NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Godaan untuk menyerah

Malam itu angin bertiup kencang, membuat daun jeruk di belakang rumah bergoyang-goyang seperti sedang menari gelisah. Cantika duduk di bangku kayu reyot di teras, memandang langit yang gelap tanpa bintang. Di pangkuannya ada buku catatan penjualan yang sudah lusuh. Angkanya merah semua minggu ini. Penjualan kripik turun lagi. Hanya dua belas bungkus yang laku hari ini, itu pun ke pelanggan setia yang kasihan.

Di dalam rumah, suara tangis kecil Dodi terdengar samar-samar. Adik bungsunya yang baru berusia tiga tahun itu lagi-lagi rewel. Susu bubuknya sudah habis dua hari lalu. Dodi paling susah makan. Kalau bukan susu, ia akan menolak apa pun yang disuapkan. Cantika sudah berusaha membujuk dengan bubur nasi yang dicampur gula aren tipis-tipis, tapi Dodi tetap memalingkan muka dan menangis.

“Cantika … susu Dodi … lapar …” rengeknya tadi sore sambil menarik-narik baju kakaknya.

Cantika hanya bisa mengusap kepala adiknya sambil menahan air mata. “Sabarlah ya, Sayang. Kakak usahakan besok ada susunya.”

Gilang, adik laki-lakinya yang kelas dua SMP, duduk di meja belajar dengan wajah murung. Buku-buku pelajarannya sudah robek di beberapa bagian. “Kak, besok kan harus bayar SPP dan beli buku paket. Ibu guru bilang kalau telat, nanti nilainya dikurangi,” katanya pelan, tak berani menatap kakaknya.

Rara, adik perempuan Cantika yang kelas lima, juga ikut-ikutan. “Aku juga butuh buku tulis baru, Kak. Yang lama sudah penuh coretan.”

Cantika menghela napas panjang. Ia merasa dadanya sesak. Dulu, saat keripik pedas daun jeruk laris manis, ia bisa tertawa lepas setiap kali menghitung uang receh di malam hari. Kini, semuanya terasa berat. Pesaing semakin banyak, harga jual sulit naik, dan biaya produksi justru naik karena harga cabai dan singkong melambung akhir-akhir ini.

Tepat saat Cantika sedang termenung, terdengar suara motor butut berhenti di depan rumah. Lampu sorotnya menyilaukan. Dari motor turun Pak Somad, rentenir desa yang terkenal kejam. Tubuhnya besar, kumis tebal, dan senyumnya selalu terlihat licik. Ia berjalan masuk tanpa dipersilakan, langsung duduk di kursi rotan yang sudah reyot.

“Wah, Cantika … malam-malam begini masih sibuk mikirin usaha ya?” sapanya dengan suara berat.

Cantika berdiri cepat, tubuhnya tegang. “Ada apa, Pak?”

Pak Somad meletakkan tas kecil di meja. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang merah seratus ribuan dan meletakkannya di depan Cantika. “Lihat rumah kalian. Dindingnya sudah lapuk, atap bocor kalau hujan deras. Ibumu juga sering sakit-sakitan, kan? Ambil saja uang ini. Lima juta. Bisa buat modal besar. Beli mesin penggoreng baru, beli kemasan bagus, bahkan bayar sekolah adik-adikmu sekaligus. Cicilnya pelan-pelan, bunganya juga nggak terlalu tinggi, cuma sepuluh persen per bulan.”

Bu Ratih yang mendengar dari dalam rumah keluar dengan langkah pelan. Wajahnya pucat karena demam yang belum sembuh. Ia menatap uang di meja dengan mata berkaca-kaca. Tangan Bu Ratih gemetar. Sudah lama ia tak melihat uang sebanyak itu sekaligus.

Cantika langsung maju dan mendorong uang itu kembali ke arah Pak Somad. “Maaf, Pak. Kami tidak mau ambil utang. Kami masih bisa mencukupi dari hasil keringat sendiri.”

Pak Somad tertawa kecil, tapi matanya tajam. “Kamu ini keras kepala sekali, Cantika. Lihat adikmu yang kecil itu nangis terus karena susu habis. Gilang dan Rara juga butuh sekolah. Kalau kamu bangga dengan keringat sendiri, kenapa sampai begini? Usahamu sudah sepi, kan? Pesaingmu banyak yang lebih maju. Kalau nggak ambil modal sekarang, besok-besok bisa bangkrut total.”

Omelan Pak Somad semakin keras. “Dasar anak kecil sok kuat! Mau sok mandiri tapi keluarga kelaparan. Kalau besok kamu datang ke saya minta tolong, saya nggak akan kasih semurah ini lagi!” Ia bangkit dengan kasar, menyambar tasnya, dan pergi sambil menggerutu. Motornya meraung keras meninggalkan asap tebal.

Setelah Pak Somad pergi, suasana rumah menjadi hening. Hanya terdengar suara jangkrik dan tangis Dodi yang masih samar dari kamar. Bu Asih mendekati Cantika dan memegang tangan putrinya yang kasar. Bekas luka iris pisau dan bercak minyak panas terlihat jelas di jari-jarinya.

“Kamu benar menolaknya, Nak,” kata Bu Ratih pelan. Suaranya lemah tapi tegas. “Lebih baik kita makan nasi dengan garam daripada makan enak tapi hati selalu gelisah karena utang. Tapi Ibu kasihan sekali padamu. Lihat tanganmu ini … dulu halus, sekarang penuh luka. Kamu kerja terlalu keras, Cantika.”

Cantika menunduk memandangi tangannya sendiri. Benar, ini bukan lagi tangan gadis remaja biasa. Kulitnya kasar, ada bekas melepuh karena sering terkena minyak panas saat menggoreng. Tapi di setiap luka itu, Cantika melihat arti lain. Ada uang untuk bayar SPP Gilang bulan lalu, ada susu Dodi yang sempat dibeli dua minggu lalu, dan ada obat untuk ibunya yang sering batuk.

“Cantika kuat, Bu,” jawabnya sambil mencoba tersenyum. Suaranya bergetar. “Selama kita masih bersama, Cantika yakin kita akan baik-baik saja.”

Tapi di dalam hati, Cantika merasa putus asa. Malam itu ia tak bisa tidur. Ia berbaring di tikar yang tipis sambil mendengar napas ibu dan adik-adiknya yang tertidur lelap karena lelah. Air mata mengalir pelan di pipinya. “Kenapa harus susah sekali, Ya Allah …” gumamnya dalam hati.

Besok paginya, penjualan tetap sepi. Hanya delapan bungkus yang laku di warung Mbok Minah. Mbok Minah sendiri bilang, “Maaf ya, Cantika. Yang varian rempah desamu masih ada, tapi yang original mulai kalah sama yang lebih murah dari pesaing.”

Cantika pulang dengan langkah gontai. Di rumah, Dodi langsung merengek lagi. “Susu … susu … Dodi lapar!” Adik kecil itu menangis sambil memeluk kaki Cantika. Rara dan Gilang sudah berangkat ke sekolah dengan buku lama yang sudah bolong-bolong. Cantika tahu, besok atau lusa mereka pasti ditagih lagi oleh guru.

Ia duduk di dapur, menatap tumpukan singkong yang belum diiris. Tangan kanannya memegang pisau, tapi tak bergerak. Untuk pertama kalinya, Cantika merasa lelah yang sangat dalam. “Apa aku harus menyerah saja?” bisiknya pada diri sendiri. “Mungkin lebih baik aku cari kerja di kota. Jadi pembantu atau karyawan pabrik. Minimal ada gaji tetap tiap bulan.”

Bayangan itu menggoda sekali. Hidup di kota, dapat uang rutin, tak perlu khawatir susu Dodi habis atau SPP adik telat. Tapi kemudian ia teringat wajah ibunya yang selalu tersenyum meski sakit. Ia teringat janjinya pada ayah sebelum ayah meninggal: “Cantika akan jaga ibu dan adik-adik.”

Air mata jatuh lagi ke atas singkong. Cantika cepat-cepat mengusapnya. Ia tak mau adik-adik melihat kakaknya menangis. Dengan sisa tenaga, ia mulai mengiris singkong tipis-tipis. Setiap irisan terasa berat. Pikirannya melayang ke tawaran Pak Somad tadi malam. Uang lima juta itu bisa menyelesaikan banyak masalah sekaligus. Bisa beli susu untuk Dodi beberapa bulan, bayar sekolah Gilang dan Rara, bahkan beli obat ibu yang lebih bagus.

Tapi Cantika ingat omelan Pak Somad yang penuh hinaan. Ia juga ingat cerita tetangga yang pernah meminjam uang dari Pak Somad. Rumah mereka akhirnya disita karena tak bisa bayar bunga yang membengkak. Cantika menggeleng keras. “Tidak. Aku nggak mau keluarga ini terjebak utang.”

Sore harinya, Andi datang berkunjung naik motor beat-nya. Ia melihat wajah Cantika yang pucat dan langsung tahu ada yang tidak beres. “Kamu kenapa? Penjualan lagi turun ya?”

Cantika mengangguk lemah. Ia ceritakan semuanya: penjualan sepi, Dodi yang rewel karena susu habis, Gilang dan Rara yang butuh buku sekolah, tawaran Pak Somad, dan godaan untuk menyerah yang semakin kuat.

Andi diam sejenak. Kemudian ia tersenyum kecil. “Cantika,Aku ngerti rasanya putus asa. Tapi ingat nggak waktu pertama Kamu buat keripik pedas daun jeruk? Waktu itu juga ragu, tapi tetap coba. Sekarang kamu lagi diuji lagi. Mungkin ini saatnya kamu cari cara baru.”

Cantika mengangkat wajah. “Cara baru apa lagi, Mas Andi? Aku sudah capek bereksperimen.”

Andi mengeluarkan ponselnya. “Kita coba jual online lebih serius. Aku bantu buatkan akun Shopee dan Tokopedia kecil-kecilan. Kita kasih nama ‘Kripik Cantika dari Hati’. Kita ceritakan kisah Kamu yang berjuang untuk keluarga. Orang suka beli produk yang ada ceritanya. Lagian, varian Pedas Rempah Desa masih disukai kok.”

Malam itu, meski hatinya masih berat, Cantika mencoba bangkit. Ia memandangi tangannya yang penuh luka sekali lagi. Setiap bekas luka itu adalah bukti perjuangan. Untuk Gilang yang ingin jadi guru, untuk Rara yang suka menggambar, untuk Dodi yang masih kecil dan polos, dan untuk ibu yang selalu mendukung meski sakit.

Ia berdiri, mengambil pisau, dan melanjutkan mengiris singkong. “Besok aku akan buat varian baru lagi,” gumamnya pelan. “Mungkin yang lebih hemat, tapi tetap enak. Aku nggak boleh menyerah.”

Di kamar sebelah, Dodi akhirnya tertidur setelah minum air putih hangat yang dibuat Cantika. Gilang dan Rara belajar dengan cahaya lampu kecil. Bu Ratih berdoa pelan di sudut kamar.

Cantika keluar ke teras. Angin malam masih kencang, tapi kali ini terasa sedikit lebih ringan. Ia memandang pohon jeruk yang daunnya bergoyang. “Ayah … Cantika janji nggak akan menyerah,” bisiknya.

Godaan untuk menyerah memang datang begitu kuat malam itu. Tapi di balik keputusasaan, Cantika menemukan kekuatan kecil yang masih tersisa: cinta untuk keluarga dan kebanggaan atas setiap tetes keringat yang sudah ia keluarkan.

Besok pagi, ia akan bangun lagi. Menggoreng, menumbuk bumbu, dan berjuang. Karena Cantika tahu, badai ini pasti akan berlalu. Asal ia tak melepaskan pegangan pada harapan yang masih kecil itu

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!