NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Om Duda

Di Jodohkan Dengan Om Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:36.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Mia Novita

Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan sarah

Arkan tidak membawa Zia pulang ke rumah utama. Ia tahu Sarah memiliki akses atau setidaknya tahu seluk-beluk keamanan di sana. Dengan gerakan cepat, ia mendudukkan Zia di kursi penumpang mobil SUV miliknya yang lain.bukan sedan yang tadi pagi.lalu melesat melintasi jalanan Jakarta yang masih padat.

“Kita mau ke mana?” tanya Zia dengan suara serak. Ia masih memeluk tas sekolahnya erat-erat, seolah itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki.

"Tempat aman. Jangan banyak tanya dulu," jawab Arkan pendek. Rahangnya mengeras, fokusnya terbagi antara jalanan dan spion tengah, memastikan tidak ada yang mengikuti.

Villa Rahasia: Pukul 21:00 WIB

Mereka tiba di sebuah hunian modern minimalis di pinggiran kota yang rimbun dengan pepohonan. Tempat itu sunyi, jauh dari gangguan SCBD. Arkan menggenggam tangan Zia masuk ke dalam rumah yang terasa hangat karena sistem pemanas otomatisnya.

“Duduk di sini,” Arkan menunjuk sofa beludru di ruang tengah. Ia pergi ke dapur sejenak dan kembali membawa kotak P3K serta segelas susu hangat.

Zia hanya diam memperhatikan Arkan. Pria itu kini duduk di lantai, tepat di depan kaki Zia, mulai membersihkan luka di tangannya sendiri dengan alkohol. Ia meringis kecil, namun matanya tetap dingin.

“Kenapa Om nggak lapor polisi saja?” tanya Zia pelan.

Arkan mendongak. "Polisi butuh proses lama, Zia. Sarah punya koneksi. Kalau aku mau menghancurkannya, aku harus melakukannya dengan caraku sendiri,sampai dia tidak punya celah untuk bangkit lagi."

Zia menatap tangan Arkan yang terluka. Tanpa sadar, ia mengambil kapas dari tangan Arkan. " sini, aku bantu."

Arkan tertegun. Ia membiarkan gadis remaja itu mengobati lukanya dengan gerakan canggung namun hati-hati. Keheningan yang tercipta kali ini tidak mencekam seperti di lift, melainkan terasa... intim.

"Om..." Zia memulai, matanya fokus pada luka di tangan Arkan. "Apa yang Kak Sarah maksud dengan saham itu? Apa dia benar-benar sesakit itu sampai ingin mencelakai Om?"

Arkan menghela nafas, menyandarkan punggung pada kaki sofa. "Dia merasa memiliki hak atas perusahaan karena dia menemaniku di tahun-tahun awal berdiri. Padahal, dia pergi saat perusahaan hampir bangkrut dan kembali saat aku sudah di puncak. Dia bukan hanya ingin uang, Zia. Dia ingin mengendalikan. Dan melihatmu ada di sampingku... itu menghancurkan keinginan untuk kembali masuk ke dalam hidupku seumur hidupnya."

Zia berhenti mengobati tangan Arkan. "Jadi aku ini... benar-benar tameng buat Om?"

Arkan menarik tangan Zia, menggenggamnya dengan lembut. Matanya menatap langsung ke manik mata Zia. "Awalnya, mungkin iya. Aku berpikir menikahi gadis polos sepertimu akan membuat Sarah berhenti menggangguku. Tapi aku salah."

Arkan mendekat, memangkas jarak. "Melihatmu ketakutan di lift tadi... membuatku sadar kalau aku tidak sedang menggunakanmu. Aku sedang mencoba menjagamu dari dunia yang seharusnya tidak pernah kamu lihat."

tanpa terasa hari sudah semakin larut, Zia sudah tertidur di kamar tamu setelah membantu Arkana mengobati lukanya. Sementara itu, Arkan berdiri di balkon sambil memegang ponsel barunya. Ia menghubungi seseorang.

"Lakukan sekarang," ucap Arkan dingin ke seberang telepon. "Blokir semua akses perbankan Sarah yang masih terhubung dengan holding pusat. Kirim bukti sabotase lift tadi ke pengacaranya sebagai peringatan pertama. Jika dia tidak angkat kaki dari negara ini dalam 24 jam... publikasikan skandal penggelapan dana yang dia lakukan di Singapura tiga tahun lalu."

Arkan mematikan telepon. Ia baru saja akan masuk ke dalam saat melihat pintu kamar Zia terbuka sedikit.

Zia berdiri di sana dengan bantal kecil di wajahnya, mengenakan kaos kebesaran milik Arkan yang dipinjamkan tadi. "Om... aku tidak bisa tidur. Lampunya... bisa dinyalakan?"

Arkan tersenyum tipis, senyuman tulus yang jarang ia perlihatkan. Sifat "Rese"-nya muncul kembali sebagai bentuk pergeseran.

"Ternyata selain penakut, kamu juga manja ya, Bocil? Ya sudah, bawa bantalmu ke sini. Tidur di sofa ruang tengah, aku akan bekerja di meja sana sambil menjagamu."

"Beneran?" mata Zia bersuara.

"Iya. Tapi jangan ngigo manggil namaku ya. Aku nggak mau besar kepala," goda Arkan.

Malam itu, di tengah badai masalah yang mengancam karier dan nyawanya, Arkan menemukan kedamaian yang aneh hanya dengan melihat punggung Zia yang perlahan kembali terlelap di bawah pengawasannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi hari di vila itu terasa canggung. Sinar matahari yang hangat menembus jendela besar, namun suasana di meja makan terasa kaku. Arkan terus menatap layar ponselnya dengan kening berkerut, sementara Zia hanya mengaduk-aduk sereal tanpa nafsu makan.

“Om, ponselku mana?” tanya Zia memecah keheningan. "Aku mau telepon Mama. Perasaanku tidak enak."

Arkan terdiam sejenak sebelum meletakkan ponselnya. "Ponselmu rusak waktu lift kemarin, Zia. Nanti aku belikan yang baru."

“Tapi aku ingat aku taruh di tas, dan tasnya nggak jatuh,” bantah Zia curiga. "Om... Om menyembunyikan sesuatu?"

Baru saja Arkan hendak menjawab, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Nama yang muncul Mama Zia .

Arkan segera mengangkatnya dan menyalakan pengerasan suara.

"Halo, Tante? Ada apa?" tanya Arkan berusaha tenang.

"Arkan! Syukurlah kamu angkat!" suara Ibu Zia terdengar histeris di seberang telepon. "Tadi ada wanita bernama Sarah menelepon Mama. Dia bilang... dia bilang perusahaan Papa di ambang kehancuran karena ulahmu? Dan dia bilang Zia sedang dalam bahaya kalau tetap bersamamu! Apa yang terjadi, Arkan? Di mana anakku?!"

Zia menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak. Arkan memejamkan mata, mengutuk kelicikan Sarah yang menyerang titik terlemahnya, keluarga Zia.

"Tante, tenang. Zia aman bersamaku. Sarah hanya mencoba memanipulasi"

"Berikan ponselnya pada Zia!" potong Ibu Zia.

Arkan menyerahkan ponsel itu pada Zia dengan ragu. Zia segera menyambarnya. "Ma? Mama di mana? Aku nggak apa-apa, Ma!"

"Zia, dengar Mama. Wanita itu mengirimkan foto-foto Arkan yang sedang berkelahi dengan preman kemarin. Mama takut, Nak. Arkan bukan orang baik seperti yang kita kira. Dia terlibat dunia gelap! Mama sudah minta supir untuk menjemputmu di koordinat yang dikirim Sarah. Kamu harus pergi dari sana sekarang!"

Klik. Sambungan terputus.

Zia menatap Arkan dengan pandangan kosong. "Foto berkelahi? Sarah mengirim foto Om yang sedang menghajar orang di lift kemarin ke Mama?"

"Dia memutarbalikkan fakta, Zia. Dia membuatku terlihat seperti penjahat yang membahayakanmu," ucap Arkan mengecewakan. Ia berdiri, melangkah mendekat. "Zia, dengarkan aku—"

"Berhenti!" Zia mundur. "Mama benar. Sejak aku sama Om, hidupku jadi kacau. Ada preman, ada sabotase, ada wanita gila yang menerorku. Aku cuma mau jadi anak SMA biasa, Arkan! Bukan pion di permainan saham kalian!"

Tepat pada saat itu, suara deru mobil terdengar di halaman vila. Sebuah mobil hitam dengan plat nomor yang dikenal Zia sebagai mobil jemputan keluarganya telah tiba.

“Itu jemputanku,” ucap Zia lirih. Ia menyambar tasnya dan keluar berlari.

"Zia! Jangan keluar! Itu jebakan!" teriakan Arkan mengejar.

Namun, Zia sudah terlanjur membuka pintu depan. Jadi dia keluar, bukan supir keluarganya yang turun, melainkan dua pria berbadan tegap yang sama dengan pria di lift kemarin. Di kursi belakang, kaca jendela perlahan turun, menampilkan wajah Sarah yang tersenyum kemenangan di balik kacamata hitamnya.

"Halo, Sayang," sapa Sarah manis. "Ayo masuk. Mama kamu sudah menunggu di tempat yang 'aman'."

Zia mematung. Ia menyadari kesalahannya. Ia menoleh ke belakang, melihat Arkan yang berdiri di ambang pintu dengan menghancurkan yang hancur sekaligus penuh amarah.

“Jangan sentuh dia,” suara Arkan terdengar rendah, namun kali ini ada getaran luka di dalamnya. "Ambil semua sahamnya, Sarah. Ambil semuanya. Tapi biarkan dia pergi."

Sarah tertawa kecil. "Terlambat untuk negosiasi, Arkan. Sekarang, permainannya bukan lagi soal uang. Ini soal bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang paling berharga... tepat di depan matamu sendiri.

1
🤎Rahmaara⁴³💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Ini Arkana sudah pernah menikah ya
🤎Rahmaara⁴³💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ : penasaran aku kak😁
total 3 replies
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
pensiun jadi playgirl zia ada" aja ini ya luka lama memang susah untuk di lupakan apalgi luka itu sangat dalam
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
arka PD sekali ya yakin banget kalau zia akan langsung jatuh cinta saat nanti ketemu
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
tidak salah neneknya menyuruh Zia belajar masak karena usia segitu memang sudah sepantasnya untuk belajar memasak
Free Palestine 🇵🇸
ya jgn kasih kesempatan buat kang selingkuh👉👈
Free Palestine 🇵🇸
kalo ada kata2 peje jd inget malak d gc🙈🙈🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Free Palestine 🇵🇸
jalani az Zia...kalo kebanyakan mikir yg ada stress duluan...
delete account
sabar saja ya Zia bagiamana pun kamu tetap akan dinikahi dengan duda itu dan semoga minimal orangnya baik
delete account
kayak sudah tidak ada begini ya atau bisa didoakan
delete account
lagi lagi tidur bermimpi dan mimpi terlalu indah baginya
Free Palestine 🇵🇸
luka tak berdarah itu memang sangat menyakitkan
🏡s⃝ᴿ ѕ⍣⃝✰𝑰voᷠnͦeͮ𝐀⃝🥀࿐
Iya Zia tidak usah menghindar dan terima saja takdirmu.
ℛᵉˣʚɞ⃝🍀𝑬𝒓𝒊𝒛𝒂𝒀𝒖𝒖
pemikiran orang tua jaman dulu. anak cewek harus bisa masak. padahal ga bisa masak jg tetap bisa makan. wkwkwk
🏡s⃝ᴿ ѕ⍣⃝✰𝑰voᷠnͦeͮ𝐀⃝🥀࿐
Hahaha panggilan om dudanya keren,nyai roro kidul 😂🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔
ℛᵉˣʚɞ⃝🍀𝑬𝒓𝒊𝒛𝒂𝒀𝒖𝒖
wkwkwk tidur aja ada ga aman nya ya. tenang Zia, nanti sambung lagi tidurnya
ℛᵉˣʚɞ⃝🍀𝑬𝒓𝒊𝒛𝒂𝒀𝒖𝒖
kan hal yang paling menyenangkan itu ya tidur. apalagi bisa tidur pulas dimana aja, jarang-jarang bisa yang ada diomelin orang rumah
🏡s⃝ᴿ ѕ⍣⃝✰𝑰voᷠnͦeͮ𝐀⃝🥀࿐
Berpikir positif saja Zia siapa tau pernikahan keduamu kali ini bisa membahagiakanmu nantinya meskipun traumamu juga mendalam setidaknya itu akan luntur seiring berjalannya waktu.
Risa Virgo Always Beau
Elzia kaget mendengar Arka akan membawa Elzia bertemu kedua orang tua Arka
Risa Virgo Always Beau
Arka kamu pasti lagi berusaha merayu Zia
Risa Virgo Always Beau
Zia kamu di tegur gara gara cara berpakaian kamu tidak sopan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!