Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Nasihat di Balik Amplop Cokelat
Malam semakin larut merengkuh Kota Bandung, menyelimuti jalanan dengan hawa dingin yang perlahan mulai menusuk tulang. Hujan gerimis yang tadi sempat membasahi aspal kini telah reda, menyisakan genangan-genangan air kecil yang memantulkan kerlap-kerlip lampu kota dan neon papan reklame. Di dalam Cafe Nuansa, kehangatan menguar dari setiap sudut ruangan, berpadu dengan aroma pekat espresso yang terus mengalir dari mesin seduh dan wangi mentega dari croissant yang baru dipanaskan.
Suasana kafe malam ini cukup padat oleh muda-mudi yang menghabiskan akhir pekan, atau sekadar mahasiswa yang mencari pelarian dari tumpukan revisi skripsi. Di sudut meja langganan mereka, tempat yang posisinya paling strategis karena dekat dengan colokan listrik dan kipas angin, Randi dan Ardi seolah telah membangun kerajaan kecil mereka sendiri.
Randi tampak tenggelam dalam dunianya, jari-jarinya menari dengan kecepatan brutal di atas layar ponsel yang menyala terang. "Maju woi! Tank-nya mana ini ah elah, cover gue woi! First blood kan jadinya kampret!" teriaknya tertahan, matanya melotot menatap layar dengan intensitas layaknya panglima perang yang sedang mengatur strategi di garis depan.
Di sebelahnya, Ardi seolah hidup di dimensi yang sama sekali berbeda. Ia duduk bersila di atas kursi, memakai headphone hitam besar yang menutupi kedua telinganya, matanya tak berkedip menatap layar laptop yang menampilkan episode terbaru anime aksi kesukaannya. Sebungkus kentang goreng yang tinggal setengah sudah tidak ia pedulikan lagi, terlalu fokus pada pertarungan epik karakter dua dimensi di depannya.
Sementara kedua sahabatnya itu menikmati kemewahan waktu luang, Alan melangkah lincah menyusuri celah di antara meja-meja pelanggan. Ia memegang nampan logam besar dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dengan cekatan membereskan gelas-gelas kosong dan piring kotor bekas pelanggan yang baru saja beranjak. Celemek hitamnya terlihat rapi, lengan kemejanya digulung sebatas siku, menampilkan urat-urat lengannya yang menonjol karena terbiasa bekerja keras. Wajahnya tetap datar, tenang, dan profesional, membalas setiap ucapan terima kasih pelanggan dengan senyuman formal yang secukupnya.
Namun, di tengah kesibukannya mondar-mandir dari meja pelanggan ke area tempat cuci piring, mata tajam Alan secara refleks melirik ke arah meja sudut tempat Randi dan Ardi berada. Ada sesuatu yang kurang. Sebuah kejanggalan yang membuat langkahnya sedikit tertahan.
Kursi kayu di sebelah Ardi tampak kosong. Tas kanvas yang biasanya tersampir di sandaran kursi itu sudah tidak ada, begitu pula dengan pemiliknya. Rahmi sudah tidak ada di sana.
Alan mengernyitkan alisnya tipis. Sambil meletakkan tumpukan piring kotor ke dalam bak cuci di area belakang bar, pikirannya berputar. 'Gak biasanya Rahmi pulang tanpa ngasih tau gue,' batin Alan heran.
Selama hampir dua tahun mereka berteman, Rahmi memiliki kebiasaan yang sangat konsisten. Seburuk apa pun cuacanya, selama apa pun Alan mendapat jadwal tambahan, gadis itu pasti akan menunggunya selesai kerja, atau setidaknya menghampiri meja bar untuk berpamitan dan mengatakan "Hati-hati, Lan", sebelum pulang. Tapi malam ini, gadis itu menghilang begitu saja layaknya ditelan keramaian kafe.
'Mungkin lagi ada urusan mendadak kali, atau dicariin keluarganya,' Alan mencoba merasionalisasi pikirannya sendiri, menepis sebersit rasa kehilangan yang tiba-tiba menyusup ke sudut hatinya. Ia tidak punya kemewahan waktu untuk memikirkan hal-hal sepele seperti itu sekarang. Jam-jam sibuk kafe menuntut seluruh fokus dan tenaga fisiknya.
Setelah sekitar satu jam terus-menerus melayani pelanggan yang datang silih berganti, suasana kafe perlahan mulai terkendali. Bang Hendri, yang baru saja selesai merekap laporan keuangan sementara di meja kasir, memberikan isyarat dengan kepalanya kepada Alan. "Lan, lu istirahat dulu gih lima belas menit ke belakang. Biar gue yang handle mesin kopi bentar, punggung lu udah melengkung kayak udang rebus gitu."
Alan mengangguk berterima kasih. Ia mengusap keringat di pelipisnya dengan punggung lengan, lalu berjalan gontai menuju ruangan khusus karyawan yang terletak di lorong paling belakang, berdekatan dengan gudang penyimpanan bahan baku.
Ruangan loker itu tidak terlalu besar. Hanya berukuran sekitar tiga kali empat meter, diterangi oleh satu lampu neon putih di langit-langit, dan dipenuhi oleh deretan lemari besi berwarna abu-abu yang sebagian pintunya sudah penyok. Udara di dalam sana terasa pengap, bercampur antara wangi deterjen dari tumpukan celemek bersih dan aroma khas kopi yang menempel di dinding.
Alan membuka pintu loker nomor tujuh miliknya. Ia mengambil botol air minum plastiknya dan menenggak isinya hingga tandas. Rasa dingin air mengalir melewati kerongkongannya yang kering, memberikan sedikit kesegaran pada tubuhnya yang mulai meronta kelelahan. Setelah membuang napas panjang, ia merogoh saku tasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya yang layarnya sudah retak di bagian ujung.
Layar ponsel itu menyala, menampilkan satu notifikasi pesan WhatsApp yang masuk sekitar dua puluh menit yang lalu. Dari 'Ibu'.
Alan menyandarkan punggungnya pada pintu loker yang dingin. Jempolnya menggeser layar untuk membuka pesan tersebut. Ia bersiap membaca kalimat sapaan rutin dari ibunya yang biasanya menanyakan apakah ia sudah makan atau belum. Namun, ketika matanya mulai merangkai kata demi kata di layar kecil itu, napas Alan seakan tercekat di tenggorokan.
"Alan, biaya SPP adikmu sudah nunggak 2 bulan, bapak sama ibu belum dapet uang lebih buat bayar SPP Gina. Tapi kalo kamu belum punya jangan dipikirin ya le, biar bapak sama ibu nyari jalan lain lagi, sehat kamu disana nak?"
Alan terdiam mematung. Matanya terpaku pada layar ponsel yang menyala terang di dalam ruangan redup itu. Tulisan di layar itu seolah berubah menjadi deretan pisau belati yang menusuk langsung ke ulu hatinya, mengoyak segala sisa-sisa pertahanan yang ia miliki hari ini.
Udara di ruang loker mendadak terasa begitu tipis. Dada Alan bergemuruh, namun bukan oleh amarah, melainkan oleh rasa tidak berdaya yang begitu mencekik. Ia menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Bayangan ibunya yang menjajakan gorengan di pinggir jalan desa dengan tubuh rentanya, dan bapaknya yang terus memaksakan diri menjadi buruh tani meski penyakit asmanyaserang sering kambuh, berputar-putar di dalam kepalanya layaknya kaset kusut.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alan memaksakan jari-jarinya untuk mengetik balasan. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menahan rasa perih di matanya agar air matanya tidak jatuh. Ia adalah anak sulung, ia adalah tiang penyangga keluarga. Tiang tidak boleh terlihat rapuh, apalagi runtuh.
"Alhamdulillah sehat Bu, disini Alan kerjanya lancar banget. Ibu tenang aja ya, gajian Alan besok langsung dikirim sekalian buat bayar SPP Gina sama buat tambahan jualan ibu sama bapak ya. Ibu sama bapak sehat-sehat terus ya."
Alan menekan tombol kirim. Tanda centang dua seketika muncul. Ia menekan tombol kunci di ponselnya, membiarkan layar itu menjadi gelap gulita, segelap pikirannya saat ini. Tubuhnya merosot pelan hingga ia terduduk di atas kursi kayu panjang yang ada di tengah ruangan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan dengan frustrasi.
'Nyari jalan lain lagi...'
Kalimat dari pesan ibunya itu terus terngiang, bergema, dan memantul di dinding tengkoraknya. Bagi orang biasa, kalimat itu mungkin terdengar seperti rencana alternatif. Tapi bagi keluarga miskin seperti mereka, 'nyari jalan lain' memiliki makna yang sangat spesifik dan mengerikan. Itu artinya bapaknya akan pergi ke rumah Pak Haji Somad, lintah darat di kampung mereka, untuk meminjam uang dengan bunga yang mencekik leher. Atau lebih buruk lagi, ibunya akan kembali berbohong bahwa ia sudah kenyang agar jatah nasinya bisa dimakan oleh Gina, adiknya.
"Argh," erang Alan tertahan, suaranya parau, teredam oleh telapak tangannya sendiri. Rasa bersalah menghantam dadanya bertubi-tubi. Ia bekerja dari pagi buta untuk kuliah, lalu dilanjut bekerja di kafe hingga nyaris tengah malam setiap harinya, mengorbankan masa mudanya, waktu tidurnya, bahkan harga dirinya. Namun, mengapa semuanya masih terasa kurang? Mengapa kemiskinan seolah menjadi kutukan yang tak kunjung terputus dari garis keturunannya?
Tanpa disadari Alan, sejak sepuluh detik yang lalu, pintu ruang loker telah sedikit terbuka. Bang Hendri berdiri di ambang pintu, berniat menyusul Alan untuk menanyakan ketersediaan sirup vanilla di gudang. Namun, melihat punggung Alan yang bergetar dan layar ponsel yang sempat menyala terang di tangan pemuda itu, Bang Hendri sempat membaca sekilas isi pesan menyayat hati tersebut sebelum Alan mematikan layarnya.
Pria bertubuh tegap itu terdiam. Hatinya mencelos melihat rapuhnya gunung es yang selama ini dikenal paling tegar di kafenya. Dengan langkah sepelan kucing, Bang Hendri masuk ke dalam ruangan. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia melangkah mendekat, lalu menjatuhkan bokongnya di sebelah Alan, duduk di kursi kayu panjang yang sama.
Lantai papan ruangan itu sedikit berderit karena tambahan beban dari Bang Hendri.
Alan, yang sedang tenggelam dalam pusaran keputusasaan dan merasa sedang sendirian di ruangan itu, seketika tersentak hebat. Ia menoleh ke samping dengan gerakan patah-patah yang sangat cepat, matanya terbelalak lebar mendapati bosnya sudah duduk bersila tepat di sebelahnya, memegang secangkir kopi yang asapnya mengepul pelan.
Bang Hendri yang melihat reaksi berlebihan Alan justru ikut terkejut hingga sedikit melompat di kursinya, kopinya nyaris tumpah.
"Anjing! Sialan lu, Lan, bikin gue jantungan aja!" umpat Bang Hendri spontan, memegangi dadanya yang berdebar kencang. "Gue kira lu kesurupan demit loker gara-gara noleh patah-patah gitu!"
Alan buru-buru menegakkan tubuhnya, matanya mengerjap panik. Ia segera mengusap kasar sudut matanya yang sedikit berair dengan lengan kemejanya. Ia memaksakan sebuah tawa hambar, mencoba menutupi kesedihan yang masih tergambar jelas di raut wajahnya.
"Eh.. ma.. maaf, Bang," ucap Alan dengan suara yang terbata-bata dan sedikit serak. Ia mencoba tersenyum, namun senyum itu terlihat sangat menyedihkan. "Habisnya Abang jalannya ngambang kayak hantu, tahu-tahu udah duduk aja di sini gak ada suaranya."
Bang Hendri mendengus pelan. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas bangku kosong di sebelahnya. Pria dewasa itu menatap lurus ke dinding loker yang catnya mulai mengelupas di hadapan mereka. Ia tidak menanyakan apa yang Alan tangisi, ia tidak menyinggung soal pesan WhatsApp itu, ia tahu betul bagaimana cara menjaga harga diri seorang pria yang sedang terluka.
Dengan gerakan santai, Bang Hendri merogoh saku belakang celana jeans-nya. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tertutup rapat, lalu menyerahkannya ke depan dada Alan.
Alan menunduk, menatap amplop cokelat itu dengan bingung. "Ini... apa, Bang?"
"Ini gajian lu, ditambah bonus buat bulan ini," jawab Bang Hendri datar, masih menatap lurus ke depan.
Kening Alan semakin berkerut. Ia tidak segera menerima amplop itu. Ia justru menatap Bang Hendri dengan pandangan tak mengerti. "Tapi kan jadwal gajiannya baru besok lusa, Bang? Terus... bonus buat apaan, Bang? Perasaan bulan ini gue banyak mecahin gelas pas shift malam, gue juga sering telat masuk lima menit kalau dosen sore sering ngaret. Gue gak pantas dapet bonus."
Bang Hendri seketika menoleh, menatap Alan dengan raut wajah kesal yang dibuat-buat. Ia mendecakkan lidahnya keras.
"Ya terserah gue dong, cerewet amat lu jadi karyawan," sungut Bang Hendri sambil menyodorkan amplop itu lebih paksa ke tangan Alan. "Kafe-kafe siapa? Yang punya siapa? Yang tanda tangan struk transfer siapa? Ya gue lah! Mau gue kasih gajian sekarang, besok, atau tahun depan, ya itu hak prerogatif gue sebagai sultan kafe ini."
Bang Hendri tertawa renyah, sebuah tawa yang ia sengaja buat untuk mencairkan ketegangan di bahu Alan. "Udah, lu jangan banyak protes kayak emak-emak nawar kangkung di pasar. Lu terima aja gaji lu sama bonusnya ini. Lu jangan banyak nanya dapet dari mana atau karena apa. Ini rezeki lu buat bulan ini, rezeki yang dititipin Tuhan lewat laci kasir gue. Kalau lu nolak, sama aja lu nolak rezeki dari atas."
Alan perlahan menerima amplop tebal itu. Jari-jarinya menyentuh permukaan kertas cokelat kasar tersebut. Ia bisa merasakan bahwa ketebalan amplop ini jauh melebihi dari gaji pokok yang biasa ia terima setiap bulannya. Ini bukan sekadar uang bonus biasa. Ini adalah jawaban dari doa-doanya sepuluh menit yang lalu. Ini adalah uang SPP Gina, obat asma bapaknya, dan tambahan modal untuk gorengan ibunya. Semuanya ada di genggaman tangannya sekarang.
Tenggorokan Alan mendadak tercekat sangat kuat. Pertahanan emosional yang sejak tadi ia bangun dengan susah payah akhirnya hancur berkeping-keping. Gunung es itu runtuh. Kepalanya tertunduk dalam-dalam hingga dagunya menyentuh dada. Ia meremas pinggiran amplop itu sekuat tenaga, menahan tubuhnya yang mulai gemetar.
Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya jebol. Satu tetes, dua tetes, meluncur jatuh dari sudut matanya, membentur permukaan lantai papan kayu di bawah kakinya. Pria itu menangis dalam diam, tanpa suara isakan, hanya tetesan air mata yang mengalir deras membawa serta beban dunia dari pundaknya.
"Makasih banyak, Bang," lirih Alan dengan suara bergetar hebat, nyaris tak terdengar. Suaranya pecah, dipenuhi oleh keputusasaan yang akhirnya menemukan kelegaan. "Makasih banyak udah bantuin gue... gue yang cuma gembel, gue yang bukan siapa-siapa di sini. Gue gak tahu lagi gimana harus ngebalas kebaikan Abang."
Mendengar ucapan merendahkan diri dari Alan, raut wajah Bang Hendri berubah total. Tawanya lenyap tanpa sisa. Rahangnya mengeras. Ia menggeser duduknya, memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadap Alan.
"Lan," panggil Bang Hendri, kali ini suaranya rendah, dalam, dan dipenuhi oleh ketegasan yang tak terbantahkan. "Angkat kepala lu."
Alan ragu-ragu mengusap wajahnya, lalu perlahan mengangkat kepalanya, menatap mata bosnya dengan pandangan nanar.
"Lu dengerin gue baik-baik, Lan," ucap Bang Hendri sambil menunjuk tepat ke dada Alan. "Lu jangan pernah ngomong kayak gitu lagi di depan gue. Lu bilang lu bukan siapa-siapa? Lu pikir gue nolongin lu karena gue kasihan lihat lu miskin?"
Alan terdiam, tak berani menjawab.
Bang Hendri menarik napas panjang, matanya menerawang menembus dinding, seolah melihat kepingan masa lalunya sendiri. "Gue juga awalnya bukan siapa-siapa, Lan. Lu pikir gue lahir langsung punya kafe gede di Dago, punya anak buah tiga puluh dua orang? Enggak, Bro. Lulus SMA, bapak gue bangkrut, ibu gue kabur ninggalin utang. Gue jadi gelandangan di kota ini. Gue tidur beralaskan kardus kulkas bekas di emperan ruko Cihampelas, kedinginan sampai tulang gue rasanya mau patah tiap malam."
Suara Bang Hendri mulai bergetar, namun matanya memancarkan keteguhan baja. Ia kembali menatap mata Alan dalam-dalam. Nasihat yang meluncur dari bibirnya setelah itu adalah kalimat-kalimat yang akan terukir abadi di hati Alan hingga puluhan tahun ke depan.
"Gue yang seorang gelandangan, gue tahu betul rasanya dianggap sampah sama orang yang lewat. Tapi tahu apa yang paling gue benci saat itu, Lan? Gue paling benci menerima rasa kasihan dari orang lain. Karena saat orang ngasih gue recehan karena kasihan, mereka memandang gue dari atas ke bawah, merendahkan derajat gue sebagai manusia. Orang miskin itu gak butuh kasihan, Lan. Kita butuh kesempatan. Kita butuh orang yang percaya kalau kita bisa bangkit."
Bang Hendri menepuk keras amplop di tangan Alan. "Dan saat ini, lu adalah investasi gue, Lan. Gue ngasih bonus ini bukan buat ngerendahin lu pakai rasa kasihan. Gue ngasih ini karena gue ngelihat diri gue sendiri di dalam diri lu. Bedanya, lu jauh lebih hebat dari gue. Saat gue dulu nyaris menyerah sama hidup, lu justru mati-matian banting tulang buat keluarga lu di kampung. Lu kerja shift ganda, lu dimaki pelanggan, lu nahan lapar, tapi IPK lu tetap yang tertinggi di kelas kan? Gue tahu semuanya, Lan."
Mata Alan semakin memanas, air matanya terus mengalir tak terkendali mendengarkan setiap kalimat Bang Hendri yang seolah menguliti jiwanya.
"Lu nanya ke diri lu sendiri, buat apa semua penderitaan ini?" lanjut Bang Hendri, suaranya sedikit meninggi. "Sekarang gue tanya balik ke lu. Lu hidup buat siapa? Demi siapa? Dan harus untuk apa? Lu bukan bukan siapa-siapa, Alan! Bagi bapak sama ibu lu di kampung, lu itu dunia mereka. Lu pahlawan mereka. Punggung lu yang sekarang pegel-pegel ngangkat nampan kotor tiap hari ini, adalah tulang punggung yang nyanggah atap rumah lu biar gak rubuh nimpa adik lu! Lu itu harapan satu-satunya bagi keluarga lu buat memutus rantai kemiskinan sialan ini!"
Bang Hendri mencengkeram kedua bahu Alan dengan kuat, menyalurkan energinya. "Jadi, gue mohon sama lu. Terima uang itu, pakai buat bayar SPP adik lu, beliin bapak lu obat, dan pakai buat beli makanan yang layak buat lu sendiri. Karena gue yakin, seyakin-yakinnya... dengan tekad lu yang sekeras batu karang ini, roda nasib lu pasti berputar, Lan. Dan pasti, suatu saat nanti pas lu udah ada di atas, lu juga bakal berdiri di posisi gue, ngebantu seseorang yang posisinya hampir sama kayak elu sekarang. Gue jamin itu."
Bang Hendri melepaskan cengkeramannya, lalu menatap Alan dengan tatapan seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. "Jadi, lu jangan ngomong lagi di depan gue kalau lu itu bukan siapa-siapa di sini. Paham lu?!"
Napas Alan tersengal. Dada pemuda itu terasa mau meledak oleh luapan emosi yang luar biasa. Haru, rasa syukur, semangat yang kembali menyala, dan rasa hormat yang begitu besar bercampur aduk menjadi satu. Ia menunduk mencium amplop cokelat itu, air matanya menetes membasahi kertasnya.
"Paham, Bang," isak Alan dengan suara pecah. "Terima kasih banyak, Bang... terima kasih banyak udah percaya sama gue. Gue janji gak bakal ngecewain Abang, gue janji bakal angkat derajat keluarga gue."
"Bagus. Laki-laki itu dinilai dari seberapa cepat dia bangkit setelah jatuh, bukan dari seberapa sering dia menangis." Bang Hendri tersenyum puas, menepuk pelan puncak kepala Alan.
Pria itu kemudian mengambil cangkir kopinya kembali dan berdiri dari kursi kayunya, merapikan celemeknya. Ia bersiap untuk kembali ke area depan kafe yang pasti sudah mulai menumpuk pesanan kembali.
Namun, sebelum langkah kakinya mencapai ambang pintu, Bang Hendri menghentikan gerakannya. Ia terdiam sejenak, menolehkan wajahnya sedikit ke belakang tanpa sepenuhnya membalikkan badan. Ada satu hal lagi yang mengganggu pikirannya tentang Alan hari ini, sesuatu yang jauh lebih rumit daripada urusan finansial. Sesuatu tentang sorot mata pemuda ini siang tadi saat menanyakan nama seorang gadis.
"Lan," panggil Bang Hendri memecah kesunyian.
Alan yang masih menenangkan isakannya mendongak, mengusap hidungnya. "Iya, Bang?"
Bang Hendri menarik napas pendek. Ia bukan seorang pujangga, tapi ia telah melihat banyak pria hancur bukan karena kemiskinan, melainkan karena salah memilih tempat untuk menyandarkan hati. Ia harus memberikan peringatan sebelum gunung es yang baru retak ini salah arah.
"Jangan terlalu terpesona melihat indahnya bulan yang bersinar di atas langit, Lan," ucap Bang Hendri pelan, membiarkan setiap katanya meresap. "Bulan itu memang indah dari jauh, tapi dia ada di tempat yang terlalu tinggi, dingin, dan terkadang cahayanya tertutup oleh awan hitam yang tak bisa lu singkirkan. Jangan sampai lu terus menatap ke atas sana mengejar bulan..."
Bang Hendri menjeda kalimatnya, membayangkan sosok gadis sederhana berbaju flanel yang tadi sore pulang dengan mata memerah.
"...tanpa coba lu lihat lampu jalanan yang selama ini ada di dekat lu, yang selalu setia menerangi setiap langkah kaki lu di jalanan yang gelap tanpa pernah lu minta."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan loker itu. Alan mematung. Matanya yang masih sedikit basah berkedip perlahan. Otaknya yang sangat cerdas dalam ilmu akuntansi mendadak melambat loading ketika dihadapkan pada analogi sastra dadakan dari bosnya ini. Bulan? Langit? Lampu jalanan? Apa hubungannya dengan uang SPP dan masa depannya?
"Gimana, Bang?" tanya Alan polos, keningnya berkerut rapat. "Maksud Abang... bulan apa?"
Mendengar respons bodoh dari pemuda jenius di belakangnya itu, Bang Hendri memutar bola matanya malas. Ia merutuki dirinya sendiri karena mencoba sok puitis di depan pria yang kepekaannya sudah mati suri terkubur buku besar akuntansi dan beban hidup.
Dengan cepat, Bang Hendri membalikkan badannya dan mengubah raut wajahnya menjadi kesal, menutupi kiasan tajamnya barusan dengan kebohongan spontan yang masuk akal.
"Enggak, itu... maksud gue nanti lu tolong ganti lampu bohlam di luar jalan depan pintu kafe," elak Bang Hendri cepat, meracau tak jelas sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar. "Soalnya yang sekarang udah mulai redup cahayanya, kayaknya mau putus. Entar pelanggan malah kesandung pot bunga gue depan teras gara-gara gelap. Lu ngerti kan maksud gue?"
Alan yang otaknya sangat rasional langsung menerima penjelasan logis tersebut tanpa curiga sedikit pun. Ia bernapas lega, mengira ia disuruh membersihkan atap kafe atau semacamnya. Ia segera memasukkan amplop cokelat itu ke dalam tasnya dan berdiri tegak.
"Oh, lampu depan ya, Bang? Siap, Bang! Nanti habis shift kelar langsung gue ambil tangga di gudang sekalian gue ganti bohlamnya."
Bang Hendri hanya bisa menghela napas panjang melihat kelurusan jalan pikiran Alan. "Terserah lu lah, Lan. Yaudah buruan cuci muka sana, muka lu jelek banget kalau habis nangis. Habis itu balik ke bar, bill meja nomor delapan belum dibikinin."
Bang Hendri pun melangkah keluar meninggalkan ruang loker, menggeleng-gelengkan kepalanya. Di dalam hatinya ia hanya bisa membatin, 'Bohlam depan kafe emang terang, Lan. Tapi hati perempuan yang lo sia-siain di meja tadi, jauh lebih berharga dari sekadar lampu jalan. Semoga aja lo sadar sebelum lampu itu bener-bener mati dan lo terjebak dalam kegelapan yang lo buat sendiri.'
Di dalam loker, Alan segera mencuci mukanya di wastafel kecil di sudut ruangan. Air dingin yang membasuh wajahnya menyapu sisa-sisa kesedihan, digantikan oleh sebuah tekad yang menyala begitu terang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kusam. Mata yang tadinya meredup karena keputusasaan kini kembali tajam bagai elang. Nasihat Bang Hendri telah membangunkannya. Ia memang bukan siapa-siapa sekarang, tapi ia akan memastikan bahwa di masa depan, tidak akan ada satu orang pun yang berani meremehkan keluarganya.
Alan merapikan kerah celemeknya, mengikat tali apronnya dengan kuat, lalu melangkah keluar dari ruangan loker dengan langkah tegap, siap menghadapi kerasnya dunia untuk yang kesekian kalinya. Ia berjalan melewati meja yang tadi diduduki sahabat-sahabatnya. Matanya sempat melirik sebentar ke kursi kosong tempat Rahmi biasa duduk.
Tiba-tiba, tanpa ia mengerti alasannya, kiasan aneh Bang Hendri tadi kembali terlintas di kepalanya.
'Lampu jalanan yang setia menerangi jalanan...' batin Alan mengulang kalimat itu.
Namun, bukannya menyadari makna tersirat di baliknya, Alan malah menatap lampu gantung di atas meja tersebut dengan dahi berkerut, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri. "Perasaan lampu kafe ini terang-terang aja, Bang Hendri aja matanya yang udah mulai rabun kali."
Dengan pemikiran polos itu, Alan kembali ke balik mesin espresso, meracik kopi dan merajut kembali masa depannya, tanpa sadar bahwa ia telah melewatkan dua hal paling penting malam ini: kepergian seorang gadis yang hatinya hancur karenanya, dan peringatan bahwa bulan yang ia kagumi suatu hari nanti akan membakar tangannya sendiri. Babak baru kehidupannya perlahan mulai bergulir, diiringi denting gelas kaca dan rahasia-rahasia hati yang belum terucap.