NovelToon NovelToon
Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Transmigrasi
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.

Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.

Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.

Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Komandan yang mendengar laporan anak buahnya hanya mengerutkan kening, tampak bingung.

"Desa Mati... tempat yang terkenal angker dan tak berpenghuni ini, ternyata masih ada orang yang berani tinggal sendirian?" gumamnya pelan, memandang arah gubuk reyot itu dengan tatapan menelisik.

Siapapun orangnya, berani hidup sendirian di tempat yang ditinggalkan penduduknya sejak lama menunjukkan bahwa orang itu bukan orang sembarangan—atau mungkin memang sudah tidak punya tempat lain untuk pergi.

"Sudahlah," ucap Komandan itu akhirnya dengan nada tegas. "Jika memang rumah itu masih ditempati, jangan diganggu. Kita hanya singgah sementara, tidak perlu menimbulkan masalah atau menyinggung orang lokal. Biarkan saja."

Ia tidak ingin meresahkan penduduk atau membuat keributan di tempat asing.

Setelah memberi perintah, Komandan itu berbalik dan berjalan menuju sebuah kereta kuda mewah yang berdiri gagah di tengah lapangan. Kereta itu terbuat dari kayu berkualitas tinggi dengan ukiran halus, ditarik oleh dua ekor kuda putih yang tampak perkasa.

Ia mengangkat tangan dan mengetuk pintu kereta dengan pelan dan penuh hormat.

Tok.. tok.. tok..

"Ada apa?"

Suara berat dan sedikit serak terdengar dari dalam kereta. Nada bicaranya tenang namun memancarkan wibawa yang membuat orang di depannya merasa segan.

"Melapor kepada Tuan Muda," jawab Komandan itu dengan membungkuk sedikit."Kami menemukan sebuah rumah yang kondisinya masih layak huni. Ternyata ada seseorang yang tinggal di sana—sepertinya seorang tunawisma atau orang yang memilih hidup menyendiri. Tidak terlihat berbahaya."

Suara di dalam kereta terdengar hening sejenak, lalu berkata, "Kalau begitu jangan ganggu dia. Kita cukup mendirikan tenda di sini saja."

"Baik, Tuan Muda."

Namun, seorang prajurit yang berdiri di samping Komandan tiba-tiba menyela dengan suara rendah, "Tuan Komandan, Tuan Muda... jika boleh saya sampaikan. Rumah itu meskipun terlihat tua dari luar, bagian dalamnya sangat bersih dan terawat. Udara di sana juga segar. Kondisinya jauh lebih baik daripada mendirikan tenda di tanah berdebu. Mungkin akan lebih baik jika Tuan Muda beristirahat di sana agar lebih nyaman."

Prajurit itu menatap penuh harap. Yang ia maksudkan tentu saja adalah rumah tempat Shen Yu tinggal tadi.

Komandan itu terdiam, sepertinya sedang mempertimbangkan saran tersebut.

Di dalam kereta, sang pemilik suara pun tampak berpikir sejenak.

"Hmm... rumah yang bersih di tempat seperti ini?" gumam pria di dalam kereta itu. "Baiklah. Kalau begitu, pergilah tanya dengan sopan pada pemiliknya. Jika dia mengizinkan, kita akan menumpang sebentar untuk beristirahat."

"Pemiliknya sepertinya sedang tidak ada di rumah, Tuan," kata prajurit itu dengan cepat. "Mungkin dia sedang pergi mencari makan atau kayu bakar ke dalam hutan..."

Komandan itu mengangguk-angguk mengerti. "Begitu ya. Baiklah, kamu pergilah ke sana dan berjaga di depan pintu. Jika pemiliknya pulang, sampaikan permintaan kami dengan sopan dan minta izin untuk menumpang istirahat sebentar. Jangan bersikap kasar."

"Siap! Mengerti!" Prajurit itu mengangguk patuh, lalu segera berbalik dan berjalan cepat kembali menuju gubuk Shen Yu, siap menjalankan tugasnya.

Sementara itu, di dalam Ruang Ajaib...

Shen Yu sedang duduk santai di sebuah kursi malas yang ia taruh tepat di halaman depan supermarket. Di tangannya terdapat sekaleng minuman bersoda dingin yang masih mengeluarkan uap dingin.

Sruuut...

"Ahh... segarnya," desisnya puas.

Namun, perhatian utamanya saat ini tertuju pada sebuah layar transparan yang melayang di udara tepat di depannya. Layar itu dengan jelas menampilkan pemandangan di luar rumahnya—bahkan hingga ke lapangan tempat rombongan besar itu berkumpul.

Ia menyimak kembali percakapan yang baru saja terjadi: Komandan yang baik hati, prajurit yang usil menyarankan agar tuanya menumpang di rumahnya, dan sekarang... ada penjaga yang sudah berdiri tegak di depan pintu rumahnya menunggu pemiliknya pulang.

Wajah Shen Yu berubah menjadi serius. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

"Bagaimana ini..." gumamnya bingung.

Secara logika, jika ia keluar sekarang, ia harus berpura-pura menjadi tunawisma yang miskin dan pendiam. Tapi melihat kondisi rumahnya yang sekarang benar-benar kosong melompong karena semua barang modern sudah ia masukkan kembali, sepertinya tidak ada yang mencurigakan.

Tapi... perasaan waspadanya berteriak keras.

Orang-orang itu membawa banyak prajurit bersenjata, ada kereta mewah, dan ada sosok 'Tuan Muda' yang mereka layani dengan sangat hormat. Itu tandanya mereka adalah orang-orang penting—mungkin dari kalangan bangsawan atau militer.

Bersentuhan langsung dengan tipe orang seperti itu sangat berisiko. Salah bicara sedikit saja, nyawanya bisa melayang.

"Tapi kalau aku tidak keluar sampai malam, mereka mungkin akan mendobrak pintu atau curiga," batin Shen Yu berpikir keras.

Ia menatap layar itu lagi, melihat prajurit yang berjaga di depan pintunya dengan wajah tegas.

"Sial... harus bagaimana? Keluar atau tetap sembunyi?" Shen Yu benar-benar buntu. Situasi ini jauh lebih menegangkan daripada adegan pertarungan di novel yang biasa ia baca.

Matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan, menggantikan cahaya terang dengan kegelapan malam. Suhu udara di Desa Mati pun ikut turun drastis, membuat suasana semakin dingin dan mencekam.

Khek... khek... khek...

Suara batuk yang tertahan terdengar samar-samar dari dalam kereta kuda mewah itu. Suaranya terdengar lemah dan menyakitkan—jelas sekali bahwa orang di dalamnya sedang tidak sehat.

Di depan pintu rumah Shen Yu, prajurit yang berjaga sudah mulai gelisah. Ia memandang jalan setapak yang gelap dan kosong berkali-kali. Tidak ada bayangan sosok manusia pun yang terlihat pulang.

"Tidak mungkin sampai malam begini belum pulang juga..." gumam prajurit itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali melapor.

Ia berjalan cepat mendekati Komandan dan membungkuk hormat.

"Melapor Tuan! Sudah malam tapi pemilik rumah itu belum juga kembali. Sepertinya dia memang tidak ada di sini malam ini."

Wajah Komandan berubah cemas. Ia melirik ke arah kereta, di mana suara batuk itu semakin terdengar jelas dan sering.

Di dalam kereta, Tuan Muda itu memegangi dadanya, napasnya tersengal hebat. Kereta yang ia tumpangi memang terlihat mewah, namun penutup sampingnya tidak rapat. Angin malam yang menusuk tulang dengan bebas menerobos masuk, membuat tubuhnya yang sedang sakit semakin kedinginan.

"Khek... khek... dingin..." bisiknya pelan, tubuhnya gemetar hebat di balik selimut tebal.

Mendengar batuk tuanya yang semakin parah, Komandan itu menjadi sangat bingung dan khawatir.

"Tubuh Tuan Muda sudah tidak kuat menahan dingin lagi..." gumamnya tegang. "Jika tetap di sini di dalam kereta, kondisinya bisa makin memburuk."

Ia menatap rumah kayu itu lagi. Pintu terkunci rapat, tidak ada cahaya lampu sama sekali.

"Karena pemiliknya tidak ada dan kita dalam keadaan darurat..." Komandan itu akhirnya mengambil keputusan berat. Matanya menyala tegas. "Buka pintunya perlahan! Kita masuk sebentar saja demi keselamatan Tuan Muda! Jika nanti pemiliknya pulang, aku sendiri yang akan meminta maaf dan memberi ganti rugi!"

"Siap, Tuan!"

Para prajurit segera bertindak. Mereka tidak mendobrak dengan kasar, hanya membuka gembok sederhana itu dengan hati-hati.

Suasana di dalam Ruang Ajaib menjadi hening seketika.

Shen Yu yang masih duduk di kursi malas sambil memegang kaleng cola itu kini menegang sempurna. Matanya terbelalak menatap layar pantauan di depannya.

"Heh?! Mereka mau masuk?!"

Ia melihat bagaimana para prajurit itu membantu seorang pria muda yang tampak lemah turun dari kereta dan berjalan menuju rumahnya.

Melihat situasi di layar yang semakin genting, Shen Yu tidak bisa tinggal diam lagi. Jika ia membiarkan mereka masuk dan mencari-cari, besar kemungkinan mereka akan curiga dengan kondisi rumah yang bisa berubah-ubah ini.

"Oke, oke! Tenang Shen Yu! Ada jalan keluarnya!"

Ia buru-buru berdiri, memusatkan pikirannya. Kali ini ia tidak meminta untuk muncul di dalam kamar, melainkan di pinggir hutan yang cukup jauh dari desa.

Wush!

Dalam sekejap, Shen Yu sudah berdiri di antara pepohonan yang rimbun. Udara malam yang dingin langsung menerpa wajahnya.

Dengan cepat ia mengambil sebuah keranjang bambu besar dari Ruang Ajaib. Ia memasukkan beberapa sayuran segar, akar-akaran, dan beberapa buah liar yang sebenarnya ia ambil dari rak sayur supermarket—tapi disusun sedemikian rupa agar terlihat seperti baru dipetik dari hutan.

"Siap! Peran: Pemuda tunawisma yang baru pulang mencari makan!"

Shen Yu menarik napas panjang, mengatur ekspresi wajahnya menjadi datar, sedikit lesu, dan terlihat biasa saja. Ia tidak mau terlihat panik atau mencurigakan.

Dengan langkah yang tenang namun pasti, ia berjalan keluar dari balik pepohonan dan menuju arah Desa Mati.

Di dekat rumahnya, suasana sedang tegang. Para prajurit baru saja berhasil membuka gembok pintu, dan Komandan sedang membantu Tuan Muda yang tubuhnya gemetar kedinginan untuk mendekat.

"Tuan, pelan-pelan..."

"Tidak apa-apa... kita masuk saja..." suara Tuan Muda itu terdengar lemah dan serak.

Tepat saat mereka hendak melangkah melewati ambang pintu, tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan malam.

"Ehm..."

Semua orang tersentak kaget dan langsung menoleh ke sumber suara.

Di bawah cahaya obor yang menerangi area itu, terlihat sesosok pemuda kurus dengan rambut panjang yang diikat sederhana, berjalan perlahan sambil membawa keranjang besar di tangannya.

Pemuda itu berjalan dengan santai, seolah tidak melihat ada ratusan prajurit bersenjata yang sedang berkumpul di halaman rumahnya.

Itu adalah Shen Yu.

Ia berhenti beberapa langkah di depan mereka, menatap satu per satu orang itu dengan tatapan bingung yang ia perankan sebaik mungkin.

"Maaf... kalian... siapa?" tanyanya pelan, suaranya terdengar agak serak dan pendiam—sesuai citra 'orang bodoh' dan penyendiri yang ingin ia bangun.

Jantungnya berdegup kencang di dalam dada, tapi wajahnya berusaha tetap tenang.

Permainan dimulai sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!