NovelToon NovelToon
Ketika Perjalanan Mempertemukan Kembali Yang Belum Selesai

Ketika Perjalanan Mempertemukan Kembali Yang Belum Selesai

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:868
Nilai: 5
Nama Author: nita.mamitha

Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.

Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.

Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan yang Tidak Langsung Terlihat

Tidak ada yang benar-benar berubah… setidaknya, tidak di awal.

Semuanya masih terlihat sama.

Arka masih menjemput Nara tanpa diminta.

Masih mengirim pesan “udah makan?” di waktu yang sama.

Masih tahu kapan Nara butuh ditemani… bahkan sebelum Nara mengatakannya.

Dan Nara

masih menunggu.

Masih tersenyum saat melihat nama Arka muncul di layar ponselnya.

Masih merasa… ini adalah sesuatu yang layak dipertahankan.

Tapi beberapa perubahan tidak datang dengan suara.

Mereka datang pelan

dan seringkali, terlambat disadari.

“Lo lagi sibuk ya?”

Pesan itu Nara kirim sore hari.

Biasanya, Arka akan membalas dalam hitungan menit.

Atau paling lama… setengah jam.

Tapi hari itu, satu jam berlalu.

Lalu dua jam.

Tidak ada balasan.

Nara mencoba tidak berpikir macam-macam.

Mungkin dia lagi kerja.

Mungkin lagi rapat.

Dia meletakkan ponselnya, mencoba fokus pada tugas di depannya.

Tapi tetap saja… matanya sesekali melirik layar.

Kosong.

Baru malam harinya, pesan itu dibalas.

“Iya, tadi agak hectic. Kenapa?”

Singkat.

Tidak seperti biasanya.

Nara menatap layar beberapa detik.

Biasanya, Arka akan menambahkan sesuatu.

Candaan kecil.

Atau pertanyaan balik yang lebih hangat.

Tapi kali ini… terasa datar.

“Gapapa,” balas Nara akhirnya.

“Cuma nanya.”

Pesan itu terkirim.

Dan tidak dibalas lagi.

Hal kecil.

Sepele.

Tapi cukup untuk meninggalkan rasa yang tidak nyaman.

“Lo kenapa?”

Arka duduk di samping Nara, seperti biasa. Tapi hari itu, Nara tidak banyak bicara.

“Kenapa apanya?” tanya Nara.

“Dari tadi diem.”

Nara menggeleng.

“Lagi capek aja.”

Arka mengangguk.

Biasanya, dia akan memaksa Nara bercerita.

Atau setidaknya… mencoba menghiburnya.

Tapi hari itu, dia hanya diam.

Seperti tidak punya energi untuk lebih jauh.

Dan itu… terasa asing.

Mereka masih bertemu.

Masih tertawa.

Tapi ada sesuatu yang mulai hilang.

Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan… tapi terasa jelas.

“Lo ngerasa nggak sih… kita agak beda sekarang?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Malam itu, mereka duduk di tempat biasa. Tapi suasananya tidak sama.

Arka mengernyit.

“Beda gimana?”

Nara menatapnya.

“Ya… beda aja.”

Jawaban yang tidak jelas.

Tapi justru itu yang paling jujur.

Arka menghela napas pelan.

“Lo overthinking.”

Nara tersenyum tipis.

“Semoga.”

Arka tidak menjawab.

Dan itu… bukan jawaban yang Nara harapkan.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.

Tapi “biasa” itu terasa berbeda.

Pesan-pesan mulai lebih singkat.

Pertemuan tidak lagi sesering dulu.

Dan ketika mereka bersama… ada jarak kecil yang tidak bisa dijelaskan.

Bukan jarak fisik.

Tapi sesuatu yang lebih dalam.

“Gue lagi banyak pikiran,” kata Arka suatu hari.

Mereka berdiri di parkiran, bersiap pulang.

“Kenapa?” tanya Nara.

Arka menggeleng.

“Biasa. Kerjaan.”

Nara menatapnya lama.

Dulu, “biasa” bukan jawaban untuk mereka.

Dulu, Arka akan cerita.

Sekarang… tidak.

“Lo bisa cerita,” kata Nara pelan.

Arka tersenyum kecil.

“Iya, nanti ya.”

Nanti.

Kata yang sederhana… tapi sering berarti tidak pernah.

Nara mulai menyadari sesuatu.

Bahwa yang berubah bukan hanya kebiasaan.

Tapi juga cara mereka saling membuka diri.

Dan itu… lebih menakutkan dari apa pun.

Malam itu, Nara duduk sendiri di kamarnya.

Ponsel di tangannya.

Layar chat dengan Arka terbuka.

Terakhir online: beberapa menit yang lalu.

Tapi tidak ada pesan untuknya.

Padahal dulu…

dia tidak perlu menunggu.

Nara menarik napas panjang.

Jarinya mengetik sesuatu

“Kita baik-baik aja kan?”

Dia menatap kalimat itu lama.

Lalu… menghapusnya.

Karena kadang, pertanyaan seperti itu hanya akan membuka sesuatu yang belum siap dihadapi.

Kereta kembali membawa Nara ke masa sekarang.

Dia menatap lurus ke depan, mencoba menahan sesuatu yang mulai terasa berat di dadanya.

Di sampingnya, Arka masih diam.

Seperti seseorang yang tahu… tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Dan Nara sadar

retakan itu tidak pernah benar-benar terlihat saat pertama kali muncul.

Mereka kecil. Halus. Hampir tidak terasa.

Sampai akhirnya… semuanya sudah terlalu jauh untuk diperbaiki.

Nara menutup mata sejenak.

Menghela napas pelan.

Karena sekarang dia tahu…

yang paling berbahaya bukanlah saat hubungan itu hancur

tapi saat semuanya masih terlihat baik-baik saja…

padahal perlahan sedang runtuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!