NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Cintamanis / Slice of Life
Popularitas:974
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Ketika Keanu gagal fokus

Taman kampus pagi itu tidak terlalu ramai. Beberapa mahasiswa terlihat berlalu-lalang. Sebagian duduk berkelompok di bangku panjang sambil membicarakan hal-hal ringan sebelum kelas di mulai.

Di salah satu bangku taman, Keanu duduk sendirian. Posisi duduknya santai, satu kaki menyilang, sementara punggungnya bersandar pada bangku kayu di belakangnya.

Di tangannya, ponsel menyala dengan layar yang membuka sebuah aplikasi. Sesekali jemarinya menggeser layar, tanpa benar-benar fokus pada apa yang sedang ia lihat.

Dari luar, Keanu terlihat tenang seperti biasa. Namun, jika diperhatikan lebih lama, ada satu hal kecil yang terus ia lakukan berulang kali. Ia memijat pelipisnya pelan, lalu kembali menatap layar ponsel seperti sedang memastikan dirinya masih sadar sepenuhnya.

Angin pagi bertiup pelan, membuat dedaunan di sekitar taman bergoyang ringan. Hal itu seharusnya menenangkan, tapi bagi Keanu semua terasa lebih lambat dari biasanya. Alasannya sederhana, karena ia hanya tidur beberapa jam saja.

Keanu menguap kecil, lalu segera menutupnya dengan tangan seolah tidak terjadi apa-apa.

Jadwal kelasnya masih beberapa waktu lagi. Harusnya cukup untuk sekedar menunggu dengan tenang. Tapi pagi itu, pikirannya terasa seperti belum sepenuhnya ikut bangun.

Keanu menghela nafas pelan, lalu menundukkan kepalanya sedikit. Ponsel masih tergenggam di tangannya, tapi kali ini layarnya sudah terkunci.

Saat itu, sebuah tangan menepuk pundaknya pelan dari belakang. Bersamaan dengan itu, sebuah suara terdengar ramah, sedikit akrab meski tidak terlalu dekat.

"Oi bro, sendiri?"

Keanu menoleh perlahan. Di belakangnya, Vito berdiri dengan ransel yang tersampir di satu bahu.

Keanu mengangguk kecil sebagai jawaban. Lalu, ia menggeser sedikit pandangannya ke bangku sebelahnya. Isyarat sederhana tanpa kata, seolah mempersilahkan Vito untuk duduk.

Vito menangkap maksud itu dan langsung duduk di sampingnya tanpa ragu.

"Tumben banget lo di sini," ujar Vito ringan.

Keanu tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan sebentar, seperti sedang memproses kalimat itu lebih lama dari biasanya.

"Hmm, iya," ujar Keanu setelah hening beberapa saat.

"Lo udah ngerjain tugas Pak Arman belum?" Tanya Vito kemudian.

Keanu terdiam lagi, kali ini sedikit lebih lama. "Pak Arman?" Ulangnya pelan, lebih seperti memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.

Keanu mengernyit sedikit. "Tugas apaan?" Tanyanya, seolah tidak benar-benar menangkap maksud Vito.

Vito langsung berdecak pelan, campuran antara heran dan tidak percaya. "Ya, tugas kemarin. Yang Pak Arman kasih sebelum kelas selesai."

Untuk sesaat, tidak ada respon apapun selain tatapan Keanu yang kosong ke depan. Seolah, otaknya sedang membuka ulang memori yang sudah tersimpan semalam, mencari satu potongan informasi yang terasa agak jauh.

Sementara Vito hanya menunggu sembari menaikkan sebelah alisnya. Beberapa saat kemudian, Keanu akhirnya mengangguk kecil.

"Oh," gumam Keanu. "Gue udah selesai, tinggal revisi aja."

Kalimat itu keluar begitu saja, tenang tanpa tekanan sedikit pun. Vito langsung menoleh cepat ke arahnya.

"Hah? Udah?" Ujar Vito spontan, jelas kaget.

Keanu hanya mengangkat bahu sedikit, tidak memikirkan reaksi itu. "Iya."

Vito menatapnya beberapa detik lebih lama, seperti sedang memastikan Keanu serius atau tidak. Terlebih yang ia tahu, Keanu sudah berkeluarga. Dan itu membuat Vito semakin heran.

"Lo serius udah selesai?" Tanya Vito lagi dengan suara yang terdengar takjub.

Keanu tidak langsung menjawab. Ia justru memainkan ponselnya sejenak, sebelum menjawab singkat. "Udah."

Vito menghela nafas pelan, lalu bersandar sedikit di bangku taman. Tatapannya masih tertuju pada Keanu, antara rasa kagum dan juga heran.

"Kayak robot, lo," celetuk Vito akhirnya.

Kalimat itu sebenarnya hanya gurauan ringan. Tapi, bagi Keanu yang tadi setengah fokus, butuh beberapa detik lebih lama untuk memprosesnya.

Keanu langsung menoleh. Ekspresinya terlihat bingung, alisnya mengernyit, seolah sedang memahami mengapa tiba-tiba dirinya disamakan dengan sesuatu yang tidak masuk akal.

"Robot apaan?" Balas Keanu datar. "Gue manusia."

Vito langsung terkekeh kecil, reaksi Keanu justru terasa semakin memperjelas maksud ucapannya tadi. "Ya makanya," jawabnya sambil menggeleng kecil. "Cara lo respon tuh kayak udah di setting dari awal."

Keanu menatap Vito sejenak, masih dengan wajah yang terlihat tidak mengerti arah pembicaraan.

"Gue emang lagi agak ngantuk," ujar Keanu pada akhirnya.

Vito mengangguk kecil, masih dengan senyum tipis di wajahnya. "Iya, kelihatan."

Vito kemudian menepuk pelan lututnya sendiri, seperti menahan tawa yang belum sepenuhnya keluar. "Makanya, jangan kebanyakan bucin sama istri. Jadi tumpul gitu otaknya."

Keanu langsung menoleh dengan tatapan tajam. Tidak ada reaksi berlebihan, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar bangku itu menjadi sedikit dingin.

Vito yang masih santai langsung berhenti senyum. Alisnya naik sedikit, menangkap perubahan ekspresi itu.

"Gue gak tumpul," jawab Keanu singkat. "Gue cuma kurang tidur. Anak gue sakit."

Vito menghela nafas pelan, lalu mengangkat kedua tangan sedikit tanda menyerah. "Iya-iya, gue ngerti bos!"

Setelah suasana kembali sedikit normal, Vito menggeser posisi duduknya lalu bersuara santai. "Bro, kapan kita kumpul?"

Keanu kembali menoleh. Ekspresinya tidak bingung seperti sebelumnya, tapi jelas ada jeda kecil sebelum otaknya menangkap konteks pertanyaan itu.

"Besok," jawab Keanu santai.

Vito langsung mengangguk, "Nah-"

Belum sempat Vito melanjutkan, Keanu langsung menambahkan. "Besok gue kumpul tugas Pak Arman."

"Hah?" Vito berhenti mengangguk, kali ini kepalanya sedikit miring.

Keanu mengernyit sedikit, merasa tidak ada yang aneh dari jawabannya. "Kan lo tanya kumpul. Kumpul tugas, kan?"

Vito langsung mengusap wajahnya sebentar dengan satu tangan. Lalu, ia tertawa kecil karena tidak percaya arah pikiran Keanu bisa melenceng sejauh itu.

"Maksud gue nongkrong, bro," jelas Vito sambil menggelengkan kepalanya. "Bukan kumpul tugas!"

Keanu terdiam sesaat. Lalu, ia mengangguk kecil. "Oh."

Tangan Keanu mengusap pelipis sejenak, seperti baru sadar bahwa sejak awal mereka memang tidak berada di frekuensi yang sama.

"Lo tuh beneran kurang tidur atau lagi update sistem?" Gumam Vito pelan, setengah bercanda.

"Dua-duanya kayaknya," jawab Keanu datar sambil menatap lurus ke depan.

Vito menghela nafas kecil setelah merasa cukup puas dengan kekacauan fokus Keanu pagi itu. Ia merapikan ranselnya di bahu, lalu beranjak dari duduknya.

"Hmm, gue jadi lapar." Gumam Vito santai, lalu menoleh sekilas. "Gue mau ke kantin, lo ikut gak?"

Keanu menggeleng pelan tanpa banyak pikir, "Enggak. Gue udah sarapan di rumah."

Vito mengangguk singkat, tidak mempermasalahkan. "Oh, ya udah." Ujarnya. "Eh, habis ini gue mau ambil barang bentar di tempat parkir."

Keanu yang tadi duduk tenang langsung menatap Vito. Kali ini tidak ada jeda lama seperti sebelumnya, tapi tetap saja otaknya menangkap tidak secepat orang normal pada umumnya. Keanu justru menangkap itu ke hal lain.

"Gue yang traktir?" Tanya Keanu tiba-tiba tanpa ekspresi.

Vito langsung berhenti melangkah. "Hah?" Reaksinya spontan, langsung menoleh lagi. "Traktir apaan?"

Keanu mengernyit sedikit, seolah yakin dengan kesimpulannya sendiri. "Traktir." Ulangnya lagi. "Bukannya tadi lo bilang traktir?"

Vito mematung beberapa detik, "Kapan gue ngomong gitu?"

Keanu masih terlihat serius. "Tadi, lo bilang ambil barang terus... Traktir kan?"

Vito langsung menatapnya tidak percaya. Tawa kecil keluar begitu saja dari mulutnya. "Astaga, bro!" Ujarnya sambil menepuk-nepuk pahanya sendiri. "Parkir kali, bukan traktir."

Perlahan, ekspresi Keanu langsung berubah. Seolah otaknya baru saja berhasil mencerna percakapan yang tertinggal beberapa langkah di belakang. Lalu, ia memijat pelipisnya sekali lagi.

Keanu menundukkan kepala sebentar, lalu mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Oh... Parkir ya?"

"Iya parkir!" Sahut Vito cepat. "Ambil barang di motor gue, bukan traktir."

Keanu hanya duduk diam beberapa saat, lalu ia menggeleng pelan. "Sorry," gumamnya.

"Bro, serius. Pulang kuliah nanti tidur," saran Vito.

Keanu menghela nafas panjang, "Gue juga pikir begitu."

Vito masih menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Entah karena lucu atau benar-benar melihat Keanu pagi itu.

Beberapa saat kemudian, tangan Vito meraih sesuatu di dalam ranselnya. "Ini nih."

Vito mengeluarkan sebuah botol air mineral yang masih tersegel rapat, lalu menyodorkannya ke arah Keanu. "Butuh air, gak?"

Keanu menatap botol itu beberapa saat. Untungnya, kali ini otaknya berhasil menangkap pertanyaan dengan benar.

"Boleh," jawab Keanu singkat.

Keanu menerimanya lalu membuka tutup botol itu perlahan. Setelahnya, ia meneguk air beberapa kali.

Vito memperhatikannya sejenak sebelum akhirnya kembali tertawa kecil. "Gue serius, bro. Lo kelihatan capek banget hari ini."

"Emang," jawab Keanu lagi-lagi pendek.

Semalaman bergantian menjaga Shaka yang demam, mengerjakan tugas kuliah, lalu hanya tidur beberapa jam sebelum kembali berangkat ke kampus. Sungguh menguras tenaga.

Keanu kembali menutup botol air mineral itu, lalu menatapnya sesaat. "Btw, thanks ya."

Vito mengangguk kecil sebagai balasan. "Santai."

Keanu kembali bersandar di bangku kayu. Setidaknya sekarang, dengan air mineral yang diberikan Vito, rasa kantuknya sedikit berkurang. Pikirannya terasa sedikit lebih ringan dibanding beberapa menit yang lalu.

Keanu akhirnya berdiri dari bangku taman. Gerakannya membuat Vito yang masih berdiri di dekatnya ikut menoleh heran.

Namun sebelum Vito sempat bertanya apapun, sebuah lengan tiba-tiba melingkar di pundaknya. Vito langsung membeku. Ia perlahan menoleh ke samping, dan Keanu sedang merangkul pundaknya dengan santai.

Vito berkedip beberapa kali. Sejak kapan Keanu seakrab ini? Bukannya lelaki itu biasanya lebih sering menjaga jarak dan berbicara seperlunya? Karena itulah pemandangan pagi itu terasa sedikit ganjil bagi Vito.

"Bentar," ujar Vito pelan. "Lo kenapa?"

Keanu menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa apanya?"

”Ya, ini, " Vito menunjuk lengan yang masih bertengger di pundaknya.

Keanu melirik sekilas, lalu seolah baru sadar. Tapi anehnya ia juga tidak melepaskan rangkulannya, justru ia mulai menarik Vito untuk berjalan.

"Ayo." Ujar Keanu singkat.

Vito semakin bingung, "Ayo kemana?"

Keanu berdehem kecil, "Kantin, kali ini beneran gue yang traktir."

Vito menatapnya beberapa saat. Lalu perlahan, ia mengerti. Jadi ini efek rasa malu karena salah mendengar parkir menjadi traktir beberapa menit lalu.

Sudut bibir Vito langsung terangkat. "Buset," gumamnya. "Segitunya?"

Keanu menghela nafas pendek sambil mengusap tengkuknya dengan tangan satunya. "Tadi gue bikin malu diri sendiri."

"Sedikit?" Tanya Vito asal.

"Banget." Sahut Keanu cepat.

Vito langsung tertawa. Keanu tidak membantah. Ia hanya menggeleng pelan sambil terus menyeret Vito menuju kantin.

Dan melihat itu, Vito akhirnya sampai pada satu kesimpulan sederhana. Keanu memang sedang kurang tidur. Karena jika tidak, rasanya mustahil lelaki yang biasanya tenang dan sulit ditebak itu bisa salah dengar berkali-kali hanya dalam waktu kurang dari setengah jam. Untung saja yang rusak hanya fokusnya, bukan ingatannya.

Keduanya berjalan menuju kantin kampus di bawah hangatnya matahari pagi. Sepanjang jalan, Vito masih beberapa kali menahan tawa setiap kali mengingat respon Keanu hari ini.

Sementara Keanu memilih pura-pura tidak mendengar, meski sesekali ia tetap memijat pelipisnya dengan ekspresi pasrah.

Hari itu memang berjalan sedikit berbeda. Kurang tidur membuat fokus Keanu berantakan. Beberapa percakapan terasa seperti teka-teki yang harus diproses dua kali lebih lama dari biasanya. Bahkan hal sederhana pun bisa berakhir menjadi salah paham yang cukup memalukan.

Namun di sisi lain, Keanu juga menyadari sesuatu. Menjadi seorang suami, seorang ayah, sekaligus mahasiswa memang tidak selalu mudah.

Ada hari-hari ketika semuanya berjalan lancar. Ada pula hari seperti ini, ketika tubuh meminta istirahat sementara tanggung jawab tetap berjalan seperti biasa.

Dan pagi itu, Keanu sedang merasakan versi nyatanya. Setidaknya satu hal masih ia syukuri, Shaka sudah mulai membaik. Memikirkan hal itu membuat langkahnya terasa sedikit lebih ringan.

Untuk yang kesekian kalinya pagi itu, Keanu hanya bisa menghela nafas panjang. Besok, apapun yang terjadi ia harus tidur lebih awal. Ya, setidaknya begitulah yang ia pikirkan.

^^^Bersambung...^^^

1
Enz99
bagus
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih, kak
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!