Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05
...~•Happy Reading•~...
Menjelang siang, belum ada tanda-tanda Rafael keluar dari kamar. Mama Juano jadi khawatir, sehingga telpon suaminya untuk melapor.
Setelah mendapat persetujuan suaminya, Mama Juano masuk ke kamar. Ia terkejut melihat Rafael masih tidur di atas karpet. Mama Juano mendekat untuk memeriksa kondisinya dengan menepuk bahu beberapa kali. "Rafa, bangun."
Rafael membuka mata perlahan. Setelah terkumpul kesadaran, matanya terbelalak melihat Mama Juano. Sontak dia bangun, duduk. "Pagi, Bu."
"Ini sudah siang. Mari bangun." Ucapan Mama Juano membuat Rafael melihat ke arah tempat tidur Juano.
"Juan sudah pergi sekolah."
"Maaf, Bu. Tadi pagi baru bisa tidur. Ini pertama kali tidur di luar rumah..." Rafael menjelaskan, kenapa tidak bisa tidur.
"Tidak apa-apa. Mari bangun makan. Nanti istirahat lagi." Mama Juano langsung keluar dari kamar.
Rafael berdiri, merapikan karpet lalu keluar kamar. Dia terkejut saat melihat hari sudah sangat terang, hingga memicingkan mata.
"Ini sudah hampir jam 12, jadi tidak usah sarapan. Langsung makan siang saja." Mama Juano menunjuk piring di atas meja.
"Terima kasih, Bu." Rafael menunduk sopan. Dia merasa tidak enak, bangun siang di hari pertama tinggal dalam keluarga Juano.
"Makan sekenyangnya, ya." Mama Juano mendorong lauk pauk ke depannya, sebab melihat Rafael ragu dan malu. "Terima kasih, Bu."
"Selesai makan kita bicara sebentar, ya." Mama Juano coba mencairkan suasana yang kaku dan formal.
"Iya, Bu." Mama Juano ikut makan, agar Rafael terbiasa dengan kondisi dalam rumah.
"Rafa, tadi malam Papa Juan sudah kasih tahu, Rafa akan tinggal di sini sampai ada informasi dokumen yang dicuri."
"Iya, Bu. Saya minta ijin." Ucap Rafael pelan.
"Tidak apa-apa. Anggap saja ini rumah sendiri." Ucap Mama Juano yang sudah mendengar penjelasan suaminya tentang kebenaran Rafael dirampok.
"Ada beberapa hal yang perlu dibicarakan, agar Rafa bisa menganggap seperti rumah sendiri." Ucap Mama Juano lagi. Rafael jadi serius melihatnya.
"Begini, kalau Rafa tinggal di sini, akan sering bertemu dengan yang lain. Mungkin Rafa sudah mengetahui sedikit tentang Juan dan Laras."
"Sekarang saya mau tambahkan sedikit tentang kedua anak kami itu, terutama Laras. Sifatnya tidak seperti Juan. Dia agak kasar dan emosian, kalau ada sesuatu tidak seperti yang dia inginkan."
"Semua itu, mungkin karena dia masih muda sudah diberikan tanggung jawab besar di kantor. Dia baru selesai kuliah, diterima kerja dan mendapatkan tekanan pekerjaan, juga persaingan teman kantor."
"Jadi kalau dia bicara kurang sopan atau bersikap kasar, Rafa jangan masukan ke hati. Anggap saja dia adikmu yang rewel..." Mama Juano menjelaskan sifat Laras yang kadang tidak mengenakan hati.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa." Rafael berkata dengan hati lega, sebab mengira Mama Juano tidak mengijinkan dia tinggal.
"Kalau cara hadapi Laras, nanti tanya sama Juan. Supaya suhu air mendidih di dapur tidak pindah ke ruangan lain." Mama Juano coba bercanda.
"Iya, Bu. Terima kasih." Rafael jadi mengerti. Dia harus menemukan cara yang baik, agar suasana dalam rumah tetap kondusif.
Baginya, sikap kurang sopan atau kata-kata kasar Laras tidak sebanding dengan perlindungan yang dia terima dari keluarga Juano.
Setelah berbicara dengan Mama Juano, Rafael mulai belajar menyesuaikan diri. Dia bantu membersihkan halaman atau apa saja yang bisa dikerjakan untuk membantu orang tua Juano.
Seperti membersihkan mobil Papa Juano tanpa diminta, sebagai rasa terima kasih.
~••
Dua hari kemudian ; Tiba akhir pekan pertama Rafael di rumah orang tua Juano. "Pagi Kak Rafa, mau ikut jalan pagi?" Juano bertanya saat melihat Rafael sudah bangun dan melipat karpet.
"Pagi, Juan. Mau jalan pagi ke mana?" Tanya Rafael sambil mengembalikan bantal Juano.
"Kami biasa jalan pagi di komplek ini, Kak."
"Oh, hari ini libur?"
"Iya, Kak. Papa dan Kak Laras juga libur kerja. Jadi biasanya kami jalan pagi..." Juano menjelaskan rutinitas yang mereka lakukan di sabtu pagi.
"Oh, boleh." Rafael setuju ikut, karena dia harus menyesuaikan diri dan tidak bisa terus hindari Laras dengan berada di kamar.
"Asyeeek. Ayo, Kak. Kita maju di depan." Ucap Juano penuh semangat.
"Sebentar. Saya cuci muka dan sikat gigi dulu." Rafael tertular semangat Juano.
"Saya sudah, Kak."
"Pantas kau sudah tampan." Ucapan Rafael membuat Juan tertawa senang.
Setelah Rafael selesai ganti, mereka keluar kamar. "Papa, Juan dan Kak Rafa duluan, ya. Kami mau lari." Teriak Juano sambil menarik tangan Rafael, agar tidak bertemu kakaknya.
"Apa tidak sama-sama saja, Juan?"
"Kita duluan saja, Kak. Nanti Juan dilarang berlari sama Kak Laras."
"Ok." Rafael pakai sepatu saat dengar jawaban Papa Juano mengiyakan dari dalam.
"Kak, tunggu, ya." Juano berlari ke belakang ambil botol air mineral.
"Minum dulu, Kak. Supaya kita kuat lari." Rafael tersenyum lihat wajah ceria Juano.
Ketika tiba di jalan, Rafael terkejut melihat banyak orang tua, muda, besar kecil sedang berjalan dan juga berlari. "Apa setiap sabtu seperti ini?" Rafael berbisik kepada Juano.
"Iya, Kak. Kalau udara cerah dan tidak hujan, seperti ini. Rame, seruuu..." Juano makin senang.
"Oh, ok. Mari kita gerakan badan pelan dulu." Ucap Rafael sambil menggerakan tangan dan kaki. Juano mengikuti gerakan pemanasan Rafael sebelum lari mengitari jalan komplek.
Ketika mereka mulai melewati beberapa anak muda yang sedang berlari di seberang jalan, mulai terdengar suara riuh. "Pagi Juan." Sapa sekelompok anak muda bagaikan paduan suara.
"Pagi kakak cantik dan tampan." Jawab Juano sambil melambai, tapi terus berlari mengikuti Rafael.
"Tumben lari, nih. Biasanya jalan semut." Tiba-tiba suara riuh di belakang mereka.
"Eh, kenapa kakak-kakak pindah ke sini?"
"Emang gak boleh ikut pemandangan tampan?" Jawab seorang gadis. Juano tidak menjawab. Rafael hanya bisa menggeleng dalam hati, sebab mengerti yang terjadi di belakang.
"Siapa teman larinya, Juan. Kenalin dong." Terdengar suara nakal wanita lain.
"Kakak cantik, ayo lari. Jangan ganggu kakak Juan."
"Oh. Kakak Juan, siapa namanya." Rombongan di belakang makin panjang berlari mengikuti. Rafael terus berlari seakan tidak dengar percakapan Juano.
"Juan, makan bubur, yuukkk. Kakak traktir..." Suara makin ramai dengan canda tawa.
Tanpa mereka sadari, orang tua Juano dan Laras ada berjalan cepat di belakang mereka. "Coba lihat itu. Pagi pagi sudah tebar pesona." Ucap Laras, sebal.
Mama dan Papanya tersenyum dan saling melirik mendengar komentar Laras. "Mereka hanya mau lari sehat. Rombongan gadis-gadis itu yang tidak tahan pesona mereka. Jadi ikut seperti bebek di sawah." Papa Juano menahan senyum.
"Kau juga, sana ikut lari dengan Juan dan Rafa. Jangan jalan dengan kami." Mamanya mengusulkan sambil mendorong pundaknya.
"Mama gak khawatir lihat mereka? Sebentar lagi taman di depan rumah jadi tempat arisan gadis-gadis itu." Ucap Laras, lalu berjalan balik. Dia kesal melihat tingkah para gadis yang terus cari perhatian Rafael.
...~•••~...
...~•○♡○•~...