Bagaimana rasanya dibesarkan ayah tunggal yang kurang perhatian?
Hidup Eldrey adalah jawabannya.
Lahir dari latar adidaya, membuatnya tidak tahu arti keluarga. Terlebih dengan sepak terjangnya sebagai bekas orang rumah sakit jiwa, sosoknya pun jadi dipoles sedemikian rupa.
Namun dia tetaplah boneka. Cantik tapi tak bisa diraih perasaannya. Sampai pesonanya pun berhasil mengusik hati para lelaki yang tak dianggapnya.
Jadi, akankah para pemuja itu mampu meluluhkannya? Mengingat Eldrey ternyata menderita sakit mental dalam menjalani kehidupannya.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Alice
Hanya saja, tidak semuanya diceritakan Alice. Ia mengubah beberapa bagian cerita tentang pertemuannya dengan Eldrey.
Terlebih lagi, ia tidak bisa menceritakan kejadian cukup memalukan yang dialaminya saat pertama kali bertemu Eldrey. Bagaimanapun juga, Ramses adalah laki-laki, setidaknya begitulah yang ada dalam pikiran Alice.
Ramses yang mendengar kisah pertemuan mereka hanya mengangguk-angguk saja dan sesekali bertanya, tapi Eldrey cuma tersenyum simpul tak menanggapinya. Eldrey seolah-olah tidak peduli dengan cerita pertemuan mereka, karena ia lebih memilih fokus mengemudikan mobil.
Akhirnya, mereka sampai juga di depan gerbang rumah Ramses, sehingga Eldrey pun menghentikan laju mobilnya. “Apa kalian mau masuk dulu?” tanya Ramses.
“Tidak usah. Aku akan langsung pulang saja sama Rey, lain kali saja,” balas Alice.
“Ya sudah kalau begitu,” Ramses pun membuka pintu serta membelai rambut Alice sebelum keluar. Lalu ia menutup pintu mobil sambil tersenyum girang.
Ramses mendekati jendela mobil di sebelah tempat duduk Alice yang terbuka.
“Rey, terima kasih ya tumpangannya dan hati-hati di jalan," sahut Ramses sambil mencubit pipi Alice.
“Dasar! Apaan sih, sudah masuk sana!” ketus Alice dengan ekspresi geram.
Eldrey hanya menggangguk dan tersenyum, lalu ia pun mengemudikan mobilnya menjauh dari kediaman Ramses.
“Uugh! Tidak peduli berapa kali pun kulihat, dia benar-benar anak orang kaya ya,” ucap Alice sambil menghela napas keras.
“Kenapa? Ada yang aneh?” tanya Eldrey.
“Bagaimana bisa dia suka padaku? Kalau dia benar-benar jadi pacarku, kami akan terlihat seperti pasangan bebek betina dan angsa jantan nantinya."
“Jadi kamu menyukainya? Dia ganteng dan kaya, tidak ada ruginya bukan? Lahap saja,” Eldrey pun tertawa.
“Dasar mata duitan kamu Rey!” teriak Alice. Ia bahkan memukul bahu Eldrey dengan pelan.
“Siapa yang mata duitan? Aku cuma mengatakan kenyataan. Lagi pula apa gunanya berharap sama Dean kalau ada yang pasti kayak Ramses? Heh, dasar aneh,” balas Eldrey.
Alice pun menghela napas panjang, “kamu tahukan seperti apa perasaan serta hubunganku sama Dean? Memutuskannya tidak mudah. Aku tidak mau Ramses jadi pelampiasan. Lebih baik begini, jadi aku tidak akan kehilangan keduanya.”
“Cewek pemberi harapan palsu memang lebih egois ya,” ledek Eldrey sambil tertawa.
Ia pun melanjutkan, “kalau aku sih lebih pilih Ramses, bisa cuci mata sekalian. Kalau Dean yang ada mataku beku lihat tampangnya. Apa gunanya ganteng dingin begitu? Kalau jalan kayak manusia pakai pagar!” ejek Eldrey tak henti-hentinya.
Alice hanya menatap ke depan mendengar ocehan Eldrey. Ingin membantah tapi tidak ada gunanya, karena memang begitu kenyataannya. Dia hanya terus-terusan menghela napas panjang karena tidak sanggup lagi mendengar ocehan sang sahabat.
Eldrey pun meliriknya, “jangan terlalu bodoh karena cinta. Kalau rela ya lepaskan, kalau mau ya ambil saja. Lagi pula mereka belum menikah, tidak ada salahnya direbutkan? Kenapa menyiksa hati sendiri,” Eldrey tersenyum meledek.
“Rey, nasehatmu kenapa rata-rata sesat semua?!” Alice pun bergidik ngeri.
“Sesat? Aku tidak melihat jalan kesesatan dari kalimatku," lirih Eldrey yang mengundang gelengan kepala dari Alice.
Eldrey pun menghentikan laju mobilnya karena sudah memasuki halaman rumah Alice. Mereka berdua lalu turun dan menutup pintu mobil secara bersamaan.
“Liz, gendong aku ya,” rayu Eldrey.
“Jalan! Kalau tidak merangkak saja!” balas Alice. Ia pun tertawa sambil lari duluan ke depan pintu rumahnya untuk menghindari Eldrey yang mulai menggila.
Eldrey hanya tersenyum melihatnya, ia mengikuti Alice dengan langkah kaki yang santai.
Alice membuka pintu dan mereka berdua masuk ke dalam rumah. Sayangnya di sana, tak kelihatan satu pun batang tubuh manusia di dalam rumah kecuali mereka berdua, sehingga suasananya terasa sunyi dan sepi.
walaupun agak berat isi ceritanya...
sejauh ini cukup menghibur sekali
good job, Thor...?!
dah lah van, hancurkan aja semuanya
Mksih kak udah ubek ubek perasaanku di cuaca mendung ❤️❤️❤️,,
Jadi mager kan 🤭
nyesek sih bikin mereka pada kayak gitu, tapi itulah arti dari judulnya.
Jujur aku gak tahu gimana sensasi yg dirasakan readers saat membaca, tapi semoga kalian terhibur, maaf banget kalo aku bkin ny kadang kurang mendetail, takutnya trnyata risetku salah, atau takutnya ada mengandung unsur gimana2.
lain kali aku bakalan bkin novel yg gk tragis lagi deh, 👍🏿
oh ya ini IG otor 👉🏿 miqaela_isqa
Nantiin ya karya otor selanjutnya, genre romansa komedi sih, moga2 bab ny gak panjang 👍🏿 terus dukung ane y para readers, sampai jumpa lagi di bulan baru. Babay 🙌🏿😚
Tegang hati aku thor 😍