Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil pemeriksaan.
Cahaya merebahkan badannya diranjang rumah sakit, ia juga sudah merasa lebih baik hanya luka kecil dikepalanya yang masih ditutupi plester. Sedangkan Rayyan hanya melihat saja tanpa berkata apapun, selama beberapa jam ia bisa bersantai dengan makhluk wanita ini.
Disamping itu ada pak amir dan asistennya yang membereskan barang mereka, jadi Cahaya cukup tidur sampai dokter memeriksanya untuk terakhir kali.
"Tuan Rayyan, dokter memanggil anda?" suara bodyguard yang menjaga didepan pintu.
"Istirahatlah dulu, aku bicara dengan dokter dulu," kata Rayyan dan mendapatkan anggukan dari Cahaya sebagai jawaban.
Rayyan masuk ke dalam ruangan dokter yang merawat Cahaya, ia duduk dikursi yang ada didepan meja kerja dokter senior tersebut.
"Bagaimana? Apa dia bisa mendengar lagi?" tanya Rayyan dengan wajah serius.
Alasan Cahaya masih dirawat adalah karena Rayyan ingin wanita itu bisa sembuh dari penyakit telinganya. Ia berbohong bahwa dokter menyuruhnya untuk dirawat inap, karena luka kecelakaan itu tak begitu serius.
Cahaya juga menjalani pemeriksaan secara keseluruhan, agar tahu alasan ia tak bisa mendengar.
"Pasien mengalami pergeseran tulang bagian telinga yang menyebabkan tuli konduktif, seharusnya dia dioperasi saat itu juga sehingga tak akan mengalami hal seperti ini," ungkap dokter laki-laki tersebut.
"Lalu, apa dia masih punya harapan?" tanya Rayyan lagi.
"Kecelakaan itu sudah cukup lama, mungkin terjadi perubahan selama beberapa tahun ini. Tapi, kita masih bisa mencobanya dengan pemeriksaan lebih lanjut dan operasi," jawab Dokter tersenyum tenang.
Rayyan menghela nafas berat, walau belum tentu sembuh sepenuhnya setidaknya ia sudah mencobanya. Ia hanya berusaha agar Cahaya bisa seperti dulu lagi.
"Kapan bisa dioperasi?" tanya Rayyan yakin dengan pilihannya.
"Minggu depan, kita bisa jadwalkan operasi untuk pasien," tutur Dokter itu.
Rayyan tersenyum, "Baik."
...
...
*
Sementara disisi lain, Cahaya mulai bosan. Ia sudah menunggu Rayyan sejak tadi bahkan ia juga sudah berganti pakaian dengan yang biasa, wanita itu sudah siap untuk pulang. Tapi sang pemimpin belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Ia keluar dari kamarnya, tak jauh dan masih dilantai itu karena penjaga masih mengikutinya. Suara laki-laki memanggilnya, ia mengabaikannya mungkin salah dengar.
"Cahaya," suara itu lagi memanggilnya kini kian dekat.
"Asisten Chandra, aku pikir siapa?" ucap wanita itu sembari menoleh pada pria yang membawa beberapa barang belanjaan.
"Kenapa kau disini?" tanya asisten tersebut lalu melihat dahi Cahaya yang tertempel plester, ia pun mulai bertanya-tanya.
"Tunggu! Kenapa keningmu terluka?" tanya asisten itu lagi.
"Kemarin aku jatuh, tapi lukanya ringan kok gak parah. Jangan cerita pada Nina, pak Chandra. Aku tak ingin ia kepikiran," jawab Cahaya dengan pelan.
Chandra tersenyum, "Tenang saja, aku tahu siapa istriku. Tapi Cahaya, kau menunggu siapa?"
"Pak Rayyan, dia sedang berbicara dengan dokter Heru," jawab Cahaya dengan jelas tapi malas.
"Dokter Heru, dokter spesialis THT. Kamu mau periksa telingamu juga?" tanya Chandra seingatnya dokter tersebut adalah dokter bagian penyakit telinga, hidung dan tenggorokan.
"Dokter THT, bukan kah dia dokter umum," ralat Cahaya, itu yang dikatakan oleh Rayyan.
"Oh, mungkin aku lupa. Kalau begitu aku pamit dulu, aku takut sepupumu itu mengomel," ujar Chandra tersenyum paksa, ia merasa yakin tentang dokter Heru tapi jika bosnya sudah berbohong artinya terjadi sesuatu. Ini gawat namanya.
Chandra pergi, tapi Cahaya masih merenung. Ia berjalan mencari nama-nama dokter dirumah sakit itu, sekaligus mencari tahu spesialis apa. Setelah mendapatkannya ia terkejut, ternyata Rayyan membohonginya. Lukanya tak terlalu parah, terus kemarin pemeriksaan apa, yang bisa menghabiskan berjam-jam itu.
"Apa semalam ia pergi menemui dokter? Semuanya karena aku, tapi aku malah membuat kekacauan," ucap Cahaya menundukkan kepalanya.
Terlihat dokter Heru dipapan nama-nama dokter beserta spesialisnya yang menempel didinding, beliau adalah dokter senior yang sudah lama bekerja dirumah sakit itu.
Ia melangkah untuk kembali ke kamarnya, ada kecewa bercampur rasa takut dan juga malu. Karena dulu ia juga pernah diperiksa tapi hasilnya nihil, mereka bilang ia tak bisa sembuh.
...
Cahaya duduk ditepi brangkar, ia melamun sendirian. Mengingat hal yang baginya sangat mengecewakan, hal yang saat itu ia mencoba mengajak mantan suaminya untuk melakukan pemeriksaan penyakitnya.
Namun yang ia dapatkan bukanlah kekuatan dan dukungan, hanya keputus asaan yang terdengar seperti beban bagi Fery. Mungkin pria itu malu, sampai ia hanya diakui sebagai saudara jauh yang ingin diperiksa kesehatannya.
"Dokter bilang kamu gak bisa sembuh," ujar Fery saat itu.
"Benarkah? Apa tak ada harapan untuk penyakitku? Aku sungguh ingin sembuh," tanya Cahaya dengan sangat, memegang lengan Fery tapi dihempas kasar oleh pria tersebut.
"Sudahlah Yaya, aku sibuk! Aku sudah bicarakan pemeriksaan mu seharian ini dengan dokter spesialis. Kamu gak bisa sembuh!" kesal Fery menaikkan nada bicaranya.
Cahaya terdiam, ia menundukkan kepalanya. Ia merasa hidupnya hanya membuat pria yang berprofesi sebagai dokter itu malu. Bahkan jelas sekali dirinya hanya dianggap aib, hanya karena penyakit fisiknya.
Klek
Suara pintu terbuka mengejutkannya. Ada Rayyan yang melangkah menghampirinya, pria itu berlutut seolah ingin memohon sesuatu. Namun sebelum Rayyan berkata, Cahaya lebih dulu bertanya padanya.
"Dokter Heru itu spesialis THT, iya kan?" tanya Cahaya membuat Rayyan gelisah.
"Itu, itu ...." Rayyan tergagap karena ketahuan.
Cahaya menundukkan kepalanya, seakan enggan menatap Rayyan sama sekali karena membohonginya. Sikap Rayyan membuatnya merasa bodoh.
"Benar." jawab Rayyan akhirnya, kemudian memegang kedua tangan Cahaya dan menatapnya lekat. Tapi wanita itu menghempaskannya segera.
Cahaya merasa percuma jika diperiksa, penyakitnya tak bisa disembuhkan dan ia merasa putus asa dan kecewa. Hanya itu. Tapi Rayyan malah seenaknya membodohinya.
"Jangan salah paham! Aku hanya ingin kamu sembuh, tapi aku tak punya alasan untuk membuatmu diperiksa. Jadi aku lakukan ini semua, sungguh!" papar Rayyan berharap wanitanya percaya dan memaafkannya.
Namun Cahaya masih diam dan menunduk.
"Dokter bilang kamu masih punya harapan dengan operasi," ungkap Rayyan dengan yakin.
Kini Cahaya mau menatap pria didepannya, mendengar itu jauh dengan perkataan Fery dahulu. Rasanya tak bisa dipercaya mendengar ucapan Rayyan.
"Kamu yakin? Tapi katanya dulu aku gak bisa sembuh, penyakit pendengaranku sudah permanen," tanya Cahaya terdengar membingungkan.
"Siapa yang bilang?" tanya Rayyan.
"Fery," jawab Cahaya.
Rayyan mengepalkan tangannya, pria itu lagi. Tak hanya menyakiti Cahaya tapi membuat wanita itu terkurung dalam kegelisahannya, karena penyakitnya membuatnya merendah dan dihina.
Pantas, jika Cahaya banyak berubah jadi wanita yang pendiam.
Rayyan menggenggam tangan Cahaya lagi, "Percayalah padaku! Aku sudah membicarakannya dengan dokter Heru, kamu mau kan, untuk dioperasi?"
"Bagaimana jika aku tak sembuh?" tanya Cahaya kembali menundukkan kepalanya.
Rayyan berdiri dan duduk disamping Cahaya, ia memeluk wanita itu dan menenangkannya. "Tidak apa, kita hanya mencoba," ucapnya.
Rayyan melepaskan pelukannya, mencengkeram bahunya dan menatap lekat manik mata Cahaya, untuk meyakinkannya tentang sesuatu.
"Masih ada aku disisimu. Aku akan menjagamu, menemanimu. Selamanya, aku janji!" ucap Rayyan dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah, aku mau," ucap Cahaya memberinya yang namanya kesempatan untuk meyakinkannya.
Rayyan tersenyum dan kembali memeluknya.