Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
## Perjalanan Menuju Myrval
*Ukh!*
Sebentar lagi cahaya kemerahan di kaki langit akan tampak dan menyebar, jadi sebelum itu **Latisha** dan **Agniya** bersiap meninggalkan pedesaan untuk melanjutkan perjalanan.
"Aku tidak melihat Kakak kembali apalagi terbangun. Kapan Kakak kembali semalam?" **Agniya** bertanya ketika **Latisha** merapatkan jubah berkerah bulu yang ia kenakan.
**Latisha** menangkup wajah **Agniya** yang terasa dingin, kemudian menyalurkan sedikit kehangatan dari sepasang telapak tangannya yang agak kasar. "Tidak lama setelah kamu tertidur. Sekarang mari masuk ke kereta, udara semakin dingin."
**Latisha** segera memasuki kereta sedangkan **Agniya** termenung sejenak sambil menatap punggung kakaknya cukup lama, sesaat menangkap aroma samar darah menguar dari tubuh sang kakak.
"**Agniya**?"
**Agniya** terkesiap dan buru-buru masuk ke kereta, meninggalkan pedesaan menuju benteng yang akan membawa mereka masuk ke kota kekaisaran luar sebelum akhirnya mencapai ibukota.
Sementara itu, di waktu bersamaan, salah seorang pembunuh bayaran yang sebelumnya disewa untuk membunuh **Agniya** jalan tertatih-tatih di antara pepohonan pada pinggir hutan. Darah merembes dari luka besar di perut yang berusaha ia tutupi demi mencegah pendarahan lebih parah.
Padahal ia adalah salah satu anggota elit terbaik di serikat pembunuh bayaran, tapi berakhir demikian saat menghadapi seorang wanita berambut merah yang tiba-tiba membantai kelompoknya. Hanya dalam belasan menit pada malam kemarin, ia kehilangan seluruh rekannya.
*Siapa wanita itu?!* Pertanyaan tersebut terus memenuhi kepalanya.
*Aku harus bertahan dan melaporkannya pada Master!* lanjutnya penuh tekad.
Di bawah langit biru yang memayungi ibukota kekaisaran, para pedagang serta rakyat biasa keluar-masuk dari gerbang utama sementara para prajurit berkeliaran memperketat penjagaan.
Akhirnya, setelah menempuh waktu selama empat hari, **Latisha** dan **Agniya** sampai di **Myrval**.
"Berhenti sebentar untuk pemeriksaan." Penjaga gerbang memberi tanda pada sais kereta **Agniya**.
Dua penjaga mengetuk pintu kereta dan meminta izin untuk membukanya. Saat itu mereka mendapati dua gadis berwajah rupawan dengan aura bangsawan kental duduk di sana.
"Kami dari **Valgard**." **Agniya** memperlihatkan dua plakat yang menunjukkan identitasnya sebagai keturunan **Valgard** dan orang penting dari **Mensiar** **Tyraven**.
Tanpa banyak bicara, kedua penjaga saling pandang dan membungkuk hormat pada **Agniya**. Jika sudah begini, tidak perlu proses masuk yang rumit, meski mereka tidak tahu siapa wanita berambut merah yang ikut bersama **Agniya**. **Latisha** tidak menyerahkan apa pun untuk menunjukkan identitasnya. Paham maksud tatapan para prajurit pada kakaknya, senyum **Agniya** terulas.
"Dia adalah kakak saya."
"M-maaf! Kami tidak bermaksud mencurigai Anda!" kata mereka.
**Agniya** memakluminya dan kemudian kereta kuda mereka segera melewati gerbang utama. Saat itu pula kemegahan ibukota kekaisaran segera tersuguhkan, memenuhi pandangan mereka dengan keramaian serta bangunan-bangunan megah di bawah langit biru cerah.
"Ibukota sangat indah." **Agniya** tak melepas pandang dari jendela yang menampilkan suasana perkotaan selama menuju **Mensiar** Pusat.
Bangunan menara berfasad putih gading berpadu kuning keemasan yang menjulang tinggi dan terlihat jelas dari sudut kota, itulah bangunan **Mensiar** **Myrval**, tempat di mana para penyihir terbaik berada. **Mensiar** pusat menjadi salah satu bangunan paling memukau dan dihormati setelah istana kerajaan serta tempat keagamaan.
"Aku sangat senang, apalagi bisa kemari bersama Kakak!" **Agniya** melempar senyum lebar yang begitu tulus, dan **Latisha** tertegun sepersekian detik sebelum membalasnya dengan senyuman tipis.
Ia teringat para pembunuh yang dibantai semalam. Salah seorang berhasil kabur saat ia fokus menginterogasi yang lain. Siapa sangka bahwa pelakunya adalah **Elea**?
Bergerak sejauh ini hanya untuk melenyapkan **Agniya**? Sungguh menyedihkan, padahal bocah di hadapannya ini tidak punya kekuatan besar, ia baru mengumpulkannya. Namun, rencana **Elea** tidak bisa dikatakan bodoh karena bagi **Latisha** pun, jika dibiarkan terlalu lama, **Agniya** akan menjadi ancaman besar bagi musuh. Anak itu memiliki potensi untuk menjadi penyihir besar yang diakui kekaisaran, jadi membunuhnya sebelum tumbuh lebih mengerikan adalah pilihan tepat.
Para penyihir memiliki keahlian di bidang tertentu, seperti sihir perlindungan, penyerangan, serta penyembuhan. Jika mereka tidak memanfaatkan energi pada satu titik keahlian tertentu, itu akan jadi hambatan. Makanya, jarang sekali penyihir hebat memiliki dua atau tiga kemampuan. Namun, dari apa yang ditunjukkan **Agniya** semalam, sihir penyerangannya cukup kuat. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan kelemahan hatinya yang enggan menggunakan sihir untuk melukai.
"Sudah sampai, Putri."
Sais berhenti di depan gerbang utama **Mensiar**. **Latisha** turun lebih dulu, menjulurkan tangan membantu **Agniya** keluar dari kereta.
"Maaf, tapi selain yang berkepentingan tidak punya izin untuk masuk."
Penjaga di gerbang utama **Mensiar** menghadang langkah **Latisha** setelah membiarkan **Agniya** masuk lebih dulu. Baru hendak memberi alasan pembelaan agar kakaknya bisa masuk, **Agniya** langsung diam dengan ekspresi agak bersalah saat kakaknya berkata duluan.
"Selesaikan urusanmu. Aku akan pergi jalan-jalan di sekitar sini." **Latisha** tersenyum, kemudian pergi dari sana dan **Agniya** segera memasuki bangunan utama.
Ini adalah hari pertama adiknya ke **Mensiar** pusat; jangan sampai membuat masalah. Lebih dari itu, ada tujuan lain mengapa ia pergi ke **Myrval**. Sebelum meninggalkan **Dakrossa**, **Latisha** menemui tiga gurunya di lantai lima dan menghabiskan waktu berbincang banyak hal, lalu **Agniya** meminta bantuannya untuk memeriksa kondisi anak muridnya.
Menyelinap di antara celah yang membawanya memasuki distrik rakyat jelata, **Latisha** mendapati sisi gelap di balik kehidupan megah di pusat perkotaan. Para pengemis, gelandangan, pemabuk, pekerja prostitusi, dan sejenisnya jelas berasal dari gang sempit bebatu dinding kusam ini. Mereka berserakan di pinggir jalan setapak kumuh yang lembap dan busuk.
Aroma jelaga, bau pesing, sampah, sampai endapan air yang belum sepenuhnya kering tersebar di udara, menusuk indera pembau **Latisha**. Untung saja ia sudah terbiasa dengan pemandangan serta situasi semacam ini di **Dakrossa**.
*"Di antara celah gelap dua bangunan berdinding merah tua di perkampungan tersembunyi rakyat jelata di kota kekaisaran, itulah pintu masuknya."*
**Latisha** mengingat apa yang dikatakan **Agniya** dan mulai menelusuri setiap gang bercabang sampai menemukannya. Tanpa buang waktu, ia mendekati celah itu seraya melirik kanan-kiri tanpa menimbulkan kecurigaan. Areanya sangat sepi sampai tidak ada seorang pun melintas di sana.
*Huh.*
**Latisha** mengembuskan napas, bersiap menjulurkan tangan ke dalam celah gelap antar dua bangunan tua, tapi seorang pria berjubah putih bertudung yang menutupi sebagian wajah mencekal pergelangan tangannya.
Sepasang mata **Latisha** terbelalak. Ia segera menoleh tatkala hembusan angin mengantarkan aroma susu segar mirip kulit bayi dan kehalusan dari tangan pria yang mencekal pergelangan tangannya.
"Apa yang coba kamu lakukan?" Cekalan pria itu menguat. Sebagian wajahnya yang tidak tertutup menampakkan bibir agak merah alami. Kulitnya bersih dan terasa halus, tapi suaranya sedikit lebih berat. Tinggi tubuhnya pun lumayan sehingga **Latisha** hanya mencapai ujung dagunya.
"Aku mendengar sesuatu dari celah itu, aku penasaran jadi mencoba melihat ke dalamnya," jawab **Latisha** setenang mungkin.
Sosok itu perlahan mengendurkan cekalan. Kekerasan pada rahangnya pun melemah. Ia berdiri berhadapan dengan **Latisha** lalu melirik ke persimpangan gang di belakang. "Kamu seharusnya tidak berkeliaran di area ini. Beberapa hari lalu ada kasus pembunuhan di sini. Jadi silakan tinggalkan tempat ini."
**Latisha** melirik ke celah, padahal tinggal mengucapkan mantra masuk dan ia akan pergi ke mana **Agniya** menyembunyikan keberadaan anak-anak itu. Namun, ia harus mengurungkan niat karena orang di hadapannya bukan orang biasa; terlihat jelas dari penampilannya.
"Sebenarnya aku tersesat. Bisakah kamu menemani saya mencari jalan keluar?" tanya **Latisha**.
Pemuda itu diam cukup lama, memandangi **Latisha** dari balik tudung, kemudian mengembuskan napas pelan. "Ikuti aku," katanya.