Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Ritme Yang Tenang
Pagi itu terasa berbeda.
Udara lebih sejuk.
Langit lebih cerah.
Namun bagi Sakura tidak ada yang benar-benar berubah.
Ia tetap berdiri di sudut aula latihan.
Diam.
Tidak mencolok.
Tidak menarik perhatian.
Namun ia tidak lagi mencoba menghilang.
Tangannya terangkat perlahan.
Bukan untuk menyerang.
Bukan untuk membuktikan sesuatu.
Tapi untuk merasakan.
Napasnya pelan.
Masuk.
Keluar.
Teratur.
Tenang.
Tidak terburu-buru.
Tidak memaksa.
Dan kali ini ia tidak mencoba “mengeluarkan” kekuatan.
Ia hanya…
mengikuti.
Sssst…
Angin muncul.
Lembut.
Namun bukan lagi sekadar hembusan kecil.
Ia langsung… terbentuk.
Tipis tapi jelas.
Sakura membuka mata.
Tidak terkejut.
Tidak panik.
Ia hanya memperhatikan.
Angin itu bergerak mengikuti napasnya.
Masuk aliran menguat sedikit.
Keluar melemah.
Namun tidak hilang.
“…Jadi seperti ini…”
Ia tidak memperbesar.
Tidak memaksa.
Namun perlahan ia menggerakkan tangannya.
Ssshhh
Angin itu berputar.
Membentuk lingkaran kecil di sampingnya.
Pusaran.
Tidak besar.
Tidak liar.
Namun stabil.
Tanpa suara keras.
Tanpa getaran berbahaya.
Hanya… patuh.
Sakura menatapnya.
Tenang.
Lalu ia menurunkan tangannya sedikit.
Pusaran itu perlahan memudar.
Tidak pecah.
Tidak hancur.
Hilang… dengan rapi.
Untuk pertama kalinya ia tidak kehilangan kendali saat melepaskan kekuatan.
Malam hari.
Ruang alkimia.
Cahaya lampu berpendar lembut.
Sakura berdiri di depan Kaelen.
“Sekali lagi.”
Ia mengangguk.
Mengangkat tangan.
Menutup mata.
Napas.
Aliran.
Tidak dipanggil, tidak dipaksa,
hanya diizinkan.
Sssst…
Angin muncul.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Namun tetap halus.
Tidak liar.
Tidak menyakitkan.
Kaelen memperhatikan.
Tatapannya tajam.
Namun kali ini ia tidak langsung mengoreksi.
Beberapa detik berlalu.
Sepuluh detik…
Dua puluh…
Tiga puluh…
Angin itu masih ada.
Stabil.
Sakura membuka mata.
“…Aku bisa menahannya…”
“Lebih lama,” kata Kaelen.
Nada suaranya tetap datar.
Namun ada pengakuan di dalamnya.
Sakura mengangguk.
Namun kali ini ia tidak berhenti di situ.
Tangannya bergerak perlahan.
Angin itu berkumpul di satu titik.
Memadat.
Mengelilinginya.
Ssshhh
Lapisan tipis terbentuk.
Perisai angin.
Tidak tebal.
Tidak mencolok.
Namun cukup untuk terasa.
Sakura sedikit mengernyit.
“…Masih tipis…”
“Cukup.”
Kaelen menyela.
“Perisai tidak butuh besar.”
Ia melangkah mendekat.
“Yang kau butuhkan… adalah kestabilan saat menerima benturan.”
Sakura terdiam.
Ia menguatkan fokusnya sedikit.
Perisai itu bergetar namun tidak pecah.
“…Tetap bertahan…”
Kaelen menyipitkan mata.
“…Bagus.”
Sakura menarik napas.
Lalu ia mengubah alirannya lagi.
Perisai itu menghilang.
Namun kali ini tidak buyar.
Ia mengarahkannya.
Mengumpulkan angin di satu sisi.
Memanjang.
Memadat.
Sssst
Tombak angin terbentuk.
Lebih tajam dari sebelumnya.
Lebih stabil.
Namun sedikit bergetar.
Sakura menggigit bibirnya.
“…Masih belum sempurna…”
“Karena kau masih berpikir untuk menyerang.”
Sakura menoleh sedikit.
Kaelen menatapnya lurus.
“Tombak itu bukan untuk kekuatan.”
“…tapi untuk arah.”
Hening.
Sakura memahami.
Ia mengendurkan tekanannya.
Sedikit saja.
Dan getaran itu hilang.
Tombak itu… menjadi stabil.
Matanya sedikit membesar.
“…Aku mengerti…”
Namun tiba-tiba angin itu menghilang.
Sakura langsung terengah.
Tubuhnya sedikit goyah.
“…Masih belum cukup…”
“Sudah cukup.”
Kaelen menghentikannya.
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk bantahan.
Sakura menunduk.
Namun pikirannya tidak tenang.
“…Turnamen…”
Kaelen menatapnya.
Dalam.
“…Kau tidak perlu menjadi kuat.”
Sakura membeku.
“…Apa?”
“Kalau kau mencoba mengalahkan mereka dengan kekuatan…”
Ia berhenti sejenak.
“…kau akan kalah.”
Hening.
Berat.
Sakura menggenggam tangannya.
“…Lalu bagaimana?”
Tatapan Kaelen menajam.
“Kendalikan.”
Satu kata.
Namun kali ini Sakura benar-benar mengerti artinya.
Hari-hari berlalu.
Latihan terus berulang.
Namun kali ini berbeda.
Tidak ada lonjakan besar.
Tidak ada ledakan kekuatan.
Hanya pengulangan.
Namun bukan pengulangan yang sama
Setiap hari ia menyempurnakan satu hal kecil.
Hari pertama menahan pusaran lebih lama.
Hari kedua membuat perisai lebih padat.
Hari ketiga menjaga arah tombak tanpa goyah.
Hari keempat mengalihkan dari satu bentuk ke bentuk lain tanpa kehilangan aliran.
Dan perlahan tiga bentuk itu… mulai terhubung.
Pusaran.
Perisai.
Tombak.
Bukan lagi teknik terpisah.
Tapi satu aliran yang sama.
Di sisi lain Claudia berdiri di arena latihan.
Sendirian.
Tangannya terangkat.
Cahaya berkumpul.
Lebih terang.
Lebih padat.
Lebih tajam.
“Lagi.”
BOOM!
Dinding retak.
“Lagi!”
BOOM!
Namun cahaya itu bergetar.
Sedikit liar.
Sedikit tidak stabil.
Claudia menggertakkan gigi.
“…Kenapa…”
Ia mencoba lagi.
Lebih keras.
Lebih kuat.
Namun semakin dipaksa semakin sulit dikendalikan.
Fuko yang berdiri jauh mulai ragu.
“…Claudia…”
“Diam.”
Claudia tidak berhenti.
“…Aku harus menang.”
Matanya dingin.
Namun di dalamnya ada sesuatu yang berubah.
Bukan sekadar ambisi.
Tapi obsesi.
“…Aku tidak boleh kalah dari dia.”
Waktu terus berjalan.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Dan tanpa disadari bulan menjadi tahun.
Latihan tidak pernah berhenti.
Sakura tetap berada di jalurnya.
Tidak cepat.
Tidak mencolok.
Namun tidak pernah mundur.
Ia jatuh.
Ia bangkit.
Ia gagal.
Ia mencoba lagi.
Dan setiap kali ia menjadi lebih efisien.
Bukan lebih besar.
Tapi… lebih tepat.
Suara itu…
tidak pernah benar-benar hilang.
DUMM…
“Kau adalah kunci…”
Namun kini Sakura tidak lagi panik.
Ia tidak lagi melawan.
Ia hanya menekan.
Mengunci.
Mengendalikannya.
Seperti ia mengendalikan angin.
Beberapa tahun kemudian.
Aula utama akademi.
Lebih besar.
Lebih megah.
Lebih ramai.
Murid-murid berdiri dalam barisan.
Namun mereka bukan lagi anak-anak.
Aura mereka berbeda.
Lebih tajam.
Lebih berat.
Lebih berbahaya.
Di antara mereka seorang gadis berdiri dengan tenang.
Rambut pinknya lebih panjang.
Tatapannya lebih dalam.
Posturnya lebih stabil.
Sakura.
Kini berusia dua belas tahun.
Ia tidak lagi diabaikan.
Namun juga tidak menonjol.
Ia berada di tengah namun… sulit dibaca.
Tangannya terangkat sedikit.
Sangat kecil.
Dan
Sssst…
Angin muncul.
Tidak terlihat jelas.
Namun tiga lapisan aliran berbeda bergerak bersamaan.
Pusaran kecil berputar di dekatnya.
Perisai tipis melapisi tubuhnya.
Dan satu aliran tajamdiam di sisi tangannya.
Semuanya stabil.
Tanpa usaha berlebihan.
Tanpa ekspresi.
Matanya tenang.
Sangat tenang.
Di sisi lain Claudia berdiri.
Aura cahayanya jauh lebih kuat.
Lebih padat.
Lebih menekan.
Namun lebih dingin.
Dan jauh di dalam sedikit tidak stabil.
Tatapannya langsung mengarah ke Sakura.
“…Akhirnya.”
Seorang instruktur melangkah maju.
Suaranya bergema.
“Tahun ini…”
“…akan diadakan turnamen akhir akademi.”
Hening.
Tidak ada sorakan.
Hanya ketegangan.
Semua orang tahu ini bukan sekadar turnamen.
Ini adalah penentuan.
Sakura menarik napas pelan.
Tidak ada gugup.
Tidak ada ragu.
Hanya kesiapan.
Di kejauhan Kaelen berdiri dalam bayangan.
Mengamati.
“…Sudah waktunya.”
Matanya menyipit.
Dan kali ini tidak ada keraguan.
Di tempat tersembunyi prajurit bayangan berdiri diam.
“Target siap.”
“Resonansi stabil.”
“Perintah berikutnya?”
Jauh dari sana di ruang gelap seorang wanita membuka matanya perlahan.
Ratu.
Senyum tipis muncul.
“…Akhirnya…”
Aura gelap berdenyut.
“…kunci itu telah matang.”
Tangannya terangkat.
Lingkaran sihir muncul.
“…Mulai.”
Dan tanpa disadari dunia mulai bergerak.
Perlahan.
Namun pasti.
Menuju sesuatu yang tidak bisa dihentikan.
------