"Setelah 17 tahun pernikahan, Wulan Hartati baru mengetahui bahwa anak tiri yang selama ini ia sayangi bagaikan anak kandungnya sendiri ternyata adalah anak dari suaminya, Arif dan selingkuhannya, Siti Aminah!
Wulan pun menuntut cerai saat itu juga dan beranjak dari rumah bak neraka itu dengan tangan kosong. Mantan suami dan orang-orang di sekelilingnya meremehkannya, dan menghina kalau dirinya tak akan bisa hidup di luar sana.
Namun, Wulan kembali dengan tamparan keras! Tak hanya sebagai CEO sebuah bisnis kuliner tetapi juga istri dari seorang Mayor Angkatan Darat, beserta ketiga anaknya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Wulan berdiri di depan pintu masuk pasar Kramat ketika suara itu memanggil namanya sekali lagi, lebih jelas dari sebelumnya.
“Wulan!”
Kali ini ia langsung berhenti.
Ia menoleh perlahan, matanya menyapu deretan lapak, hingga akhirnya berhenti pada seorang wanita di balik meja pakaian.
Wanita itu tersenyum, matanya menyipit sedikit seperti sedang memastikan.
Wulan melangkah mendekat, alisnya sedikit berkerut. Ia merasa mengenal wajah itu, tetapi ingatannya tidak langsung menyambung.
Wanita itu tidak menunggu.
“Kamu benar Wulan, kan?”
Nada suaranya ringan, tetapi penuh kepastian.
Wulan berhenti tepat di depan lapak. Ia menatap lebih lama, memperhatikan garis wajah, cara berdiri, bahkan cara tersenyum.
Lalu sesuatu tersambung.
“Lestari?” suaranya pelan, hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Senyum wanita itu melebar.
“Akhirnya kamu ingat juga.”
Wulan tidak langsung bicara.
Perubahan di depan matanya terlalu besar.
Dalam ingatannya, Lestari adalah gadis kecil yang kurus, bahunya sempit, langkahnya ringan karena terlalu sering menahan lapar. Rambutnya selalu diikat seadanya, seragamnya lusuh, dan wajahnya hampir tidak pernah benar-benar cerah.
Ia ingat satu kejadian dengan jelas.
Siang hari, setelah jam pelajaran selesai, ia pernah melihat Lestari duduk di tepi kolam belakang sekolah. Wulan mengira ia sedang bermain, sampai ia melihat Lestari menunduk dan meneguk air kolam dengan tangan.
Hari itu, tanpa banyak bicara, Wulan membagi makan siangnya.
Setengah untuk dirinya.
Setengah untuk Lestari.
Setelah itu, kebiasaan itu berulang.
Tanpa kesepakatan.
Tanpa kata terima kasih berlebihan.
Hanya dilakukan.
Dan selesai.
Namun sekarang—
Wanita di depannya berdiri tegak, tubuhnya sehat, pakaiannya rapi dan mengikuti tren kota. Bahkan cara ia mengatur barang dagangan menunjukkan pengalaman, bukan sekadar mencoba.
“Kamu benar-benar berubah,” kata Wulan akhirnya.
Lestari tertawa kecil.
“Kamu juga. Cuma kamu tidak sadar.”
Wulan tidak menjawab.
Ia sadar perubahan dalam dirinya tidak terlihat dari luar.
Lestari mengambil satu jaket tebal dari gantungan, mengibaskannya sedikit untuk merapikan lipatan.
“Kamu cocok pakai ini,” katanya, lalu langsung menyerahkannya.
Wulan refleks mundur sedikit.
“Tidak perlu—”
“Aku tidak tanya,” potong Lestari ringan, tetapi tegas. “Aku kasih.”
Wulan menggeleng.
“Aku tidak bisa terima gratis.”
Lestari berhenti sebentar, menatapnya.
“Masih sama,” gumamnya.
Ia berpikir sejenak, lalu menghela napas.
“Baik. Kamu bayar harga modal.”
“Berapa?”
“Rp 15.000.”
Wulan langsung mengambil uang dari dompetnya tanpa menawar. Ia menyerahkannya dengan cepat, seolah ingin menjaga batas yang jelas.
Lestari menerima, tetapi tidak berhenti di situ.
Ia mengambil kantong plastik, memasukkan jaket itu, lalu tanpa berkata apa-apa menambahkan tiga pasang kaus kaki.
Wulan melihatnya.
“Aku sudah bayar.”
“Ini bukan baju,” jawab Lestari singkat. “Ini yang aku mau kasih.”
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk ditolak.
Wulan tidak melanjutkan.
Saat itu juga, beberapa pembeli datang mendekat. Mata mereka tertarik pada pakaian yang tergantung rapi.
Lestari langsung bergerak.
Ia mengambil ukuran, menunjukkan model, menjawab pertanyaan dengan cepat dan jelas. Gerakannya efisien, tidak ada waktu terbuang.
Dalam beberapa menit, lapak itu menjadi ramai.
Wulan berdiri di samping, memperhatikan.
Kemudian, tanpa diminta, ia ikut bergerak.
Ia mengambil pakaian yang diminta, menghitung uang, memberikan kembalian. Tangannya bekerja otomatis, seperti saat ia mengurus rumah—cepat, tepat, tanpa kesalahan.
Lestari meliriknya sebentar, lalu melanjutkan pekerjaannya tanpa komentar.
Kerja sama itu terjadi begitu saja.
Tidak direncanakan.
Namun berjalan lancar.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Satu jam.
Dua jam.
Langit mulai berubah warna.
Di sela-sela jeda singkat, Lestari berkata, “Aku sudah cerai.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa pembukaan.
Wulan berhenti sepersekian detik.
“Kenapa?” tanyanya.
“Dia selingkuh.”
Tidak ada penjelasan tambahan.
“Lalu?” tanya Wulan.
“Aku pergi.”
Sederhana.
Lestari melipat pakaian, memasukkannya ke dalam kantong, menerima uang dari pelanggan berikutnya.
“Aku ambil bagianku, pulang ke Bandung, mulai dari nol lagi.”
Nada suaranya stabil.
Tidak ada sisa luka.
“Kamu tidak takut?” tanya Wulan.
Lestari menoleh.
“Takut apa?”
“Hidup sendiri.”
Lestari tersenyum tipis.
“Aku bisa kerja. Selama aku tidak malas, aku tidak akan mati kelaparan.”
Kalimat itu jatuh ringan.
Namun bagi Wulan, beratnya berbeda.
Ia tidak menjawab.
Tangannya tetap bekerja, tetapi pikirannya bergerak ke arah lain.
Sore berganti malam.
Lampu pasar menyala satu per satu.
Akhirnya, ketika pembeli mulai berkurang, Lestari menarik napas panjang.
“Hari ini lumayan,” katanya.
Ia menoleh ke Wulan.
“Ayo makan. Aku traktir.”
Wulan membeku.
Arif.
Ia langsung melihat sekeliling.
Sudah gelap.
“Aku harus pulang,” katanya cepat.
Ia melepas diri dari pekerjaan itu, mengambil kantongnya.
“Lain kali.”
Lestari mengangguk.
“Jangan lama-lama hilang lagi.”
Wulan tidak menjawab. Ia langsung berbalik dan masuk ke dalam pasar, membeli bahan dengan cepat.
Ketika ia membuka pintu rumah, suasana di dalam sudah berat.
Joko duduk di kursi, wajahnya gelap.
“Kamu dari mana?” tanyanya tanpa basa-basi.
Wulan belum sempat menjawab.
“Bu.”
Suara Arif datang dari samping.
Wulan menoleh.
Arif berdiri, lebih tinggi dari terakhir kali ia ingat. Tatapannya langsung turun ke kantong plastik di tangan Wulan.
“Apa itu?”
“Baju.”
Arif berjalan mendekat, langsung mengambil kantong itu. Ia mengeluarkan bajunya, melihatnya dari depan ke belakang.
“Beli?”
“Iya.”
“Berapa?”
“Rp 15.000.”
Keheningan hanya berlangsung satu detik.
“Apa?!” suara mereka berdua langsung naik.
Joko berdiri.
“Kamu pikir uang itu jatuh dari langit?” bentaknya.
Wulan diam.
Arif mengangkat jaket itu sedikit lebih tinggi.
“Kamu bahkan tidak kerja,” katanya dingin. “Buat apa beli beginian?”
Setiap kata jelas.
Tidak ragu.
Tidak tertahan.
Wulan menatapnya.
Joko melanjutkan, “Kamu tahu berapa biaya hidup sekarang? Kamu tidak pernah pikir!”
Rp 15.000.
Angka itu kembali muncul.
Bertabrakan dengan angka lain.
Rp 15.000.000.
Wulan tidak bicara.
Arif menghela napas pendek, lalu berkata dengan nada merendahkan, “Lihat badanmu.”
Wulan tidak bergerak.
“Kamu sebesar ini,” lanjutnya, menatap tanpa menyembunyikan penilaian, “pantas pakai baju semahal ini?”
Tidak ada yang menghentikannya.
Tidak ada yang membela.
Kalimat itu jatuh, dan tidak ditarik kembali.
Ruangan menjadi sunyi.
Wulan berdiri di tengahnya.
Perlahan, sesuatu di dalam dirinya berubah.
Bukan ledakan.
Bukan amarah.
Tetapi sesuatu yang lebih dingin.
Lebih jelas.
Ia mengangkat kepala.
Menatap Arif.
Lama.
Cukup lama hingga Arif sendiri mulai tidak nyaman.
Lalu akhirnya, Wulan berbicara.
Suaranya pelan.
Tetapi tidak goyah.
“Kalau aku tidak pantas,” katanya, “siapa yang pantas?”
Tidak ada yang menjawab.
Namun kali ini—
Wulan tidak menunduk.
ᴅɪʙᴀᴡᴀ ᴋ ᴋɪsᴀʜ ᴊᴀᴍᴀɴ ᴅᴀʜᴜʟᴜ ᴅɪ ʙᴀɴᴅᴜɴɢ...
ᴋᴇʀᴇᴇᴇᴇᴇɴɴñ ᴛʜᴏʀ.... 😍😍😍