NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Langkah kaki Vivian bergegas menyusuri tangga darurat hotel, menghindari lift yang kemungkinan besar sudah diawasi oleh kaki tangan Charles atau aparat kepolisian. Napasnya memburu, memecah keheningan lorong beton yang dingin dan lembap. Di dalam cengkeraman tangannya yang gemetar, sebuah tas kulit murah yang ia beli terburu-buru dari toko kelontong di belakang hote terasa begitu asing. Tidak ada lagi tas desainer ratusan juta rupiah, tidak ada lagi kilau perhiasan berlian yang biasa menghiasi jemarinya. Demi membaur dengan kegelapan, ia harus menanggalkan seluruh identitas kemewahan yang selama ini menjadi kulit keduanya.

Di pintu keluar belakang yang menghadap ke gang sempit tempat pembuangan sampah, Vivian berhenti sejenak. Ia menarik tudung jaket parasit hitamnya rendah-rendah hingga menutupi sebagian wajahnya yang pias. Bau busuk sisa makanan dan genangan air hujan yang kotor menyengat indra penciumannya, membuatnya mual. Namun, ketakutan akan jeruji besi dan seringai kemenangan Charles Utama jauh lebih mengerikan daripada bau busuk ini.

"Saya tidak akan menyerah di sini. Tidak akan pernah," desisnya pada kegelapan malam.

Ia melangkah keluar, menerobos gerimis tipis Jakarta yang mulai turun. Di ujung gang, sebuah mobil taksi konvensional yang sengaja ia pesan tanpa aplikasi daring sudah menunggu. Vivian sengaja tidak menggunakan taksi daring atau menyewa mobil pribadi, karena ia tahu Charles mampu melacak transaksi digital dan GPS kendaraannya dalam hitungan menit. Di dunia yang dikuasai teknologi, uang tunai dan anonimitas adalah satu-satunya pelindung yang tersisa.

Perjalanan malam itu terasa seperti sebuah pelarian menembus labirin tanpa akhir. Vivian berulang kali meminta sopir taksi mengubah rute, memutari kawasan industri di pinggiran Jakarta, sebelum akhirnya turun di sebuah terminal bus antar-kota yang padat dan bising. Di sana, di tengah kepulan asap knalpot dan teriakan para kondektur, Vivian melebur. Ia membeli tiket bus kelas ekonomi menuju sebuah kota kecil di pesisir utara Jawa Barat tempat yang bahkan tidak pernah masuk dalam peta bisnis Utama Group.

Selama perjalanan yang memakan waktu berjam-jam di atas kursi bus yang keras dan beraroma pengap, Vivian tidak memejamkan mata sedikit pun. Otaknya yang cerdas terus bekerja, memetakan taktik bertahan hidup. Ia tahu Charles adalah pria yang sangat perfeksionis. Pria itu akan mencari ke bandara internasional, pelabuhan mewah, atau vila-vila milik keluarga Rahardja di Bali dan Puncak. Charles akan mengira Vivian melarikan diri dengan gaya seorang sosialita yang panik.

"Kau meremehkan aku, Charles," bisik Vivian, menatap pantulan dirinya yang kuyu di kaca bus yang buram. "Kau pikir aku hanya wanita manja yang menangis saat menaranya runtuh? Aku adalah seorang Rahardja. Jika aku harus merangkak di dalam lumpur untuk mengumpulkan kekuatanku kembali, maka akan kulakukan."

Ketika fajar mulai menyingsing, bus akhirnya tiba di sebuah kota nelayan kecil yang semi-terisolasi. Bau garam yang pekat dan gemuruh ombak menyambut kedatangan Vivian. Tempat ini bernama Muara Baru Kecil, sebuah perkampungan pesisir yang mayoritas penduduknya hidup dari hasil laut dan tidak pernah memedulikan berita tentang konglomerat Jakarta di televisi.

Di sinilah pelabuhan persembunyian Vivian dimulai.

Menggunakan nama samaran "Fani", ia menyewa sebuah kamar kos kecil berdinding papan di atas rawa-rawa bakau. Kamar itu hanya berisi sebuah kasur lantai yang tipis, sebuah lemari pakaian plastik, dan satu kipas angin gantung yang berderit bising setiap kali berputar. Kamar mandi yang berbau kaporit terletak di luar, harus berbagi dengan para pekerja pabrik pengolahan ikan setempat.

Bagi seorang Vivian Rahardja yang terbiasa tidur di atas kasur dengan helai benang sutra terbaik dan mandi dengan air hangat beraroma esensial lavender, tempat ini adalah neraka dunia. Pada malam pertama, ia duduk meringkuk di sudut kamar, menatap kecoak yang merayap di dinding dengan rasa jidat dan ngeri yang luar biasa. Air matanya sempat menetes, meratapi nasibnya yang jatuh begitu dalam dari menara kaca Utama Group.

Namun, setiap kali rasa kasihan pada diri sendiri itu muncul, bayangan wajah Andini yang polos dan tatapan dingin Charles yang protektif kembali membakar dadanya. Rasa hangat di dalam pelukan Charles untuk Andini yang sempat ia lihat sekilas di media, berubah menjadi bahan bakar kebencian yang luar biasa di dalam sanubari Vivian.

"Nikmatilah kedamaianmu selagi bisa, Charles. Peluk gadis kecilmu itu erat-erat," bisik Vivian, jemarinya mencakar permukaan kasur lantai yang kasar hingga kuku-kukunya yang tanpa cat warna itu memutih. "Karena dari tempat yang paling gelap ini, aku akan mengawasi kalian. Aku akan menunggu sampai kau lengah, sampai benteng perlindunganmu retak karena kelalaianmu sendiri."

Hari-hari berganti menjadi minggu di Muara Baru Kecil. Vivian benar-benar menjelma menjadi sosok yang tak kasat mata. Ia memotong rambut panjangnya yang indah menjadi potongan pendek sebahu yang tidak beraturan, dan berhenti menggunakan riasan wajah apa pun. Setiap hari, ia bekerja sebagai buruh pembukuan harian di sebuah gudang asin milik tengkulak lokal sebuah pekerjaan kasar yang menguras tenaga namun memberinya upah tunai yang tidak meninggalkan jejak digital sama sekali.

Pemilik gudang dan para nelayan hanya mengenal "Fani" sebagai seorang janda muda sebatang kara dari kota yang mencari peruntungan baru. Tidak ada yang menduga bahwa wanita yang dengan teliti menghitung ton ikan asin itu adalah mantan Direktur Utama dari salah satu anak perusahaan terbesar di negeri ini.

Setiap malam setelah pulang bekerja dengan tubuh yang berbau amis laut, Vivian akan duduk di dalam kamarnya yang remang-remang. Ia memiliki sebuah ponsel tiruan murah yang dibelinya tanpa kartu identitas resmi. Melalui koneksi internet publik di warung kopi seberang jalan, ia diam-diam memantau perkembangan berita di Jakarta.

Ia melihat berita tentang persidangannya yang ditunda karena statusnya yang dinyatakan Buron. Ia melihat bagaimana tim hukum Charles Utama terus menekan kepolisian untuk melacak keberadaannya. Namun, dari semua berita itu, tidak ada satu pun petunjuk yang mengarah ke kota nelayan kecil ini. Charles, dengan segala kecerdasan dan teknologi miliknya, telah kehilangan jejak. Vivian telah berhasil menguap bersama angin laut.

Vivian mematikan layar ponselnya, membiarkan kamarnya kembali dilingkupi kegelapan. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur tipis, menatap langit-langit kamar yang berlubang. Sambil mendengarkan suara deburan ombak di kejauhan, ia tersenyum licik. Keberadaannya mungkin telah terhapus dari duniaku yang lama, namun dendamnya tetap hidup, tumbuh subur di dalam kegelapan persembunyiannya seperti benih tanaman beracun yang menanti musim hujan untuk merekah dan menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya.

1
Eni Wati
berharap
Grace Putri
kok ga upload" ? mati kah trkhr semua ?
Eni Wati
Gak seru tokoh nya mati beberan
Eni Wati
menunggu
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
Aamiin
Eni Wati
Penasaran
Eni Wati
seruuu👍
Eni Wati
Menunggu
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!