Perempuan bernama Angel yang tengah kecelakaan kini meninggalkan jasadnya dan menjadi hantu, dia diberi kesempatan untuk mengumpulkan 3 tetes airmata orang yang tulus mencintainya selain keluarga kandungnya.
"Itu gampang, aku akan mendapatkan nya dengan muda" Jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Bagus jika seperti itu, dapatkanlah".
Angel dengan semangat untuk mendatangi orang-orang yang dia cintai namun dia lah yang mendapat kan kejutan tak terduga.
Akankah Angel bisa hidup kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Senja(Angel) bergegas pulang kerumah senja tetapi sebelumnya dia mengambil beberapa uang dari kamarnya untuk membelikan perempuan yang dia gunakan tubuhnya ini makanan yang sehat dan bahan makanan, dia sangat prihatin melihat apa yang dimakan olehnya tadi.
Dia harus bergegas karena gadis ini akan terbangun dari tidurnya dan dia akan kesulitan nantinya.
Setelah sampai dirumah, dia bergegas memasukkan bahan makanan itu kedalam kulkas yang hanya berisi air mineral dingin.
Setelah semuanya selesai dia bergegas berbaring seperti saat gadis itu tertidur agar dia tidak curiga.
Benar saja saat dirinya berbaring kemudian keluar dari tubuh Senja ternyata Senja yang asli telah bangun dari tidurnya dan menatap sekelilingnya dengan sedikit bingung.
Sedangkan Angel kini telah duduk dan memandang gadis itu dengan dalam seperti memikirkan sesuatu.
"Sepertinya dia lebih tua dariku". Cicit Angel dalam hati.
Senja berjalan menuju kulkas karena ingin mengambil air mineral dingin kemudian menatap isi kulkasnya yang banyak bahan makanan.
"Siapa yang membeli ini? ". Tanyanya pada diri sendiri.
Angel yang berada di belakangnya meringis seketika mendengar perkataannya itu,
" Dia pasti kebingungan melihat semua itu".
Gadi itu menghela nafas dan segera mengambil bahan makanan itu untuk dibersihkan karena akan busuk jika dibiarkan.
Setelah semuanya bersih, dia memasukkannya kedalam kulkas sebagian dan sisanya dimasak untuk makan malam dirinya, setelah itu dia bersiap untuk mandi karena dia akan bekerja sift malam setelah ini.
Ya dia bekerja di dua tempat, dia bekerja pagi jam 7 hingga jam 12 siang setelah itu dia masuk kerja lagi tepat pukul 7 malam hingga jam 12 malam.
Rutinitas itu selalu dijalaninya setiap hari seperti air tanpa ada aktivitas lain selain membeli makanan untuknya.
Setelah semuanya selesai, dia berjalan keluar diikuti oleh Angel dari belakang.
Gadis itu sangat penasaran dengan pekerjaan perempuan ini, wajahnya tak memiliki senyum sama sekali seakan dirinya mengalami hal yang sangat buruk selama ini.
"Apa dia tidak lelah bekerja seperti ini?, dia terlalu banyak bekerja". Monolog Angel yang berada di samping Senja itu.
Sejak tadi dia memperhatikan aktivita Senja yang terasa berat baginya, selama ini dia bekerja semaunya saja karena perushaan itu miliknya walau seperti itu dia tetap profesional.
Setelah pukul 12 malam, Keduanya akhirnya pulang kerumah Senja, setelah Senja tidur, Angel kembali melaksanakan aksinya untuk mengambil alih tubuh gadis itu.
"Aku harus kerumah sakit, jangan sampai lelaki penghianat itu melakukan hal yang tidak-tidak kepada tubuhku, dia bisa saja nekat". Ucapnya sambil bergegas kerumah sakit.
Sesampainya disana, benar saja, lelaki sialan itu berada di ruangannya memasang tampang tidak berdosa dihadapan kedua orangtuanya.
"Dasar sialan". Makinya dalam hati.
Dia berjalan masuk kedalam ruangan tetapi sebelumnya dia mengetuk pintu.
"Permisi om, tante". Ucapnya sambil berdiri di depan pintu.
Keempat orang yang berada didalam ruangan Angel langsung menoleh kearahnya.
Kedua orangtua Angel itu langsung berbinar melihat kedatangannya sedangkan kedua anak muda itu mengkerut kan keningnya melihatnya karena tidak mengenali dirinya.
"Dasar manusia penghianat". Umpatnya dalam hati menatap tajam keduanya.
Wajahnya langsung tersenyum lebar melihat kedua orangtua Angel itu mendekati dirinya.
"Nak senja, kamu datang? ". Tanya ibu Angel dengan sangat senang.
Entah mengapa dia merasakan kenyamanan yang tidak biasa pada gadis ini sejak dirinya bertemu dengan dirinya kemarin seperti ada perasaan rindu yang tidak bisa dia jelaskan.
"Bagaimana keadaannya tante? , sudah ada perkembangan? ". Tanyanya dengan ramah.
"Belum ada nak, kamu mau melihatnya? ". Tanyanya dengan senyuman lembut.
Senja mengangguk kemudian menggandeng tangan sang ibu dengan senyuman tanpa memperdulikan kedua orang yang sejak tadi memperhatikan dirinya dengan keheranan.
"Om". Sapanya dengan senyum sendu.
"Iya nak, mendekatlah". Jawabnya menggerakkan tangannya memanggil Senja kearahnya.
Kedua parubayah itu sudah berdiskusi saat Senja pulang kemarin, mereka merasakan hal yang berbeda pada gadis itu entah apa itu tapi mereka sangat nyaman.
Senja memeluk parubayah itu dengan senyuman lembut, interaksi itu disaksikan oleh kedua anak muda itu dengan heran, keduanya tidak pernah berinteraksi dengan mereka semua dengan sangat hangat seperti itu.
Senja(Angel) mengelus kepala tubuh Angel yang terbaring diranjang itu, dia meringis pelan melihat keadaan tubuhnya sendiri.
"Cepat sembuh dan baikan, kasihan kedua orang tua kamu, mereka sangat sedih". Ucapnya dengan suara bergetar.
Kedua parubayah itu menunduk sedih, hati mereka begitu merasakan ketulusan yang diucapkan gadis itu kepada anaknya.
Senja(Angel) berbalik kemudian mengelus pundak keduanya, dengan senyum menenangkan.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan nya, dia pasti akan baik-baik saja, walau dia manja dia anak yang sangat kuat".
Tangis Amelia sang ibu langsung pecah, dia memeluk Senja dengan menangis pilu, sedangkan Senja juga langsung menangis dan meneteskan airmata nya.
Hatinya terasa amat sakit melihat betapa terlukanya kedua orangtuanya saat ini.
"Dia akan baik-baik saja kan nak? ". Tanyanya dengan suara pecah bergetar dengan tangis.
"Tante yang sabar, aku yakin Angel sedang berjuang untuk kembali pada kita, tante dan om harus yakin itu, kalian harus kuat dan sehat agar bisa merawat Angel sampai dia sadar dan sembuh nanti". Senja mengelus belakang punggung sang ibu berusaha menguatkan
Hutama hanya bisa ikut menangis mengelus pundak sang istri untuk memberinya dukungan padahal dirinya sendiri sedang rapuh.
"Lebay banget, Angel saja belum mati, bagus juga dia koma, aku bisa melancarkan aksi ku untuk mempengaruhi ayahnya agar menyerahkan perushaan sepenuhnya padaku, aku akan membiarkan dia fokus pada kesehatan Angel dengan begitu aku bisa mengganti semua aset menjadi namaku". Ucapnya dalam hati dengan senyum licik.
Senyum itu tak luput dari penglihatan senja, dia tersenyum sinis melihat senyuman miring dari Erwin itu.
"Kau tidak akan mendapatkan apapun Erwin, aku pastikan itu".
Sedangkan Mentari hanya berdiri disana dengan tatapan kosong, sejujurnya dia merasakan sesuatu yang berbeda entah apa itu, dia seakan menyesali, takut kehilangan ".
Pelukan itu terlepas keduanya sama-sama menghapus air mata masing-masing.
"Jangan sedih tante, tante harus kuat untuk Angel".
Amelia sang ibu hanya bisa mengangguk pelan berusaha untuk tersenyum agar gadis didepannya tidak khawatir.
Angel berjalan menuju kedua anak muda itu, tatapannya sangat tajam seakan ingin memakan keduanya, dia mengepalkan tangannya dan bersiap untuk mengangkat tangannya untuk menampar keduanya tetapi alarm pada kalungnya memerah tanda peringatan.
Dia menghela nafas, dia tidak boleh bertindak gegabah, jangan sampai kesempatannya hangus percuma karena emosi sesat.
"Tenang Angel, jangan lakukan itu, kamu akan balas mereka setelah kamu hidup nanti". Monolognya dalam hati.
"Oh kalian ternyata, aku pikir kalian tadi adalah sepasang kekasih yang sedang menjenguk Angel". Ucapnya dengan sarkas