Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 6 — Kembali ke Rumah Lama
Rumah lama keluarga Brawijaya berdiri di ujung jalan sepi, bangunannya tampak kusam seperti luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh. Cat dinding sudah mengelupas, jendela berdebu, dan halaman dipenuhi rumput liar yang tumbuh semaunya. Dimas membuka pagar yang berderit pelan, menciptakan gema yang membuat Aluna menutup telinganya.
“Tenang, Luna… itu cuma suara besi,” ujar Dimas, meski ia sendiri merasa merinding.
Digo di kursi roda menatap rumah itu lama. “Sudah dua puluh tahun… dan tetap terasa seperti kemarin.” Senyumnya hambar, seperti seseorang yang mengunjungi makam masa kecilnya sendiri.
Dimas mendorong kursi roda Digo melewati halaman. Aluna berjalan di belakangnya, memegang bros kupu-kupu erat-erat. Setiap langkah membuatnya gelisah, seakan tanah di mana ia berpijak menyimpan serpihan ingatan yang siap mencabik pikirannya lagi.
Pintu depan terbuka dengan sedikit dorongan. Aroma apek dan debu bertahun-tahun langsung memeluk mereka keras-keras.
“Ya ampun…” Dimas menyalakan lampu, tapi saklar hanya memicu suara listrik pendek. Tidak ada cahaya. Ia mengambil senter dari sakunya dan menyorot ke dalam. “Kita perlu membersihkannya.”
Digo tertawa kecil. “Kamu bilang begitu seolah kita mau pindah permanen.”
“Kita memang mau sementara tinggal di sini,” balas Dimas. “Sampai kita… menemukan jawaban.”
Kata “jawaban” membuat Aluna tiba-tiba menggigil. Ia melihat ke lorong kanan—lorong menuju kamar orang tua mereka. Tempat tragedi itu terjadi.
Dimas cepat menghampirinya. “Luna? Ada apa?”
“Jangan… ke situ…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. “Di sana… gelap…”
Dimas menarik napas panjang. “Kita tidak akan masuk ke sana sebelum kamu siap. Ayo duduk dulu.”
Mereka berkutat satu jam untuk membersihkan ruang tamu. Dimas membuka jendela agar udara segar masuk. Digo menyuruh Aluna duduk, tapi gadis itu justru linglung, menatap dinding kosong seperti melihat bayangan masa lalu.
“Luna,” panggil Digo lembut. “Kamu ingat ini rumahmu?”
Aluna menunduk, suaranya kecil. “Rumah… itu ramai… mama masak… papa nyanyi…”
Ia tersenyum sesaat, lalu wajahnya berubah ketakutan. “Tapi… pintunya dibuka… dan semuanya hilang.”
Digo terdiam. Pandangan kosong adiknya lebih menusuk hati daripada jeritan sebelumnya.
“Dia ingat sesuatu,” gumamnya pada Dimas.
“Ya,” jawab Dimas, “tapi ingatannya terpotong-potong. Mungkin serpihan trauma.”
Senter di tangan Dimas lalu menyorot sebuah foto lama yang jatuh di lantai. Bingkainya pecah. Ia menelungkupkan diri untuk mengangkatnya.
Foto itu menunjukkan empat anak kecil: Dimas muda, Digo muda, Aluna yang berusia sekitar lima tahun, dan seorang bayi laki-laki yang tengah digendong ibu mereka—bayi yang meninggal saat lahir. Marco juga ada di belakang mereka, tersenyum lebar sambil memeluk bahu ayah mereka.
Dimas menelan ludah. Foto itu kini seperti sindiran.
Senyum Marco terlihat seperti senyum laki-laki baik. Senyum seseorang yang dicintai keluarga.
Namun kini, Aluna ketakutan setengah mati hanya melihat wajahnya.
Dimas menyimpan foto itu di meja. Ia lalu berjalan ke dapur. Dapur itu dipenuhi debu, tapi masih utuh. Panci tua, kompor rusak, dan lemari kayu yang setengah lapuk.
Di lemari atas, ia melihat sesuatu jatuh—sebuah toples kecil berdebu. Ketika dibuka, ternyata berisi kertas kecil yang terlipat.
Ia membacanya.
“Untuk Luna. Jangan lupa aku sayang kamu. — Mama.”
Dimas menutup kertas itu perlahan. Tenggorokannya tercekat. Ia membawanya ke ruang tamu dan memberikan kepada Aluna.
“Lihat… ini tulisan mama.”
Aluna memegang kertas itu dengan tangan gemetar. “Mama…?” suaranya bergetar. Mata Aluna melebar. “Mama bilang jangan buka pintunya… jangan lihat… jangan keluar…”
Dimas mengejapkan mata. “Pintu yang mana, Luna?”
Dia menunjuk ke atas, ke arah lantai dua. “Pintu loteng… suara… langkah… tapi mama bilang diam di lemari…”
Digo meraih tangan Dimas, menggenggam kuat. “Dia ingat… malam itu.”
Untuk pertama kalinya, Aluna memberikan petunjuk jelas. Tentang loteng. Tentang seseorang yang membuka pintu setelah keluarganya dibantai. Tentang sesuatu—atau seseorang—yang turun dari loteng.
Dimas merasakan jantungnya berdegup keras. “Kamu… kamu dengar langkah di loteng saat malam tragedi itu?”
Aluna mengangguk perlahan, wajahnya pucat pasi. “Seseorang… turun dari sana. Mama bilang jangan lihat… tapi aku lihat… sedikit… dari celah pintu lemari…”
Dimas merasakan bulu kuduknya berdiri.
Marco.
Nama itu berputar-putar di kepalanya.
Sore berganti gelap. Rumah lama semakin terasa menyeramkan. Dimas menyalakan lampu senter di ruang tamu, dan Digo mencoba menenangkan Aluna yang terus menatap tangga ke lantai dua.
“Besok kita bersihkan seluruh rumah,” kata Dimas. “Hari ini cukup sampai sini.”
Namun saat ia menutup jendela, Aluna tiba-tiba berdiri dan berjalan cepat menuju tangga. Tidak menengok, tidak berbicara, hanya berjalan seperti ditarik sesuatu.
“LUNA!” seru Dimas.
Digo memanggil, “Aluna, berhenti!”
Tapi Aluna sudah sampai di anak tangga ketiga. Ia berhenti di sana, menengok ke atas, bibirnya bergetar.
“Pintunya… masih terbuka…”
Dimas langsung merinding.
“Pintu loteng?” tanyanya.
Aluna tidak menjawab. Tapi tubuhnya gemetar hebat.
Dimas maju dan memeluk bahunya, menuntunnya turun. “Sudah. Kamu aman. Tidak ada yang akan buka pintu itu lagi.”
Aluna menatapnya dengan mata kosong. “Tapi dia selalu di sana. Dia… buka pintunya aku lihat.”
Digo mengepalkan tangan. “Dimas… ini berarti—”
“Ya,” potong Dimas. “Kita pasti temukan jawabannya di sini.”
Meski rumah itu hancur dan kumal, satu hal jelas:
Kenangan buruk tidak pernah pergi.
Mereka hanya menunggu seseorang kembali membuka pintunya.