Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
please komen, subscribe, vote, dan like🫶
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 35
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika riuh rendah musik jazz pelan memenuhi sudut sebuah bar eksekutif di pusat kota. Lampu-lampu temaram berwarna keemasan memantul pada permukaan meja marmer hitam, juga pada dua gelas kristal berisi anggur merah asal Italian wine yang perlahan berkurang isinya.
Di sudut paling privat, Dipta duduk bersandar lesu pada sofa kulit. Di hadapannya, Galang sang sahabat yang mengenalnya sejak hari pertama ospek kampus menatapnya dengan sorot mata penuh khawatir.
Ponsel Dipta yang tergeletak di atas meja kembali bergetar.
Dua kali.
Lalu berkali-kali tanpa jeda.
Nama yang terpampang di layar menyala terang dalam gelap remang itu adalah Rana.
Galang mengembuskan napas panjang, lalu menyenggol lengan sahabatnya pelan.
"Angkat, Ta." titahnya.
Dipta hanya diam, tetap menatap gelas kosong di hadapannya.
Ponselnya kembali berdering, lalu notifikasi pesan masuk. Galang yang sengaja melihat pesan itu.
{ Mas masih dimana?}
Galang kembali berkata, kali ini lebih tegas.
"Pulanglah. Dari tadi ponselmu nggak berhenti bunyi. Mau sampai kapan kamu ngebiarin Rana nungguin?"
Dipta masih tidak menjawab, ia kembali meraih botol dan menuangkan anggur merah itu ke dalam gelas kristal.
Dipta menegaknya.
Beberapa detik berlalu, suara musik jazz mengalun.
Lalu tiba-tiba saja bahu Dipta bergetar. Kepalanya tertunduk, tangannya mengepal diatas paha, dan sesuatu yang selama ini Dipta kubur rapat-rapat, akhirnya runtuh begitu saja.
Suara tawanya yang hambar berubah menjadi isak tertahan.
"Aku...baru tahu, Lang."
Kalimatnya terputus oleh napas yang memburu. Dipta mengusap wajah kasar, tapi air mata telanjur jatuh.
"Laras pernah hamil anakku."
Galang yang semula hendak menuang minuman membeku seketika. Tangannya terhenti di udara. Sorot matanya berubah.
Dipta tertawa lirih, tawa orang yang sedang hancur.
"Dan dia... menggugurkannya."
Sunyi kembali turun. Bahkan musik di ruangan itu terasa jauh.
"Aku kira dia ninggalin aku karena udah nggak cinta," suara Dipta serak, penuh sesal. "Aku marah. Aku benci dia, aku kutuk semua kenangan tentang dia...tapi kenyataannya--"
Ia menutup wajahnya.
"Dia pergi karena dipaksa orang tuaku."
Dipta menggeleng pelan, air matanya jauh di sela jemari.
"Dan aku...aku bahkan nggak pernah cari tahu alasan dia. Aku cuma sibuk sakit hati, sibuk menyalahkan dia...sampai akhirnya aku menikah Rana tanpa sedikitpun perasaan terhadapnya. Dan saat ini...aku sudah menyakiti dua perempuan yang memberikan cintanya untukku," dadanya naik turun menahan sesak, "aku...aku rasa tidak pantas lagi untuk di cintai atau pun mencintai."
Galang terdiam cukup lama.
Ia menatap sahabatnya, bukan CEO besar yang disegani banyak orang, melainkan Dipta yang dulu. Laki-laki keras kepala yang ketika mencintai, maka ia akan mencintai terlalu dalam sampai melukai dirinya sendiri.
Lalu Galang meletakkan gelasnya, mencondongkan tubuh, dan berkata pelan namun menusuk tepat ke hati.
"Dengerin gue, Ta!" ucapnya seraya menatap Dipta lurus.
"Penyesalan itu wajar. Rasa bersalah juga manusiawi. Tapi jangan sampai kamu pakai rasa bersalah ke Laras buat jadi alasan menghancurkan hidup orang lain lagi."
Dipta diam. Sedangkan Galang melanjutkan.
"Laras adalah masa lalu yang belum selesai. Aku ngerti itu. Lukamu, kehilanganmu, semuanya nyata. Tapi Rana--" ia menekankan nama itu, "...perempuan itu nyata hadir di hidupmu sekarang."
Galang menyandarkan punggungnya, rahangnya mengeras.
"Aku lihat sendiri gimana Rana bertahan. Aku lihat gimana dia tetap berdiri meski sering kamu acuhkan. Dan yang paling nyebelin? Perempuan itu masih menelponmu sejak tadi. Itu artinya Rana peduli sama kamu, Ta."
Ponsel Dipta kembali bergetar. Nama Rana kembali muncul. Galang melirik layar itu sebentar sebelum menatap Dipta lagi.
"Jangan jadi laki-laki yang terus mengejar kuburan masa lalu sampai lupa ada orang hidup yang lagi nungguin kamu pulang."
Kalimat itu membuat Dipta terdiam.
"Kalau kamu masih cinta Laras, selesaikan perasaan itu dengan kepala dingin. Bukan dengan mengorbankan Rana. Jangan bikin Rana jadi korban dari kisah yang bahkan bukan miliknya."
Ia tersenyum tipis, getir.
"Kadang, sahabat itu tugasnya bukan dukung semua keputusanmu. Kadang tugasku cuma ngingetin...siapa yang diam-diam terluka karena kebodohanmu."
Getaran ponsel kembali terdengar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam telah jauh larut ketika sedan hitam berkilau itu melambat memasuki pelataran rumah megah milik Dipta. Cahaya lampu taman yang temaram menyapu bodi mobil, memantul kilau lembut pada pilar-pilar marmer yang berdiri kokoh di teras depan. Rumah itu tampak tenang, namun di balik pintu utama, ada seseorang yang sejak tadi menunggu dengan dada penuh cemas.
Begitu pintu mobil berhenti sempurna, pintu rumah terbuka. Rana bergegas berjalan keluar untuk menyambut suaminya.
Gaun rumah berbahan satin berwarna lembut membungkus tubuhnya, rambut panjangnya di biarkan terurai sederhana. Wajah cantiknya tidak menunjukkan kesal hanya kekhawatiran yang begitu jelas tercetak di sana. Sejak puluhan panggilan tak kunjung di jawab, hatinya tak pernah benar-benar tenang.
Namun langkah Rana terhenti sesaat ketika melihat kondisi suaminya. Galang turun terlebih dahulu dari kursi pengemudi, lalu membuka pintu belakang.
Di sana, Dipta duduk setengah sadar dengan kepala menunduk, kemeja mahalnya kusut, napasnya berat, dan wajahnya basah oleh air mata yang entah sudah berapa lama mengalir.
Bahkan dalam keadaan nyaris tak sadar, bibir pria itu masih bergerak lirih.
"Laras..."
Suara itu patah.
Terdengar seperti suara penyesalan.
"Aku...maaf..."
Rana yang berdiri tak jauh dari sana sedikit menegang. Jemarinya mengepal pelan di sisi tubuh, seolah menahan sesuatu yang menghantam dadanya tiba-tiba. Nama itu, nama yang tak asing di telinganya meluncur begitu saja dari bibir suaminya, dalam keadaan paling rapuh yang pernah ia lihat.
Galang menoleh pada Rana, ekspresinya sedikit canggung namun tenang.
"Bantu aku, Ran. Dia terlalu berat kalau sendiri."
Tanpa banyak bicara, Rana mengangguk. Mereka merangkul Dipta dari sisi kanan dan kiri. Tubuh pria tinggi itu nyaris sepenuhnya bertumpu pada keduanya. Langkah mereka perlahan memasuki foyer rumah yang megah, melewati lorong panjang dengan lampu gantung kristal yang masih menyala redup.
Sepanjang perjalanan menuju tangga, Dipta sesekali meracau pelan.
"Aku salah..."
"Harusnya aku tahu..."
"Laras...maafkan aku..."
Setiap kata seperti pecahan kaca yang jatuh satu per satu ke hati Rana.
Tajam, dingin, melukai tanpa suara.
Apa Mas Dipta benar-benar sudah di kendalikan Mbak Laras? Ada apa sebenarnya? Apakah aku harus bertanya atau bersikap baik untuk saat ini? Aku harus menanyakan hal ini pada Alfian dan Hamdan.
Namun pada akhirnya Rana memilih tetap diam, ia memilih bergerak sendiri dan mencari tahu tentang Dipta dan Laras. Rana saat ini memilih menopang tubuh suaminya agar tak terjatuh, tetap memegang lengannya erat, tetap memastikan langkah Dipta stabil saat menaiki anak tangga menuju lantai atas.
Di kamar utama mereka membaringkan Dipta di atas ranjang luas berlapis linen putih. Pria itu masih setengah sadar, napasnya berat, mata terpejam, namun air mata masih keluar dari sudut matanya seperti luka lama yang kembali terbuka.
Galang mundur memberi ruang. Sedangkan Rana berdiri di sisi ranjang beberapa saat, memandangi suaminya yang malam itu terlihat begitu hancur. Bukan sebagai CEO besar, bukan sebagai pewaris konglomerat, melainkan hanya sebagai pria yang sedang tenggelam dalam penyesalan.
Dengan gerakan pelan, Rana membantu melepaskan beberapa kancing kemejanya. Lalu menggantinya dengan pakaian tidur yang lebih nyaman, lalu menyelimuti tubuhnya.
Setelah memastikan Dipta benar-benar tertidur, Rana turun kelantai bawah.
Di ruang tamu utama, Galang duduk seorang diri pada sofa panjang berlapis kulit, punggungnya tegak, kedua tangan bertumpu pada lutut. Tatapnya kosong mengarah pada taman malam di balik dinding kaca.
Rana datang membawa nampan kecil, ia menyodorkan segelas teh hangat.
"Terima kasih, Mas Galang sudah mengantarkannya pulang." Ucap Rana pelan.
Galang menerima gelas itu dengan anggukan tipis. Beberapa detik keduanya tenggelam dalam diam. Hingga akhirnya Galang membuka suara.
"Dipta..." ia menghela napas pendek, "... sebenarnya orang yang sangat mengerti bagaimana cara mencintai seseorang."
Rana mengangkat pandangannya. Sorot matanya tenang, namun menyimpan banyak tanya.
Galang menatap permukaan teh yang mengepul tipis. "Hanya saja, sekarang dia sedang diguncang sesuatu yang cukup keras sampai kehilangan pijakan."
Ia lalu menatap Rana lurus. "Tapi satu hal yang aku tahu, di tengah seburuk apa pun keadaan hatinya, Dipta bukan pria yang sengaja ingin menyakiti orang yang ada di sisinya."
Kalimat itu membuat bulu mata Rana bergetar. Galang bangkit berdiri, merapikan jasnya.
"Untuk sementara... tetaplah berada di dekatnya."
Galang tersenyum tipis, senyum seorang sahabat yang tahu lebih banyak daripada yang bisa ia katakan.
"Kadang pria seperti Dipta terlihat kuat di luar, padahal ketika runtuh, dia jauh lebih rapuh daripada siapa pun."
Setelah itu Galang pamit, pintu utama tertutup perlahan di belakangnya. Meninggalkan Rana seorang diri di ruang tamu yang luas dan sunyi.
Ponselnya bergetar, dari Hamdan.
"Hallo, Bu Rana."
"Ya," jawab Rana.
"Pak Dipta pernah memiliki hubungan serius dengan Bu Laras. Barusan saat di bar, Pak Dipta mengatakan jika Bu Laras pernah menggugurkan anak mereka dan membuat pak Dipta merasa bersalah."
Rana diam mendengarkan sembari menoleh ke arah tangga menuju lantai atas. Ke arah kamar tempat suaminya terlelap.
"Besok, tolong belikan hidden camera °" titah Rana.
...****************...
Hidden camera\= kamera pengawas tersembunyi.
Hai, jangan lupa vote, like, komen dan follow aku ya.
Bersambung....