langsung berdebar.

Dunia memang sempit. Dia melihat Rudi bersama Ambar di ruang tunggu.

Amira hendak mengabaikan kedua orang itu. Belum saatnya membalas semua rasa sakit.

Namun sepertinya mereka tidak bisa membiarkan hidupnya tenang.

Tangan Amira ditarik paksa oleh Rudi.

“Apa-apaan sih!” kesal Amira.

“Kamu harus tanggung jawab! Lihat ibuku jadi sakit!”

Amira terus diseret keluar klinik. Rudi semalaman masih kesal pada Amira. Belum puas menyiksa Amira karena sudah memukul ibunya.

“Hentikan!” Amira mengeram.

“Hei, hentikan!”

Suara seorang pria membentak.

“Roni, jangan ikut campur!” bentak Rudi.

“Hei, apa kamu enggak puas kemarin menyiksa Amira?”

“Dia harus kupatahkan tangannya! Berani-beraninya memukul ibuku!”

“Hei, ibu kamu duluan mukul Juna! Amira hanya membela anaknya!” Roni berkata lantang.

Roni adalah suami dari Yuni. Dia berprofesi sebagai tukang ojek.

Keributan terjadi dan mengundang kerumunan.

“Ada apa ini, Ron?” ucap pria berjaket ojek.

“Iya, ada apa ini?”

“Dia menculik anak saya!” Rudi langsung menuduh Amira.

“Hah, kamu penculik anak, ya?” ucap seorang warga.

“Bukan penculik, dia memang ibunya!” bela Roni.

“Dia selingkuh dengan orang lain. Saya enggak rela anak saya diasuh oleh wanita tukang selingkuh!”

“Aku enggak selingkuh!” bentak Amira.

“Aku punya buktinya kamu selingkuh! Sekarang kamu tunjukkan di mana Arjuna, biar aku bawa pulang!”

Amira hendak menjawab, namun suara Ambar terdengar menggelegar, “Amira, di mana Arjuna? Mau dibawa ke mana dia? Kembalikan dia ke rumah! Jangan kamu besarkan Arjuna dengan selingkuhan kamu! Aku tahu kamu mau membawa Arjuna ke luar negeri, kan!”

“Tidak! Aku tidak selingkuh!”

Orang-orang semakin ramai menyaksikan keributan itu.

“Ada apa lagi ini?” Yuni datang menghampiri sambil membawa rantang. Dia membawa sarapan untuk Amira.

“Ini, mereka bertiga ini bersatu untuk menjual Arjuna, cucu saya, ke luar negeri!” tuduh Ambar.

“Oh, Arjuna cucu Ibu, ya?” ucap Yuni.

“Iya, dia cucu saya. Kamu juga tahu, kan?”

Yuni mendadak tersenyum penuh arti.

“Kebetulan sekali. Karena Anda adalah neneknya dan dia adalah bapaknya, kalian harus membiayai pengobatan Arjuna. Arjuna sedang dirawat, dia butuh uang dua puluh juta. Ayo, cepat kalian bayarkan uang pengobatan Arjuna,” ucap Yuni dengan senyum menyeringai.

“Juna bukan cucu saya… bukan… bukan cucu saya! Ayo, Rudi, kita pergi!” jawab Ambar spontan.

Mengeluarkan uang dua puluh juta untuk Arjuna?

Ah, Ambar sangat tidak rela.

Ambar menarik tangan Rudi.

“Ah, aneh sekali. Giliran diminta uang, langsung tidak mengakui cucu.”

1
nunik rahyuni
karena rukonya sarsng preman mabuk mabukan...iya tak mira🤔🤔🤔
nunik rahyuni
g ada takut takut dewi ni ...hebat...hasil didikan nenek nanda g menye menye...
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
nunik rahyuni
kok adik thor bukanya ansk2 nya 🤔
nunik rahyuni
iya nek berapa pun yg di dapat harus di syukuri
nunik rahyuni
banyak banyak up thor.....semangat sehat selalu thor 💪💪
nunik rahyuni
kulihan apa hayo....iwak kah emas lah🤔🤔🤔 pina nyaring kuciak🤣🤣
sunaryati jarum
Dapat harta Karun
sunaryati jarum
Semangat Amira , sekarang kalian sudah bersatu menjadi kuat.Wah Dewi mau mengurangi porsi makannya dengan kemauan sendiri,semoga Juna tumbuh jadi pemuda kuat dan gagah sedangkan Dewi jadi gadis cantik.Keduanya jadi manusia bermartabat.
sunaryati jarum
Lanjut dan Semangat semoga Bu Nanda bisa menolong orang yg akan dibegal dengan balok kayu yang dibawanya, kemudian saling tolong agar Nanda dan Amira bangkit jadi orang sukses lalu bisa membalas perbuatan mantan suami dan keluarganya
Anonim
Lanjut thor seru ,up nya jangan dikit dikit thor
nunik rahyuni
mangga di lanjutken thor triple up 🤣🤣✌️✌️✌️
nunik rahyuni
g sopan manggil ibu kok langsung nama nya
nunik rahyuni
bener itu...merusak pemandangan...penebar janji palsu
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
Anonim
Lanjut thor buat amira ibu nya dan anak anak nya bangkit dan bisa balas dendam thor
nunik rahyuni
g da habis habis nya ujian dan penderitaan..
Anonim
Lanjut thor up nya banyakan dong
nunik rahyuni
tegang thor..tahan nafas ikit memburu cari udara
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
nunik rahyuni
judulnya bangkit dr luka..tp klo menye menye kya itu masih lama lg bangkitnya
yg ada di tindas terus
nunik rahyuni
ujian datang lagi...
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪
nunik rahyuni
aq setuju sama nanda...mira terlalu bodoh..polos atau picik atau pengecut sdh merasakan di hiba direndahkan dihianati sama lakinya masih ssja bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!